Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Gila di Tengah Malam
Lampu gantung kristal di ruang makan utama kediaman besar Alfarezel memancarkan cahaya keemasan yang megah, namun atmosfer di sekitarnya terasa sedingin es.
Devan Alfarezel meletakkan garpu dan pisau makannya dengan denting halus yang sengaja ditekankan. Di ujung meja panjang, seorang pria tua berambut putih perak dengan tatapan sekeras baja sedang menyeka bibirnya dengan serbet kain. Dialah Bramanta Alfarezel, sang patriark sekaligus pendiri tunggal Alfarezel Group.
"Tiga bulan, Devan. Tidak ada tawar-menawar lagi," suara kakeknya terdengar mutlak, menggema di rungan yang sunyi itu.
Di sisi kiri meja, ibu tiri Devan, Karina, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan terselubung. Di sebelahnya duduk Dion, sepupu Devan yang selama ini mengincar posisi CEO.
"Ayahmu sudah tiada, dan perusahaan membutuhkan sosok pemimpin yang stabil. Bukan hanya dalam bisnis, tapi juga citra keluarga," lanjut Bramanta, menatap cucu tertuanya dengan lekat. "Klan Alfarezel tidak pernah dipimpin oleh pria lajang yang dirumorkan berhati batu dan tidak punya komitmen. Jika dalam tiga bulan kau tidak bisa memperkenalkan calon istri yang pantas kepada dewan komisaris, jabatan CEO akan resmi kualihkan kepada Dion."
Devan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah bergemuruh di dadanya, namun wajahnya tetap sedatar papan tulis. Perusahaan itu adalah hidupnya. Ia yang menghabiskan waktu delapan belas jam sehari selama lima tahun terakhir untuk mengekspansi bisnis kakeknya hingga ke tingkat internasional, sementara Dion hanya tahu cara menghabiskan uang deviden.
"Aku mengerti, Kakek," jawab Devan pendek, suaranya bariton lambat tanpa emosi. Ia bangkit berdiri, mengancingkan satu kancing jasnya dengan elegan, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
Malam kian larut, namun griya tawang (penthouse) mewah milik Devan di kawasan SCBD terasa seperti sangkar emas yang sunyi. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Devan berdiri di tepi dinding kaca setinggi langit-langit, menatap gemerlap lampu Jakarta yang berkedip di bawah guyuran sisa hujan.
Di tangannya, terdapat segelas wiski yang belum disentuh. Pikirannya tidak tenang.
Mencari wanita untuk dinikahi dalam waktu tiga bulan bagi seorang Devan Alfarezel sebenarnya adalah hal mudah. Ratusan model, aktris, dan putri konglomerat mengantre untuk mendapatkan marganya. Namun, Devan tahu betul motif mereka: uang, kekuasaan, dan status. Terlebih lagi, ia benci komitmen nyata. Pengkhianatan ibu kandungnya di masa lalu telah mengunci rapat pintu hatinya dari segala hal yang berbau cinta yang tulus.
Aku tidak butuh istri sungguhan. Aku hanya butuh bidak catur yang bisa dikendalikan, batin Devan, matanya menyipit tajam.
Wanita itu haruslah seseorang yang tidak memiliki kekuatan politik atau latar belakang keluarga yang merepotkan. Seseorang yang sangat membutuhkan sesuatu darinya, sehingga wanita itu tidak akan berani berkhianat atau menuntut lebih dari apa yang disepakati. Seseorang yang cukup cerdas untuk berakting di depan kakeknya, namun memiliki posisi yang cukup terdesak agar mudah disetir.
Bayangan wajah seorang wanita mendadak terlintas di benak Devan.
Anya Anandita.
Pria itu mengingat bagaimana wanita itu menatap matanya dengan berani tadi pagi. Kebanyakan orang akan gemetar atau menangis jika dibentak olehnya, namun Anya justru membalas kalimatnya dengan dagu terangkat dan argumen yang tajam. Lebih dari itu, Devan sudah membaca laporan latar belakang finansial Anya yang dikirimkan oleh tim investigasi internalnya sore tadi.
Ibu yang sakit, utang medis puluhan juta, kehilangan pekerjaan secara sepihak, dan harga diri yang tinggi.
Sebuah senyum dingin yang penuh kalkulasi perlahan terukir di wajah tampan Devan. Ia meletakkan gelas wiskinya ke atas meja marmer dengan ketukan pelan yang mantap.
Targetnya sudah terkunci.
Anya membutuhkan uang untuk menyambung hidup keluarganya, dan Devan membutuhkan status pernikahan untuk mempertahankan takhtanya. Ini adalah transaksi bisnis yang murni, tanpa melibatkan hati, tanpa melibatkan perasaan.
Pria itu berjalan menuju meja kerjanya, membuka laptop, dan mulai mengetikkan draf dokumen baru dengan judul yang sangat singkat di bagian atas halaman
KONTRAK PERJANJIAN HUBUNGAN.
"Mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan harga dirimu di depan realita, Anya Anandita," gumam Devan lirih, dengan kilat mata elang yang tampak begitu berbahaya di tengah kegelapan malam.