Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Lorong Cermin Tua
Malam semakin gelap di kastil sekolah sihir Misel.
Angin masih bertiup kencang di luar jendela-jendela besar. Petir sesekali menyambar langit, membuat bayangan kastil terlihat menyeramkan.
Di dalam sekolah, tim kecil dari kelas IX B sedang berjalan di lorong batu yang panjang.
Di depan berjalan **Riski**, penjaga sekolah. Ia membawa lentera sihir yang memancarkan cahaya biru lembut.
Di belakangnya ada **Wida, Zahira, Oliv, Rifky, Rais, Deni, Gofirr, Candra**, dan **Velop** yang masih terlihat takut.
Fauzan tidak ikut karena harus menjaga perpustakaan sihir.
Langkah kaki mereka bergema pelan di lorong.
**TOK… TOK… TOK…**
Rifky melihat ke sekeliling.
Lorong itu sangat berbeda dari bagian sekolah yang lain. Dindingnya lebih tua dan dipenuhi ukiran sihir kuno.
“Tempat ini sudah lama sekali ya…” kata Rifky.
Riski mengangguk.
“Lorong ini jarang digunakan.”
Candra melihat ukiran di dinding.
“Seram juga.”
Velop langsung memegang tangan Wida.
“Aku merasa ada yang melihat kita…”
Zahira berkata,
“Tenang saja. Itu hanya perasaanmu.”
Namun tiba-tiba Riski berhenti.
“Kita sudah sampai.”
Di depan mereka terlihat sebuah pintu batu besar.
Pintu itu dipenuhi ukiran simbol aneh.
Di tengah pintu ada gambar **sebuah mata yang dikelilingi cermin.**
Rifky merinding.
“Ini Lorong Cermin Tua?”
Riski mengangguk.
“Ya.”
Ia lalu menekan salah satu simbol di pintu.
**GRRRRR…**
Pintu batu itu perlahan terbuka.
Udara dingin langsung keluar dari dalam lorong.
Semua murid menelan ludah.
Di dalam lorong itu terlihat banyak **cermin besar** di sepanjang dinding.
Cermin-cermin itu berdiri tinggi sampai hampir menyentuh langit-langit.
Namun kaca mereka terlihat sedikit kabur.
Seperti tertutup kabut tipis.
“Kenapa ada banyak cermin?” tanya Rifky.
Gofirr menjawab,
“Lorong ini terkenal dengan ilusi sihirnya.”
“Cermin-cermin ini bisa menunjukkan hal-hal dari pikiran kita.”
Rifky langsung merasa tidak nyaman.
“Maksudnya… kenangan?”
“Kadang kenangan. Kadang ketakutan.”
Velop langsung panik.
“AKU TIDAK MAU MASUK!”
Candra berkata,
“Kalau begitu tunggu di sini saja.”
Velop langsung memegang baju Wida.
“Tidak! Aku ikut!”
Riski berkata tegas,
“Kalian harus berjalan lurus dan jangan terlalu lama melihat cermin.”
“Kalau tidak…”
“Apa?” tanya Deni.
Riski menjawab pelan.
“Ilusinya bisa menarik kalian masuk.”
Semua murid langsung terdiam.
Namun mereka tidak punya pilihan.
Mereka mulai berjalan masuk ke dalam Lorong Cermin Tua.
Cahaya dari lentera Riski memantul di kaca-kaca cermin.
Bayangan mereka terlihat di mana-mana.
Rifky melihat dirinya sendiri di salah satu cermin.
Namun bayangannya terlihat sedikit berbeda.
Seolah lebih tua.
Ia mengerutkan kening.
“Aneh…”
Namun tiba-tiba Zahira berkata,
“Jangan lihat terlalu lama!”
Rifky langsung menoleh ke depan lagi.
Namun beberapa langkah kemudian…
Deni berhenti.
“Eh…?”
Wida menoleh.
“Ada apa?”
Deni menunjuk salah satu cermin.
Di dalam cermin itu terlihat **dirinya memakai jubah penyihir hebat**.
Di tangannya ada tongkat sihir yang bersinar terang.
Banyak murid berdiri di belakangnya seolah mengaguminya.
“Aku… penyihir hebat?” gumam Deni.
Ia terlihat terpukau.
“DENI!” teriak Zahira.
Namun Deni masih melihat cermin itu.
“Ini masa depanku…”
Tiba-tiba tangan dari dalam cermin bergerak.
Tangan bayangan Deni mencoba **menariknya masuk.**
“HEY!” teriak Rais.
Rais langsung menarik Deni menjauh.
Deni terjatuh ke lantai.
“Apa yang barusan terjadi?!” katanya panik.
Gofirr berkata tegas,
“Cermin itu mencoba menjebakmu dengan keinginanmu.”
Mereka berjalan lagi.
Namun sekarang semua lebih berhati-hati.
Beberapa menit kemudian…
Velop tiba-tiba berhenti.
Di cermin di depannya terlihat semua murid kelas IX B **membencinya.**
Mereka menunjuk dan tertawa padanya.
Velop langsung mulai menangis.
“HUAAAA… mereka semua benci aku…”
Wida langsung memeluknya.
“Itu hanya ilusi.”
“Tidak… itu nyata…”
Wida berkata tegas,
“Kamu teman kami.”
Velop perlahan berhenti menangis.
Ia akhirnya berjalan lagi bersama mereka.
Namun ketika Rifky melewati salah satu cermin…
ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di dalam cermin terlihat dirinya berdiri di tengah lingkaran sihir besar.
Matanya bersinar biru.
Di sekelilingnya ada banyak penyihir tua yang berlutut.
Seolah mereka menghormatinya.
Di belakangnya terlihat bayangan besar seperti **naga dari cahaya.**
Rifky terkejut.
“Apa itu…?”
Tiba-tiba bayangan dirinya di cermin berkata sesuatu.
Namun tidak ada suara.
Hanya gerakan bibir.
Seolah mengatakan:
**“Kamu adalah kunci.”**
Rifky merinding.
“Rifky!” panggil Wida.
Rifky tersadar dan langsung menjauh dari cermin itu.
“Aku baik-baik saja…”
Namun hatinya masih gelisah.
Apa arti penglihatan tadi?
Mereka hampir sampai di ujung lorong.
Namun tiba-tiba—
**CRAAACK!**
Salah satu cermin pecah sendiri.
Semua murid langsung berhenti.
Dari dalam pecahan cermin itu muncul **bayangan hitam**.
Bentuknya seperti manusia, tapi seluruh tubuhnya terbuat dari bayangan gelap.
“Makhluk cermin…” kata Gofirr.
Makhluk itu membuka mata putihnya.
Lalu tiba-tiba muncul **lebih banyak bayangan** dari cermin lain.
Sekarang ada lima makhluk bayangan berdiri di lorong.
Velop langsung menjerit.
“MONSTER LAGI!”
Rais mengepalkan tangannya.
“Baiklah.”
Tubuhnya mulai berubah menjadi besar lagi.
Wida dan Zahira mengangkat tongkat mereka.
“Bersiap!”
Candra malah berkata,
“Petualangan makin seru!”
Makhluk-makhluk bayangan itu mulai bergerak mendekat.
Mata putih mereka menatap tajam.
Rifky merasakan energi hangat muncul lagi di tangannya.
Sepertinya pertarungan lain akan dimulai.
Dan Lorong Cermin Tua…
ternyata bukan hanya penuh ilusi.
Tapi juga penjaga bayangan yang berbahaya.
---