"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 (Pengkhianatan kejam)
Fania masih bingung di pinggir jalan. Dia tidak tahu harus bagaimana menemukan alamat rumah suaminya. Dari kejauhan terlihat mobil yang datang mendekat. Fania mundur selangkah, dia takut jika ada orang jahat yang menghampirinya. Namun, dugaanya salah, seorang pria keluar dari mobil dan menanyainya dengan suara lembut.
"Maaf, Mbak sedang apa malam-malam di tempat seperti ini?" tanya pria tersebut.
Fania tidak menjawab, dia masih takut dengan pria itu. Menjaga jarak adalah cara teraman untuknya. Akhirnya pria itu menjelaskan alasannya dengan sangat hati-hati.
"Maaf, jika saya membuat takut. Saya bukan orang jahat. Jika boleh tau, apa Mbaknya tersesat?" tanyanya sekali lagi.
Fania menjawab sambil menunduk. "Iya, saya tersesat dan lupa di mana rumah suami saya."
"Mbaknya baru ke sini?"
Fania mengangguk lagi. Dia tidak berani menatap pria yang ada di depannya.
"Emm, Mbak ingat tidak ciri-ciri jalannya atau mungkin bentuk perumahannya. Setau saya, kompleks perumahan di sini itu bisa dikenali oleh bentuk bangunannya," jelas pria tersebut membuat Fania berpikir.
Fania berpikir sejenak, dia mengingat-ingat jalan yang dilaluinya tadi pagi. Setelah ingat, Fania segera memberitahu pria tersebut. "Itu,, tadi pagi aku melewati tugu berwarna hitam dan merah. Terus di pinggirnya ada bunga dan air mancur bentuk ikan. Maaf cuma itu yang kuingat, mungkin tidak jelas."
Pria itu tersenyum tipis, dia sudah mengerti tempat yang dituju oleh Fania. "Saya tau di mana tempat itu. Saya bisa mengantarkan Anda jika berkenan. Mbaknya tidak perlu takut, karena saya bukan orang jahat."
Fania masih berpikir, dia belum memutuskan bantuan itu. Sesekali dia melihat pria yang ada di depannya. "Baiklah, saya menerima bantuan Anda. Maaf jika merepotkan."
"Tidak apa-apa, mari masuk! Saya antarkan sekarang!" Pria itu membukakan pintu untuk Fania. Mobil berjalan meninggalkan tempat tadi. Suasana canggung terjadi selama perjalanan. Fania tidak berani bertanya ataupun sekedar basa-basi.
Sekitar sepuluh menit, mereka sampai di kompleks perumahan Raditya. Fania baru saja mengingat tempat tinggalnya. "Oh iya, sepertinya saya baru saja ingat. Rumah saya ada di belokan sana. Pagar tinggi warna emas."
"Alhamdulilah, saya akan menuju ke sana sekarang. Pasti suami Mbak khawatir," sahut pria tersebut.
Fania menunduk lagi saat pria itu menyebutkan tentang suaminya. Dia teringat tentang Raditya yang pergi sejak siang tadi. Fania melamun sampai pria itu menyadarkannya.
"Mbak, kita sudah sampai di depan pintu gerbang. Mbak tidak apa-apa kan?" tanya Pria tersebut.
Fania sedikit kaget, dia menoleh ke luar jendela dan melihat pintu gerbang rumah suaminya. "Iya benar ini rumah saya. Terima kasih sudah membantu. Semoga Allah membalas kebaikan Mas."
"Sama-sama, maaf jika saya membuat Mbak takut," jawab pria itu.
Fania hanya mengangguk saja, dia keluar dan segera masuk ke dalam rumahnya. Di balik pintu gerbang, Fania bernapas lega. Dia bisa kembali lagi di rumah itu. "Alhamdulilah aku bisa kembali lagi. Aku kira tidak bisa kembali lagi," gumamnya dalam hati.
Saat ingin masuk ke dalam, Fania mendengar suara pria dan wanita sedang tertawa bersama. Langkah kakinya terhenti di depan pintu, rasa ragu menyelimuti hatinya. "Apa yang terjadi di dalam? Bissmillah, semoga tidak terjadi apa-apa."
Fania masuk ke dalam dan langsung melihat pemandangan yang menyakitkan. Raditya membawa Zelina ke rumah, dia sengaja melakukan itu karena desakan oleh kekasihnya itu. Langkah kaki Fania terasa berat, dia tidak menyangka jika suaminya melakukan sesuatu yang buruk di rumah tangganya sendiri.
"Keluyuran dari mana kamu? Kamu sudah berani seenaknya sendiri, ya!" seru Raditya sambil memeluk mesra Zelina.
"Maaf, Mas. Aku tadi keluar cari makan, tapi pas selesai makan aku lupa jalan pulang dan tersesat," jelas Fania sambil menunduk. Dia tidak berani melihat kemesraan yang sengaja dibuat-buat."
Raditya masih menyudutkan istrinya, dia ingin menunjukkan sesuatu pada Zelina. "Alasan saja kamu, rumah ini itu sangat strategis. Aku tidak percaya jika kamu sampai tersesat. Pasti itu cuma akal-akalan kamu saja biar bisa pergi dari rumah ini," gertak Raditya dengan nada tinggi.
Fania merasa tersudut, kedua tangannya mencengkeram kuat gamisnya. Raditya semakin tertantang untuk melakukan hal kasar. Pria itu berdiri dan menghampiri istrinya dengan langkah cepat. "Jika ditanya suami itu jawab, bukan diam seperti orang bodoh."
Raditya mencengkeram kedua pipi istrinya dengan kuat. Dia sengaja membuat Fania takut. "Jawab yang jujur, dari mana kamu? Apa kamu pikir aku ini bodoh? Aku tadi sudah melihat jika kamu diantarkan oleh seseorang dengan mobil. Maih mau mengelak dari kebenaran?"
Fania menggeleng sambil memegang tangan suaminya, dia merintih kesakitan. "Mas, demi Allah aku tidak berbohong. Aku tadi tersesat, terus ada yang bantu aku pulang. Hanya itu, aku tidak melakukan hal lain."
"Kamu pikir aku percaya? Kesini kamu!" Raditya menarik tangan istrinya dengan sangat kasar. Mereka berdiri di hadapan Zelina yang sedang menonton dengan tenang. "Dia Zelina, calon istriku yang sebenarnya."
Fania masih menunduk, dia tidak ingin melihat wanita yang ada di depannya. Sikapnya itu membuat suaminya murka. Raditya kembali mencengkeram tangan istrinya. "Fania, kamu tahu jika pernikahan ini hanya sekedar formalitas saja. Aku harap amu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina."
Tubuh Fania terasa lemas, dia tidak menyangka jika akan diduakan di hari pertama menjadi seorang istri. Sembari menahan air mata, Fania membalas permintaan suaminya. "Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang solehah untukmu.Aku hanya ingin memwujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Zelina tersinggung dengan pernyataan itu, dengan cepat ia segera menyangkalnya. "Kamu pikir aku akan rela? Enak saja mau merebut Raditya dariku. Takdirmu sudah ditentukan sejak kamu masuk di rumah ini. Mau tidak mau kamu harus menyetujui aku menikah dengan Raditya."
Fania tidak mempunyai kesempatan untuk memilih. Hatinya dihancurkan oleh orang yang belum lama dikenalnya. "Mas, lebih baik kamu ceraikan aku saja. Biar kamu bisa menjalani rumah tangga dengan wanita yang kamu cintai. Aku tidak akan menjadi penghalang untuk hubunganmu. Ceraikan saja aku, Mas."
Raditya tertawa keras, dia mendekati istrinya dengan pandangan sinis. "Mana mungkin aku mengabulkan keinginanmu? Pernikahanku denganmu itu ada sedikit keuntungan, untuk itu aku harus memertahankan hubungan bodoh ini. Kamu nikmati saja surga yang indah ini."
Air mata Fania menetes perlahan, hatinya sakit tak berdaya. Dia tidak pernah membayangkan jika akan mengalami nasib yang buruk. "Kenapa kamu melakukan hal ini sama aku. Apa salahku sama kamu, Mas?"
Raditya tertawa keras, dia memeluk Zelina di depan istrinya yang menangis sedih. "Fania, kesalahanmu itu sangat fatal. Kesalahan yang sangat berat sampai aku membenci keberadaanmu. Sekarang kamu harus menikmati hukuman ini. Anggap saja hukuman karena kamu sudah membuat Zelina sedih dan menangis."
Zelina ikut tertawa di atas sakit hati Fania. Dia sangat puas sudah menghancurkan mental wanita yang sangat dibencinya itu. "Sayang, ayo kita lanjutkan lagi malam pertama kita. Jangan pedulikan wanita malang ini. Apa kamu masih kuat melakukannya?"
Raditya menggendong Zelina di hadapan istrinya. Dia terus menunjukan kemesraan itu. "Tentu saja aku masih kuat. Ternyata senikmat itu bercinta denganmu, Sayang."
Fania terus beristigfar, dia berdoa dalam hati. "Ya Allah, kuatkanlah hamba dalam menghadapi ujian ini. Lapangkanlah hati hamba agar bisa melewati semua ini."
Raditya dan Zelina sudah berada di atas, keduanya bercinta dengan panas agar bisa didengar oleh Fania. "Allahhuakbar, Astaghfirullahaladzim," ucap Fania dalam hati.
Fania menutup telinganya, dia berjalan ke atas untuk menuju ke kamarnya. Air matanya terus menetes melihat pengkhianatan suaminya. Suara erangan terdengar sangat nyaring bahkan tanpa rasa malu mereka melakukan perzinahan dengan begitu semangat. Fania sudah berada di dalam kamarnya, dia masih beristigfar agar selalu diberikan kekuatan.
"Ibu, Fania takut, Bu. Fania takut, tolong Fania, Bu. Ibu ...." Fania menangis dengan penuh kepiluan. Tubuhnya gemetar, dan pandangannya semakin kabur. Hingga akhirnya, Fania pingsan di dalam kamarnya.
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡