"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TERBANGUN DI SANGKAR PERAK
Aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi maskulin kayu cendana adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Nerina. Ia mencoba menggerakkan kelopak matanya yang terasa seberat timah. Denyut di tengkuknya masih terasa, namun tidak sesakit saat ia dihantam di dermaga semalam.
Saat matanya terbuka sempurna, ia tidak melihat langit-langit kamarnya yang bernuansa emas di kediaman Lynn. Sebaliknya, ia menatap langit-langit beton ekspos berwarna abu-abu industrial yang elegan.
Nerina tersentak duduk, namun rasa pening segera menyerangnya.
"Jangan dipaksa, Nona. Anda baru saja mendapatkan dosis obat penenang ringan semalam agar syoknya mereda."
Suara itu rendah, jernih, dan sangat familiar. Nerina menoleh ke arah jendela besar yang menampakkan pemandangan pelabuhan dari ketinggian. Di sana, duduk Ergino. Pria itu tidak mengenakan kemeja putih dan rompi hitam khas pelayannya. Ia mengenakan kaus hitam polos yang pas di tubuh, memperlihatkan otot-lengannya yang kokoh dan beberapa bekas luka yang selama ini tersembunyi di balik seragam.
"Gino..." suara Nerina parau. "Di mana kita? Dan... apa yang terjadi di dermaga?"
Ergino berdiri, berjalan mendekati tempat tidur dengan sebuah gelas berisi air hangat. Ia menyerahkannya pada Nerina dengan gerakan yang tetap sopan, namun ada otoritas alami yang terpancar dari setiap langkahnya.
"Kita berada di apartemen pribadi saya, Nona. Lokasinya sangat rahasia. Keluarga Lynn maupun orang-orang Andrew tidak akan bisa melacak tempat ini," jawabnya datar.
Nerina menerima gelas itu, namun tangannya gemetar. Ingatannya tentang kejadian semalam mulai berputar seperti film rusak. Andrew yang gila, pria-pria besar yang mengepungnya, dan kemudian... sosok Ergino yang bergerak seperti maut di tengah kegelapan.
"Kamu..." Nerina menatap wajah Ergino dengan teliti. "Tanganmu... semalam aku melihatmu melumpuhkan mereka tanpa senjata. Dan pria-pria itu... mereka tidak sadarkan diri dalam sekejap. Kamu bukan pelayan biasa, Gino. Pelayan tidak tahu cara membunuh orang dengan tangan kosong."
Ergino terdiam sejenak. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur Nerina. Jarak mereka dekat, cukup dekat bagi Nerina untuk melihat kelebatan emosi yang tertahan di balik manik mata hitam pria itu.
"Tugas saya adalah menjaga Anda, Nona. Dalam kondisi darurat, metode apa pun diperbolehkan," sahut Ergino tenang.
"Bohong!" Nerina meletakkan gelasnya dengan kasar ke meja nakas. "Dan apa yang kamu katakan saat aku hampir pingsan? Kamu bilang 'mati lagi'. Kamu bilang kamu sudah mencariku di garis waktu yang hancur. Apa maksudnya itu, Gino? Bagaimana kamu tahu kalau aku pernah mati di kehidupan sebelumnya?"
Suasana kamar mendadak hening. Detak jam dinding seolah terdengar seperti dentuman drum di telinga Nerina. Ergino tidak langsung menjawab. Ia justru menatap tangannya sendiri, jemari yang semalam ia gunakan untuk mematahkan tulang musuh-musuh Nerina.
"Kadang, trauma membuat kita mendengar hal-hal yang tidak ada, Nona," bisik Ergino akhirnya.
"Jangan coba-coba memanipulasiku!" air mata frustrasi mulai menggenang di mata Nerina. "Aku ingat setiap katanya. Suaramu terdengar sangat... menderita. Seperti pria yang telah kehilangan segalanya berkali-kali. Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?"
Ergino menghela napas panjang. Ia sedikit condong ke depan, membuat Nerina refleks mundur bersandar pada bantal. "Jika saya mengatakannya sekarang, apakah Anda akan percaya? Apakah mawar hitam yang haus dendam ini akan memercayai seorang pria yang mengaku telah mengejarnya melintasi waktu hanya untuk melihatnya tetap bernapas?"
Nerina membeku. "Jadi... itu benar?"
"Untuk saat ini, anggap saja saya adalah orang yang paling menginginkan Andrew Fidelis dan keluarga Lynn menghilang dari muka bumi, jauh lebih besar daripada keinginan Anda sendiri," Ergino berdiri, beralih ke arah jendela. "Andrew sudah saya urus. Dia tidak akan mati, setidaknya belum. Tapi dia akan menghabiskan sisa hidupnya di tempat di mana sinar matahari pun tidak berani masuk."
"Lalu bagaimana denganku? Ayah dan Ibu pasti mencariku!"
"Saya sudah mengirim pesan melalui ponsel Anda semalam, menggunakan nada bicara Anda yang biasa. Saya katakan bahwa Anda sedang menenangkan diri di vila pribadi milik teman lama karena muak dengan kenaikan jabatan Elysia. Mereka percaya. Mereka terlalu sibuk merayakan posisi baru Elysia untuk peduli pada keberadaan Anda yang sebenarnya."
Nerina tertawa pahit. "Tentu saja. Mereka sedang berpesta di atas luka yang mereka buat sendiri."
"Itulah sebabnya Anda harus kembali hari ini," Ergino berbalik. Tatapannya kini kembali tajam dan dingin. "Hari ini adalah rapat direksi pertama di mana Elysia akan duduk sebagai Wakil Direktur Operasional. Dia berpikir Anda sudah menjadi mayat di dasar pelabuhan. Bayangkan wajahnya saat melihat Anda melangkah masuk ke ruang rapat dengan kepala tegak."
Nerina mengepalkan tangannya. Rasa dendam itu kembali membakar sisa-sisa ketakutannya. "Dia akan gemetar."
"Bukan hanya gemetar, Nona. Dia akan mulai melakukan kesalahan. Dan saat itulah, kita akan menyerang fondasi terakhir yang ia miliki," Ergino berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah paper bag mewah. "Saya sudah menyiapkan gaun baru untuk Anda. Hitam, seperti mawar kesukaan Anda. Dan mobil SUV semalam sudah dibersihkan."
Nerina menatap paper bag itu, lalu kembali menatap Ergino. "Gino... kenapa kamu tidak pernah mengatakannya di kehidupan yang dulu? Di masa lalu yang kualami, kamu hanya diam. Kamu hanya melihatku menangis untuk Andrew."
Ergino berhenti di depan pintu kamar. Tanpa menoleh, ia menjawab dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. "Karena di masa lalu itu, Anda tidak pernah menoleh ke arah saya. Anda begitu terpaku pada cahaya palsu Andrew, hingga tidak menyadari bahwa bayangan Anda sendiri sedang berteriak agar Anda berhenti."
Nerina terpaku. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan di dermaga.
"Mandilah, Nona. Saya akan menunggu di lobi apartemen dalam tiga puluh menit."
Satu jam kemudian, di lobi kantor pusat Lynn Tower, suasana sedang sangat sibuk. Para staf berseliweran menyiapkan rapat besar. Elysia Lynn berjalan di koridor lantai eksekutif dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Ia mengenakan setelan putih gading yang tampak sangat berkuasa.
"Pagi, Nona Elysia," sapa para asisten dengan bungkukan rendah.
"Pagi," jawab Elysia manis. "Apakah Kak Nerina sudah datang? Aku ingin menanyakan beberapa hal tentang laporan keuangan."
"Nona Nerina belum terlihat sejak pagi, Nona," jawab salah satu asisten.
Elysia menahan diri untuk tidak tertawa lebar. Tentu saja dia tidak terlihat. Dia pasti sedang menjadi santapan ikan di dermaga sekarang, batinnya. Ia melangkah masuk ke ruang rapat dengan percaya diri, duduk di kursi wakil direktur yang selama ini ia idam-idamkan.
Elyas dan Nero sudah ada di sana. Wajah Elyas tampak sedikit cemas, namun ia tertutupi oleh kebanggaan saat melihat Elysia yang tampak begitu siap bekerja.
"Mari kita mulai rapatnya," ujar Elyas. "Karena Nerina sedang tidak bisa hadir, posisi pimpinan rapat akan diambil alih oleh—"
Brak!
Pintu ruang rapat terbuka dengan hantaman yang cukup keras. Seluruh jajaran direksi menoleh.
Nerina Aralynn melangkah masuk. Ia mengenakan gaun midi hitam dengan kerah tinggi yang memberikan kesan dingin dan tak tersentuh. Rambutnya disanggul rapi, dan bibirnya diulas lipstik merah tua yang berani. Di belakangnya, Ergino mengikuti dengan setelan pelayan yang kembali rapi, seolah-olah kejadian berdarah semalam tidak pernah terjadi.
Wajah Elysia mendadak pucat. Matanya membelalak, tangannya yang memegang pena mulai gemetar hebat. "K-kak... Nerina?"
Nerina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh ancaman. "Maaf aku terlambat, Ayah. Ada sedikit 'sampah' di jalanan semalam yang harus kubuang agar perjalananku pagi ini terasa lebih nyaman."
Nerina berjalan menuju kursinya, tepat di hadapan Elysia. Ia meletakkan tas tangannya di meja dengan suara dentingan logam yang tajam.
"Elysia, kenapa wajahmu begitu kaget?" tanya Nerina, suaranya sangat lembut namun mematikan. "Apakah kamu mengira aku tidak akan pernah sampai ke ruangan ini lagi?"
Suasana rapat mendadak menjadi sangat dingin. Elyas dan Nero saling pandang, tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun mereka bisa merasakan bahwa Nerina yang berdiri di depan mereka saat ini bukan lagi Nerina yang bisa mereka kendalikan.
"Gino, bagikan laporannya," perintah Nerina.
Ergino melangkah maju, membagikan tumpukan dokumen kepada setiap direktur. "Ini adalah laporan audit terbaru mengenai dana pemasaran yang baru saja dipindahkan ke akun asisten Nona Elysia pagi ini. Silakan diperiksa."
Elysia nyaris terjatuh dari kursinya. Ia menatap Ergino dengan penuh kebencian, namun di dalam hati, ia merasa ketakutan yang luar biasa. Bagaimana bisa Nerina masih hidup? Dan bagaimana bisa pelayan itu mengetahui transaksinya dalam hitungan jam?
Permainan di dalam gedung ini baru saja dimulai, dan kali ini, Nerina tidak akan membiarkan ada satu pun dari mereka yang keluar hidup-hidup dari permainan ini.