NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikiran Mesum Zidan

Bengkel Ardiansyah Motor biasanya hanya dipenuhi suara denting kunci pas yang beradu dengan logam, raungan mesin yang sedang di-test drive, dan celotehan kasar khas laki-laki. Namun, Sabtu pagi ini, atmosfernya berubah seratus delapan puluh derajat. Aroma oli yang tajam kini bercampur dengan wangi parfum floral yang manis.

Shakira duduk di kursi putar milik Zidan di sudut ruangan yang agak bersih. Di depannya, sebuah laptop terbuka, namun ia tidak sedang mengerjakan skripsi—ia sudah bebas. Gadis itu sedang asyik mengkurasi playlist Spotify-nya.

Tiba-tiba, dentuman musik K-Pop yang energik dari grup EXO—Love Shot—mengalun dari speaker Bluetooth yang ia bawa. Volume suaranya tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya ingin menggerakkan bahu.

Shakira, yang merasa bosan hanya duduk diam, mulai berdiri. Sambil menunggu Zidan selesai membongkar transmisi sebuah motor sport, ia mulai asyik dengan dunianya sendiri. Ia melakukan gerakan-gerakan dance kecil, berputar-putar di antara tumpukan ban bekas dengan langkah ringan, mengikuti irama lagu dengan sangat luwes.

Bobby yang sedang memegang tang kombinasi dan Indra yang tangannya penuh oli hitam pekat, serentak menghentikan pekerjaan mereka. Keduanya bengong menatap pemandangan di depan mereka.

"Ndra, gue nggak salah liat kan? Itu Nyonya Bos lagi konser tunggal di tengah bengkel?" bisik Bobby tanpa berkedip.

Indra menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, lalu menyeka dahi dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan bekas hitam di dahinya. "Nggak yang laki, nggak bininya, sama aja. Sama-sama punya kabel putus di otak kalau udah seneng."

Bobby menghela napas pasrah. "Kemarin si Zidan seharian nyanyi-nyanyi nggak jelas sambil bongkar mesin gara-gara dapet 'bonus'. Sekarang bininya malah beneran nari-nari. Ini bengkel motor apa sanggar senam, sih?"

Zidan, yang mendengar celotehan anak buahnya, mendongak dari balik mesin. Bukannya menegur Shakira karena "mengganggu" konsentrasi, ia justru menyandarkan punggungnya di tembok, melipat tangan di dada, dan menatap istrinya dengan tatapan memuja yang sangat menjijikkan bagi Bobby dan Indra.

"Woi, Bos! Ditegur kek bininya. Itu dia hampir nyenggol kaleng oli bekas!" teru Indra.

Zidan malah terkekeh, ia mengambil lap kotor dan menyampirkannya di bahu. "Biarin aja, Ndra. Jarang-jarang kan bengkel kita dapet hiburan berkualitas? Lagian dia cantik gitu kalau lagi happy."

Shakira yang menyadari dirinya sedang ditonton, bukannya berhenti, malah semakin jadi. Ia mendekat ke arah Zidan sambil melakukan gerakan tangan ala idol K-Pop, lalu menunjuk Zidan tepat saat lirik lagu mencapai bagian chorus.

"Mas! It's the love shot! Na na na na na..." dendang Shakira sambil berputar satu kali di depan Zidan.

Zidan tertawa lepas, ia menangkap pinggang Shakira saat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan karena pusing berputar. "Pelan-pelan, Sayang. Nanti kalau jatuh, yang repot bukan cuma aku, tapi aspal bengkelnya kasihan ketimpa bidadari."

"Ih, gombal!" Shakira mencubit pipi Zidan yang sedikit kotor karena oli. "Bosan tahu, Mas. Kamu lama banget sih ngerjain motornya? Katanya mau ajak aku beli sofa buat rumah baru?"

"Bentar lagi, Ra. Ini tinggal pasang baut penutupnya aja," sahut Zidan lembut. Ia melirik Bobby dan Indra yang masih menatap mereka dengan tatapan "ingin resign". "Apa lo berdua liat-liat? Sirik ya nggak punya bini yang bisa nari di depan mata?"

"Bukan sirik, Bos. Kita mah kasihan sama motor-motor ini. Mereka biasanya denger suara knalpot, sekarang denger lagu Na Na Na," sahut Bobby sambil mendengus.

"Tau nih, Bos Zidan makin lama makin nggak ada wibawanya kalau di depan Shakira," tambah Indra.

Shakira menjulurkan lidahnya ke arah mereka berdua dengan jahil. Ia kemudian mengambil sepotong tisu dan mengelap keringat di pelipis Zidan dengan telaten. "Biariiiin! Mas Zidan kan emang cuma punya aku. Ya kan, Mas?"

"Seratus buat kamu," jawab Zidan singkat sebelum mengecup singkat ujung hidung Shakira, mengabaikan protes keras dari dua jomblo di belakang mereka.

"WOI! TEMPAT UMUM INI!" teriak Bobby sambil melepar busa jok motor yang sudah rusak.

"Zidan! Inget, kita belum makan siang, jangan kasih kita asupan kemanisan, nanti kita diabetes!" timpal Indra frustasi.

Shakira tertawa puas melihat kedua teman suaminya itu menderita. Ia kembali ke kursinya, mengganti lagu ke yang lebih up-beat, dan kembali fokus pada laptopnya—kali ini mencari inspirasi desain interior untuk rumah baru mereka.

Zidan kembali bekerja dengan kecepatan dua kali lipat. Energi yang ia dapat dari tarian singkat Shakira tadi seolah memberinya kekuatan mesin turbo. Bagi Zidan, tidak masalah jika anak buahnya menganggapnya gila atau hilang wibawa. Selama ada Shakira yang meramaikan bengkelnya dengan musik, tarian, dan wangi vanilanya, Zidan merasa pekerjaannya yang berat menjadi jauh lebih ringan.

"Ra," panggil Zidan di sela-sela suaranya mengencangkan baut.

"Ya, Mas?"

"Nanti abis beli sofa, kita makan malam di luar ya? Kamu boleh pilih tempatnya, tapi ada syaratnya."

Shakira mendongak, matanya berbinar. "Apa syaratnya?"

"Nanti di rumah, tunjukin gerakan dance yang tadi lagi... tapi versinya lebih privat. Gimana?" Zidan memberikan kedipan nakal yang hanya bisa dilihat oleh Shakira.

Wajah Shakira seketika memerah, ia langsung melemparkan bantal kursi kecil ke arah suaminya. "Mas Zidan Karatan! Otaknya nggak pernah bener!"

"Hahaha! Kan buat suami sendiri, Ra!" tawa Zidan meledak, mengisi seluruh sudut bengkel yang kini terasa jauh lebih hidup dan penuh warna.

Bobby dan Indra hanya bisa saling pandang, lalu serentak menghela napas. "Fix, kita butuh bini secepatnya," gumam mereka kompak.

***

Lampu kristal di showroom furnitur premium itu memantulkan cahaya mewah, mempertegas tekstur kain beludru pada sofa set berwarna warm grey yang sedang mereka pandangi. Shakira mengelus permukaannya yang sangat lembut, lalu matanya beralih ke label harga kecil yang terselip di balik bantal hiasnya.

Seketika, mata Shakira membelalak. Ia menarik tangan Zidan menjauh seolah sofa itu baru saja menyetrumnya.

"Mas... ini bagus sih, tapi... mahal banget, Mas! Cari yang lain aja, yuk. Pindah toko sebelah aja," bisik Shakira setengah panik, suaranya sedikit tertahan agar tidak terdengar oleh pelayan toko yang berdiri tak jauh dari mereka.

Zidan, yang sejak tadi hanya mengekor sambil memasukkan tangan ke saku celana, justru tampak santai. Ia malah sengaja menduduki sofa tersebut, mencoba tingkat keempukannya dengan wajah tanpa beban.

"Eh, nggak apa-apa, Sayang. Kalau kamu suka, pilih yang itu aja. Pas kok warnanya buat ruang tamu rumah baru kita nanti," ujar Zidan enteng.

"Mas! Itu harganya bisa buat beli mobil dua loh kalau dicicil!" protes Shakira, ia sedikit membungkuk agar suaranya hanya terdengar oleh Zidan. "Masa harga satu sofa set seharga mesin mobil kustom paling mahal kamu? Nggak masuk akal!"

Zidan terkekeh, ia menarik tangan Shakira agar ikut duduk di sampingnya. Sofa itu memang sangat nyaman, seolah memeluk tubuh siapa pun yang duduk di atasnya. "Emang iya? Ya nggak apa-apa mahal kalau kamu suka. Lagian, aku nyari uang di bengkel sampe belepotan oli juga ujung-ujungnya buat siapa? Ya buat kamu, buat nyenengin istri aku."

Shakira menghela napas panjang. Ia menangkup wajah Zidan, menatap mata suaminya itu dengan tatapan serius—tatapan "ibu rumah tangga" yang mulai muncul.

"Iya, aku tau kamu nyari uang buat aku. Aku hargai banget kerja keras kamu, Mas," ujar Shakira lembut. "Tapi kan bukan berarti aku harus boros. Kita harus tetep punya tabungan, Mas. Pengeluaran kita bakal banyak buat isi rumah ini. Belum lagi nanti kalau ada anak... biar kita nggak bingung ke depannya. Kita harus mikirin jangka panjang."

Mendengar kata "anak", sorot mata Zidan yang tadinya santai mendadak berubah. Senyum miring yang nakal perlahan terukir di bibirnya. Ia memajukan duduknya, memperkecil jarak hingga hidung mereka hampir bersentuhan di tengah-tengah toko furnitur yang mewah itu.

"Oh... jadi kamu udah kepikiran punya anak juga, Ra? Bagus deh kalau gitu," bisik Zidan dengan suara baritonnya yang serak dan menggoda. "Pulang dari sini kita langsung 'bikin' ya? Aku udah siap banget nih. Alat tempurnya udah ready seratus persen, tinggal eksekusi aja."

Shakira tersentak. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia reflek memukul bahu Zidan dengan tas kecilnya. "Mas Zidan! Ih, malu tahu kalau ada yang denger! Otak kamu bener-bener perlu aku servis kayaknya, biar kabelnya nggak konslet terus!"

Zidan tertawa lepas, ia menangkap tangan Shakira dan mencium telapak tangannya dengan dalam. "Servisnya jangan di bengkel, di kamar aja biar lebih privat. Lagian, kamu sendiri yang mulai bahas anak. Aku kan sebagai suami yang sigap cuma merespons keinginan istri."

"Maksud aku kan buat persiapan masa depan, bukan sekarang juga pas pulang belanja!" gerutu Shakira, meski ia tidak bisa menyembunyikan senyum malunya.

"Nggak ada salahnya persiapan dari sekarang, Ra. Biar nanti kalau anaknya lahir, sofanya udah ada buat dia lompat-lompat," goda Zidan lagi. Ia kemudian berdiri dan memanggil pelayan toko. "Mbak, yang ini saya ambil ya. Tolong diproses, kirim ke alamat yang saya tulis nanti."

"Mas! Kok beneran dibeli?!" Shakira melongo.

"Udah, jangan protes. Ini hadiah karena kamu udah mikirin masa depan anak-anak kita," Zidan merangkul pundak Shakira, membimbingnya menuju meja kasir. "Uang bisa dicari lagi, Ra. Tapi sofa yang bikin istri aku nyaman pas lagi bahas masa depan itu langka."

Setelah urusan sofa selesai, mereka berjalan menuju parkiran. Sore itu langit mulai berwarna jingga, menciptakan suasana romantis yang seolah mendukung niat nakal Zidan.

Zidan membukakan pintu mobil untuk Shakira dengan gaya sangat gentleman. Begitu ia masuk ke kursi pengemudi, ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia menoleh ke arah Shakira, menatapnya dengan intensitas yang membuat Shakira tiba-tiba merasa gugup.

"Ra," panggil Zidan.

"Apa lagi? Jangan bahas yang tadi ya..."

"Nggak," Zidan tersenyum manis, namun matanya tetap berkilat nakal. "Cuma mau bilang, makasih ya udah mikirin tabungan buat anak kita. Aku beneran terharu kamu udah mikir sejauh itu. Artinya kamu beneran mau menua sama aku, kan?"

Shakira terdiam, ia meraih tangan Zidan dan menggenggamnya. "Ya iyalah, Mas. Emang aku mau menua sama siapa lagi kalau bukan sama Mas Karatan kesayangan aku ini?"

Zidan menarik kepala Shakira, mencium keningnya dengan sangat lama dan tulus. "Aku bakal kerja lebih keras lagi, Ra. Biar anak-anak kita nanti nggak kekurangan apa pun. Tapi janji ya, jangan pernah capek servis otak aku kalau udah mulai konslet."

"Janji. Tapi servisnya pake cara aku ya, nggak boleh protes," tantang Shakira sambil tertawa kecil.

"Tentu, Nyonya Zidan. Aku malah nungguin jadwal servis rutinnya," Zidan menyeringai, lalu menghidupkan mesin mobil. "Sekarang, kita pulang. Rendang di rumah masih ada?"

"Masih. Kenapa?"

"Butuh asupan tenaga ekstra buat agenda 'persiapan masa depan' kita malam ini," sahut Zidan sambil mengedipkan mata, lalu melajukan mobilnya membelah kemacetan sore.

Shakira hanya bisa geleng-geleng kepala, menutupi wajahnya yang kembali memanas. Meskipun suaminya sering kali membuat jantungnya mau copot dengan omongan vulgar dan kelakuan tengilnya, Shakira tahu satu hal pasti: di balik semua itu, Zidan adalah pria paling bertanggung jawab yang sedang membangun istana terbaik untuk keluarga kecil mereka nanti.

1
Rita Rita
lama nunggu up mas karatan akhirnya AQ suka tipe tipe suami yg meratukan istri nya. mas Zidan,mas ajudan. definisi istri adalah rumah untuk pulang,,😍😍
Penulis GenZ: karena kita juga pengennya dapet lagi kayak gitu kan🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya pasutri karat ini up lagi🤭
Penulis GenZ: ditunggu terus yaaa
total 1 replies
apiii
kangen bngt sama mas karatan beberapa hati ga up🥲
Penulis GenZ: sabar ya kak. nanti aku usahain hari ini double hehe. tungguin trs sampe ada baby zidan
total 1 replies
Rita Rita
semangat kerja untuk ngeraih rezeki buat pak boss dan Bu bos Zidan.💪💪😍😍
Rita Rita
disini mas Zidan karatan sedang ngadain syukuran dan sebelah mas Langit lagi konser tunggal bersikipapap,,🤭🤣🤣
Rita Rita: sedikit jujur Thor 🤭🤣
total 2 replies
apiii
gaada notif🥲
apiii
semangat ya mas zidan🥲
apiii
semangat terus ya qq, aku tunggu mas mekanik sama istri sarjana tataboga up lagi ❤️
Rita Rita
tetap semangat Thor,, di tunggu up nya dan AQ mau mampir di novel author yg baru up keknya
Penulis GenZ: boleh mampir silakan.. kasih riview jangan lupa hehe
total 1 replies
Nurminah
semangat
Rita Rita
asyik banget jadi mas Zidan,,, semoga rumah tangga nya samawa 🤲❤️
apiii
mentang" dirumah sendiri main dimna pun di gas wkwkw
apiii
kasian bngt yg abis turun mesin🤣
apiii
aduhhh🤣
Rita Rita
dikasih kode mas suami langsung gass poll 🤭🤣🤣 gacor syukuran nya🤭🤣🤣🤣😍
Rita Rita
gemes banget dengan pasangan ini mas karatan dan Bu pelicin 🤭🤣🤣😍
Rita Rita
makin gacor aja tuh syukuran paksu makin dingin makin anget 🤭🤣😍😍
apiii
ayo guys kasih komentar dan like nya biar author semangat up nya❤️
apiii
makin suka sama pasangan ini😍
Rita Rita
pokoknya mas Zidan suami idaman banget,,, peka terhadap pasangan 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!