NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Deru Mesin di Depan Pintu

Pagi ini, Jakarta sama sekali tidak memberikan toleransi. Matahari baru saja naik sejengkal dari ufuk timur, tapi hawa panasnya sudah langsung memanggang aspal dan menyengat kulitku yang pucat kurang tidur.

​Aku berdiri kaku di depan pintu kayu kedaiku. Tanganku gemetar hebat, mencengkeram gagang sapu ijuk sekuat tenaga seolah benda rapuh itu adalah pedang yang bisa melindungiku.

​Di hadapanku, hanya berjarak kurang dari tiga meter, sebuah ekskavator raksasa berwarna kuning sudah terparkir dengan arogan. Mesin dieselnya menderu rendah, menggetarkan tanah di bawah telapak kakiku, dan menyemburkan kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan dada.

​"Mbak, tolong minggir. Kami di sini cuma jalankan tugas. Surat perintah pembongkarannya sudah sah turun pagi ini," ucap seorang pria berseragam proyek. Suaranya terdengar sangat mekanis, dengan wajah datar tanpa sedikit pun belas kasihan.

​"Nggak bisa!" teriakku, suaraku terdengar parau dan pecah. Semalaman suntuk aku tidak berhenti menangis setelah melihat taksi kuning yang membawa Arka pergi, dan kini tenggorokanku terasa seperti disayat pisau. "Ini bangunan punya izin! Masa tenggang peringatannya masih ada! Kalian nggak bisa asal hancurin tempat ini!"

​Di belakang pria berseragam itu, berdiri tiga orang pria berbadan tegap dengan kaos ketat dan wajah beringas—orang-orang bayaran yang biasanya dipakai untuk urusan kotor eksekusi lahan. Mereka menatapku dari atas ke bawah dengan senyum meremehkan.

​Di mata mereka, aku bukanlah manusia, batinku merintih di tengah keputusasaan. Bagi mereka, aku hanyalah sebutir kerikil kecil yang menjengkelkan, yang menghalangi jalan aspal mulus proyek triliunan rupiah milik majikan mereka.

​"Arka mana?! Panggil Arka Danadyaksa ke sini sekarang!" jeritku lagi, kepanikanku mengambil alih kewarasan.

​Aku terus meneriakkan namanya, meskipun di sudut hatiku yang paling gelap, aku tahu persis bahwa Arka sudah ditendang keluar dan tidak punya kuasa apa pun lagi atas proyek ini. Aku hanya... merindukannya. Aku butuh tamengku kembali.

​"Pak Arka sudah tidak ada hubungannya dengan proyek dan perusahaan ini, Mbak," jawab pria itu dingin, mematikan sisa-sisa harapanku. "Sekarang kendali penuh ada di bawah Pak Hendra. Dan perintah beliau sangat jelas: ratakan area ini hari ini juga tanpa kompromi."

​Pria itu kemudian memutar tubuhnya dan memberi isyarat tangan kepada operator di dalam kabin ekskavator.

​Lengan besi raksasa yang dilengkapi pengeruk tajam itu mulai bergerak naik. Bunyi hidroliknya mendesis mengerikan. Bayangan raksasa mesin itu menutupi tubuhku.

​Aku memejamkan mata rapat-rapat. Air mataku jatuh melewati pipi. Aku tidak akan mundur. Jika tempat ini harus hancur dan rata dengan tanah hari ini, maka biarkan aku tertimbun dan terkubur bersama puing-puing kenangan Nenek di dalamnya.

​Namun, sedetik sebelum pengeruk itu mengayun ke arah atap kedaiku...

​CKIIIIIT!

​Suara derit rem ban mobil yang bergesekan tajam dengan aspal memecah ketegangan.

​Aku membuka mata. Sebuah mobil SUV berhenti melintang dengan kasar, memblokir jalan tepat di samping ekskavator itu. Pintu pengemudi terbuka dengan bantingan keras. Revan melompat turun dari mobilnya, berlari kencang menerobos barisan preman bayaran itu, lalu merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan ekskavator.

​"BERHENTI! STOP MESINNYA SEKARANG!" raung Revan dengan urat leher menonjol.

​"Mas Revan, tolong minggir dan jangan ikut campur. Ini perintah langsung dari atasan pusat," tegur si mandor proyek, tampak terkejut melihat kepala arsiteknya sendiri melakukan sabotase.

​"Atasan lo yang mana?!" bentak Revan tak kalah garang. Napas cowok berlesung pipi itu tersengal-sengal, wajahnya merah padam karena amarah. "Gue masih arsitek kepala di kawasan ini, dan gue belum tanda tangan satu pun dokumen izin clearing pembongkaran area inti!"

​Revan melangkah mundur hingga berdiri menyamping di sebelahku. Ia merogoh bagian dalam jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah map biru resmi dan menamparnya ke dada si mandor.

​"Baca itu baik-baik!" desis Revan. "Ini surat perintah penundaan eksekusi dari firma hukum Bramantyo & Co. Ada sengketa ahli waris lahan ini yang baru aja diregistrasi dan masuk ke pengadilan jam delapan pagi tadi. Kalau lo berani bongkar tempat ini sekarang, lo dan bos-bos lo bakal masuk penjara karena merusak barang bukti sengketa di mata hukum!"

​Mandor itu mengernyitkan dahi. Ia membuka map itu dan membaca deretan kalimat hukum di dalamnya dengan teliti. Wajahnya yang tadi kaku kini tampak ragu dan sedikit pucat.

​Ia kemudian menoleh ke arah jalan raya. Aku mengikuti arah pandangnya.

​Agak jauh dari kami, terparkir sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap. Kaca jendelanya tertutup rapat, tapi aku bisa merasakan aura kejahatan memancar dari sana.

​Ada mata yang sedang mengawasi kami dari balik kaca gelap itu, batinku gemetar. Entah itu Clara yang sedang menikmati penderitaanku, atau Pak Handoko yang sedang memastikan aku hancur lebur.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, mandor itu mengumpat tertahan. Ia menyerahkan kembali map biru itu kepada Revan dengan kasar.

​"Oke. Kita mundur," ucap mandor itu dengan nada tidak terima. Ia menatap lurus ke arah mataku. "Tapi penangguhan ini maksimal cuma berlaku tiga hari. Setelah itu, ada sengketa atau nggak ada sengketa, alat berat ini bakal jalan ngeratain warung lo."

​Mesin diesel ekskavator itu dimatikan. Lengan besinya diturunkan kembali. Para pria berbadan tegap itu membuang ludah ke aspal, lalu perlahan membubarkan diri menuju pos proyek.

​Begitu mereka menjauh, lututku benar-benar kehilangan tulang penyangganya. Aku merosot jatuh ke lantai teras kayu kedaiku, menjatuhkan sapu ijuk yang sedari tadi kupegang. Seluruh tenagaku seolah disedot habis. Dadaku naik turun dengan cepat, mencari oksigen.

​Revan buru-buru berlutut di sampingku, kedua tangannya memegang erat bahuku yang bergetar hebat.

​"Makasih, Van... Ya Tuhan, makasih banyak," isakku pecah. Aku mencengkeram lengan jaket Revan sekuat tenaga.

​Revan menggeleng pelan, raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Jangan makasih ke gue, Nja. Ini semua akal-akalannya Arka sebelum dia milih pergi semalam."

​Aku tertegun. Isakanku terhenti sejenak. "Arka?"

​"Dia tahu persis bokapnya sama Hendra bakal main kasar dan nurunin ekskavator pagi ini buat ngehancurin lo secara mental," bisik Revan. "Makanya, sebelum rekeningnya dibekuin total, dia udah bayar lunas pengacara independen buat bikin sengketa ahli waris palsu ini. Biar kita bisa dapet waktu."

​Air mataku kembali mengalir deras. Arka... Pria bodoh itu. Bahkan setelah dia diusir dan dibuang layaknya sampah dari kerajaannya sendiri semalam, hal pertama yang dia pikirkan adalah bagaimana memberiku tameng untuk bertahan hidup hari ini.

​Aku mendongak, menatap Revan dengan mata yang sembab dan memohon. "Arka di mana sekarang, Van? Gue butuh dia. Gue mau ketemu dia."

​Revan menggeleng pelan, menggigit bibir bawahnya. "Gue nggak tahu, Nja. Sumpah gue nggak tahu. Dia bener-bener matiin semua akses komunikasi. Dia cuma nitip pesan ke gue... katanya, makin sedikit orang yang tahu dia sembunyi di mana, makin aman posisi lo." Revan menunduk sedih. "Dia lagi jadi target utama kemarahan dan perburuan bokapnya sekarang, Nja."

​Aku menoleh, menatap puing-puing batu dan kepulan debu yang ditinggalkan rombongan proyek di depanku.

​Tiga hari. Arka menggunakan sisa napas terakhirnya di perusahaan itu hanya untuk memberiku waktu tiga hari.

​Tapi saat aku duduk gemetar di tengah ketidakpastian dan ancaman yang masih mengintai dari balik mobil sedan hitam di seberang jalan, angka tiga hari ini terasa seperti hukuman mati yang sengaja ditunda perlaksanaannya, bukan sebuah keselamatan sejati.

​Di tengah badai korporasi yang begitu masif ini, tanpa Arka di sisiku, aku merasa seolah aku hanyalah seorang anak kecil yang sedang susah payah menjaga sebuah istana pasir yang rapuh... sementara ombak pasang laut yang mematikan sudah mulai merayap naik ke pergelangan kAkiku, bersiap menyapu habis segalanya.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!