Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bagus Mahendra sedikit mengernyit, lalu melangkah mendekati Arga.
“Mas Arga, Anda harus berhati-hati ke depannya. Meski Joni Hartono telah bangkrut, pengaruhnya di kota ini belum sepenuhnya lenyap. Dia pasti tidak akan menyerah begitu saja.”
“Hari ini ia telah menabrak utusan Ratu Kidul. Umurnya sudah terpotong. Waktunya tak banyak lagi—tak perlu dikhawatirkan,” jawab Arga dengan sangat tenang.
Tubuh Bagus bergetar. Wajahnya menampakkan kekaguman sekaligus ketakutan yang mendalam terhadap aura Arga. Sementara itu, Yuda Perdana menyadari bahwa nasib Joni telah berakhir. Ia tak berani berlama-lama dan segera melarikan diri dengan tergesa-gesa.
Hanya Tiara yang masih berdiri terpaku di tempat dengan pandangan kosong.
“Uang itu… seharusnya milikku… benar! Itu seharusnya uangku!”
Setelah tersadar, Tiara melangkah cepat ke arah Arga dan menghadang jalannya.
“Apa yang kau lakukan?” Arga mengernyit, rasa jijik tampak jelas di wajahnya.
“Arga, kau seharusnya membayarku atas masa mudaku yang terbuang dengan pusaka mangkuk itu! Semua orang di keluargaku bisa menjadi saksi!” seru Tiara histeris. “Sekarang kau sudah kaya raya, berikan saja uang itu padaku secara tunai! Aku tidak minta banyak—cukup 5 miliar saja. Lagi pula, kau juga tak mungkin menghabiskan uang sebanyak itu sendirian!”
Sambil berbicara, Tiara mengulurkan tangannya dengan tidak tahu malu ke hadapan Arga.
“Apakah kau belum bangun dari mimpi? Memberimu 5 miliar?” Arga tertawa getir karena merasa muak.
“Arga, ingat masa lalu kita! Aku telah bersamamu bertahun-tahun, menghabiskan seluruh masa mudaku untukmu. Masa kau bahkan tidak rela memberiku sekadar 5 miliar? Apakah kau masih bisa disebut laki-laki?!” bentak Tiara.
Kali ini, bahkan Sherly tak tahan lagi dan berteriak tajam, “Tiara, cukup sudah! Kamulah yang tidak menghargai Arga! Setelah kalian putus, dia sama sekali tidak punya kewajiban memberimu satu sen pun! Lagipula, masa mudamu adalah masa muda—apakah masa muda Arga bukan masa muda? Menurutku, justru kamulah yang menyia-nyiakan hidupnya selama ini!”
“Jangan bicara omong kosong! Beri aku uangnya, atau kalian tidak akan bisa pergi hari ini!” Tiara menjatuhkan diri di depan Arga, jelas berniat melakukan aksi "ndeprok" untuk menghalangi mereka pergi.
Mata Arga sedikit menyipit. “Ketika matahari terbenam, kau tidak menemaniku. Saat aku bangkit, siapa dirimu? Kau tidak berbagi pahit dan getir bersamaku—maka kau tidak pantas menikmati kejayaan dan kekayaanku!”
“Minggir!”
Usai berkata demikian, Arga menepis Tiara dengan tegas, lalu menarik tangan Sherly dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa area batu limbah pasti menghasilkan giok? Apakah primbon juga bisa meramalkan isi batu mentah?” tanya Sherly dengan penuh rasa ingin tahu saat mereka sudah di dalam mobil.
“Jangan lupa, aku adalah titisan orang sakti. Indra keenamku berbeda dari orang biasa,” jawab Arga sambil tersenyum misterius.
Sherly terdiam sejenak. Entah mengapa, penjelasan mistis itu justru terdengar paling masuk akal baginya saat ini. “Lalu… apa sebenarnya yang terjadi dengan Tiara? Bisakah kau menceritakannya padaku?”
Arga mengangguk dan menceritakan semuanya—bagaimana keluarga Tiara menghisap tenaganya selama bertahun-tahun, serta bagaimana mereka merendahkan orang tua Arga di desa. Begitu mendengarnya, Sherly gemetar hebat karena marah.
“Ini keterlaluan! Bagaimana bisa ada keluarga sekejam itu? Makan milikmu, memakai uangmu—namun masih merendahkanmu! Aku benar-benar ingin menghajar perempuan itu!”
Tak lama kemudian, mata Sherly berkaca-kaca. Ia menatap Arga dengan tatapan tulus. “A-aku hanya merasa kasihan padamu… Hidupmu terlalu berat selama ini… aku merasa tidak adil untukmu…” Sambil berkata demikian, Sherly memeluk Arga erat-erat. “Aku akan bersikap dua kali lebih baik padamu mulai sekarang! Aku berjanji!”
“Gadis bodoh…” Arga mengelus rambut Sherly dengan lembut, menghela napas lega dalam hati. Dibandingkan Tiara, Sherly bagaikan malaikat.
......................
Malam itu, di kediaman Keluarga Gunawan, suasana terasa hangat. Sherly bersenandung kecil dengan wajah cerah.
“Ada apa dengan putri kita akhir-akhir ini? Rasanya seperti makan madu setiap hari,” ujar Pak Rendra dengan heran.
“Apalagi kalau bukan jatuh cinta,” jawab Bu Maya sambil tersenyum.
“Pacaran? Dari mana asal laki-lakinya? Latar belakangnya apa? Kerjanya apa—”
“Hei, hei, apa-apaan ini? Jangan ikut campur urusan putrimu! Mengerti?” potong Bu Maya.
“Baik, baik, aku mengerti. Aku keluar sebentar, mau merokok.”
Begitu keluar rumah, ekspresi Pak Rendra langsung menggelap. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor. “Halo, ini Rendra Gunawan. Tolong selidiki pemuda bernama Arga untukku. Detail…”
Keesokan harinya.
Arga pergi ke Bank Jawa Tengah pusat dan mentransfer uang 10 miliar yang ia menangkan ke rekening pribadinya. Demi hal ini, Hadi Setiawan selaku pimpinan bank bahkan meminta staf khusus untuk melayani Arga secara eksklusif di ruangan privat.
Alasan Arga mentransfer uang itu di sana adalah agar Hadi melihat nilai dirinya. Bagaimanapun, di dunia keuangan, relasi hanyalah soal saling memanfaatkan nilai guna.
Waktu menuju pergerakan pasar komoditas internasional semakin dekat. Selama periode ini, Arga bersiap menghasilkan satu keuntungan besar lagi. “Sherly, hari ini aku harus merepotkanmu untuk mengantarku ke suatu tempat.”
Tempat yang dituju Arga adalah Kawasan Tambak Lorok. Ini adalah kawasan lama di pesisir Semarang yang sudah berdiri puluhan tahun. Arga ingat dengan sangat jelas—sebentar lagi pemerintah akan melakukan revitalisasi besar-besaran dan pembangunan infrastruktur sabuk pantai.
Pada proyek tahun 2000 ini, kompensasinya luar biasa tinggi! Saat ini, harga tanah di sana masih tergolong murah karena sering terkena rob. Arga berencana memborong tanah di sana.
Selain itu, Arga juga teringat pada Kompleks Vila Bukit Sari yang akan segera meledak harganya. Jika nanti ia punya cukup uang, ia akan membeli seluruh blok di sana sekaligus.
Arga tersenyum tipis, menatap masa depan dengan penuh keyakinan.
Sambil berbincang santai dengan Sherly di sepanjang jalan, keduanya tiba di depan kantor pemasaran yang menangani Kawasan Tambak Lorok dan perumahan baru di sekitarnya, terletak di area pengembangan pesisir Semarang.
Setelah bertanya ke sana kemari, mereka mengetahui bahwa bangunan-bangunan di kawasan lama tersebut sudah sangat tidak terawat. Sering terkena rob, pengelolaan lingkungannya buruk, dan bahkan hampir tidak ada orang yang tertarik meliriknya untuk investasi.
Karena itu, penjualan unit atau lahan di sana hanya menumpang di kantor pemasaran Apartemen Marina Bay yang baru dibangun di sebelahnya. Begitu memasuki kantor yang sejuk itu, terlihat para sales perempuan berseragam rapi sibuk menawarkan brosur hunian mewah. Namun, untuk Kawasan Tambak Lorok, bahkan tidak ada satu pun sales khusus yang berjaga.
Belakangan ini, pasar properti sedang lesu. Tidak banyak calon pembeli yang datang. Arga mengangkat kepala dan melihat hampir semua sales berkerumun mengelilingi sepasang pria dan wanita yang penampilannya mencolok.