Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 03 Adik yang gengsi
Mendengar ucapan ibunya, hati Clarissa sedikit berdenyut, Clarissa berlalu sambil bergumam, "Uangku sudah menipis..."
.
Setelah mandi, Clarissa duduk di kursi sambil bercermin, ia menggunakan pelembab wajah.
Tiba-tiba pintu di buka dan munculah Aditya, "Kak, Aku masuk ya," ujarnya lalu masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban kakaknya.
Aditya langsung duduk di ranjang seperti biasanya, bunyi kasur matras itu terdengar membuat Aditya tertawa, "Oh astaga, sepertinya kasur kakak sekarang tidak menyukai ku lagi," celetuk Aditya menggoda kakak perempuannya.
Clarissa memutar bola matanya malas, "Tidak perlu basa-basi," ujar Clarissa lalu melemparkan uang seratus ribu.
"Ish! Kak, Aku bukan mau minta uang mu. Tapi jika Kakak memaksa Aku terima," ujar Aditya tersenyum lebar, lalu membungkuk mengambil uang selebar yang tergeletak di lantai.
Clarissa berdiri dan mengangkat kakinya, ia menggunakan handbody pada kakinya, lalu ikut duduk di ranjang dan terdengar suara matras, per/begas itu akan terdengar jika kasur itu di duduki atau hanya sekedar mengubah posisi, membuat Aditya kembali tertawa.
"Diam lah! sudah pergi sana Aku mau istirahat," ujar Clarissa mengusir adiknya.
Aditya berumur delapan belas tahun, dan tinggi sudah melebihi Clarissa, yaitu 174, ia masih berada di bangku sekolah, sekarang sudah kelas tiga SMA, beberapa bulan lagi akan lulus.
Aditya yang di usir tidak bergeming, ia justru membaringkan dirinya di ranjang hingga bunyi kasur matras itu terdengar lebih berisik, hingga Aditya tersenyum menampakkan giginya yang putih bersih.
Clarissa hanya melirik adiknya, lalu mengambil telpon genggam dan membuka aplikasi pesan.
Clarissa sudah membalas pesan-pesan yang masuk, ia melirik adiknya yang tidak ada pergerakan, Clarissa mengerutkan keningnya merasa heran dan mengulurkan tangannya memeriksa kening Aditya.
"Tidak panas!... apa kamu ada masalah?" ujar Clarissa merasa khawatir, karena biasanya adiknya ini selalu mencari gara-gara, tidak akan pernah diam seperti saat ini.
"Kak-" Aditya ragu-ragu untuk berkata, lebih tepatnya gengsi untuk bertanya, ia tidak pernah terang-terangan peduli pada kakaknya, ia lebih suka usil hingga kakaknya marah.
"Kenapa Kamu? tumben diam aja," ujar Clarissa lalu berbaring di dekat adiknya meluruskan tubuh yang sudah seharian berdiri.
"Apa kamu butuh uang? " tanya Clarissa sambil memandangi sebuah foto pria tampan di layar hpnya.
Aditya melirik gambar pria yang ada di hp kakaknya, lalu berkata, "Apa itu pacarmu? "
Clarissa langsung menutup telpon genggamnya dan menaruhnya di atas perut, "Sutt! jangan asal ngomong, nanti ibu dengar bahaya, " ujar Clarissa yang khawatir ibunya mendengar obrolan keduanya.
"Tapi kamu ngapain masih di sini? apa ada masalah?" ujar Clarissa yang merasa heran dengan sikap adiknya.
"Apa kakak sudah makan? " ujar Aditya menurunkan gengsinya.
Clarissa menggeleng, lalu Aditya kembali berkata, "Aku menyembunyikan lauk untukmu...kakak cari saja di dapur di lemari tempat menyimpan tupperware," ujar Aditya lalu pergi begitu saja meninggal Clarissa yang kebingungan.
Clarissa menatap punggung sang adik dengan tak percaya, "Sejak kapan dia peduli padaku... " gumam Clarissa.
Wanita cantik itu kembali menatap layar telpon genggamnya, namun ucapan Aditya membuatnya merasa penasaran. Entah adiknya mengerjainya atau memang serius, dengan penasaran dan ingin memastikan, Clarissa pun pergi ke dapur.
Clarissa bertemu pak malik di dapur yang baru saja menaruh gelas kotor bekas kopi, pak malik tersenyum hangat saat melihat putrinya.
Clarissa juga tersenyum, "Bapak sudah makan? " ujar Clarissa lalu membuka tutup saji, yang hanya tersisa sedikit sayur.
"Bapak sudah makan," jawab pak Malik, lalu mendekat dan mengusap pundak Clarissa, lalu kembali berkata dengan lirih sebelum pergi beristirahat, "Cepat makan, adikmu sudah menyimpan lauk untukmu di sana..."
Clarissa mengangguk, ia menatap tempat yang di tunjuk bapaknya, tempat penyimpanan wadah bekal dan beberapa perabotan lainnya. Clarissa yakin jika adiknya tidak sedang mengerjainya, karena bapaknya juga tahu soal lauk itu.
Clarissa pun mengambil dan duduk di kursi, ia membuka wadah yang di sembunyikan adiknya, ada sepotong daging ayam dan sayur juga, untuk pertama kalinya Clarissa merasa terharu atas perhatian Aditya.
Clarissa makan dengan air mata mengalir, sudah berhari-hari Clarissa tidak makan dengan layak di rumahnya, semenjak abangnya pindah ke rumah ini, Clarissa merasa asing di rumah sendiri. Seperti biasa bu Mulan lebih mengutamakan anak laki-lakinya bahkan Clarissa masih kalah oleh kakak iparnya untuk mendapatkan perhatian bu Mulan.
"Makan kamu Sa? " Tiba-tiba suara ibu terdengar dan sangat mengejutkan Clarissa. Bu Mulan duduk di sana dan menatap piring Clarissa.
Untung saja Clarissa langsung menyembunyikan daging ayam di atas pahanya bersama wadahnya tadi, di bawah meja jadi bu Mulan hanya melihat jika Clarissa makan dengan sayur saja.
"Ibu sudah makan? " ujar Clarissa lalu melanjutkan makanya.