Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Reiga turun dari Ferrari-nya. Tepat di depan lobi Reishard Corporation. Valet parkir menyapanya.
"Pagi, Pak," sapanya.
"Pagi, Fir-man. Semangat kerjanya ya," ucap Reiga ramah seperti biasanya.
Firman tersenyum disapa begitu ramah. Reiga masuk ke dalam gedung seraya mengancingkan jas abu-abu yang dipakainya. Dimas langsung menyambut Reiga. Juga setiap pegawai yang bertatap muka dengannya.
"Pagi, Pak Reiga," sapa Dimas sumringah.
"Pagi, Dim," sapa balik Reiga yang terus berjalan menuju lift private untuknya.
Dimas mengikuti Reiga masuk ke dalam lift yang tertutup kemudian.
"Jadwal saya hari ini cuma sampai ashar kan?" tanya Reiga.
Dimas mengangguk.
"Ya, Pak. Bapak ada latihan tenis untuk event Cuy Entertainment satu setengah bulan lagi," jawab Dimas.
"Hana ada telepon kamu nggak?"
Ekspresi Dimas langsung sumringah. Reiga sampai tidak bisa menahan tawanya yang langsung pecah. Semalam Reiga memang sudah mengirimkan nomor handphone Dimas.
"Ada, Pak," jawab Dimas.
"Sesenang itu ditelepon Adrianne Hana?"
"Iya, Pak. Senang banget!!! Sumpah! Saya nggak pernah menyangka bakal ditelepon sama aktris favorit saya," ucap Dimas terharu.
Reiga kembali tertawa.
"Ibu Hana bilang apa?"
"Ibu Hana tanya Pak Reiga beneran diusir Pak Rahardian atau enggak, karena Pak Reiga susah dihubungin," jawab Dimas.
Reiga memang sengaja tidak membuka pesan Hana. Tidak pula mengangkat telepon kesayangannya itu lantaran ingin ngisengin Hana. Pasti kalau ketemu saat latihan tenis, Hana akan mengamuk padanya. Amukan menggemaskan yang ditunggu Reiga.
Ah, cinta memang membuatnya gila!
"Pak Reiga beneran diusir, Pak?"
Dimas serius bertanya.
"Enggak, Dim. Saya cuma disuruh pindah," jawab Reiga sambil menyender.
"Pak Reiga iseng juga ya. Kasihan Bu Hana loh, Pak. Panik banget dengar Bapak diusir," komentar Dimas yang masih teringat jelas bagaimana Hana heboh semalam.
Reiga tersenyum.
"Saya juga nggak ngerti nih, Dim. Kenapa saya iseng banget sama Hana," curhat Reiga.
Dimas bukannya memberi jawaban, eh, malah cengengesan.
"Malah senyam-senyum," ujar Reiga yang tertular senyam-senyum.
"C-I-N-T-A, Pak. Itu namanya cinta," jawab Dimas.
Reiga sudah terlebih dahulu menerima jawabannya dari kepala Dimas.
"Tapi Bapak serius mau pindah, Pak?" tanya mereka sambil berjalan keluar lift.
"Serius, Dim. Kartu akses. Semua perintilan apartemen udah dikasih ke Ibu Hana kan?" tanya Reiga.
Dimas mengangguk sekaligus menjawab, "Udah, Pak."
"Maaf Pak, tapi kalau saya boleh tahu, kenapa Pak Reiga pindah lagi ya?" Dimas sungguh penasaran, lantaran Reiga yang keras kepala nggak mau pindah dari apartemen ke rumah malah disuruh pindah. Setelah akhirnya mau, malah disuruh balik lagi ke apartemen.
"Kata Pak Rahardian, kalau tetap tinggal di rumah, Hana ada rasa nggak enak untuk ketemuan terus sama saya," jawab Reiga membuat Dimas menahan senyum dan tawa yang sungguh membuat Reiga yang melihat pantulannya dari tembok marmer ruangannya sampai berbalik dan menoleh.
"Kenapa sih? Kok reaksinya begitu?"
"BA-HA-GIA, Pak! Bahagia," jawab Dimas yang memang berekspresi bahagia.
Reiga terkekeh.
"Pikirannya jangan macam-macam ya, Dim.
Jaga iman," ledek Reiga lalu membuka pintu ruangannya.
Dimas tersenyum malu sambil menutup pintu ruangan. Ia mengikuti Reiga yang kini sudah duduk di kursi putar miliknya.
"Gimana? Mamah kamu suka tas-nya?" tanya Reiga.
"Suka banget, Pak! Pak Reiga kalau titipin oleh-oleh buat Mamah saya suka berlebihan, saya jadi nggak enak," ucap Dimas.
Reiga memang seperhatian itu pada keluarga Dimas. Karena itu Dimas sungguh tulus mendoakan kebahagiaan Reiga. Bos terkasihnya itu #lol.
"Saya yang nggak enak sama Mamah kamu.
Anak laki-laki satu-satunya saya bawa pergi kemana-mana mulu," sahut Reiga.
"Sudah tugas saya, Pak," jawab Dimas.
Reiga tersenyum.
"Dim," ucap Reiga.
"Ya, Pak."
"Kalau nanti saya patah hati, tolong hibur saya ya. Kasih saya jeda libur dua minggu. Give me space with my self. Dan tolong ambil alih semua urusan perusahaan saat itu terjadi," ucap Reiga membuat Dimas terhenyak meski ada senyum menghiasi wajah tampan Reiga.
"Pak Reiga bicara apa sih, Pak? Saya yakin Bu Hana nggak akan mematahkan hati, Bapak," ujar Dimas yang merasa punya kewajiban meyakinkan Reiga.
Aneh, hatinya yang senang mendadak sedih. Langit spontan mendung.
"Takutnya saya yang mematahkan hati Hana," ucap Reiga.
Dimas makin tidak paham.
"Pak Reiga, kok ngomong gitu sih, Pak?" Dimas cukup trauma kalau Reiga sudah mengeluarkan maklumat. Karena selama bekerja dengan pria ini, apapun yang diucapkan Reiga pasti kejadian. Dan entah mengapa kali ini, Dimas tidak ingin hati Bos-nya atau hati aktris favoritnya patah. Dalam kebingungannya atas pernyataan Reiga. Dimas berdoa agar semua yang baik tetap terjadi pada Bos-nya.
Reiga pun tidak menjawab apapun. Ia malah memeriksa berkas yang ditinggalkannya selama seminggu lebih ini.
"Jadwal pertama saya, Dim?" tanya Reiga seakan ia tidak pernah mengatakan kalimat tadi.
*
Juni melirik Hana yang sejak selesai photoshoot sibuk dengan iPad. Saking dicuekinnya, Juni sampai merasa berada di dunia yang berbeda dengan Hana. Padahal secara kasat mata mereka jelas duduk saling bersebelahan.
"Rajin amat mendalami skenario. Demi suksesnya film mantan gebetan nih?" ledek Juni menebak Hana tengah membaca ulang skenario.
"Dih! Sembarangan," ujar Hana langsung bersuara.
"Terus lagi apa?"
"Mempelajari dokumen yang dikirim Dimas."
"Dimas siapa!? Lo nggak ambil kerjaan di belakang gue kan, Han!?" Juni auto heboh.
"Apaan sih, Junnnnn!?"
"Dimas itu asistennya Reiga. Astaga! Berisik banget lo!"
Kening Juni mengerut.
elu?" "Asistennya Reiga kenapa kirim dokumennya ke
Hana malah tersenyum. Senyuman ala orang jatuh cinta yang membuat Juni dengan mudah menebak jikalau Hana sudah jadian sama Reiga.
"Nanti juga lo tahu kalau kita sudah sampai ditempatnya," jawab Hana sok misterius.
Juni merengut heran.
Alphard Hana pun berbelok masuk kearah salah satu town house paling elit di Jakarta. Juni langsung celingukan. "Lo mau beli rumah di sini, Han?" tanya Juni heboh.
"Enggak," jawab Hana.
Mobil pun berhenti di depan sebuah town house bernomor lima. Hana turun. Juni mengekor dibelakangnya.
"Siang, Bu Hana. Selamat datang di town house. Mohon bimbingannya," ucap seorang Ibu perempuan setengah baya yang memakai name tag, Murnia Wahyuningsih.
Hana tersenyum.
"Saya yang mohon bimbingannya," ucap Hana.
"Kenalkan Bu Hana, saya Bu Murnia, kepala ART town house ini," ucap Bu Murnia ramah.
Selanjutnya Bu Murnia mengenalkan Hana pada dua supir Reiga bernama Pak Tomo dan Pak Randi. Mereka lanjut berjalan masuk ke dalam bangunan. Melewati koleksi mobil mewah milik Reiga. Juni terhenyak kagum. Salah satunya Ferrari merah yang biasa dipakai Reiga ke rumah Hana. Sekarang Juni tahu. Rumah siapa ini.
"Ah paham gue sekarang. Ini rumahnya Mas Ayang ya?" bisik Juni mendekat kearah Hana.
Hana cuma nyengir. Mereka masuk lift setelah menyamba lobi yang serius mirip hotel ini. Bu Murnia menjelaskan bahwa lobi ini memang untuk menerima tamu yang tidak terlalu dekat dengan Pak Reiga. Meski faktanya, jarang sekali orang yang berkunjung ke town house ini selain enam orang dalam genk Reiga.
Lift membawa mereka naik ke lantai dua. Di lantai ini ada tangga melingkar di kanan kiri menuju lantai tiga dan empat. Di depan lift terdapat pintu jati berukiran yang lumayan besar. Bu Murnia mengajak Hana dan Juni masuk ke dalam ruangan pintu yang telah dibuka dua ART town house Reiga yang berseragam. Bu Murnia memberi informasi bahwa jumlah ART di town house ini ada lebih dari enam orang. Setiap lantai, mulai lantai 2 hingga 4 memiliki penanggung jawab dua ART. Ditambah, terdapat pula ART yang bertugas mengurus laundry dan perlengkapan isi dapur secara terpisah. Tukang kebun hingga ART yang membersihkan lobi pun berbeda. Sulit bagi Juni untuk tidak takjub akan betapa kayanya Reiga Reishard.
Di lantai dua terdapat ruang santai dengan tv flat besar dan sofa letter L besar berwarna abu-abu yang ditaruh menyudut ruangan. Tidak jauh terdapat ruang makan dengan delapan kursi kayu yang langsung menghadap kolam renang di sebelah kiri dan dapur bersih besar di sebelah kanan. Hana terpana melihat dapur ini. Aneh, tapi dapur ini persis seperti apa yang diimpikannya selama ini. Hana yang selalu bermimpi bisa menyalurkan hobi masaknya, dimulai dengan dapur besar.
Penjelasan Bu Murnia yang menjelaskan bahwa biasanya Reiga menggunakan jasa chef dan catering apabila ada acara makan di town house membuat Hana tersadar dari lamunannya.
"Wah gila sih laki lu, Han! Bukan kaleng-kaleng," ujar Juni makin takjub.
"Saya boleh periksa dapurnya, Bu?" tanya Hana.
"Tentu boleh, Bu Hana," jawab Bu Murnia yang kagum dengan kesopanan Hana. Padahal jelas-jelas Hana adalah aktris terkenal.
Kala pertama Reiga mengatakan akan mengamandatkan pacarnya yang seorang aktris terkenal untuk mengurus town house miliknya, Bu Murnia cukup kaget dan mengira Hana pribadi yang sombong. Nyatanya tidak. Hana jauh lebih cantik dari yang biasa mereka semua lihat di TV. Aura Hana pun menyeruak begitu positif dan hangat. Pak Reiga memang pandai memilih.
Hana bertanya mengenai makanan kesukaan dan yang Reiga tidak suka. Siapa yang menyangka kalau Bu Murnia sendiri tidak tahu. Lantaran Pak Reiga jarang makan di town house ini. Selain karena pria itu tinggal di rumah Papa-nya, Reiga memang sangat sibuk dan selalu ke luar negeri untuk keperluan bisnis.
Tur rumah itu berlanjut menuju lantai 3. Tempat di mana terdapat studio bioskop kecil, mushola, perpustakaan mini serta sebuah game center ala ala time zone ada. Lanjut ke lantai 4, ada kamar Reiga. Hanya ada kamar pria itu dengan ruang kerja, wardrobe dan kamar mandi.
Lantai berikutnya ada rooftop yang dibuat secara costumize oleh Reiga. Ada jacuzzi, meja billiard lagi, mini pantry dan ruang karaoke. Ketimbang Juni yang sibuk ber-wow-wow dengan town house ini. Hana malah merasa jatuh simpati pada Reiga. Town house ini memperlihatkan bahwa Reiga memang membatasi dirinya dengan orang lain. Pria itu dengan jelas memilih sendirian.
"Kamar pegawai di mana, Bu?" tanya Hana.
"Semuanya di lantai 1, Bu Hana," jawab Bu Murnia.
"Jadi, Pak Reiga sendirian di lantai 4?" Hana tidak habis pikir dengan keputusan Reiga.
Bu Murnia mengangguk.
"Beliau memang suka keheningan, Bu," ucap Bu Murnia.
Hana menghela napas.
"Jujur kami semua senang mendengar Pak Reiga punya pacar, terlebih pacarnya mau mengurus town house ini. Memandu kami yang sangat ingin memberikan yang terbaik untuk Pak Reiga. Lebih dari itu, kami ingin melihat Pak Reiga bahagia," tambah Bu Murnia.
Hana menatap Bu Murnia yang tersenyum tulus. "Kamu dikelilingi cinta sebanyak ini, tapi kamu masih nggak bisa percaya sama cinta, Rei? Luka kamu pasti besar dan menyakitkan banget ya," gumam Hana dalam hatinya.
*
Juni mengikuti Hana yang sibuk belanja kebutuhan townhouse bersama dua ART dan Bu Murnia di Grand Lucky SCBD. Bu Murnia kagum akan cekatannya Hana dalam memilah barang dan ingatan yang luar biasa atas informasi yang diberikan ART seputar nama brand yang selama ini digunakan di town house dan menjadi favorit Reiga.
"Dulu lu nggak disuruh aja, heboh urusin apartemen Arnold. Gimana ini yang disuruh ya, Han!? Resmi jadi Nyonya Reishard nih?" ledek Juni.
"Apa sih, Jun?" tukas Hana sambil senyum.
Hana memang paling senang mengurus sesuatu.
Apalagi mengurus orang-orang kesayangannya.
Karena itu Hana sengaja memaksa Juni mengosongkan jadwalnya hingga malam nanti.
Demi bisa totalitas mengurus town house milik Reiga.
"Reiga mau pindah ke town house besok. Jadi gue mau prepare town house sebaik mungkin biar dia nyaman dan senang," tambah Hana.
"Beruntung amat Reiga punya bini yang demen main rumah-rumahan kayak elu ya, Han," timpal Juni.
Hana terkekeh dengan kalimat demen main rumah-rumahan. Handphone miliknya berdering. "Mas Ayang," gumam Juni membaca nama si penelepon.
"Cieee, Mas Ayang," ledek Juni.
Hana melotot dan menyuruh Juni diam.
"Hai," sapa Hana.
"Hai, sayang. Lunch bareng yuk," ajak Reiga.
"Di town house kamu gimana? Aku yang masak.
Soto Lamongan," jawab Hana senang akan kesempatan menanyai Reiga yang datang secara kilat ini.
Terdengar tawa Reiga.
"Bukan mie instan kan?" tanya Reiga setengah bercanda.
"Ya enggaklah! Sembarangan! Aku masakin beneran," jawab Hana.
"Okay. See you there, Sayangku," ucap Reiga lalu menutup telepon setelah Hana berkata, "See you soon, Mas Ayang." yang membuat Reiga sampai tersenyum lebar di ruang kerjanya yang ada di Reishard Corporation.
Dari jauh, dari balik rak sayuran, Eyang Uti memperhatikan Hana. Namun enggan menghampirinya. "Nggak ditegur, Bu?" tanya Mbok Minjo.
"Nggak usah. Nanti muka sumringahnya langsung ditekuk begitu melihat aku," jawab Eyang Uti. Meski faktanya ia sungguh ingin bertanya kebenaran berita yang dibawa Devan padanya.
"Kenapa Eyang harus tutupi kesalahan Pakde?!" pekik Hana.
Mungkin anak itu sudah kehilangan sabar hingga tidak lagi memikirkan sopan santun.
"Jaga bicara kamu, Hana!" teriak Devan.
Ruang keluarga itu lantas hening. Derma, si anak bungsu menatap kasihan pada keponakannya.
"Hana udah Han," ucap Sara seraya merangkul Hana dari belakang. Airmatanya sudah banjir.
"Enggak, Bu! Enggak! Hana muak dengan kepura-puraan keluarga ini! Sampai kapan kita tinggal diam, Bu!? Jadi kambing hitam atas salah yang nggak berani diakui seseorang!!" teriak Hana berani seraya menatap Devan.
Devan kontan naik darah sampai tanpa sadar melayangkan tangan kanan kearah Hana.
TAP!
Derma menangkap tangan tersebut. "Jangan sembarangan, Mas!" seru Derma dengan tatapan siap membela Hana.
Mungkin ia bisa diam atas pilihan Mama-nya yang ingin melindungi kakak sulungnya, hingga menyembunyikan kebenaran atas kematian kakak tengahnya. Tapi, ia tidak akan tinggal diam, saat Hana atau Sara dilukai lebih dari ini. Bagai hutang yang tidak akan pernah lunas dibayar olehnya.
"Kamu bela anak nggak tahu sopan santun ini!!" teriak Devan.
"Bukan Hana yang nggak tahu sopan santun! Tapi kita, Mas! Kita yang nggak tahu diri!!" seru Derma tercekat. Rahangnya menegang. Kedua matanya mengerucut.
Devan sontak diam.
Baguslah sindiran Derma masih menyentil hatinya. Setidaknya itu membuktikan kalau ia masih punya hati.
"Sudah cukup!" seru Eyang Uti.
"Hana belum selesai Eyang! Kecuali Eyang beritahu seluruh keluarga, penyebab sebenarnya Ayah meninggal," ujar Hana.
Devan menatap Ibunya. Takut Ibunya memihak Hana.
"Eyang sayang kan sama Ayah?" Hana menanyakannya dengan gigi yang bergemeretak.
""
"Eyang tahu Ayah meninggal karena apa kan!? Eyang juga tahu itu bukan salah Hana apalagi Ibu!!? Jadi, Hana mohon Eyang jangan diam. Hana nggak masalah kalau cuma Hana yang disalahin. Tapi Hana nggak terima kalau sampai Ibu juga kena...."
""
Eyang terus diam. Masih diam.
"Eyang juga seorang Ibu, harusnya Eyang bisa mencontohkan hal yang baik ama anak-anaknya! Diamnya Eyang ini, jelas menunjukkan Eyang telah gagal sebagai seorang Ibu!"
PLAK!
Tamparan itu begitu keras. Lalu menyebabkan hening yang panjang.
Hana terhenyak. Ia memegangi pipi kirinya yang kini kontras dengan warna kulit pipinya. Airmatanya mengalir begitu saja.
"Eyang nggak sayang sama Ayah. Eyang nggak sesayang itu sama Ayah," ucap Hana lalu pergi dari ruang keluarga rumah Eyang.
"Han ... Hana ....!" panggil Sara kearah Hana yang tak lagi menjawab. Sara mengalihkan perhatiannya pada Eyang Uti.
"Maafin Hana ya, Mah. Maafkan Hana," ucap Sara kearah ibu mertuanya. Lantas Sara mengejar Hana.
Kejadian itu sungguh kelam. Tanpa saksi dari cucu lain. Terakhir kalinya Hana mendatangi rumah Eyang-nya. Ia tidak pernah mau ke sana lagi. Berbagai cara dilontarkannya demi tidak perlu ke sana.
Awal yang membuat Hana tidak pernah lagi mengumbar senyum menawannya pada Eyang Uti lagi. Hubungan mereka berubah menjadi dingin. Bagai tanpa ikatan darah di antara mereka. Begitu asing. Sesi cium tangan di kala lebaran pun dilakukan Hana sebagai formalitas atas permohonan Sara, Ibunya. Yang lain mungkin berasumsi Hana memang sesombong itu. Namun Eyang Uti, Devan, Derma, dan Sara tahu, bahwa hati Hana telah terlalu sakit untuk bisa berpura-pura baik-baik saja.
"Semuanya memang salah Mama, Den. Salah Mama. Bukan Hana. Mama memang telah gagal menjadi seorang Ibu," ucap Eyang Uti dalam hatinya yang membuat kedua mata tuanya berkaca.
"Beneran bisa masak ya ternyata," ucap Reiga mengagetkan Hana yang tengah termenung menatap kearah foto-nya dan Rahardian. Hana menoleh dan tersenyum.
"Udah selesai meeting-nya?" tanya Hana karena sehabis makan soto Lamongan, Reiga ada jadwal meeting dadakan hingga harus melipir ke ruang kerjanya di lantai 4.
Reiga mengangguk lalu duduk di samping kiri Hana dengan lengan kanan yang terjulur di kepala sofa yang ada di belakang Hana.
"Lagi ngapain bengong di sini? Nanti ada yang ajak kenalan takut sendiri," ledek Reiga.
Hana mencibir lalu menyipitkan mata.
"Dari semalam bikin aku takut nggak ada bosen-bosennya ya," sebal Hana.
Reiga terkekeh.
"Mereka suka kok sama kehadiran kamu, Han," ujar Reiga membicarakan makhluk tak kasat mata yang ada dirumahnya.
Hana menatap jengkel pacarnya itu.
"Aku tonjok nih!" ancam Hana.
Tawa Reiga makin berderai.
"I'll be miss you like a hell when i'm in New York," aku Reiga lalu mengecup ujung bahu kiri Hana yang terbuka. Hari itu Hana memang memakai blazer berwarna hitam tanpa lengan.
Hana tersenyum.
"Of course, you have to!" seru Hana.
Reiga terkekeh.
Mereka saling menatap sambil tersenyum.
"Can i have my desert now?" tanya Reiga.
Kening Hana mengerut. Raut wajahnya bertanya.
"A dessert? Bukannya tadi udah makan cheese cake buatan aku kan?" bingung Hana.
Bibir Reiga tersenyum lebar.
"Polos amat sih, Neng Hana," ucap Reiga lalu melingkari pinggang Hana dengan lengan kanannya dan memagut bibir Hana sekali.
Wajah Hana memerah. Reiga tersenyum.
"Reishard! Astaga! Kalau ada Dimas, Juni, atau Bu Murnia gimana!?" ujar Hana sambil senyum-senyum.
Sulit baginya untuk berpura-pura tidak peduli atas ciuman Reiga.
"Mereka harus terbiasa melihat adegan tadi," ujar Reiga asal dengan senyum terkulum.
"Oh jadi itu alasannya kenapa tiba-tiba pindah.
Pervert banget," ucap Hana.
Reiga tersenyum.
"Ini sih ide gila-nya Papa. Katanya biar kamu lebih nyaman ketemuan sama aku dan keluar-masuk kediaman aku," jujur Reiga.
Hana tercengang.
"Om Rahardian?"
Reiga mengangguk.
"Dia suka banget sama kamu. Tahu nggak!?
Kalau sampai kita putus, aku bakal dicoret dari daftar ahli waris," ujar Reiga.
Hana tertawa mendengar pengakuan Reiga.
"Bohong banget!"
"Serius, Sayangku," ucap Reiga.
"Oh jadi saking takutnya dicoret dari daftar ahli waris makanya kamu memutuskan pindah?" ujar Hana berharap alasan pindah Reiga memang karena dirinya.
"Aku cuma mau lihat Papa bahagia. Lets called that bakti aku sebagai anak," ucap Reiga.
Hana jadi ingat ucapan Ibu-nya waktu itu. "Bakti itu sudah ditunaikan, Han... "Hana meraih Reiga dalam pelukannya.
"Kenapa aku selalu merasa kamu kesepian banget sih, Rei?" gumam Hana.
Reiga membalas pelukan Hana. Pelukan yang memabukkannya. Pelukan yang entah bagaimana sudah menjadi kebutuhannya.
"Aku memang sangat kesepian, Han. Kamu hebat banget sih bisa melihat kesepian yang aku sembunyikan rapat-rapat semudah itu dalam waktu yang sesingkat ini, "balas Reiga dalam hati.
"Biar nggak kesepian makanya temenin dong," sahut Reiga bersuara.
Tawa kecil Hana terdengar. "Mau ditemenin tapi pergi-pergi mulu," sindir Hana.
"Abis gimana? Anaknya cuma aku," ujar Reiga.
Mereka tertawa.
"A minus part becomes a single child," tukas Hana yang membuat mereka terkekeh bersama meratapi nasib sebagai anak semata wayang dari orang tua masing-masing.
"Kamu dekat banget ya sama Om Rahardian.
Ngobrol berdua aja kayaknya seru banget," ujar Hana.
lagi. Ia sangat ingin tahu tentang Reiga, lebih dan
"Ya gimana nggak dekat. Lebih dari 20 tahun kita cuma berdua. Justru aneh sih kalau nggak dekat," tanggap Reiga.
Hana memandanginya. Empati apa ini? Rasanya ia ingin mendekap Reiga selama-lamanya.
"Kamu bahagia nggak, Rei?" tanya Hana.
Reiga terhenyak akan pertanyaan itu. Bagai pembohong yang tertangkap, Reiga diam. Hana begitu mudah mengulitinya. Bahkan tanpa perlu mempunyai kemampuan aneh seperti dirinya.
"Bahagia itu gimana sih, Han?" tanya balik Reiga.
Hana menggenggam dua tangan Reiga dalam pangkuan pria itu. Erat. Seraya mengelusnya pelan dan lembut. Lantas ia menatap dua mata Reiga penuh sayang.
"Ayo cari tahu bareng-bareng," jawab Hana membuat Reiga kembali terhenyak.
Tidak menyangka akan ada manusia yang menjawab pertanyaan soal bahagia-nya dengan jawaban ikonik begitu. Reiga tertegun. Jari-jemarinya yang digenggam Hana, kini balik menggenggam dengan erat. Ditambah Hana mengatakannya sambil tersenyum kecil. Tulus dan hangat.
"Bikin makin tambah cinta aja," ucap Reiga tulus.
Hana terkekeh seperti balita.
"Masakan aku enak nggak?" Hana mengganti topik. Matanya berbinar. Berharap Reiga akan menjawab ya. "Enak, Sayangku. Bukan hasil delivery masakan hotel favorit aku kan? Soalnya mirip," canda Reiga.
"Heh! Sembarangan!" sebal Hana sok cemberut.
"Kenapa harus sendirian di lantai 4? Iya tahu kamu nggak takut hantu, tapi nggak gitu juga kali, Rei," ujar Hana kembali mencari tahu.
"Setelah menjalani hari yang penuh kebisingan, ada kalanya aku ingin tenang dalam keheningan, Han," jawab Reiga seraya menyelipkan helaian rambut Hana yang jatuh di wajah gadis itu ke belakang telinga kiri Hana.
"Kasian banget Mas Ayang aku pasti repot harus dengar pikiran orang setiap hari," ucap Hana sambil mengelus wajah Reiga.
Bibir Reiga tersenyum.
"Sebenarnya aku bisa memilih mau mendengarkan atau enggak sih, Han," aku Reiga.
Hana melongo.
"Wait! Berarti kamu bisa dong nggak dengerin pikiran aku!?"
"Bisa banget lah!"
"Terus????"
Hana mendelik tak terima.
"Terus aku senang aja bisa dengerin pikiran kamu, Adrianne Hana," jawab Reiga seenaknya.
"Ih! Tuh kan resek banget! Iseng! Nyebelin!" protes Hana sewot.
Reiga terkekeh.
"Nggak usah sok protes. Kamu juga sering manfaatin kemampuan aku kan?"
Hana memasang wajah tak terima.
"Kapan?"
"Kapan? Serius nih mau diingetin?" canda Reiga.
Wajah Hana kadung memerah. Dia memang tidak bisa menyangkalnya.
"Anak-anak sering ke sini ya?" tanya Hana lagi kendati banyak sekali mainan per-cowok-an di town house ini.
Reiga mengangguk.
"Base camp. Kadang aku lagi di luar mereka pasti tetap ke sini," jawab Reiga.
Hana mengangguk-angguk. Kalau begitu keputusannya mengisi full kulkas Reiga dan stok cemilan adalah benar adanya.
"Hmm... berarti mereka harus terbiasa melihat adegan ini," ucap Hana lalu mengecup bibir Reiga cepat.
Bibir Reiga menyunggingkan senyum.
"Kamu yang mulai ya," ujar Reiga lalu mencium bibir Hana kembali dengan sepenuh jiwanya. Melingkarkan kedua lengannya. Mendekap Hana yang sudah lebih dulu menangkup wajah kirinya.
Mereka tersenyum dalam jeda ciuman mereka.
Saling memandang penuh cinta. Lalu berciuman kembali tanpa jeda.