NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Sang Pemegang Kunci Baru

​Kapal kargo The Odyssey membelah ombak malam yang ganas di perairan internasional. Di bawah geladak, di dalam sebuah kontainer yang telah dimodifikasi menjadi laboratorium berjalan, Arga duduk terpaku menatap layar ponsel satelitnya. Pesan itu masih di sana, bercahaya biru pucat, mengejeknya dengan kata-kata yang menyiratkan bahwa kemenangannya di Taman Menteng hanyalah sebuah babak dalam skenario yang lebih besar.

​"Pembersihan selesai?" gumam Arga. Suaranya serak, tenggelam dalam deru mesin kapal yang monoton.

​"Mereka menggunakanmu, Arga," Nadia muncul dari balik tirai besi, membawa dua kaleng kopi dingin. Wajahnya tampak lebih tirus, dengan luka gores baru di pipinya hasil bentrokan di pelabuhan Jakarta kemarin. "Kakekmu adalah anomali yang berbahaya bagi organisasi ini. Mereka butuh seseorang yang punya hubungan emosional kuat untuk masuk ke dalam The Prime Logic dan menghapus 'virus' Pak Broto tanpa merusak infrastrukturnya."

​Arga mendongak. "Siapa 'mereka', Nadia? Kau bekerja untuk Haris, lalu Haris bilang dia bekerja untuk faksi pemberontak. Siapa sebenarnya yang memegang kendali sekarang?"

​Nadia meletakkan kopi di atas meja, lalu membuka sebuah peta digital dunia yang kini dipenuhi oleh garis-garis koneksi Project Horizon. "Dulu kita menyebutnya The Iron Circle. Tapi sekarang, setelah Elina mengintegrasikan sistem itu ke dalam pemerintahan global, mereka mengganti nama menjadi Aegis. Mereka bukan lagi sekumpulan konspirator, Arga. Mereka adalah sistem hukum itu sendiri."

​Di sudut ruangan, Elina sedang terbaring di tempat tidur medis. Matanya tertutup, namun kelopak matanya bergetar hebat. Sejak mereka meninggalkan Jakarta, Elina belum sepenuhnya terbangun. Kesadarannya masih terjebak dalam masa transisi setelah Arga membombardir otaknya dengan beban emosional untuk mengusir Pak Broto.

​"Dia bukan lagi Tuhan, Arga," Nadia berbisik sambil menatap Elina. "Tapi dia masih memegang kuncinya. Dan Aegis tidak akan membiarkan kunci itu berkeliaran bebas di lautan."

​Tiba-tiba, lampu di dalam kontainer berkedip merah. Radar di meja Nadia berbunyi dengan nada melengking yang mendesak.

​"Sial! Ada sinyal sonar aktif di bawah kita!" Nadia menerjang kursinya, jarinya menari di atas papan ketik. "Ini bukan patroli laut biasa. Ada kapal selam taktis yang mengikuti kita sejak keluar dari Batam."

​"Elina..." Arga segera berdiri, menghampiri tempat tidur Elina. "El, bangun! Kita harus bergerak!"

​Elina membuka matanya. Namun, bukan warna cokelat hangat yang menyambut Arga. Mata Elina kini jernih, hampir transparan, dengan binar perak yang berdenyut seirama dengan lampu radar.

​"Jaraknya... sudah nol, Arga," suara Elina terdengar hampa, seperti gema dari kejauhan. "Mereka tidak datang untukku. Mereka datang untuk apa yang kau tinggalkan di dalam sistem."

​"Apa maksudmu?"

​"Saat kau membanjiri sistem dengan memorimu, kau tidak hanya menghancurkan Pak Broto. Kau meninggalkan 'sidik jari emosional' yang kini menjadi satu-satunya cara untuk mengotorisasi protokol tingkat tinggi Aegis," Elina bangkit dengan gerakan kaku, seolah tubuhnya belum sepenuhnya sinkron dengan sarafnya. "Kau adalah biometrik hidup mereka sekarang. Tanpamu, mereka hanya punya mesin. Denganmu, mereka punya legitimasi."

​Brak!

​Kapal kargo itu berguncang hebat. Sebuah ledakan terjadi di bagian haluan, membuat seluruh kontainer miring. Arga terjatuh, namun dia segera mendekap Elina agar tidak terbentur dinding baja.

​"Mereka mulai melakukan sabotase!" teriak Nadia. "Arga, ambil tas darurat! Kita harus ke sekoci di sektor C!"

​Arga menarik tangan Elina, membawanya keluar dari kontainer menuju geladak kapal yang kini sudah dipenuhi asap hitam. Di tengah hujan badai yang menggila, Arga melihat pemandangan yang mengerikan. Dari balik ombak, sebuah menara hitam muncul ke permukaan—kapal selam Aegis yang tampak seperti hiu purba dari baja.

​Sekelompok tentara berpakaian tempur hitam legam melompat ke geladak kapal menggunakan tali peluncur. Mereka tidak membawa senjata peluru biasa; mereka membawa senjata pelumpuh saraf yang mengeluarkan kilatan listrik biru.

​"Target teridentifikasi: Arga Adriansyah. Amankan utuh!" perintah komandan mereka melalui pengeras suara helmnya.

​Arga menarik pistolnya, namun Elina menahan tangannya.

​"Jangan, Arga. Jika kau menembak, mereka akan mengaktifkan protokol neural-shock padaku. Mereka tahu kita terhubung," Elina menatap Arga dengan pandangan yang sangat sedih. "Pergilah dengan Nadia. Aku akan menyerahkan diri. Itu satu-satunya cara agar mereka berhenti mengejarmu."

​"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Arga berteriak di tengah deru badai. "Kita sudah melewati neraka untuk sampai di sini!"

​"Ini bukan neraka, Arga. Ini adalah laboratorium baru," Elina melepaskan tangan Arga. "Dan aku adalah subjeknya. Pergilah, cari Haris di koordinat yang kumasukkan ke ponselmu. Dia punya jawaban tentang ayahmu yang sebenarnya."

​"Elina!"

​Sebelum Arga sempat bereaksi, sebuah jaring elektrostatis ditembakkan dari arah kapal selam, membungkus tubuh Elina. Elina menjerit pelan saat arus listrik melumpuhkan sarafnya.

​Nadia menarik kerah jaket Arga. "Arga! Kalau kau tertangkap sekarang, semuanya berakhir! Lari!"

​Nadia meledakkan bom asap di geladak, menciptakan tirai putih di tengah kegelapan malam. Dengan berat hati, Arga terpaksa mengikuti Nadia melompat ke arah sekoci penyelamat yang tersembunyi di samping kapal kargo.

​Saat sekoci itu meluncur ke laut yang ganas, Arga melihat dari kejauhan tubuh Elina diangkat ke atas kapal selam hitam itu. Lampu merah kapal selam itu meredup, lalu perlahan tenggelam kembali ke dalam kegelapan Selat Malaka.

​Arga terduduk di dasar sekoci yang terombang-ambing, air laut membasahi wajahnya yang kini penuh dengan amarah yang dingin. Dia membuka ponselnya, melihat koordinat baru yang diberikan Elina. Koordinat itu menunjukkan sebuah lokasi di tengah hutan Kalimantan, sebuah tempat bernama The Architect's Grave.

​"Haris... kau punya banyak penjelasan," bisik Arga.

​Dia menatap telapak tangannya. Bekas luka bakar dari koin perak kakeknya masih ada, namun kini tampak membentuk pola yang aneh, seolah-olah data digital benar-benar telah menyatu dengan dagingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!