NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Abu di Tepian Danau

Ledakan Pulau Pandora menyisakan lubang besar di peta samudra, namun di dalam helikopter siluman Unit 9 yang melesat membelah fajar, kesunyian terasa lebih memekakkan telinga daripada dentuman nuklir tadi. Arkan duduk mematung di dekat jendela kecil, matanya menatap hampa ke arah cakrawala di mana asap hitam masih membumbung tinggi.

​Wajah ibunya, Elena, saat mendorongnya masuk ke helikopter adalah bayangan yang terus berulang dalam benaknya. Sebuah penebusan yang terlambat, namun nyata. Di sampingnya, Liana menggenggam tangan Arkan erat, jemarinya yang masih gemetar karena trauma mencoba memberikan kehangatan yang tersisa.

​"Kita mendarat di pangkalan aju Sektor Utara dalam sepuluh menit," suara Varo memecah keheningan melalui interkom.

"Setelah itu, kalian akan dipindahkan ke rumah aman di pegunungan Alpen, Swiss. Identitas baru kalian sudah siap. Arkan, kau akan menjadi Adrian Vance, seorang arsitek. Liana, kau adalah Elena Putri, seorang kurator seni."

Arkan menoleh, senyum sinis tersungging di bibirnya yang pecah. "Elena? Kau memberikan nama ibuku padanya?"

​Varo terdiam sejenak. "Itu adalah nama yang paling sulit dilacak oleh algoritma sisa Project Phoenix. Ironis, tapi aman."

​Tiga Bulan Kemudian...

​Desa kecil di pinggiran Danau Brienz, Swiss, tampak seperti lukisan kartu pos yang damai. Udara pegunungan yang dingin dan aroma pinus yang segar seharusnya bisa menenangkan jiwa siapapun, namun bagi Arkan, setiap suara ranting patah di hutan belakang rumah mereka terdengar seperti kokangan senjata.

​Liana keluar ke beranda dengan dua cangkir cokelat panas. Ia mengenakan sweter wol tebal, rambutnya kini dibiarkan tumbuh sedikit lebih panjang. "Kau masih memikirkan Hendra?"

​Arkan menyesap minumannya, matanya menatap riak air danau yang tenang.

"Varo bilang tim pembersihan Unit 9 tidak menemukan jasad Hendra di reruntuhan Core Zero. Seorang pria dengan kecerdasan seperti dia pasti punya protokol evakuasi mandiri yang tidak kita ketahui. Selama mayatnya tidak ditemukan, kita tidak pernah benar-benar bebas, Liana."

​"Kita sudah menghancurkan kodenya, Arkan. Phoenix sudah mati," Liana mencoba meyakinkan, meski di dalam hatinya ia juga sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk yang sama.

​"Data digital bisa dihancurkan, tapi ide gila di kepala manusia tidak," balas Arkan.

​Tiba-tiba, bel pintu rumah mereka berbunyi. Arkan seketika meletakkan cangkirnya dan menarik pistol dari balik pinggang celananya—insting yang tidak bisa hilang meski identitasnya sudah berganti. Ia memberi isyarat agar Liana mundur ke dapur.

​Arkan membuka pintu dengan waspada. Di sana berdiri seorang pria pengantar paket berpakaian seragam kuning. "Pak Adrian Vance? Ada paket dari kerabat di Indonesia."

Arkan menerima kotak kayu kecil itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap di gagang senjata. Setelah pengantar itu pergi, Arkan membawa kotak itu masuk dan membukanya dengan hati-hati.

​Di dalam kotak itu tidak ada bom. Hanya ada sebuah kunci perak tua dan sebuah foto polaroid yang masih baru. Foto itu memperlihatkan sebuah warung kopi kecil di sudut Sektor Selatan yang baru saja dibangun kembali. Di depan warung itu, seorang pria duduk membelakangi kamera, namun di punggung tangannya terlihat jelas tato kalajengking yang sudah memudar.

​Gideon.

​Di balik foto itu tertulis pesan singkat: "Serigala tidak mati di dalam air, Tuan Muda. Dia hanya belajar berenang.

Datanglah ke 'The Old Anchor' jika kau ingin tahu siapa yang sebenarnya membiarkan ibumu pergi malam itu."

​Darah Arkan berdesir hebat. "Liana... lihat ini."

​Liana membaca pesan itu dan wajahnya memucat. "Apa maksudnya? Ibu... selamat? Dan Gideon tahu sesuatu?"

Gideon tidak akan mengirim ini jika itu hanya jebakan biasa. Dia mempertaruhkan nyawanya dengan menghubungi kita di sini," Arkan menatap kunci perak di tangannya.

"Varo bilang Unit 9 menyelamatkan kita, tapi bagaimana jika Unit 9 sebenarnya bekerja sama dengan faksi lain di dalam The Scorpion untuk membiarkan petinggi mereka lolos?"

​Liana menatap Arkan dengan tatapan yang sudah dia kenal—tatapan yang menandakan bahwa masa tenang mereka di pegunungan Swiss ini baru saja berakhir. "Kau ingin kembali, bukan?"

​Arkan menghela napas panjang, menatap pemandangan danau yang indah namun kini terasa seperti penjara. "Kita tidak bisa membangun hidup di atas kebohongan, Liana. Jika ibuku masih hidup dan Hendra masih berkeliaran, Sektor Selatan tidak akan pernah aman. Kita harus menyelesaikan ini di tempat semuanya dimulai."

​"Bukan 'kita', Arkan. Aku ikut denganmu," tegas Liana.

"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi hantu-hantu itu sendirian lagi."

Malam itu, di bawah cahaya bulan Alpen yang dingin, mereka membakar paspor palsu mereka. Adrian Vance dan Elena Putri mati malam itu. Arkan Dirgantara dan Liana Putri kembali bangkit dari abu.

​Mereka berkemas dalam keheningan. Senjata, perangkat peretas portabel, dan tekad yang lebih tajam dari sebelumnya. Saat mereka meninggalkan rumah di tepi danau itu, sebuah mobil hitam tanpa lampu mengikuti mereka dari kejauhan. Di dalam mobil itu, seorang agen Unit 9 melaporkan ke markas melalui radio satelit.

​"Target bergerak sesuai rencana, Kapten Varo. Fase 'Reuni' dimulai."

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!