Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.
Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Lentera Yang Padam
Di dalam Benteng Puncak Gerhana, udara terasa jauh lebih dingin daripada badai salju di luar. Namun, hawa dingin ini tidak berasal dari cuaca, melainkan dari keputusasaan yang merayap di dalam hati ribuan kultivator yang tersisa.
Aula Utama benteng yang dulunya megah dengan ukiran giok hitam, kini dipenuhi oleh bau darah kering dan ramuan penyembuh yang hangus. Ratusan murid faksi loyalis yang terluka parah tergeletak di lantai, merintih menahan rasa sakit. Giok Abadi yang digunakan untuk menyokong Formasi Kubah Malam telah habis sejak dua hari yang lalu; kini, pelindung benteng itu dipertahankan murni oleh Qi dan Esensi Darah para tetua yang tersisa.
Di atas singgasana batu di ujung aula, duduklah Patriark Gu Cang.
Pria tua yang pernah menjadi salah satu dari Sepuluh Penguasa Benua Utara itu kini tampak seperti kerangka hidup. Kulitnya berwarna ungu kehitaman, sebuah tanda bahwa Racun Pemakan Jiwa Iblis Darah telah meresap hingga ke dalam Inti God King Puncak-nya. Jika bukan karena fondasi kultivasinya yang luar biasa dalam, racun itu sudah mengubahnya menjadi genangan darah bernanah sebulan yang lalu.
Di samping singgasana, berlutut seorang gadis muda berbaju zirah kulit hitam yang telah robek di berbagai tempat. Wajahnya yang pucat dan cantik dipenuhi noda darah, namun matanya memancarkan keteguhan yang membara. Ia adalah Gu Yue, sepupu Gu Tianxue, sekaligus jenius wanita terbaik faksi loyalis di ranah Nirvana Menengah.
"Patriark..." suara Gu Yue bergetar, ia menggenggam tangan keriput kakeknya itu. "Formasi Kubah Malam telah meredup hingga batas akhir. Tiga Tetua Formasi baru saja memuntahkan darah dan pingsan. Kita tidak akan bisa bertahan dari gelombang serangan berikutnya."
Gu Cang membuka kelopak matanya yang terasa seberat gunung. Matanya yang dulu tajam layaknya elang malam, kini meredup.
"Anakku," bisik Gu Cang dengan suara serak, napasnya berbau kematian. "Kematian adalah siklus alami dari Dao. Namun, mati dalam kehinaan pengkhianatan adalah dosa bagi leluhur kita. Klan Iblis Surgawi telah berdiri selama seratus ribu tahun. Kita lahir dari bayangan, dan kita akan kembali ke pangkuan malam yang sunyi."
Gu Cang perlahan memaksakan dirinya untuk berdiri. Setiap pergerakan membuat tulang-tulangnya berderit menyakitkan. Ia menatap sisa-sisa pasukannya di aula tersebut.
"Dengarkan aku, putra-putri Iblis Malam!" Suara Patriark Gu Cang, meski lemah, bergema dengan Niat Dao yang membangkitkan sisa-sisa semangat juang pasukannya.
Ratusan murid dan tetua yang terluka memaksakan diri untuk berdiri, menopang tubuh mereka dengan pedang dan tombak yang sudah tumpul.
"Penatua Agung Gu Ming telah menjual kemurnian garis keturunan kita demi umur panjang dan janji palsu Klan Iblis Darah," lanjut Gu Cang, matanya berkilat marah. "Begitu pelindung ini hancur, mereka tidak akan memberi ampun. Mereka akan menjadikan pria-pria kita sebagai budak tambang, dan wanita-wanita kita sebagai kuali kultivasi ganda bagi iblis-iblis kotor itu!"
"Kita tidak akan membiarkan itu terjadi!" teriak salah satu Tetua yang kehilangan satu lengannya. "Kami lebih baik meledakkan Dantian kami daripada tunduk!"
"Benar!" Gu Cang mengangguk keras. "Bakar Esensi Darah kalian! Persenjatai Niat Kematian di ujung pedang kalian! Saat pelindung itu hancur, jangan ada yang mundur satu langkah pun. Biarkan lautan darah kita menenggelamkan setidaknya separuh dari pasukan pengkhianat itu! Biarkan sejarah Shenzue mencatat, bahwa Klan Iblis Surgawi mati sambil menggigit leher musuh mereka!"
"HIDUP MATI BERSAMA KLAN! KEMBALI KE PANGKUAN MALAM!"
Gemuruh raungan keputusasaan yang bermutasi menjadi keberanian absolut mengguncang aula. Ini adalah filosofi kuno dari aliran Iblis sejati: Jika surga menolak memberi jalan, maka hancurkan jalannya dengan darah sendiri.
Gu Yue menghapus air matanya, menarik pedang gandanya. Dalam hatinya, sekelumit bayangan wajah seorang pemuda dingin terlintas. Kakak Tianxue. Syukurlah kau tidak ada di sini untuk melihat kejatuhan kita.
Di luar benteng, langit siang sepenuhnya tertutup oleh awan kelabu.
Penatua Agung Gu Ming mengelus jenggot putihnya, menatap retakan pada Formasi Kubah Malam yang semakin membesar. Di sampingnya, Utusan Darah Kegelapan menyeringai puas.
"Lihatlah mereka, Gu Ming," kekeh sang Utusan Darah, matanya memancarkan keserakahan. "Tikus-tikus tua yang bersiap meledakkan diri di dalam sangkar. Sangat heroik, namun sangat bodoh."
"Keras kepala yang tidak ada gunanya," dengus Gu Ming dingin. Ia mengangkat tangannya yang telah diubah menjadi Cakar Iblis Darah berkat kultivasi sesatnya. "Seluruh pasukan! Siapkan Meriam Penghancur Bintang! Alirkan Qi kalian ke dalam formasi penyerang! Pada hitungan ketiga, kita ratakan gerbang itu!"
Puluhan ribu pasukan pemberontak dan elit Iblis Darah mengumpulkan Niat Dao mereka. Udara di atas Puncak Gerhana mendidih, menciptakan bola energi gabungan berwarna hitam kemerahan yang ukurannya menyamai sebuah bukit!
Tekanan dari bola energi itu saja sudah membuat batu-batu gletser di sekitar benteng retak dan hancur menjadi debu es.
Sementara itu, hanya lima puluh mil dari Puncak Gerhana...
Kapal Bayangan Naga melesat menembus badai salju seperti bilah pedang hitam. Di atas geladak, Gu Tianxue berdiri di ujung haluan. Jantungnya berdetak sekeras genderang perang. Melalui ikatan garis keturunannya, ia bisa merasakan kematian yang sedang mengintai keluarganya.
Long Chen telah mengubah setengah tubuhnya ke dalam wujud Naga Leluhur; sisik perak-emasnya beresonansi dengan aura pembantaian. "Sialan! Udara di depan kita terasa sangat berat! Mereka sedang menyiapkan serangan gabungan berskala besar! Bos, kecepatan kapal ini tidak akan cukup untuk menghentikan mereka tepat waktu!"
Di kursi kapten, Zhao Xuan duduk dengan postur yang sangat santai, menopang dagu dengan satu tangan. Matanya yang sedalam jurang menatap menembus badai, melihat langsung ke arah bola energi raksasa yang sedang terbentuk di atas Puncak Gerhana.
"Waktu dan ruang hanyalah konsep bagi mereka yang berjalan di atasnya," ucap Zhao Xuan datar. "Sebuah dinding tidak hancur karena ia lemah, melainkan karena ia tidak memiliki fondasi yang kuat."
Zhao Xuan melirik Gu Tianxue. "Tianxue. Apakah kau siap mengambil alih beban klan mu?"
Gu Tianxue berbalik, menatap tuannya dengan mata yang membara oleh tekad. "Jiwa dan raga Tianxue telah siap menjadi pedang bagi Klan, dan bayangan bagi Tuan!"
"Bagus," Zhao Xuan menyeringai. Ia berdiri secara perlahan. Jubah hitamnya berdesir, melepaskan sebuah riak energi yang membuat seluruh badai salju dalam radius sepuluh mil berhenti di udara.
Ia melangkah maju. "Jian Zui. Buka kecepatan maksimal. Long Chen, persiapkan paru-parumu. Kita akan menghentikan eksekusi ini dengan cara yang paling tidak sopan."
Kembali ke Puncak Gerhana.
"TIGA!"
Penatua Agung Gu Ming menurunkan tangannya. Bola energi hitam-merah raksasa itu melesat turun, membawa daya hancur yang cukup untuk menenggelamkan sebuah benua kecil ke dasar laut, mengarah lurus ke Formasi Kubah Malam yang sudah sekarat.
Di dalam benteng, Patriark Gu Cang memejamkan mata, memusatkan sisa Qi-nya untuk meledakkan Inti Dewanya. Gu Yue dan ribuan loyalis mengangkat senjata mereka, bersiap menyambut kiamat.
Namun...
Tepat ketika bola energi penghancur itu berjarak satu inci dari formasi pelindung benteng...
KRRRRRRK... TRANG!
Bukan formasi pelindung benteng yang pecah.
Bola energi raksasa bertenaga puluhan ribu kultivator itu tiba-tiba berhenti di udara, membeku seolah-olah waktu itu sendiri telah dipakukan di tempatnya!
Mata Penatua Agung Gu Ming dan Utusan Darah Kegelapan membelalak hingga nyaris copot dari rongganya.
"A-Apa yang terjadi?! Kenapa serangannya berhenti?!" jerit Gu Ming panik.
Jawaban dari kepanikan mereka bukanlah penjelasan teknis formasi, melainkan sebuah auman yang melampaui nalar fana.
HOOOOOOOOAAAAAAARRRGH!
Sebuah Raungan Naga Leluhur yang murni dan biadab meledak dari dalam badai salju di arah utara! Gelombang suara yang membawa Hukum Tirani Absolut menyapu medan pertempuran.
BOOOOOOOOOOM!
Bola energi hitam-merah raksasa yang membeku itu langsung hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh yang diterjang badai topan! Pecahan energinya menyembur ke arah pasukan penyerang, menewaskan ribuan barisan depan pemberontak dalam hitungan detik!
Dari balik kepulan debu salju dan sisa energi yang meledak, sebuah haluan kapal hitam berbentuk naga merobek langit.
Dan di udara kosong, persis di antara pasukan puluhan ribu musuh dan benteng yang sekarat, berdirilah sesosok pemuda berjubah hitam legam. Di belakangnya, Gu Tianxue melebarkan Sayap Iblis Malamnya, memancarkan Niat Kematian yang murni.
Di dalam benteng, Patriark Gu Cang yang bersiap mati, mendadak menghentikan aliran Qi-nya. Matanya yang rabun terbelalak menatap sosok bersayap bayangan di langit.
"T-Tianxue...?" bisik Patriark tua itu dengan air mata tak percaya.
Di luar, Zhao Xuan menatap lautan musuh di hadapannya dengan ekspresi datar yang mencekik jiwa. Sang Tiran menghembuskan napas pelan, suaranya diperkuat oleh Niat Ketiadaan, menyebar ke seluruh penjuru Puncak Gerhana.
"Siapa yang memberi kalian izin... untuk menghancurkan rumah milikku?"