Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Hujan Berdarah dan Sang Naga Nusantara
Hujan turun dengan brutal malam itu, seolah langit Jakarta sedang ikut menangisi kebodohan yang baru saja terjadi. Di atas aspal sebuah gang sempit yang dingin dan basah, Kirana Larasati terbaring dengan napas yang tersengal-sengal. Pandangannya mulai mengabur, namun rasa sakit di dadanya—di mana sebuah pisau berburu bergerigi tertancap dalam—terasa begitu nyata dan menyiksa. Darah merah pekat mengalir deras dari lukanya, bercampur dengan genangan air hujan yang keruh, memantulkan cahaya neon berkedip dari papan reklame di ujung jalan.
Namun, demi Tuhan, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang menggerogoti jiwanya hingga hancur berkeping-keping.
Di hadapannya, berdiri dua orang yang paling ia percayai di dunia ini. Bagas, tunangannya, pria yang selama lima tahun ini selalu ia dukung karirnya. Pria yang ia angkat dari staf biasa hingga menjadi direktur muda yang disegani di perusahaannya. Dan di samping pria itu, bernaung di bawah payung hitam yang sama dan bergelayut manja di lengannya, adalah Riana. Adik tiri Kirana yang berwajah polos bak malaikat tanpa dosa, namun terbukti memiliki hati sebusuk iblis di kerak neraka.
"Maafkan aku, Kak Kirana," ucap Riana. Suaranya dibuat selembut mungkin, kontras dengan seringai kejam di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Riana menunduk, menatap tubuh Kirana yang sekarat seolah menatap serangga yang menjijikkan. "Tapi Kakak sudah terlalu lama menghalangi jalan kami. Perusahaan Ayah, warisan dari ibumu, status sosialmu, dan tentu saja... Mas Bagas. Semuanya seharusnya milikku sejak awal."
Bagas menatap Kirana dengan tatapan dingin yang membekukan. Tidak ada sedikit pun penyesalan di matanya yang dulu selalu menatap Kirana dengan penuh kehangatan palsu. Tangan pria itu, yang baru saja menusukkan pisau ke dada Kirana, kini dengan lembut merangkul pinggang Riana.
"Jangan salahkan kami, Kirana. Kau yang terlalu naif dan bodoh," cibir Bagas, suaranya sedingin es. "Kau pikir cinta murahanmu bisa menjalankan sebuah perusahaan raksasa seperti Nusantara Group? Riana memiliki ambisi yang sama denganku. Dia tahu bagaimana dunia bisnis yang kejam bekerja. Bersamanya, aku bisa menguasai seluruh aset Nusantara Group tanpa perlu menjadi bayang-bayangmu lagi."
Kirana ingin berteriak. Ia ingin memaki mereka berdua dengan setiap kata kotor yang ada di dunia ini. Memorinya berputar layaknya kaset rusak. Ia teringat bagaimana ia bekerja belasan jam setiap hari, merelakan masa mudanya, mengorbankan impiannya sendiri hanya untuk memastikan perusahaan peninggalan almarhumah ibu kandungnya tetap berjaya di tengah gempuran krisis. Ia menahan hinaan diam-diam dari ibu tirinya, berusaha menjadi anak yang berbakti. Ia memberikan segalanya untuk Bagas, mempercayakan kursi direksi pada pria itu karena ia pikir mereka akan membangun masa depan bersama.
Hanya untuk ditikam dari belakang. Secara harfiah dan kiasan.
"Kalian... pengkhianat... lintah darat..." suara Kirana hanya berupa bisikan parau. Darah segar menyembur dari mulutnya saat ia memaksakan diri berbicara, tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar membelah langit malam.
Riana tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti melodi kematian di telinga Kirana. Ia berjongkok, berhati-hati agar ujung gaun mahalnya tidak terkena darah Kirana, lalu mendekatkan wajahnya. Aroma parfum bunga lili murahan menguar tajam, membuat Kirana merasa semakin mual.
"Selamat tinggal, Kakak tersayang. Jangan khawatir, besok pagi berita nasional akan mengabarkan bahwa ahli waris tunggal Nusantara Group tewas secara tragis karena perampokan di gang sepi. Aku dan Ayah akan menangisi kepergianmu dengan sangat meyakinkan di depan pers. Dan saham 60% milikmu? Tentu saja akan jatuh ke tangan Ayah, yang kemudian akan diwariskan kepadaku." Riana menepuk pelan pipi Kirana yang mulai dingin.
"Tidurlah yang nyenyak di neraka."
Bagas menarik lengan Riana, tampak tidak sabar. "Ayo pergi, Sayang. Seseorang bisa melihat kita di sini. Biarkan dia mati perlahan."
Kedua bayangan itu berbalik, berjalan menjauh menembus tirai hujan, meninggalkan Kirana yang perlahan-lahan kehabisan darah sendirian dalam kegelapan.
Kesadaran Kirana mulai menipis. Dingin merayap dari ujung jari kaki hingga perlahan mencengkeram jantungnya. Di detik-detik terakhir hidupnya, saat pandangannya mulai meremang menjadi hitam pekat, sebuah penyesalan dan kebencian yang luar biasa besar menghantam dadanya layaknya badai.
Jika... jika saja Tuhan, Iblis, atau siapa pun yang berkuasa di alam semesta ini memberiku satu kesempatan lagi. Kirana memejamkan matanya, menggigit bibirnya hingga berdarah, merapal kutukan terakhirnya.
Aku bersumpah dengan darah dan jiwaku! Aku tidak akan pernah menjadi wanita bodoh yang percaya pada cinta palsu lagi. Aku akan menghancurkan mereka! Aku akan menguliti kemunafikan mereka, merebut kembali semua tetesan keringat ibuku, dan memastikan Bagas serta Riana memohon kematian sambil merangkak di bawah kakiku!
Sumpah berdarah itu bergema dan meledak di dalam benaknya, diiringi kilatan petir raksasa yang menyambar tepat di atas gedung pencakar langit Jakarta. Kemudian, semuanya menjadi gelap. Kehampaan yang dingin menelannya bulat-bulat.
GASP!
Kirana tersentak bangun, dadanya membusung hebat saat ia menarik napas panjang, seolah ia baru saja ditarik ke permukaan setelah tenggelam berjam-jam di dasar laut yang gelap. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi kening, leher, dan punggungnya. Tangannya secara refleks memukul dadanya sendiri, meraba bagian dada sebelah kiri dengan panik.
Jantungnya berdetak liar. Sempurna. Utuh.
Tidak ada darah yang menggenang. Tidak ada gagang pisau yang menancap. Dan yang paling penting, tidak ada rasa sakit yang merobek dagingnya.
Matanya yang terbelalak liar perlahan mulai memfokuskan pandangan ke sekeliling. Ruangan ini... ini bukan jalanan aspal yang basah dan berbau anyir. Ini adalah sebuah kamar. Kamar tidurnya yang luas dengan nuansa emas, putih, dan pastel. Terdapat tempat tidur king size bergaya Victoria yang empuk, lampu gantung kristal di langit-langit, dan aroma wangi melati dari diffuser di sudut ruangan yang sangat menenangkan.
Ini adalah kamarnya. Kamar yang sudah ia tinggalkan sejak ia diusir secara halus oleh ibu tirinya dengan alasan 'kemandirian' dua tahun sebelum malam kematiannya.
"Apa... apa yang terjadi? Apakah aku sudah di surga? Atau neraka?" gumam Kirana dengan suara gemetar. Ia menatap kedua telapak tangannya. Bersih. Halus. Tidak ada kapalan akibat stres bekerja dan tidak ada bekas goresan aspal.
Ia segera melemparkan selimut tebalnya, melompat dari tempat tidur sambil mengabaikan pusing yang mendera kepalanya, dan berlari menuju meja rias antik di sudut ruangan. Pantulan di cermin besar itu membuat napasnya tercekat.
Yang menatap balik dari cermin bukanlah sosok wanita berusia dua puluh lima tahun yang kelelahan dengan kantung mata hitam. Itu adalah sosok seorang wanita muda yang sangat cantik, berusia dua puluh dua tahun. Rambut hitam legamnya tergerai panjang bergelombang dengan sehat, kulitnya putih porselen tanpa kerutan stres, dan matanya yang sewarna batu obsidian menatap balik dengan campuran antara teror dan ketidakpercayaan.
Dengan tangan gemetar, Kirana menyambar ponsel cerdas model keluaran lama yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga rasanya ingin melompat memecahkan tulang rusuknya saat ia menekan tombol daya dan melihat tanggal besar yang tertera di layar lock screen.
Senin, 14 Agustus 2023.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya yang lemas, jatuh berdebum ke atas karpet tebal berbulu. Lutut Kirana kehilangan kekuatannya, membuatnya merosot jatuh ke lantai.
Tiga tahun.
Tiga tahun yang lalu. Tiga tahun sebelum malam hujan berdarah di gang sempit itu. Tiga tahun sebelum kematiannya yang menyedihkan dan merana.
Air mata yang tidak sempat ia tumpahkan
saat kematiannya, kini mengalir deras membasahi pipinya. Ia menangis tersedu-sedu, meremas karpet di bawahnya. Namun perlahan, isakannya berubah. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia mulai tertawa. Tawanya semakin lama semakin keras, tawa histeris yang bercampur dengan kelegaan luar biasa dan kegilaan yang baru lahir.
Tuhan mendengarkan sumpah berdarahnya. Alam semesta memberinya keajaiban yang mustahil. Ia telah ditarik kembali ke masa lalunya sendiri.
"14 Agustus 2023..." Kirana bergumam perlahan. Tawanya mereda, suaranya berubah dari isakan menjadi desisan dingin berbisa.
Ia tidak akan pernah melupakan tanggal ini. Ini adalah titik balik kehancuran hidupnya. Hari ini adalah hari di mana ayah kandungnya, Herman, dan ibu tirinya, Sari, membuat skenario besar. Mereka merencanakan sebuah konferensi pers raksasa untuk memaksanya secara resmi mengumumkan pertunangannya dengan Bagas di depan ratusan pemegang saham dan media nasional.
Di kehidupan sebelumnya, ia dengan patuh dan bodoh menuruti permintaan mereka. Ia berdiri di podium, tersenyum malu-malu, menerima cincin dari Bagas, percaya sepenuhnya bahwa pria itu mencintainya dan bahwa keluarganya menginginkan yang terbaik untuknya.
Tapi sekarang? Hatinya telah lama membusuk dan mati. Gadis naif yang haus akan kasih sayang keluarga itu telah dibunuh di gang gelap malam itu.
Kirana bangkit berdiri dengan perlahan. Ekspresi wajahnya di cermin berubah seratus delapan puluh derajat. Sorot matanya yang hangat kini sedingin gletser di kutub utara. Yang berdiri di depan cermin sekarang adalah iblis wanita yang kembali dari kedalaman neraka untuk menuntut utang darah.
"Kalian ingin aku menjadi boneka penurut kalian lagi?" Kirana berbisik pada bayangannya sendiri, sebuah senyum mematikan terbentuk di bibirnya. "Mari kita lihat, siapa yang akan hancur dalam permainan ini."
Empat puluh menit kemudian, Kirana melangkah menuruni tangga pualam melingkar di rumah mewahnya. Bunyi ketukan hak tinggi sepatunya menggema tajam di ruangan luas itu.
Di kehidupan lalu, ia mengenakan gaun sutra putih polos berlengan panjang, melambangkan kepatuhan dan kesucian. Namun hari ini, ia mengenakan gaun merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan dan berani, membelah hingga ke pertengahan paha. Warna merah darah yang sangat kontras dengan kepolosannya dulu. Rambut hitamnya diikat tinggi ekor kuda, menampilkan leher jenjangnya yang angkuh dan rahangnya yang mengeras.
Di ruang makan utama yang mewah dengan meja kayu mahoni panjang, 'keluarga bahagianya' sudah berkumpul menunggunya.
Di ujung meja, ayahnya, Herman, sedang membaca laporan di tablet bisnisnya. Di sebelah kanan, ibu tirinya, Sari, sedang menyeruput teh Earl Grey. Di sebelah kiri meja, duduk Riana, sang adik tiri, yang mengenakan gaun pink pastel selutut. Dan tepat di samping Riana, duduk Bagas.
Calon tunangannya. Pria bajingan yang memancarkan pesona palsu metropolitan.
"Kirana, akhirnya kau turun juga. Lama sekali kau bersiap-siap," tegur Herman dengan nada otoriternya yang khas, bahkan tidak mengangkat wajahnya dari layar tablet. "Cepat sarapan. Wartawan dan jajaran direksi sudah menunggu di ballroom Hotel Kempinski untuk konferensi pers pertunanganmu dengan Bagas."
Sari meletakkan cangkir tehnya, memamerkan senyum keibuan palsu. "Benar, Sayang. Bagas sudah menunggumu dari tadi. Kalian berdua akan menjadi power couple di dunia bisnis Jakarta hari ini."
Bagas segera berdiri dengan sigap. Ia menarik kursi kayu berlapis beludru di sebelahnya untuk Kirana. "Duduklah, Rana sayang. Aku sudah menyuruh Bi Inah menyiapkan pancake kesukaanmu."
Kirana tidak melangkah mendekat. Ia tetap berdiri tegak di ujung lain meja makan, berjarak lima meter dari mereka. Ia menyilangkan tangan di depan dada, mengangkat dagunya sedikit. Tatapannya setajam belati es saat ia menyapu wajah keempat orang di ruangan itu satu per satu.
"Batalkan konferensi pers itu, Ayah," ucap
Kirana dengan nada santai dan pelan. Namun suaranya sangat jernih, memotong keheningan ruang makan bagaikan sabetan pedang.
Seketika, seluruh gerakan di ruangan itu membeku.
Herman menghentikan usapannya di atas tablet. Sari tersedak ludahnya sendiri. Riana melebarkan mata palsunya. Dan Bagas mematung dengan posisi tangan masih memegang sandaran kursi.
"Apa maksudmu, Kirana?" suara Herman perlahan meninggi, tabletnya dihempaskan ke atas meja dengan bunyi keras. "Jangan mulai bertingkah! Ratusan undangan sudah disebar!"
"Aku tidak sedang bertingkah, Ayah," jawab Kirana dengan senyum tipis yang mematikan, langkahnya mulai mengitari meja secara perlahan layaknya predator mengintai mangsa. "Aku bilang, batalkan acaranya. Aku tidak akan pernah sudi menikah dengan pria parasit dan lintah darat seperti Bagas."
Prang!
Sari terkejut hingga menyenggol cangkir tehnya. Cangkir porselen mahal itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. "Kirana! Jaga mulutmu yang tidak sopan itu! Bagas telah bekerja keras membantu memajukan perusahaanmu!"
"Membantu memajukan perusahaan, atau membantu menguras aset perusahaan ke rekening pribadinya di Cayman Islands?" Kirana menghentikan langkahnya tepat di belakang kursi Bagas. Ia menunduk sedikit, menatap langsung ke mata pria itu.
Bagas seketika memucat pasih. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis dan tengkuknya. Rahangnya menegang. Di kehidupan sebelumnya, Kirana baru menemukan bukti penggelapan dana itu di tahun kelima. Tapi sekarang, Kirana mengingat setiap digit angkanya.
"Rana... a-apa yang kau bicarakan? Sayang, kau sepertinya sedang stres..." Bagas mencoba menutupi kegugupannya. Ia mengangkat tangan, mencoba meraih tangan Kirana.
Dengan gerakan kilat dan tenaga penuh, Kirana mengayunkan tangannya.
PLAK! Suara tamparan keras menggema sangat nyaring. Kepala Bagas terlempar ke samping. Cap lima jari berwarna merah cerah langsung tercetak jelas di pipinya.
"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu lagi," desis Kirana, auranya meledak mengancam. "Dan simpan panggilan 'Sayang' itu untuk wanita gatal yang diam-diam selalu kau tiduri di apartemenmu, yang saat ini sedang menunduk gemetar ketakutan di seberang mejamu."
Mata Kirana melirik tajam ke arah Riana. Adik tirinya itu tersentak hebat, wajahnya seputih kertas, dan tubuhnya gemetar karena rahasia kelamnya terbongkar.
"CUKUP!" Herman bangkit berdiri dan menggebrak meja. Wajahnya merah padam. "Kirana Larasati! Kau akan tetap pergi ke hotel itu dan bertunangan dengan Bagas detik ini juga, atau Ayah akan mencabut hak warismu atas Nusantara Group sekarang juga!"
Kirana tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar psikopatik di telinga keluarganya.
"Silakan, Ayah. Cabut saja," tantang Kirana berani. "Tapi biarkan aku mengingatkan Ayah. 60% saham mayoritas Nusantara Group atas nama almarhumah Ibuku, akan otomatis jatuh kepadaku di hari aku menandatangani akta pernikahan. Bukan kepada Ayah, bukan kepada wanita ular ini, dan bukan kepada anak haramnya. Dan aku jamin, pria yang akan menandatangani akta pernikahan denganku bukanlah anjing peliharaan Ayah ini."
Tanpa menunggu balasan, Kirana berbalik. Ia melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah tegap layaknya seorang ratu yang baru saja mendeklarasikan perang, mengabaikan teriakan histeris keluarganya.
Ia tahu keluarganya akan membalas dengan kejam. Ia membutuhkan pelindung. Bukan pelindung biasa. Ia membutuhkan seekor monster mutlak yang lebih menakutkan, lebih kejam, dan lebih gila dari keluarga tirinya.
Dan Kirana tahu persis satu-satunya pria yang memenuhi kriteria itu.
Adyatma Surya.
CEO dari Surya Corp, konglomerat raksasa terbesar. Pria itu dikenal luas sebagai "Dewa Kematian Bisnis". Dingin, tanpa ampun, dan tidak memiliki moralitas. Siapa pun yang menyinggungnya akan musnah keesokan harinya.
Namun, Kirana memiliki keuntungan dari masa depan. Ia tahu rahasia tergelap Adyatma. Pria itu menderita Kutukan Darah Naga. Darah magis kuno yang mengalir pekat di nadinya perlahan membakar kewarasannya. Untuk bertahan hidup, Adyatma membutuhkan seorang Anchor atau Penjangkar Jiwa yang memiliki energi spiritual murni (Aroma Suci).
Dan garis keturunan ibu Kirana adalah klan Penjaga Spiritual Jawa Kuno. Tubuh Kirana memancarkan aura dan aroma Sandalwood magis yang langka—satu-satunya obat penawar yang bisa menenangkan Naga Laut mana pun yang sedang mengamuk.
Mobil Porsche merah Kirana menderu keluar dari gerbang rumah mewah, melesat bagai anak panah menuju markas besar sang penguasa kegelapan: Surya Corp.
Gedung Surya Corp berlapis kaca anti-peluru berwarna hitam legam itu dijaga lebih ketat dari istana kepresidenan.
Namun, Kirana tidak menuju meja resepsionis. Ia berjalan langsung menuju ke lorong lobi samping yang remang-remang, menghampiri kepala penjaga berbadan besar bak algojo.
"Berhenti di sana, Nona. Area ini sangat dibatasi," ancam penjaga itu, tangannya bersiap di balik jas.
Kirana menatap tajam mata penjaga itu, mencondongkan tubuhnya, dan membisikkan sebuah kalimat sandi kuno yang amat rahasia. "Banyu mili, naga nangi. Segara ireng njaluk tumbal."
Mata penjaga itu seketika membelalak lebar. Wajahnya yang garang berubah pucat pasi. Itu adalah Sandi Darurat Kelas Omega milik Klan Surya yang menandakan bahwa Sang Naga sedang dalam fase kritis kutukannya, dan seseorang membawa obat spiritual kepadanya.
"M-maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia Nona. Silakan lewat lift VIP eksklusif ini," ucap penjaga itu tergagap parah.
Lift emas melesat naik tanpa henti hingga tiba di lantai teratas: Penthouse eksklusif CEO.
Saat pintu emas lift terbuka, hawa panas yang luar biasa pekat menyambar wajahnya. Lorong gelap gulita, lampu-lampu korsleting oleh tekanan energi magis di udara. Udara dipenuhi aroma ozone dan bau anyir darah segar.
Kirana mendorong pintu jati berat di ujung lorong. Pemandangan di dalam ruangan seluas lapangan basket itu terasa seperti lukisan neraka. Kaca-kaca jendela raksasa hancur oleh tekanan energi tak kasat mata. Perabotan mewah hancur berkeping-keping.
Di tengah badai kehancuran itu, bersimpuhlah seorang pria. Adyatma Surya.
Kemeja putihnya robek, memperlihatkan otot punggungnya yang menegang. Jaring urat-urat bercahaya kebiruan merayap dan berdenyut seperti lava biru di bawah kulitnya. Di sekelilingnya, ilusi siluet naga raksasa meliuk-liuk liar.
Matanya yang seharusnya berwarna cokelat gelap kini menyala biru safir buas.
"Siapa... yang mengizinkanmu... masuk?!" geram Adyatma, suaranya berlapis gema ganda mistis. "Pergi dari sini... sebelum aku mencabik-cabik lehermu!"
Energi buas meledak dari tubuhnya, menciptakan gelombang angin panas yang menghempaskan sisa-sisa meja.
Namun, Kirana menolak untuk mundur. Ia melangkahkan kakinya membelah serpihan kaca. Sambil berjalan pelan, ia melepaskan segel spiritual kuno yang selama berabad-abad tertidur di dalam genetik klannya.
Seketika, aroma Sandalwood yang sangat pekat, manis, dan menenangkan menguar deras. Aura spiritual berwarna putih keemasan tipis menyelubungi tubuhnya. Aroma magis itu menyapu hawa panas di ruangan tersebut.
Mata biru buas Adyatma membelalak. Geramannya mereda, digantikan oleh tarikan napas panjang dan rakus. Pria itu menyedot aroma Kirana. Urat-urat biru di bawah kulitnya perlahan mulai meredup.
Kirana berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan penguasa absolut ini. Tangannya yang mungil terulur, menangkup sebelah rahang keras pria itu yang kulitnya masih sepanas besi membara.
"Namaku Kirana Larasati," bisik Kirana. Energi penenangnya mengalir menembus kulit Adyatma. "Aku tahu siksaan penderitaanmu, Tuan Adyatma. Dan aku adalah satu-satunya obat penawar nyawa yang kau cari-cari dengan putus asa."
Napas Adyatma memburu. Warna biru magis di matanya perlahan memudar. Namun di detik berikutnya, tangan besarnya bergerak kilat, langsung mencengkeram kuat pinggang Kirana, menarik wajah wanita itu hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Apa yang kau inginkan dari nyawaku, Penyihir Kecil?" desis Adyatma. Suaranya serak, berat, dan intimidatif, meski tanpa sadar pria itu menghirup dalam-dalam aroma leher Kirana.
"Jadilah suamiku," tuntut Kirana tanpa basa-basi, menatap lurus ke dalam mata gelap sang predator. "Aku akan menjadi Anchor sucimu. Aku akan selalu ada di sisimu, meredakan kutukan di darahmu, memastikan kau hidup lebih lama dari takdirmu."
Adyatma menyeringai dingin, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Tawaran yang sombong. Dan sebagai imbalannya?"
"Sebagai imbalannya," mata Kirana berkilat dipenuhi api neraka dendam, "kau akan menyerahkan kekuasaanmu untuk menjadi pedangku. Aku butuh nama besarmu, statusmu, dan tangan besi Surya Corp. Aku ingin orang-orang yang mengkhianatiku menangis memohon kematian di bawah kakiku."
Keheningan yang tegang menguasai ruangan yang telah menjadi reruntuhan itu. Adyatma menatap manik mata hitam wanita cantik di depannya. Mata wanita ini menyala dengan kegelapan dan kekejaman absolut yang selaras dengan jiwa iblis dalam diri Adyatma.
Tiba-tiba, Adyatma mempererat cengkeramannya. Ia menarik Kirana dengan paksa hingga dada wanita itu menabrak dada bidangnya yang keras dan panas.
Pria itu menundukkan wajahnya, membiarkan bibir tipisnya menyapu telinga Kirana.
"Aku menerima kesepakatanmu, Istriku," bisik Adyatma pelan, suaranya sangat sensual namun sarat akan bahaya mematikan. "Namun ketahuilah ini baik-baik... Begitu kau berani mengikat janji dengan Naga Laut... kontrak ini tidak akan pernah mengenal kata perceraian."
Adyatma menggigit lembut ujung daun telinga Kirana.
"Kutukan naga ini adalah kutukan posesif yang tidak termaafkan," lanjutnya, menatap bibir Kirana dengan tatapan obsesif. "Ia menuntut darahmu, menuntut dagingmu, dan mengunci jiwamu menjadi milikku selamanya. Satu-satunya cara agar kontrak pernikahan kita berakhir... adalah jika kau atau aku, mati."