Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Arini mengantarkan Maira ke rumah orang tua nya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor, Maira mengantarkan koper nya terlebih dahulu.
"Maira, apa yang terjadi nak? Apa kau baik - baik saja?" Tanya Mama Ulfa pada putri nya.
"Iya Ma, aku baik - baik saja, untuk sementara aku akan tinggal bersama Mama dan Papa di rumah ini!" Maira berkata pada Mama Ulfa.
"Katakan pada Mama nak, apa yang terjadi?" Tanya Mama Ulfa dengan tatapan menyelidik.
"Ma, nanti saja aku cerita sama Mama. Sekarang aku harus pergi ke kantor, jangan sampai terlambat!" Maira berkata pada Mama nya.
Mama Ulfa menggelengkan kepala melihat sikap anak nya, sebagai seorang ibu dia merasakan firasat yang tidak baik terjadi pada putri nya. Tapi dia tidak mau menduga - duga, dia ingin mendengar semua nya dari mulut putri nya nanti.
Maira langsung pergi ke kantor bersama Arini, setelah menyimpan koper nya dia dalam kamar nya.
"Mai, bagaimana kalau sampai orang tua mu tahu apa yang menimpa mu? Apa Papa mu tidak akan ngamuk sama Azam?" Tanya Arini saat mereka sedang berada di dalam perjalanan menuju ke kantor.
"Mungkin ini memang sudah saatnya mereka tahu, Rin. Sudah cukup aku menyimpan semua ini selama beberapa tahun ini, aku menerima semua perbuatan mereka tapi tidak dengan pengkhianatan!" Jawab Maira denga nada lirih.
"Kamu yang sabar ya Mai, aku akan selalu mendukung mu!" Arini memberi support pada sahabat nya tersebut.
"Makasih banyak ya Rin, kamu udah mau bantu aku!" Maira terharu akan kebaikan sahabat nya tersebut.
Tidak terasa, mobil yang di kendarai oleh Arini sudah tiba di kantor. Bergegas kedua nya turun dan langsung masuk ke ruangan nya masing - masing. Mereka tiba di kantor, sudah mepet memasuki jam kerja.
*****
Keadaan di rumah begitu berbeda, semua orang tampak bahagia dengan pergi nya Maira dinas selama satu minggu ke depan.
"Azam, ini lah saat nya kamu harus menikahi Nia. Maira tidak ada di rumah selama satu minggu ini, jadi mau tunggu apa lagi!" Mama Wina langsung mendesak putra nya.
"Iya Ma, aku akan usahakan secepat nya menikahi Nia!" Jawab Azam.
"Tidak usah di tunda lagi Zam, besok atau paling lambat lusa kamu dan Nia sudah harus menikah!" Tekan Mama Wina pada Azam.
"Ma, aku saat ini belum punya uang buat nikahi Nia. Aku harus cari uang lagi buat mahar!" Azam memberikan alasan pada Mama nya.
"Mama tidak mau tahu, Azam. Pokok nya secepat nya kamu harus nikahi Nia, keburu nanti Maira pulang. Lagian kam kalian cuma nikah sirih, tidak perlu mengundang orang banyak, cukup penghulu saja!" Mama Wina kembali berkata.
"Iya Ma, aku tahu. Tapi setidaknya aku harus beli mas kawin untuk Nia!" Jawab Azam lagi.
"Terserah kamu mau usaha nya bagai mana, pokok nya paling lambat lusa kamu sudah harus nikahi Nia!" Mama Wina memaksa kan keputusan nya pada Azam.
Sementara Nia hanya tertawa di dalam hati mendengar pembicaraan antara Mama Wina dan juga Azam, Nia sangat senang karena sebentar lagi dia yang akan menjadi nyonya Azam, bukan Maira. Tidak masalah bagi Nia jika saat ini mereka harus menikah sirih, suatu saat dia pasti bisa mengusir Maira dari rumah ini dan juga dari kehidupan Azam untuk selama nya.
'Bagus Ma, Mama mendukung ku. Lihat saja Maira, aku akan menggantikan posisi mu di rumah ini dan juga di hati nya Azam!' Batin Nia di dalam hati.
"Ma, aku berangkat kerja dulu ya!" Azam yang sudah selesai sarapan lebih dulu pamit pada sang Mam Wina.
"Ya, jangan lupa permintaan Mama!" Mama Wina kembali mengingat kan.
Azam langsung berangkat ke kantor, dengan menggunakan motor nya Maira yang sengaja di tinggal kan. Ucapan sang Mama yang meminta nya untuk menikahi Nia kini terngiang di telinga nya, dia ingin segera menikahi Nia mumpung Maira sedang tidak ada di rumah.
"Hem, dari mana aku mendapatkan uang? Apa aku jual saja motor nya Maira? Agar bisa dapat uang!" Azam bermonolog pada diri nya sendiri.
Tidak terasa Azam kini sudah tiba di kantor, dia tidak fokus bekerja hari ini. Keinginan nya untuk menikah dengan Nia, kini begitu menggebu.
"Jika aku menjual motor nya Maira, aku akan dapat uang. Tapi bagai mana jika aku ketahuan sama Maira, bisa habis aku di hajar nya!" Giman azam sambil memijit pelipis nya sendiri.
Tiba - tiba Azam mendapat kan ide, dia tidak perlu sampai menjual motor nya Maira intuk bisa menikah dengan Nia.
"Bukan kah ibu sudah bilang, ini kan cuma nikah sirih jadi tidak perlu mengundang orang lain. Jika hanya mahar untuk Nia, aku bisa mengambil perhiasan nya Maira. Maira kan punya banyak perhiasan!" Azam tersenyum puas.
Azam kembali melanjutkan pekerjaan nya, dia sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang ke rumah. Besok dia bisa menikahi Nia secepat nya, untuk mas kawin nya dia bisa mengambil salah satu perhiasan milik Maira. Selama ini memang Maira sering membeli perhiasan, dengan alasan untuk tabungan masa depan mereka.
Sementara itu di rumah, Mama Wina dan juga Nia sangat senang. Mereka berdua langsung membahas masalah pernikahan yang sudah mereka rencana kan.
"Ma, aku gak minta mahar sama mas Azam. Dengan mas Azam menikahi ku saja, itu sudah cukup!" Nia berkata pada Mama Wina.
"Kamu tenang saja Nia, Mama pastikan paling lambat besok malam Azam harus menikahi dengan mu. Azam pasti tidak akan menolak perintah dari Mama!" Mam Wina berkata dengan penuh rasa percaya diri.
"Ma, bagai mana jika suatu saat nanti Maira mengetahui pernikahan aku dan mas Azam?" nia bertanya dengan nada cemas.
"Maira itu wanita mandul dan dia tidak bisa memberikan Azam keturunan, jadi mau tidak mau dia harus menerima pernikahan kalian. Jika dia tidak mau, maka Mama akan minta Azam untuk menceraikan nya!" Jawab Mama Wina yang berusaha memberikan harapan besar pada Nia.
"Terima kasih Ma, karena Mama mau menerima ku!" Ucap Nia dengan nada yang di buat sesendu mungkin.
"Nia, dengarkan Mama ya, wanita seperti Maira itu tidak ada guna nya di dalam hidup Azam. Sudah mandul dan pembangkang lagi, mana mau menguasai uang Azam sendiri lagi!" Mama Wina kembali berkata.
Tanpa Mama Wina sadari, bahwa selama ini Maira lah yang sudah memberi mereka makan. Kini dengan sesuka hati nya dia menjelek kan Maira, saat Maira menolak memberikan mereka semua uang bulanan lagi. Mama Wina tidak menyadari, bahwa pernikahan Azam dan Nia akan menjadi awal kehancuran keluarga nya.
menurutku dia sudah berusaha agar tetap dapat uang agar dia bisa lanjut kuliah.
kalau tuk yg lain ya terserah mu thor beri peljarannya yg mantep 🤣