Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 15: Penthouse Lantai 40
Taksi online yang kutumpangi berhenti perlahan di pelataran drop-off sebuah gedung apartemen ultra-eksklusif yang letaknya hanya satu blok dari Menara Adristo.
Sopir taksi itu menoleh ke belakang, menatapku lewat spion tengah dengan ekspresi tidak yakin. Ia melihat kemeja putihku, lalu melihat koper kain butut di sebelahku, lalu kembali menatap deretan supercar yang terparkir rapi di lobi yang berlapis marmer hitam tersebut.
"Mbak... beneran turun di sini?" tanyanya ragu, seolah takut aplikasinya salah memberikan titik koordinat dan ia akan ditegur satpam.
"Sesuai titik, Pak. Terima kasih," jawabku datar.
Aku membuka pintu, menarik koperku keluar, dan menutup pintu mobil. Taksi itu langsung melesat pergi secepat mungkin, seakan takut ditilang hanya karena bernapas di kawasan ini.
Aku berdiri di trotoar lobi. Angin malam lantai dasar Jakarta menyapu helai rambutku yang mulai berantakan.
Belum sempat aku memikirkan ke arah mana aku harus melapor, sesosok pria berkacamata dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi sudah berjalan cepat menghampiriku dari arah pintu kaca. Itu Daniel. Asisten pribadi yang sepertinya tidak memiliki jam kerja normal, karena ini sudah pukul sembilan malam dan ia masih terlihat seperti baru saja keluar dari mesin setrika.
"Selamat malam, Nona Nara. Mari, saya bantu bawakan kopernya," sapa Daniel profesional, mengulurkan tangan mengambil alih koperku sebelum aku sempat menolak. "Bapak sudah menunggu di atas."
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk.
Lobi apartemen ini tidak seperti lobi pada umumnya. Tidak ada hiruk-pikuk penghuni. Hanya ada keheningan yang mahal, wangi parfum ruangan beraroma sandalwood yang pekat, dan beberapa petugas keamanan berbadan tegap yang mengangguk hormat saat Daniel lewat.
Daniel membawaku ke sebuah lorong terpisah yang memiliki lift tunggal. Lift pribadi. Ia menempelkan sebuah kartu akses berwarna hitam matte ke panel, lalu menekan tombol bernomor 40.
Angka tertinggi di gedung ini. Tentu saja.
Lift melesat naik tanpa suara, nyaris tidak memberikan sensasi gravitasi. Selama perjalanan, Daniel berdiri menatap lurus ke depan pintu lift. Ia tidak mencoba mengajakku basa-basi, menanyakan kabarku, atau bertanya tentang keluargaku. Profesionalisme yang sangat kuhargai.
TING.
Pintu lift terbuka. Dan seketika, aku melangkah langsung ke dalam ruang tamu sangkar emasku untuk enam bulan ke depan.
Tidak ada lorong penghubung. Lift ini membuka pintunya langsung ke dalam penthouse.
Aku mematung sejenak, membiarkan mataku melakukan scanning visual terhadap ruangan raksasa ini. Warnanya didominasi oleh monokrom hitam, abu-abu gelap, putih gading, dan aksen logam. Jendela kaca setinggi langit-langit membentang di seluruh sisi ruangan, menyajikan pemandangan lanskap kota Jakarta di malam hari yang terlihat seperti lautan bintang buatan.
Di tengah ruangan terdapat sofa kulit letter-L berukuran masif, karpet tebal yang mungkin harganya lebih mahal dari biaya kuliahku empat tahun, dan sebuah dapur bersih dengan kitchen island marmer hitam yang panjangnya tidak masuk akal.
Ini bukan rumah. Ini adalah ruang tunggu eksekutif raksasa.
Ruangan ini terlalu bersih, terlalu steril, dan terlalu dingin. Tidak ada bingkai foto keluarga. Tidak ada pernak-pernik tidak penting. Tidak ada jejak kehidupan manusia yang nyata di sini. Hanya presisi dan efisiensi.
"Tepat waktu."
Suara bariton itu datang dari arah kitchen island.
Rayan Adristo berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan kemeja formal dan celana bahan tailor-made seperti di kantor tadi pagi. Ia mengenakan celana training hitam dan kaos polos berwarna abu-abu gelap yang membentuk bahu lebarnya. Di tangannya, ia memegang segelas air putih.
Meskipun berpakaian kasual, aura intimidasinya sama sekali tidak berkurang. Ia menatapku dengan mata kelamnya yang selalu terlihat sedang mengkalkulasi sesuatu.
Ia tidak mengucapkan 'Selamat datang'. Ia tidak bertanya apakah perjalananku menyenangkan.
"Daniel, tinggalkan kopernya di sana. Kamu boleh pulang," perintah Rayan tanpa menoleh pada asistennya.
"Baik, Pak. Permisi, Nona Nara," ucap Daniel seraya meletakkan koperku di dekat sofa, lalu melangkah kembali ke dalam lift. Pintu lift tertutup, menyisakan aku dan Rayan berdua di dalam penthouse seluas lapangan basket ini.
Aku berdiri tegap, membalas tatapannya dengan wajah datar. Menunggu instruksi dari bos baruku.
"Ke sini," panggil Rayan, memberikan gestur dengan kepalanya ke arah meja marmer dapur.
Aku berjalan mendekat, mempertahankan jarak aman sekitar satu meter di seberang kitchen island.
Rayan meletakkan gelasnya. Ia mengambil sebuah kartu akses berwarna hitam matte persis seperti milik Daniel tadi dan mendorongnya ke arahku.
"Ini kartu aksesmu. Kartu ini memberikan akses ke lobi bawah, lift khusus penghuni penthouse, dan pintu utama. Jangan sampai hilang. Keamanan di gedung ini sangat ketat, kehilangan kartu berarti pemblokiran sistem secara total," Rayan memulai briefing-nya dengan nada datar.
Aku mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejaku. "Baik."
"Sekarang, aturan ruang," lanjutnya, melipat kedua tangannya di dada. Ia menunjuk ke arah koridor panjang di sebelah kiri. "Sayap Barat adalah area pribadi saya. Kamar saya, ruang kerja saya, dan gym pribadi saya ada di sana. Jangan pernah melewati batas itu tanpa izin eksplisit dari saya."
Aku mengangguk cepat. Itu justru mempermudah hidupku. "Dimengerti."
Ia lalu menunjuk ke arah koridor berlawanan di sebelah kanan. "Sayap Timur adalah areamu. Kamarmu adalah Master Guest Suite di ujung lorong. Ada kamar mandi dalam dan walk-in closet. Silakan atur barang-barangmu di sana sesukamu."
"Dan area ini?" tanyaku, menunjuk ruang tamu dan dapur.
"Area tengah ini, termasuk dapur dan ruang duduk, adalah zona netral. Kita berbagi fasilitas di sini," jawab Rayan. Ia menatap mataku dengan peringatan tajam. "Saya terbiasa hidup sendiri. Saya menyukai keheningan dan keteraturan. Jangan merubah tata letak barang, dan bersihkan kembali apa pun yang kamu pakai."
"Bapak tidak perlu khawatir," balasku sedingin es. "Saya juga tidak berniat membuat pesta api unggun di ruang tamu Bapak. Keberadaan saya di sini akan se-transparan udara."
Rayan sedikit menyipitkan matanya mendengar jawabanku, tapi ia tidak mendebat. Fakta bahwa aku tidak histeris melihat kemewahan ini, atau mencoba berbasa-basi sok manis dengannya, tampaknya memberikan sedikit kelegaan pada wajah kaku itu.
Ia lalu berbalik, mengambil sebuah benda tebal dari rak di belakangnya, dan menjatuhkannya ke atas meja marmer dengan bunyi Bruk! yang cukup berat.
Itu adalah sebuah binder hitam berukuran A4. Tebalnya nyaris menyamai tebal draf skripsiku.
"Apa ini?" tanyaku, mengerutkan kening.
"Pekerjaan rumahmu," jawab Rayan. "Kamu pikir satu miliar itu dibayarkan hanya untuk duduk diam di apartemen saya?"
Aku menarik binder itu. Membuka halaman pertamanya.
Halaman itu berisi sebuah bagan silsilah keluarga besar berukuran A3 yang dilipat. Di bawahnya, terdapat berlembar-lembar profil individu. Lengkap dengan foto close-up, nama panjang, tanggal lahir, posisi di perusahaan, preferensi makanan, hingga afiliasi dan konflik internal mereka.
"Keluarga Adristo bukan keluarga normal," suara Rayan merendah, terdengar lebih gelap dari sebelumnya. "Mereka adalah sekumpulan ular berbisa yang memakai setelan desainer. Mereka akan mencari tahu segala hal tentangmu, mencari celah, dan menggunakannya untuk menyerang saya."
Aku membolak-balik halaman itu. Profil Ibunya, Helena Adristo. Profil Neneknya, Ratih Adristo sang matriark klan. Profil paman-pamannya, sepupunya, kakak tirinya. Semuanya diulas secara komprehensif layaknya sebuah dokumen intelijen BIN.
"Saya butuh kamu menghafal struktur utama dari daftar itu sebelum hari Jumat," perintah Rayan.
Aku mendongak. "Jumat? Ada apa di hari Jumat?"
"Makan malam keluarga bulanan di kediaman utama," jawab Rayan datar. "Itu akan menjadi debut pertamamu sebagai istri saya. Dan bersiaplah, karena mereka tidak akan menyambutmu dengan karpet merah."
Aku menatap tumpukan kertas itu, lalu menatap Rayan.
"Bapak memberikan dokumen berisi aib keluarga dan kelemahan paman-paman Bapak kepada orang asing yang baru Bapak temui tiga puluh jam yang lalu?" tanyaku dengan nada sinis. "Itu strategi keamanan yang sangat buruk, Pak Rayan."
Rayan mencondongkan wajahnya sedikit, menipiskan jarak di antara kami melintasi meja marmer itu. Aroma mint dan aftershave mahal menguar samar dari tubuhnya.
"Saya memberikan dokumen itu, karena kamu sudah menandatangani Non-Disclosure Agreement dengan penalti sepuluh kali lipat dari kompensasimu jika kamu membocorkannya," balas Rayan dengan tatapan mematikan. "Dan karena kamu sendiri yang menulis bahwa kamu tidak ingin dikontrol. Jadi, saya beri kamu peta medannya. Bagaimana kamu bertahan hidup di dalam sana hari Jumat nanti, itu tanggung jawabmu."
Aku mengunci rahangku. Tantangan diterima.
"Sempurna," kataku. Aku menutup binder itu dengan satu tamparan pelan di atas sampulnya, lalu menariknya ke pelukanku. "Saya akan menghafalkannya. Ada instruksi lain sebelum saya mundur ke 'Sayap Timur' saya?"
"Tidak ada. Kita akan mengurus pendaftaran pernikahan sipil secara privat besok siang melalui agen hukum saya. Siapkan dokumen identitasmu." Rayan menegakkan tubuhnya kembali. Ia meraih gelas air putihnya. "Briefing selesai."
Tanpa mengucapkan selamat malam, pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju Sayap Barat, menghilang di balik lorong yang temaram.
Aku berdiri sendirian di tengah dapur marmer itu. Menghela napas panjang yang terasa bergetar di paru-paru.
Aku berbalik, berjalan menghampiri koper kain bututku yang teronggok menyedihkan di dekat sofa miliaran rupiah, lalu menyeretnya menuju Sayap Timur.
Kamar yang disebut Rayan sebagai Master Guest Suite itu ternyata lebih besar dari gabungan ukuran kamarku, ruang tamu, dan dapur rumah Ibuku. Lantainya dilapisi parket kayu berwarna hangat. Ada sebuah ranjang king-size dengan seprai putih yang terlihat seperti awan, televisi layar datar berukuran raksasa, dan jendela kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.
Aku berjalan masuk ke dalam walk-in closet. Ruangan lemari itu kosong melompong. Deretan laci dan gantungan baju kayu yang mewah itu menunggu untuk diisi.
Aku membuka resleting koperku. Memindahkan enam potong kemeja kerjaku, beberapa celana jeans, kaos tidur lungsuran, dan beberapa potong pakaian dalam. Saat aku menggantung kemeja lima puluh ribuku di dalam lemari yang luasnya luar biasa itu, pakaianku terlihat... menyedihkan. Hilang tertelan kemewahan.
Persis seperti diriku saat ini.
Aku menutup pintu lemari. Berjalan menuju ranjang king-size itu, lalu menjatuhkan tubuhku, duduk di tepi kasur.
Kasur ini terlalu empuk. Terlalu nyaman. Tapi anehnya, punggungku terasa tegang.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan raksasa yang sunyi ini. Jauh dari hiruk-pikuk suara klakson motor di depan gang rumahku. Jauh dari suara panci Ibu di dapur. Jauh dari bau kapur barus tumpukan daster dagangan Ibu.
Misi pertamaku berhasil. Aku sudah keluar dari rumah itu. Aku memiliki uang lima ratus juta di rekeningku. Secara teknis, aku sudah merdeka.
Namun, saat aku menatap pantulan wajah lelahku di cermin besar di seberang ranjang, dengan sebuah binder tebal berisi peta konflik keluarga konglomerat di sebelahku... aku menyadari satu hal yang absolut.
Beban di pundakku tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bentuk. Dari sebuah buku catatan merah bergaris bawah dua, menjadi sebuah binder hitam berlogo 'A' emas.
Tugasku belum selesai. Ini baru hari pertama di sangkar baruku.