Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilusi yang Memudar
Matahari merangkak semakin tinggi, namun panasnya siang itu tidak menyurutkan semangat yang membara di taman samping mansion Thorne. Tanah yang tadinya gersang dan hanya ditumbuhi rumput liar kini telah berubah menjadi lahan harapan. Adrian benar-benar menepati janjinya. Pria yang biasanya memegang senapan atau berkas kontrak bernilai jutaan dolar itu, kini berlutut di atas tanah, dengan lengan kemeja hitam yang digulung hingga ke siku, menampakkan otot-otot lengannya yang kokoh.
Di sampingnya, Nora tampak seperti dewi musim semi yang tersesat di sarang mafia. Ia mengenakan terusan katun tipis berwarna putih yang memudahkan geraknya, dengan rambut yang diikat asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang menempel di lehernya yang berkeringat.
"Bukan begitu cara menggalinya, Adrian," protes Nora sambil tertawa kecil. Ia merebut sekop kecil dari tangan Adrian. "Kau terlalu kuat menekannya. Kita hanya butuh lubang sedalam lima sentimeter untuk bibit mawar ini, bukan sedang menggali kuburan untuk musuhmu."
Adrian terkekeh, suara rendah yang jarang terdengar itu kini sering muncul sejak pagi tadi. "Kebiasaanku memang selalu memastikan sesuatu terkubur sangat dalam, Nora."
Mereka asyik berdua dalam ritme yang harmonis. Nora yang mengarahkan, dan Adrian yang mengikuti instruksinya dengan kepatuhan yang mengejutkan. Mereka menggali tanah bersama-sama, merasakan tekstur bumi yang lembap di sela-sela jemari. Saat Nora menaburkan bibit-bibit bunga mawar dan lili dengan sangat hati-hati—seolah setiap butir bibit itu adalah permata berharga—Adrian memperhatikannya tanpa berkedip.
Nora menutup kembali bibit-bibit itu dengan tanah, menepuk-nepuknya lembut seperti sedang menidurkan bayi, lalu menyiramnya dengan air dari gembor kecil. Terakhir, mereka menaburkan pupuk organik di sekelilingnya.
Dari kejauhan, di ambang pintu kaca yang menuju ke teras, Martha berdiri diam. Ia meletakkan nampan berisi teh melati hangat dan beberapa potong biskuit di atas meja rotan. Senyum tipis mengembang di wajah wanita tua itu. Selama bertahun-tahun ia melayani keluarga Thorne, ini adalah pertama kalinya ia melihat kedamaian yang begitu manusiawi terpancar dari wajah tuannya. Adrian tampak... hidup. Bukan sebagai mesin pembunuh, melainkan sebagai seorang pria.
Adrian berhenti sejenak untuk mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya yang kotor oleh tanah. Saat itulah, matanya tertuju sepenuhnya pada Nora yang sedang berjongkok di depannya, sibuk merapikan barisan tanah.
Kekaguman Adrian tumbuh melampaui batas yang sanggup ia kendalikan. Sinar matahari siang menyinari wajah Nora, memperlihatkan pori-porinya yang halus dan bulu-bulu halus di pipinya. Nora cantik—bahkan sangat cantik dalam kondisi "kotor" seperti ini. Tidak ada riasan tebal, tidak ada gaun mahal, hanya kejujuran yang terpancar dari setiap gerakannya.
Tangan Nora yang halus ternyata sangat terampil dan lembut. Ia bekerja dengan ketelitian yang membuat Adrian terpaku. Namun, lebih dari sekadar keterampilannya, fisik Nora mulai membakar fokus Adrian.
Dari sudut pandangnya yang sedikit lebih tinggi, Adrian tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan lekuk tubuh Nora. Terusan katun tipis yang dikenakan Nora sedikit basah oleh keringat, membuatnya melekat pada kulit dan menonjolkan bentuk tubuh yang selama ini tersembunyi di balik gaun-gaun elegan.
Adrian menelan ludah. Ia teringat Stella. Stella memiliki kecantikan yang mungil, kurus, dan rapuh—tipe wanita yang membuat pria ingin menyembunyikannya di dalam saku. Namun Nora... Nora adalah sebuah mahakarya yang padat dan nyata. Payudaranya berukuran lebih besar, tampak padat dan penuh, menciptakan lekuk yang jauh lebih menggoda dibandingkan Stella yang cenderung rata. Pinggul Nora yang berisi dan pinggangnya yang ramping membentuk siluet jam pasir yang sempurna, sebuah bentuk tubuh yang menjanjikan kekuatan sekaligus kelembutan di saat yang bersamaan.
Apalagi yang kucari? pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di benak Adrian seperti kilat yang menyambar.
Wanita di depannya ini memiliki segalanya. Kecerdasan, keberanian, kesetiaan yang luar biasa, dan kecantikan fisik yang sanggup membuat pria mana pun berlutut. Nora adalah paket sempurna yang selama ini ia idamkan dalam bayangan tentang seorang istri penguasa California.
Namun, tepat saat hatinya mulai goyah, bayangan gudang tua itu kembali muncul. Memori tentang peluru yang menyalak dan tubuh seorang gadis yang terjerembap demi melindunginya.
Adrian memejamkan mata sejenak, menghalau gairah yang mulai memuncak. Logikanya kembali mengambil alih dengan kejam. Ia telah menanamkan sebuah dogma di dalam kepalanya selama tujuh tahun: bahwa ia berhutang nyawa pada gadis yang menyelamatkannya. Dan bagi Adrian, gadis itu adalah Stella Leone. Antonio sendiri yang mengatakannya. Sandiwara Stella kemarin juga menguatkan keyakinannya bahwa Stella adalah sosok yang butuh perlindungan ekstra karena kerapuhannya.
Baginya, menanam bunga ini bukan karena ia mencintai Nora. Ini hanyalah bentuk "pemenuhan janji." Sebuah cara untuk menyenangkan Nora sebelum waktu perpisahan itu tiba. Ia merasa harus memberikan kenangan manis ini kepada Nora sebagai kompensasi atas apa yang akan terjadi nanti.
"Semuanya sudah selesai," suara Nora memecah lamunan Adrian. Gadis itu berdiri, menyeka tangannya yang kotor ke kain lap, lalu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. "Beberapa bulan lagi, mawar-mawar ini akan mekar. Aku tidak sabar melihatnya dari jendela perpustakaan."
Mata Nora berbinar penuh harapan. Ia melangkah mendekati Adrian, tidak peduli dengan tangan mereka yang penuh tanah, dan mencium pipi Adrian berkali-kali dengan penuh semangat.
"Terima kasih, Adrian. Ini hari terbaik dalam hidupku," bisik Nora penuh ketulusan.
Adrian hanya bisa berdiri kaku, merasakan hangatnya kecupan Nora di kulitnya. Ia menatap taman yang baru saja mereka tanam bersama, akar-akar bibit itu kini terkubur di bawah tanah Thorne. Namun, di dalam hatinya, Adrian tahu bahwa ia sedang menanam benih kehancuran. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk menikahi Stella adalah utang budi yang absolut, sementara setiap detik yang ia habiskan bersama Nora justru perlahan-lahan membuktikan bahwa hatinya mulai berkhianat pada janjinya sendiri.
Pagi yang penuh tawa dan siang yang penuh bunga itu berakhir dengan sebuah pelukan di tengah taman, di mana Nora merasa paling dicintai, sementara Adrian merasa paling terjebak dalam jaring kebohongannya sendiri.