NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Rambut Berkilau

Sore itu, hujan deras mengguyur Jakarta, menyisakan hawa dingin yang menembus hingga ke dalam penthouse lantai lima puluh lima. Lana baru saja selesai mandi di kamar mandinya yang luasnya hampir sebesar kamar tidurnya di desa. Namun, ada satu masalah besar yang selalu ia hadapi setiap kali selesai mencuci rambut: mengeringkannya.

Di desa, Lana cukup duduk di depan teras sambil menyisir rambutnya yang basah kuyup, membiarkan angin sawah dan sinar matahari melakukan tugasnya. Tapi di sini, di ruangan tertutup yang serba AC ini, rambut hitam panjangnya yang setebal ekor kuda itu tetap basah dan lepek meski sudah ia gosok kuat-kuat dengan handuk selama lima belas menit.

Lana keluar dari kamarnya dengan handuk melilit di pundak dan tetesan air yang masih jatuh ke lantai marmer. Ia berjalan menuju ruang tengah, berharap menemukan kipas angin. Namun, yang ia temukan justru Kenzo yang sedang asyik bersandar di sofa beludru sambil membolak-balik naskah film terbaru.

"Aduh, Lana... Lo mau bikin kolam renang baru di sini apa gimana? Lantainya basah semua itu, nyet!" seru Kenzo tanpa mengalihkan pandangan dari naskahnya. Suaranya terdengar renyah, khas aktor yang sering mengisi suara iklan.

Lana berjengit kaget, langkahnya terhenti. "Maafin Lana, Kak Kenzo. Lana nggak sengaja. Lana cuma mau keringin rambut, tapi di sini nggak ada angin. Lana bingung mau dijemur di mana."

Kenzo akhirnya menurunkan naskahnya. Ia menatap Lana dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menghela napas panjang seolah-olah baru saja melihat sebuah tragedi kemanusiaan yang luar biasa.

"Dijemur? Lo kira rambut lo itu cucian daster emak lo di kampung?" Kenzo bangkit berdiri, melempar naskahnya ke sofa dengan gaya dramatis. "Sini lo, ikut gue. Gue nggak tahan liat aset berharga kayak rambut lo diperlakuin kayak keset kaki."

Kenzo menarik lembut lengan Lana, membawanya masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan cermin besar dan lampu-lampu bulat yang sangat terang. Itu adalah walk-in closet milik Kenzo yang berisi ribuan pakaian branded dan meja rias yang lebih lengkap daripada toko kosmetik.

"Duduk di sini, bocah," perintah Kenzo sambil menunjuk sebuah kursi empuk di depan cermin besar.

Lana menurut dengan patuh, matanya membelalak melihat wajahnya sendiri yang terpantul di cermin dengan pencahayaan yang begitu sempurna. "Wah, Kak Kenzo... lampunya banyak banget. Lana berasa kayak mau jadi pengantin."

Kenzo tertawa meremehkan, namun tangannya mulai sibuk mencari sesuatu di laci meja riasnya. "Pengantin apaan? Muka lo pucet gitu kayak belum dikasih makan tiga hari. Nih, liat."

Kenzo mengeluarkan sebuah alat berwarna abu-abu gelap dengan desain futuristik yang bolong di tengahnya. Tidak ada baling-baling, tidak ada kawat panas yang terlihat. Bagi Lana, benda itu lebih mirip mesin pesawat daripada alat kecantikan.

"Ini apa lagi, Kak? Alat buat dengerin suara hantu ya?" tanya Lana polos.

"Hantu pala lo peyang!" Kenzo mendengus geli. "Ini namanya hair dryer termurah di dunia—bohong deng, ini harganya setara motor matic baru di desa lo. Namanya Dyson. Sini, gue tunjukin gimana caranya orang kota ngeringin rambut tanpa perlu nunggu angin lewat."

Kenzo berdiri tepat di belakang Lana. Ia menekan sebuah tombol, dan suara desis halus namun kuat keluar dari alat itu. Lana terlonjak kaget saat merasakan angin hangat yang sangat lembut menerpa kulit kepalanya.

"Ehh! Kok ada anginnya, Kak? Padahal nggak ada baling-balingnya!" seru Lana takjub.

"Makanya, jangan main di sawah mulu, jadi kudet kan lo," ledek Kenzo.

Kenzo mulai bekerja. Jemari tangannya yang panjang dan lentik mulai menyisir sela-sela rambut Lana dengan sangat telaten. Ia mengarahkan moncong alat itu ke akar rambut Lana, memijat kulit kepalanya dengan gerakan yang sangat profesional. Lana merasa sangat rileks, rasa kantuk mulai menyerangnya karena pijatan Kenzo yang luar biasa nyaman.

"Rambut lo sebenernya bagus, Lan. Item, tebel, asli lagi nggak pakai pewarna kimia alay. Tapi lo nggak tahu cara ngerawatnya. Gak asik banget lo, punya barang bagus disia-siain," gerutu Kenzo, namun nada bicaranya tidak benar-benar marah.

Lana menatap pantulan mereka di cermin. Wajah Kenzo yang tampan tampak sangat fokus, dahi pria itu sedikit berkerut, menunjukkan keseriusan yang jarang ia perlihatkan saat sedang bercanda dengan Jeno atau Ezra.

"Makasih ya, Kak Kenzo. Kakak baik banget mau bantuin Lana. Lana janji nanti Lana belajar sendiri biar nggak ngerepotin Kakak lagi," ucap Lana lembut.

Kenzo terhenti sejenak, menatap mata Lana lewat cermin. Ia berdeham, mencoba mengalihkan rasa aneh yang tiba-tiba menyengat dadanya. "Dih, siapa yang bilang gue mau bantuin lo terus? Gue cuma nggak mau mata gue sakit liat rambut lepek di rumah ini. Dah, kelar nih. Coba pegang."

Lana meraba rambutnya. Halus, ringan, dan sangat harum bunga melati yang mahal. "Wah! Kok bisa langsung kering dan halus gini, Kak? Padahal tadi basah banget!"

"Ya iyalah, alat gue nggak pernah bohong," sombong Kenzo. Ia kemudian mengambil sebuah botol kaca kecil berisi krim berwarna putih mutiara. "Sekarang, diem. Muka lo kering banget, kayak tanah kerontang pas kemarau."

"Ini apa, Kak? Bedak ya?"

"Bukan bedak, ini krim malam. Harganya bisa buat bayar uang sekolah lo satu semester," Kenzo mencolek sedikit krim itu dengan jari telunjuknya.

Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lana. Jarak mereka sangat dekat, hingga Lana bisa melihat warna lensa kontak abu-abu yang dipakai Kenzo. Kenzo mulai mengoleskan krim itu ke pipi, dahi, dan dagu Lana. Gerakannya sangat lembut, hampir seperti belaian.

"Tutup mata lo, Lan," bisik Kenzo dengan suara rendah yang biasa ia gunakan untuk adegan romantis di film-filmnya.

Lana menutup matanya. Ia merasakan jemari Kenzo meratakan krim itu ke seluruh wajahnya. Dingin, namun ada sensasi hangat yang menjalar dari sentuhan pria itu. Lana merasa hatinya berdebar tak karuan. Ia belum pernah sedekat ini dengan pria manapun, bahkan dengan Arka sekalipun.

Setelah selesai, Kenzo tidak langsung menjauh. Ia menatap wajah Lana yang kini tampak bercahaya di bawah lampu riasnya. Bibir mungil Lana yang sedikit terbuka dan bulu matanya yang gemetar membuat pertahanan Kenzo runtuh sedikit demi sedikit.

"Lo... lo emang beneran polos apa pura-pura polos sih, Lan?" gumam Kenzo hampir tidak terdengar.

Sebelum Lana sempat menjawab atau membuka matanya, Kenzo mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lembut di kening Lana. Ciuman itu berlangsung cukup lama, membuat Lana seolah membeku di tempatnya.

"Udah, cantik," ucap Kenzo setelah melepaskan ciumannya. Ia berdiri tegak kembali dengan wajah yang sedikit memerah, meski ia mencoba tetap terlihat cool. "Sana balik ke kamar. Jangan sampai kena air lagi, awas lo kalau ritual gue jadi sia-sia!"

Lana membuka matanya dengan linglung, tangannya menyentuh keningnya yang barusan dicium. "Kak... Kak Kenzo... kenapa cium Lana?"

Kenzo tertawa canggung, ia memutar kursi Lana agar gadis itu berdiri. "Yaelah, itu namanya kiss of beauty, Lan. Di dunia artis itu biasa, tanda kasih sayang kakak ke adiknya yang paling cupu. Nggak usah baper deh lo, gak asik banget!"

Lana tersenyum lega mendengar penjelasan itu. "Oh... gitu ya, Kak? Lana kira tadi Kakak lagi akting film. Makasih ya, Kak Kenzo! Lana sayang banget sama Kakak-kakak semua di sini."

Lana berjalan keluar dengan langkah riang, tidak menyadari bahwa Kenzo baru saja menyandarkan punggungnya di meja rias sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Sialan... gue yang aktor, kenapa gue yang baper beneran?" umpat Kenzo pada dirinya sendiri. "Gak asik banget lo, Ken! Masa kalah sama bocah desa!"

Sementara itu, di balik pintu walk-in closet yang sedikit terbuka, Gaza yang baru pulang bertugas dengan seragam polisinya yang masih lengkap, berdiri diam. Ia telah melihat semuanya. Matanya yang tajam menatap punggung Lana yang menjauh dengan tatapan yang sangat protektif—dan mungkin sedikit cemburu.

"Ritual rambut ya? Hebat juga lo, Ken," gumam Gaza pelan dengan suara dingin yang bisa membuat tersangka kriminal mana pun gemetaran.

Lana masuk ke kamarnya dengan perasaan hangat, merasa sangat beruntung dikelilingi oleh kakak-kakak yang sangat memperhatikan penampilannya. Baginya, ciuman kening tadi adalah bukti nyata bahwa ia sudah diterima sepenuhnya di lingkaran elit ini.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!