Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Felicia tak dapat memejamkan matanya barang sedikitpun. Dia melirik ke arah sofa tempat Arion tidur. Dia masih tak percaya jika Arion akan menjadi suaminya.
Sebelumnya memang Felicia memiliki ketertarikan kepada Arion. Menurutnya Arion adalah pria yang sangat tampan. Dan dirinya adalah salah satu gadis penyuka wajah tampan.
Felicia seringkali menonton drama Korea yang memicunya begitu mengagumi ketampanan.
Hanya satu yang ada dalam benaknya saat ini. Dia tahu jika sebelumnya Arion mencintai Aluna. Namun mengapa pria itu malah menyetujui menikah dengannya? Mungkinkah sesuatu telah terjadi selama dirinya pulang ke rumah papanya? Merry hanya bisa bertanya-tanya.
Akhirnya Merry memutuskan untuk segera memejamkan matanya. Terasa begitu aneh ketika dirinya berada satu kamar dengan seorang pria. Sebelumnya dia selalu sendiri.
***
Malam telah berganti dengan pagi. Namun, Felicia masih enggan untuk membuka matanya. Dia masih terpikat dengan mimpi indah dalam tidurnya.
Sementara Arion, Pria itu sudah terbangun sejak tadi. Dia menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang tak kunjung bangun juga.
Arion menatap Merry dengan helaan napas panjang. Tadinya dia ingin membuat sebuah kesepakatan dengan gadis itu. Namun karena Arion sudah terlanjur menyetujui amanat dari Papa mertuanya, akhirnya Arion mengurungkannya. Kini tatapannya menjadi sebuah tatapan iba.
Walaupun Aku tidak mencintaimu, tapi Aku akan berusaha melindungimu," gumam Arion pelan. Pikirannya melayang pada percakapan antara dirinya dan Papa mertuanya semalam.
Namun Arion segera tersadar. Dia memiliki sebuah ide untuk membuat Felicia segera bangun dari tidurnya.
Pria itu mendekati Felicia. Berdiri di sampingnya dan membungkukkan tubuhnya. Wajahnya ia dekatkan pada telinga Felicia.
"Kebakaran!!!" seru Arion nyaring. Membuat Felicia pun terkejut dan mengira benar-benar terjadi kebakaran.
Felicia langsung membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur. Berlari sambil berteriak 'kebakaran' .
Arion yang melihatnya langsung terbahak-bahak. Entah mengapa, dia suka melihat wajah panik Felicia.
"Kebakaran? Tolong!" Felicia masih berlarian di dalam kamarnya. Tanpa sadar ia menuju lemari pakaiannya dan mengambil sesuatu dari sana.
Sebuah pigura kecil yang Arion yakini mungkin foto keluarganya. Felicia kembali berlari setelah mengambil pigura tersebut.
Namun Arion langsung menarik kerah piyama Felicia dan membuat gadis itu berhenti seketika.
Felicia langsung menatap kearah Arion. Gadis itu terkejut melihat Arion di sana.
"Ah! Bagaimana Kau bisa berada di kamarku?!" seru Felicia terkejut.
Satu kebiasaan Felicia ketika setiap bangun tidur, gadis itu akan melupakan sejenak tentang yang terjadi sebelumnya. Mungkin saja itu terjadi karena nyawanya belum terkumpul sempurna.
Arion menepuk kening Felicia sehingga membuatnya mengaduh. "Aku ini suamimu jika Kau lupa," ujar Arion.
Sontak saja Felicia langsung mengingat-ingat yang terjadi. Setelah gadis itu mengingatnya, dia langsung terkekeh sendiri.
"Kau sudah mengingatnya?" tanya Arion mengerutkan kening.
Felicia pun langsung mengangguk canggung.
"Apa Kau selalu bangun terlambat setiap pagi?" tanya Arion kembali.
Felicia langsung menyanggahnya. "Tidak. Aku pernah bangun pagi-pagi sekali ketika bekerja di rumah Aluna," jawab Merry.
'tentu saja dengan bantuan Daniel. Pria itu tidak berhenti meneleponku hingga Aku terbangun,' gumamnya terkekeh.
"Cepat mandilah. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Arion menatap Felicia dengan serius. Dia pun melepaskan kerah piyama Felicia.
Felicia pun mengangguk saja dan menurutinya. Dia segera memasuki bathroom.
Setelah tubuhnya segar, Felicia keluar dan mendapati Arion yang menunggunya di sofa kamarnya. Menyilangkan kakinya sembari memainkan ponselnya.
Felicia tersenyum menatap Arion yang nampak semakin tampan menurutnya. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan menatapnya saja.
'ah, jantung. Kenapa Kau berdetak begitu cepat ketika Aku melihatnya? Apa ini yang di namakan cinta pertama? Sejak pertama kali bertemu dengannya di rumah Aluna waktu itu, Kau pun berdetak begitu cepatnya. Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?' Felicia merasa gemas sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hatinya.
Felicia tak pernah mengenal cinta selama hidupnya. Sebelumnya, papanya selalu melarangnya untuk dekat dengan laki-laki manapun. Kecuali dengan Daniel, sepupunya.
Walaupun Daniel juga pria yang begitu tampan, namun Felicia tak pernah merasakan jantungnya berdegup kencang seperti ketika dirinya menatap Arion.
Daniel adalah sepupu dan guru lesnya ketika ia kuliah dulu.
Felicia pun langsung menghampiri Arion. Duduk di sampingnya dan tersenyum manis menatap pria itu.
"Lihatlah, Aku sudah mandi. Kau mau membicarakan tentang apa? Katakanlah! Aku akan mendengarkan dengan sangat baik," ucap Felicia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
Arion terkejut melihat Felicia yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Dia menghela napas sejenak.
"Apa Kau senang dengan perjodohan ini?" tanya Arion menatap serius Felicia.
"Tentu saja Aku senang. Ternyata suamiku begitu tampan," celetuk Felicia dan langsung membuat Arion terkejut. Namun dia merasa senang karena Felicia menganggapnya tampan.
Arion berdehem untuk menghilangkan rasa besar kepala akibat pujian Felicia.
"Baiklah, Aku akan bercerita sedikit. Sejujurnya Aku menerima perjodohan ini karena suatu hal. Aku belum bisa bercerita padamu untuk hal ini." Arion berhenti sejenak.
"Semalam, Aku sudah berjanji kepada papamu untuk menjagamu selamanya. Jadi, sebisa mungkin Aku akan menjagamu. Tapi ... untuk memberikanmu cinta seperti keinginan beliau, mungkin Aku tidak bisa," ujar Arion.
"Aku tahu itu. Kau kan mencintai Aluna, jadi Aku bisa mengerti." Felicia tertunduk lesu.
"Aku sudah mengikhlaskannya."
Mendengarnya, Felicia langsung mendongak menatap Arion. Seperti ada angin segar yang menerpanya.
"Sungguh?"
"Ya. Aluna sudah bahagia dengan Daniel. Dan Aku tidak mungkin menjadi pengganggu dalam hubungannya."
"Benarkah? Jadi mereka sudah saling mengungkapkan cinta? Wah, Aku turut senang." Felicia merasa lega. "Lalu, kenapa Kau berkata tidak bisa memberikan ku sebuah cinta? Apa Kau sudah mencintai gadis lain?" tanya Felicia ingin tahu.
Arion hanya terdiam tak menjawabnya.
"Aku tidak perduli siapa gadis yang Kau cintai. Sekarang Kau suamiku. Jadi, jika Kau tidak bisa memberikan cinta untukku, maka Aku yang akan memberikan banyak cinta untukmu. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku nanti." Felicia berkata dengan yakinnya.
"Terserah padamu. Aku hanya ingin memberi tahu itu. Oh iya, kita akan tinggal di apartemen ku nanti. Persiapkan apa yang ingin Kau bawa. Aku akan menunggumu di bawah," Arion langsung beranjak.
"Siap, Tuan suami!" seru Felicia dengan semangat. Arion pun hanya menggelengkan kepalanya melihatnya.
"Kau lihat saja, Arion. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Felicia setelah Arion meninggalkan kamarnya.
Dengan semangat, Felicia mulai menyiapkan koper kecil dan memasukkan pakaiannya untuk di bawanya nanti.
***
Setelah sarapan, Arion dan Felicia pun berpamitan kepada papanya.
Pria paruh baya itu menggantungkan harapannya pada Arion untuk menjadi putri semata wayangnya.
Tak memakan waktu lama, akhirnya mereka sampai di apartemen Arion.
Felicia menatap kagum pada apartemen Arion yang begitu mewah.
"Apa kita akan tinggal di sini?" tanya Felicia.
"Hanya beberapa bulan saja. Setelah Aku menyelesaikan pekerjaanku di kota ini, kita akan tinggal di London." Arion menjelaskan. Felicia pun mengangguk mengerti.
"Lalu di mana kamar kita?" tanya Felicia malu-malu.
"Kamar kita?" Arion mengerutkan keningnya.
"Ya, kamar kita. Kita kan sudah menikah. Bukankah kita akan tinggal di kamar yang sama?"
Arion menghela napas. "Kita akan tinggal di kamar yang berbeda," ujar Arion. Dia menarik koper Felicia dan membawanya ke kamar yang sudah ia persiapkan untuk Felicia.
"Kenapa kamar kita harus terpisah?" tanya Felicia kembali dan menghentikan langkah Arion.
Pria itu berbalik dan menatap Felicia . Menaruh koper itu kemudian berjalan menghampirinya.
"Kau mau kita tidur di kamar yang sama?" tanya Arion. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Felicia.
Felicia hanya mengangguk tanpa bisa berkata. Lagi-lagi jantungnya kembali berdetak begitu kencang sehingga membuatnya tak dapat mengeluarkan suara.
"Baiklah, kita akan tidur di kamar yang sama. Tapi ... jangan salahkan Aku jika Aku akan memakanmu nanti. Apa Kau siap menyerahkan milikmu seutuhnya padaku?" Arion tersenyum penuh arti.
Felicia menelan salivanya dengan susah. Dia tahu apa maksud ucapan Arion. Dari yang ia dengar, pengalaman pertama katanya sangat menyakitkan. Membayangkannya saja membuatnya begitu ketakutan. Apalagi Felicia tidak akan menyerahkan miliknya yang berharga sebelum Arion jatuh cinta padanya.
"Tidak!" Jawabnya cepat. Felicia lantas langsung menggelengkan kepalanya dan memundurkan tubuhnya. "Baiklah, kita akan tidur di kamar yang terpisah," lanjutnya.
Arion menahan tawanya melihat ekspresi Felicia.
***