NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aula Misi

Sudah tiga hari berlalu sejak malam di mana formasi Tanah Terlarang Tungku Pil ditembus.

Sekte Awan Suci masih berada dalam kondisi siaga tertinggi. Langit di atas Puncak Luar dipenuhi oleh kilatan pedang terbang para Penegak Hukum yang berpatroli tanpa henti. Para Penatua Inti Emas menyisir setiap barak dan gubuk, mencari gejolak unsur api surgawi yang hilang. Namun, pencarian mereka sia-sia. Sang pencuri seolah telah menguap dari muka bumi.

Di pelataran Balai Misi Puncak Luar, ribuan murid berdesakan. Papan pengumuman kayu raksasa dipenuhi oleh gulungan perkamen berisi tugas-tugas dari sekte.

Chu Chen berdiri di tengah kerumunan, mengenakan jubah abu-abu Murid Luar. Wajahnya tenang, napasnya teratur. Berkat kendali mutlak dari Lautan Qi yang baru ia bentuk dari sepertiga Api Teratai Merah, tidak ada satu alat pendeteksi fana pun yang bisa melacak hawa panas di dalam tubuhnya. Di mata para Penatua yang lewat, Chu Chen hanya terlihat seperti murid rendahan di Alam Penempaan Raga Lapis Kelima.

Meng Fan berdiri di sebelahnya, matanya melirik ke kiri dan kanan dengan gelisah. "Chu Chen, apa kita benar-benar harus mengambil misi sekarang? Penegak Hukum ada di mana-mana. Jika kita salah langkah, mereka bisa mencurigai kita."

"Justru karena mereka ada di mana-mana, kita harus pergi," jawab Chu Chen tanpa menoleh. "Jika kita terus bersembunyi di gubuk, itu akan mengundang kecurigaan. Seorang murid berlatar belakang miskin sepertiku seharusnya putus asa mencari sumber daya. Mengambil tugas tingkat rendah dan meninggalkan sekte selama sebulan adalah dalih yang paling sempurna."

Mata Chu Chen memindai deretan perkamen misi. Tatapannya berhenti pada sebuah gulungan usang di sudut bawah papan.

[Tugas Perburuan: Tingkat Besi]

Sasaran: Bandit Hantu Berdarah.

Lokasi: Ngarai Angin Hitam, lima ratus mil di selatan Kota Perdagangan Kaki Gunung.

Rincian: Sasaran adalah kultivator pengembara Lapis Kesembilan Penempaan Raga. Telah merampok tiga rombongan pengiriman obat-obatan sekte. Bawa kembali kepalanya.

Imbalan: 50 Batu Roh Tingkat Bawah dan 10 Poin Jasa Sekte.

Chu Chen mengulurkan tangannya dan mencabut perkamen tersebut.

Meng Fan membaca isi gulungan itu dan wajahnya kembali pucat. "Lapis Kesembilan?! Chu Chen, misi ini sudah tertempel di sana selama berbulan-bulan karena tidak ada kelompok Murid Luar yang berani mengambilnya! Bandit itu pasti memiliki teknik rahasia yang mematikan. Mengapa kita tidak mengambil misi memanen rumput obat saja?!"

"Rumput obat membuang waktu," potong Chu Chen. Ia berbalik dan berjalan menuju meja pendaftaran Penatua Misi. "Lapis Kesembilan adalah batu asahan yang bagus. Aku butuh sasaran hidup untuk menguji seberapa dalam lautan baruku."

Penatua yang menjaga meja misi mengerutkan kening saat melihat Chu Chen dan Meng Fan mendaftarkan diri untuk tugas tersebut. Ia mencatat nama mereka dengan cibiran. "Dua orang yang baru menembus Lapis Kelima dan Keenam berani memburu Hantu Berdarah? Jangan salahkan sekte jika mayat kalian membusuk di ngarai."

Chu Chen tidak membalas. Ia mengambil plakat tugasnya dan melangkah keluar dari Balai Misi.

Setengah hari kemudian, mereka berdua telah turun dari gugusan pegunungan Sekte Awan Suci. Melewati Kota Perdagangan yang ramai di kaki gunung tanpa berhenti, mereka terus memacu langkah menuju selatan.

Medan berubah dari jalanan berbatu menjadi hamparan tanah tandus yang dipenuhi retakan dalam. Ngarai Angin Hitam adalah celah bumi raksasa yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari sepenuhnya. Angin yang berhembus melalui celah ini mengeluarkan suara siulan seperti ribuan roh penasaran yang menangis.

"Kita sudah masuk wilayahnya," bisik Meng Fan, menghunus pedangnya dan memegang labu araknya erat-erat. "Kudengar Hantu Berdarah menggunakan teknik serangan diam-diam. Dia selalu menyerang dari belakang."

"Dia tidak akan menyerang dari belakang," ucap Chu Chen tiba-tiba. Ia berhenti melangkah.

"Apa maksudmu?"

Chu Chen mengangkat wajahnya, menatap ke atas sebuah pilar batu runcing yang menjulang di tengah jalur ngarai. "Karena dia merasa kita terlalu lemah untuk diwaspadai."

Prok. Prok. Prok.

Suara tepukan tangan bergema dari atas pilar batu tersebut. Sesosok pria kurus tinggi melompat turun dengan seringai buas. Wajahnya dipenuhi bekas sayatan pedang, dan di tangannya tergenggam sepasang belati bergerigi yang meneteskan cairan beracun. Hawa Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan memancar kuat dari tubuhnya, menekan udara di sekitar ngarai.

"Sekte Awan Suci benar-benar sudah kehabisan orang," kekeh Bandit Hantu Berdarah itu, memutar belatinya dengan lihai. "Mengirim dua tikus rendahan untuk memburuku? Pakaian kalian bahkan belum kotor oleh debu pertarungan."

Meng Fan menelan ludah, kakinya bergetar. Tekanan dari Lapis Kesembilan yang telah membunuh banyak orang sangat berbeda dari tekanan murid sekte. Ini adalah Niat Membunuh murni dari dunia luar.

"Chu Chen... kita serang bersama dari dua arah?" bisik Meng Fan dengan suara bergetar.

"Mundur sepuluh langkah, Meng Fan," perintah Chu Chen tenang.

Meng Fan tertegun, namun melihat mata Chu Chen yang tak terbantahkan, ia menurut dan mundur.

Hantu Berdarah tertawa semakin keras. "Bagus! Setidaknya kau punya keberanian untuk mati lebih dulu, Nak! Aku akan menguliti wajahmu dan mengirimkannya kembali ke Penatua sekte kalian!"

Bandit itu menjejakkan kakinya ke tanah, melesat maju bagaikan hantu yang sebenarnya. Kecepatannya jauh melampaui batas mata telanjang manusia biasa. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Chu Chen, menyilangkan kedua belatinya untuk menggunting leher pemuda itu.

"Mati!"

Namun, yang menyambut tebasan mematikan itu bukanlah ketakutan, melainkan sepasang mata yang sedalam jurang neraka.

Chu Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis secara fisik seperti yang biasa ia lakukan. Ia hanya mengangkat jari telunjuk kanannya dan menunjuk tepat ke arah dada Bandit Hantu Berdarah.

Di dalam Dantiannya, Lautan Qi yang berwarna merah darah bergejolak hebat. Setetes cairan Qi, yang terbentuk langsung dari kemurnian mutlak Api Teratai Merah, dialirkan ke ujung jarinya.

Sebuah percikan api kecil seukuran kuku jari muncul di ujung telunjuk Chu Chen. Warnanya merah sangat pekat, begitu murni hingga terlihat seperti setetes darah yang menyala.

Namun, begitu percikan api itu muncul, suhu di dalam Ngarai Angin Hitam mendadak melonjak hingga ke titik panas yang tak terbayangkan! Batu-batu di sekitar kaki Chu Chen langsung meleleh menjadi lahar. Udara terbakar hebat hingga menciptakan kehampaan sesaat.

Mata Bandit Hantu Berdarah melebar hingga urat matanya pecah. Keangkuhannya menguap seketika digantikan oleh kengerian yang membuat jiwanya hancur. Naluri bertahannya berteriak bahwa percikan api kecil itu bisa menghapus keberadaannya dari siklus samsara.

"A-Apa i—"

WUSH.

Chu Chen menjentikkan jarinya dengan pelan. Percikan api merah itu melesat tanpa suara, menembus kedua belati baja di tangan sang bandit. Belati spiritual yang terbuat dari besi dingin itu menguap menjadi asap bahkan sebelum api itu menyentuhnya.

Percikan api itu menghantam dada Hantu Berdarah.

Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara dentuman.

Hantu Berdarah, seorang ahli Lapis Kesembilan yang telah membantai belasan murid sekte, membeku di tempat. Mulutnya terbuka seolah ingin menjerit, namun pita suaranya telah hangus seketika. Api merah itu menjalar ke seluruh urat nadinya dalam sepersekian kedipan mata, membakar organ dalam, tulang, dan dagingnya dari dalam ke luar.

"Hanya abu yang tersisa," bisik Chu Chen.

Seni Kaisar Naga Penelan Semesta.

Alih-alih menyentuh musuhnya, Chu Chen kini membuka telapak tangannya dari jarak tiga meter. Daya hisap yang kini dikendalikan oleh Lautan Qi meledak keluar.

Saripati kehidupan murni sang bandit, yang telah dipanggang dan dimurnikan oleh Api Teratai Merah di dalam tubuhnya sendiri, ditarik keluar menjadi untaian benang merah yang mengalir masuk ke telapak tangan Chu Chen.

Di saat benang saripati terakhir terhisap, tubuh Hantu Berdarah runtuh menjadi tumpukan abu putih yang langsung tertiup oleh Angin Hitam, tidak menyisakan setetes darah pun.

Di belakangnya, Meng Fan jatuh terduduk, pedangnya terlepas dari genggamannya. Rahangnya terbuka lebar, menatap tumpukan abu itu dengan pikiran yang benar-benar kosong. Seorang ahli Lapis Kesembilan... menguap hanya karena jentikan satu jari?

"Ranah Alam Lautan Qi," Chu Chen mengepalkan tangannya, merasakan energi yang jauh lebih agung mengalir di tubuhnya. Ia menatap langit ngarai yang gelap. "Kekuatan fana hanyalah lelucon. Mulai sekarang, kita akan bermain dengan hukum surga dan bumi."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!