Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga
Padahal pria itu memainkan drama. Dengan mudahnya kedua pria itu memainkan hatinya dan perasaannya. Sebetulnya ia di bakar hidup-hidup namun panasnya tidak teras, tapi sekarang begitu terasa panasnya dan tubuhnya terasa sakit.
"Aku sudah cukup menderita."
Wanita bernama Melani itu mengerutkan dahinya. "Apa maksud mu? Jake begitu mencintai mu."
Caroline menaruh dagunya di lututnya yang berjongkok itu. "Jake memiliki saudara kembar identik. Namanya Tommy."
Air mata Caroline jatuh mengingat semuanya. "Tommy berpura-pura menjadi Jake dan kau tau, mereka semua balas dendam hanya demi Aurora. Mel, tau kah kamu aku begitu lelah dengan semuanya. Aku sudah meminta bercerai, aku menandatanganinya, tapi Jake tidak mau."
"Hah? Kau tidak bercanda kan?" Semua yang Jake lakukan pada Caroline rasanya tidak mungkin Jake membohonginya. "Caroline Sayang."
Melani memeluk Caroline. "Masih ada aku. Jangan bersedih. Bagaimana kalau kau pergi saja atau kabur?"
Caroline menaruh kepalanya di bahu Melani. "Kabur atau pergi begitu mudah bagi ku, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Aku ingin hidup tanpa pelarian. Aku ingin hidup di sebuah pulau dengan nyaman hanya ada aku."
Impiannya saat ini pergi dengan tenang dan menjalani hidupnya.
"Aku paham, aku mendukung mu. Sebaiknya kau beristirahat saja. Jangan banyak pikiran."
....
Jake pulang ke mansion, semua orang melihatnya heran. Jake langsung mengubah penampilannya.
"Tuan kenapa balik lagi? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Tanya seorang pelayan menghampiri Jake.
Jake mengerutkan dahinya. Bukankah ia kembali baru sekarang. Ia mulai teringat dengan Tommy. Pasti adiknya kembali ke mansion.
Ia pun menghubungi Tommy. "Kau ada dimana? Apa kau mendatangi mansion?"
Tommy lupa ia belum mengatakan pada kakaknya. "Kak maaf aku lupa. Kakak sebaiknya pergi. Biar aku yang menjadi kakak."
"Kau sudah gila. Sebaiknya kau kembali."
Jake memutuskan obralnnya sepihak. Lalu ada sebuah panggilan dari Aurora.
"Iya Aurora."
"Jake kamu ada dimana? Aku merindukan mu. Aku sekarang berada di rumah sakit. Aku kecelakaan," ucap Aurora sambil menangis tersedu-sedu. Ia yakin Jake tidak akan membiarkannya menunggu lama.
"Apa? Baiklah aku kesana."
Dengan hati gelisah dan khawatir. Jake melupakan niatnya untuk menemui Tommy. Ia lebih memilih melakukan perjalanan besok pagi dengan menginap di apartement Tommy.
Ia tidak mungkin kembali ke mansion dengan keadaan Tommy berada di sana.
Pada malam harinya.
Tommy mondar-mandir di depan pintu utama. Dia menunggu kedatangan Caroline yang bahkan sampai jam 01.30 malam pun Caroline tidak pulang.
"Kemana dia?" Geram Tommy.
Caroline sudah melunjak sehingga melupakan tugasnya sebagai seorang istri yang harus melayaninya. Saat melihat gerbang utama terbuka. Pikiran Tommy langsung sirna dan perlahan hatinya lega.
Tommy menghampiri Caroline yang sedang turun dari mobilnya.
"Kemana saja kamu Caroline? Ini sudah jam berapa dan kau tidak pulang. Apa kau lupa tugas sebagai seorang istri?" Bentak Tommy.
Caroline melihat cara pakaian dan sikap sekaligus suara pria di depannya. Tomny sudah kembali berarti kini Jake bersama dengan Aurora. Sungguh miris hidupnya yang selalu di bohongi setiap harinya
"Aku sedang main di luar." Ketus Caroline. Ia melewati Tommy.
Tommy menahan lengannya. Ia tidak suka Caroline bersikap ketus. "Aku belum memberi mu pelajaran. Ikut aku, kau harus di beri pelajaran agar kamu jera."
Tommy menyeret Caroline sampai ke kamarnya dan kemudian mendorongnya ke atas ranjang empuknya itu.
Tommy menindih tubuh Caroline dan mencium bibirnya dengan rakus sampai tidak boleh tersisa pada yang lainnya.
Hatinya kesal karena Caroline melawan dan menolaknya. Caroline tidak pernah menolaknya. Wanita itu melayaninya seperti pengemis cinta.
Caroline mendorong tubuh Tommy dan langsung menamparnya dengan keras. Kedua netra Caroline menajam. Nafasnya memburu seolah dadanya ingin meledak.
Tommy merasa aneh dan heran karena Caroline menolaknya. Caroline tidak pernah menolaknya dan berbuat kasar padanya.
"Kau menolak ku Caroline?" Tanya Tommy dengan nada menekan.
Tommy kembali menindih tubuh Caroline namun Caroline menendang perutnya dengan lututnya.
Tommy terhuyung kebelakang. Ia menatap sengit ke arah Caroline. "Kau berani menolak ku?" Bentaknya.
Caroline berdiri, ia sudah muak dengan samdiwara pria kembar di hadapannya. "Memangnya kenapa kalau aku menolak mu? Aku tidak menyukai mu dan aku sudah menandatangani surat perceraian kita. Kita sudah bercerai dan jangan mengganggu ku lagi."
Caroline melenggang pergi membuat Tommy menatap lekat punggungnya.
Tommy mengernyitkan dahinya. Ia bergegas menghubungi Jake.
"Hallo Jake, apa benar Caroline ingin bercerai?"
Jake menghela nafas berat. "Iya, dia sudah menandatangani surat perceraian."
Tommy tersenyum, akhirnya tidak ada yang menghalangi Aurora bersama dengan Jake. Mareka akan menjadi pasangan yang bahagia.
"Baguslah, dengan begitu. Kita tidak perlu memaksanya. Aku senang mendengarnya. Baiklah, aku tutup dulu."
Rasa bahagianya bagaikan bunga yang menyelimuti tubuhnya dengan hangat.
"Tunggu dulu Kak, aku akan ikut dengan mu ke Swedia. Kita akan merayakannya bersama-sama."
Tommy memutuskan panggilannya. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi.
Caroline memejamkan kedua matanya dan mengepalkan kedua tangannya saat mendengarkan Tommy menghubungi Jake. Kedua pria itu bahagia dengan penderitaannya selama ini.
"Beginikah rasa sakit cinta yang tidak di hargai. Betapa bodohnya aku dulu saat mereka mempermainkan aku di atas ranjang. Aku kira semua itu bentuk cinta mereka, tetapi bentuk penderitaan dari mereka. Mulai saat ini aku putuskan aku membenci kalian sampai mendarah daging."
Caroline menghubungi sahabatnya, Melani. Ia meminta untuk ke Luar Negeri saat Jake dan Tommy ke Swedia. Dimana kepergian mereka juga akan menjadi kepergiannya.
"Melani atur penerbangan ku di tanggal Xxx. Aku tidak akan berlama-lama di sini. Dan tolong hapus semua jejak ku. Aku ingin menghilang."
Caroline menutup ponselnya. Ia bergegas ke arah taman untuk menenangkan pikirannya.
"Aku harap kalian bahagia." Ia tidak ingin berlama-lama berada jalur pernikahan yang menyakitkan itu. Ia ingin hidup tenang, bahagia dan nyaman. Sudah waktunya ia pergi. Hatinya dan pikirannya sudah lelah.
"Hai Caroline."
Tommy tersenyum, ia membawa sebuah map. Ia pun duduk di samping Caroline dengan wajah bahagia.
"Aku senang. Aku juga sudah menandatanganinya," ucapnya.
Tommy menaruh map itu tepat di atas pangkuan Caroline. "Terima kasih atas kerjasamanya. Aku pergi dulu."