Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Harga Sebuah Kesombongan
Palu kayu di tangan juru lelang berdentang memecah keheningan, menandakan dimulainya pusaran uang dan ambisi di Paviliun Teratai Emas.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Mari kita mulai pelelangan malam ini dengan barang pertama: Pedang Perunggu era Dinasti Ming..."
Arya duduk dengan tenang di sofa beludru ruang VVIP-nya, menyilangkan kaki sambil menatap layar sentuh di depannya. Matanya memancarkan ketidakpedulian absolut. Beberapa barang pertama yang dilelang—mulai dari barang antik bersejarah hingga perhiasan langka—terjual dengan harga puluhan miliar rupiah. Namun, bagi Arya, semua itu hanyalah rongsokan yang tidak memiliki nilai fungsional untuk kultivasinya.
Satu jam berlalu. Ketegangan di aula utama mulai memuncak. Juru lelang wanita itu mengambil napas dalam-dalam, senyum profesionalnya berubah menjadi ekspresi penuh hormat saat dua penjaga membawa sebuah kotak kayu cendana berukir naga ke atas panggung.
Saat kotak itu dibuka, aroma herbal yang sangat pekat dan murni seketika menyebar, bahkan menembus sistem ventilasi hingga ke ruang VVIP. Di dalam kotak sutra tersebut, terbaring sebuah akar ginseng berwarna merah tua yang menyerupai pembuluh darah manusia.
[Ding! Sistem Naga Leluhur Mendeteksi Objek Spiritual.]
[Nama Objek: Ginseng Darah (Usia Estimasi: 520 Tahun).]
[Tingkat Kemurnian Qi: 85%. Sangat direkomendasikan untuk menembus Ranah Pembentuk Fondasi Qi.]
Sudut bibir Arya sedikit terangkat. "Akhirnya."
"Tuan dan Nyonya," suara juru lelang bergema ke seluruh ruangan. "Ini adalah pusaka utama malam ini. Ginseng Darah berusia lebih dari lima ratus tahun, digali dari puncak es Pegunungan Himalaya. Tanaman ini bukan sekadar obat; bagi para praktisi bela diri, ini adalah nyawa kedua dan kunci untuk menembus batas fisik. Harga awal dimulai dari lima puluh miliar rupiah. Setiap penawaran minimal lima miliar!"
"Enam puluh miliar!" seru seorang CEO dari lantai dasar.
"Tujuh puluh miliar!"
"Seratus miliar!"
Harga meroket dengan tidak masuk akal dalam waktu kurang dari satu menit. Para miliarder ini tahu persis nilai dari sesuatu yang bisa memperpanjang umur atau meningkatkan kekuatan fisik.
Namun, persaingan sengit itu terhenti secara brutal ketika sebuah suara serak dan berat terdengar dari sistem pengeras suara yang terhubung langsung dengan Ruang VVIP Nomor Satu.
"Tiga ratus miliar."
Suara itu tidak nyaring, namun mengandung tekanan Qi (energi kehidupan) yang membuat gendang telinga para peserta di lantai dasar berdengung. Beberapa pengusaha biasa bahkan merasa sesak napas.
"Itu... itu ruang milik Asosiasi Naga Hitam!" bisik seorang pengusaha dengan wajah pucat.
"Kudengar Ketua Fang sendiri yang datang. Siapa yang berani melawannya? Mencari mati!"
Aula menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun pengusaha dari Empat Keluarga Besar yang berani mengangkat plakat penawaran. Melawan Asosiasi Naga Hitam dalam urusan barang kultivasi sama dengan mengundang pembunuh bayaran ke rumah mereka sendiri.
Di dalam Ruang VVIP Nomor Satu, Fang Wu, Ketua Asosiasi Naga Hitam, duduk bersandar sambil memutar dua bola besi di telapak tangannya. Pria dengan luka gores memanjang di wajahnya itu menyeringai arogan.
"Ginseng ini adalah milikku. Dengan ini, aku akan menembus Ranah Guru Bela Diri (Martial Master)," gumamnya percaya diri.
Juru lelang di panggung menelan ludah dengan gugup. "T-Tiga ratus miliar dari Ruang VVIP Satu. Apakah ada penawaran lain? Tiga ratus miliar, sekali... Tiga ratus miliar, dua kal—"
"Satu triliun."
Suara yang datar, tenang, namun menggelegar seperti guntur di siang bolong tiba-tiba memotong dari Ruang VVIP Nomor Tiga—ruangan milik Arya.
Angka itu tidak masuk akal. Bukan karena tidak ada yang memiliki uang satu triliun di ruangan itu, melainkan karena menaikkan tawaran dari tiga ratus miliar langsung ke satu triliun adalah tindakan irasional yang murni bertujuan untuk menghancurkan harga diri lawan secara finansial. Itu adalah pernyataan perang.
Ruangan lelang hening. Anda bahkan bisa mendengar detak jantung orang di sebelah Anda.
Brak!
Di Ruang VVIP Satu, Fang Wu meremukkan salah satu bola besi di tangannya hingga menjadi serpihan. Matanya memerah karena amarah. "Siapa bajingan di Ruang Tiga?! Beraninya dia menantang Asosiasi Naga Hitam!"
Fang Wu menekan tombol mikrofon dengan kasar. "Satu koma dua triliun! Teman di Ruang Tiga, Ginseng Darah ini sangat penting bagi Asosiasi Naga Hitam. Saya sarankan Anda memberikan 'wajah' kepada kami malam ini. Jika tidak, saya khawatir Anda mungkin tidak bisa meninggalkan Nusantara City dengan tubuh utuh."
Ancaman itu diucapkan secara terbuka. Tidak ada lagi basa-basi. Ini adalah hukum rimba dunia bela diri; yang kuat memangsa yang lemah.
Namun, balasan dari Ruang Tiga datang tanpa jeda, mematahkan setiap logika negosiasi.
"Dua triliun."
Suara Arya terdengar bosan, seolah ia baru saja membeli permen di minimarket.
"Asosiasi Naga Hitam?" Arya melanjutkan melalui pelantang suara, nadanya sedingin es di kutub. "Sejak kapan sekelompok preman jalanan merasa memiliki kualifikasi untuk meminta 'wajah' dariku? Jika kalian tidak punya uang, diamlah. Lelang ini menggunakan mata uang, bukan gertakan kosong."
Pernyataan logis dan brutal itu membuat seluruh hadirin menahan napas. Ini bukan sekadar tamparan di wajah; ini adalah penghinaan total yang menginjak-injak harga diri Asosiasi Naga Hitam di depan publik.
Di dalam Ruang Satu, pembuluh darah di dahi Fang Wu menonjol. Ia tidak tahan lagi. Sebagai praktisi bela diri tahap puncak, ia memusatkan energi Qi-nya, memproyeksikan niat membunuhnya menembus dinding dan mengarahkannya langsung ke Ruang Tiga dalam bentuk gelombang suara ultrasonik.
"Bocah sombong! Mati kau!"
Gelombang energi itu melesat cepat, cukup kuat untuk membuat organ dalam manusia biasa hancur berkeping-keping.
Namun, di dalam Ruang Tiga, Arya bahkan tidak berkedip. Saat gelombang niat membunuh itu mendekat, Arya hanya mendengus pelan. Ia menyalurkan sedikit esensi Qi dari Fisik Petarung miliknya, lalu membalasnya dengan jentikan jari di udara.
Wusss!
Energi Arya memotong serangan Fang Wu dengan presisi bedah yang sempurna. Gelombang itu tidak hanya dinetralkan, tetapi Arya membalikkan pantulan energi tersebut dengan kekuatan dua kali lipat kembali ke Ruang Satu.
PRANG!
Kaca antipeluru di ruang VVIP Fang Wu retak parah. Fang Wu terlempar dari kursinya, dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Ia memuntahkan seteguk darah segar ke atas karpet.
"Ketua!" para pengawal di ruangan itu menjerit panik.
Fang Wu memegang dadanya yang sesak, matanya membelalak dipenuhi campuran antara kengerian dan kebencian. "Kekuatan Qi yang begitu murni... Dia bukan pengusaha biasa! Dia adalah kultivator tingkat tinggi!"
Di aula utama, juru lelang yang tidak menyadari pertarungan energi mematikan barusan akhirnya menemukan kembali suaranya.
"D-Dua triliun rupiah! Sekali... dua kali... tiga kali! Terjual kepada Tuan di Ruang VVIP Tiga!"
Palu diketuk. Kemenangan finansial telah diraih tanpa perlawanan lebih lanjut.
Di dalam ruangannya, Arya berdiri dan merapikan jasnya. Thomas, yang berdiri di belakangnya, baru saja selesai memproses transfer dua triliun rupiah tanpa berkedip. Bagi aset Dragon Corp, angka itu tidak lebih dari sekadar kesalahan pembulatan di laporan keuangan tahunan.
"Barang sudah diamankan, Tuan Muda. Staf Paviliun akan membawanya melalui jalur aman," lapor Thomas. Ia melirik ke arah kaca ruang seberang yang retak. "Namun, sepertinya Asosiasi Naga Hitam tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja. Saya akan memanggil Pasukan Bayangan."
"Tidak perlu," tolak Arya rasional. "Mengerahkan pasukan di tengah kota hanya akan menarik perhatian militer dan kepolisian. Itu tidak efisien. Biarkan mereka mengikuti kita keluar dari batas kota."
Arya menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Matanya berkilat dengan antisipasi yang mematikan.
"Malam ini, aku membutuhkan subjek uji coba untuk menguji batas kekuatanku. Jika Asosiasi Naga Hitam bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk itu... aku akan dengan senang hati menerima persembahan mereka."