Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 9)
Sulaiman menarik napas panjang, mematikan gergaji mesinnya sebentar. Ia menatap mayat ular itu dengan tatapan tajam. "Kalau dia ada di sini, berarti sarangnya juga dekat. Dan dia tidak datang sendirian. Maksudku, sarang jin... akan ada makhluk serupa dari golongan mereka yang mungkin akan mendatangi kita."
Seolah menjawab perkataannya, dari luar gubuk, terdengar suara desisan ratusan ular secara bersamaan.
Cist... cist... cist... cist...
Suaranya serentak, membentuk suara dengungan yang mengerikan, seperti suara ombak yang mendesis.
Sulaiman dan Deri bergegas mengintip dari celah dinding dan jendela.
Wajah mereka pucat pasi. Darah seakan tersumbat di pembuluh yang membuat sebagian anggota tubuh mereka mati rasa.
Di luar sana, di tanah, di dahan pohon, di atas batu-batu, semuanya bergerak hitam. Ratusan, bahkan mungkin ribuan ekor ular dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil sebesar kelingking hingga yang besar sebesar paha manusia, semuanya berwarna hitam legam. Mereka datang dari segala arah, merayap, melata, mendekati gubuk dengan gerakan yang serempak dan menakutkan.
Mereka datang untuk membalas kematian saudaranya.
"Tutup! Tutup semua celah!" teriak Sulaiman panik.
Mereka bekerja dengan cepat. Menutup celah lantai dengan papan kayu, menutup jendela dengan anyaman bambu dan meja. Umar yang sangat ketakutan disembunyikan ayahnya ke dalam bakul bekas penyimpanan beras, dengan selembar tikar rotan yang di letakkan di atasnya sebagai penutup.
Adapun di luar sana, jumlah ular itu terlalu banyak. Mereka seperti air bah hitam yang meluap, menutupi seluruh permukaan tanah di sekitar gubuk.
Gress... gress... gress...
Suara gesekan sisik ular terdengar jelas dari segala sisi. Mereka mulai memanjat dinding bambu.
Cisttt!!!
Seekor ular akhirnya berhasil memasukkan kepalanya melalui celah atap.
Sreekk!
Herman langsung menebasnya dengan parang hingga kepala makhluk itu terpenggal. Darah segar memercik ke wajahnya.
Tapi itu hanya satu. Masih ada ribuan yang lain.
Malam mulai kembali turun. Langit di luar berubah menjadi gelap pekat. Kabut yang tadi putih kini berubah menjadi kelabu gelap yang menakutkan. Suasana di dalam gubuk menjadi neraka kecil.
Bau amis darah bercampur bau pengap dan kotoran ular membuat udara terasa mencekik dan memuakkan. Di luar, deritan ular-ular yang mencoba masuk terdengar tanpa henti.
"Kita tidak bisa tidur sama sekali malam ini," ucap Sulaiman, keringat merembes membasahi seluruh punggungnya. "Mereka tidak akan berhenti," tambahnya. "Mereka akan terus mencoba masuk sampai kita mati atau mereka mati."
"Berapa banyak bensin yang tersisa, Bos?" tanya Herman dengan nada berharap.
Sulaiman menepuk tangki gergajinya. "Cuma tinggal sedikit. Cukup untuk memotong kayu, bukan untuk memotong ribuan ular. Kita harus hemat."
Mereka bertiga membagi posisi. Sulaiman di depan pintu utama, Herman di sisi kanan, Deri di sisi kiri dan belakang. Mereka berdiri dengan kaki terbuka, tangan memegang senjata masing-masing, mata tidak berkedip mengawasi setiap celah.
Malam itu adalah malam pertahanan hidup atau mati.
JAM 19.00 MALAM
Serangan pertama dimulai.
Puluhan ekor ular mencoba menerobos celah-celah dinding bambu yang lemah. Mereka melompat, mereka memanjat, mereka menggigit kayu dengan ganas.
"Datang! Mereka datang!" teriak Deri histeris.
Ia mengayunkan parangnya berkali-kali. Srak! Srak! Srak! Setiap ayunan pasti memutus tubuh seekor ular menjadi dua. Namun darah dan daging ular yang berceceran justru membuat yang lain semakin marah dan ganas.
Sulaiman menyalakan gergaji mesinnya sesekali saja, hanya saat ada ular yang terlalu besar atau saat mereka datang bergerombol.
Wrrrrrr!!!
Suara mesin menderu, memotong-motong tubuh ular-ular yang mencoba menerobos pintu. Potongan-potongan tubuh ular bergelimpangan di depan pintu, menumpuk menjadi bukit kecil daging yang masih menggeliat. Bau amis menyengat, sangat menyengat hingga membuat mata perih berair.
Namun, ular-ular jelmaan itu tidak takut mati. Mereka terus maju, merayap di atas tubuh teman-temannya sendiri yang sudah mati. Mereka seperti tentara tak berakal yang hanya tahu perintah untuk membunuh.
JAM 21.00 MALAM
Kelelahan mulai menyerang. Tangan Sulaiman, Deri dan Herman gemetar karena terus mengayun senjata. Otot kaki terasa kram. Mulut mereka kering karena tidak ada air minum yang tersisa.
Di dalam gubuk sudah penuh dengan bangkai ular. Lantai menjadi licin dan merah karena darah. Mereka harus berdiri di atas tumpukan mayat reptil-reptil gaib mengerikan itu.
"Tahan... tahan sedikit lagi..." gumam Sulaiman pada dirinya sendiri. Matanya merah menahan kantuk dan rasa sakit.
Tiba-tiba, dari atap, sebuah serangan besar datang.
Bukan tiga atau sepuluh ekor. Tapi seekor ular raksasa, jauh lebih besar dari yang tadi dipotong Sulaiman. Tubuhnya sebesar batang kelapa, melingkar di atas atap rumbia hingga atap itu berderit kencang siap ambruk seluruhnya.
Kepalanya muncul, matanya bukan cuma merah, tapi menyala seperti obor. Ia mendesis keras, suaranya seperti suara ban bocor besar.
CIIIIISSSSTTTTTT!!!
"Itu mungkin ketua jin! Itu pemimpin wilayah ini!" teriak Herman ketakutan.
Ular besar itu menerjang turun, menghantam dinding bambu hingga dinding itu jebol besar!
"AWAS!!!"
Sulaiman langsung melompat ke depan, menyalakan gergaji mesinnya hingga maksimal. WRRRRRR!!!
Ular itu memukul tubuh Sulaiman dengan ekornya. Dukk!! Sulaiman terpental hingga menghantam dinding seberang, napasnya tercekat, rasanya tulang rusuknya ingin patah. Gergaji mesinnya terlempar jauh, tapi masih menyala.
Ular raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, siap menerkam Deri yang terjatuh dan tidak bisa bergerak karena kaget.
"DERI!!!" teriak Herman mencoba menghalangi dengan parang, tapi dipukul oleh ekor ular itu hingga parangnya terlempar entah ke mana.
Situasi kritis. Mereka kewalahan.
Sulaiman merangkak, memegang dadanya yang sakit. Ia melihat gergaji mesinnya masih menyala di dekat tumpukan kayu bakar. Dengan sisa tenaga terakhir, ia melompat menangkap gagang mesin itu.
Ular besar itu sudah membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi-gigi tajam yang berlumuran racun, tepat di atas wajah Deri yang menangis ketakutan.
"MAAAAATIIIIII!!!"
Sulaiman melompat dengan putus asa, mengarahkan mata gergaji yang berputar kencang tepat ke rahang bawah makhluk itu dan menariknya ke atas dengan sekuat tenaga.
SRRRREEEEEKKKK!!! BRAKK!!!!
BRAAKKKKK!!!
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?