NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Melia keluar dari kamar nya beberapa saat setelah menyelesaikan tugas sekolah nya.

"Mau kemana nak?" tanya Josep saat melihat Melia turun dengan pakaian yang selalu di pakai oleh putri nya itu untuk jalan-jalan atau sekedar keluar rumah.

"Mau ke perpustakaan Pa, anterin ya? Nggak lama kok" ucap Melia sembari memperbaiki tas selempang kecil nya.

"Sama Dimas aja nak, Papa kamu cape pasti habis kerja" usul Rico yang sedang merangkul Emelin.

Melia terdiam berpikir. Tak lama, Dimas kembali dari kegiatan nya yang tak pernah di ketahui oleh Papa Mama nya.

"Nah ini Dimas nya. Dim, anterin Melia ke perpustakaan sana, kasihan kalau Melia sendiri ke sana" ucap Rico saat Dimas masih berdiri dan tak jauh dari posisi Melia.

Dimas mengangguk patuh. Tanpa protes dan mengeluarkan suara ia segera kembali berbalik untuk keluar.

"Kalau gitu Lia duluan ya semua," pamit Melia segera melangkah pergi mengikuti Dimas yang sudah berjalan lebih dulu.

Melia segera menyusul sembari mengambil salah satu kunci mobil milik Josep yang tergantung di tembok.

"Papa pinjam satu mobil ya!" teriak Melia lalu menutup mulut nya, ia lupa di rumah tak hanya ada keluarga nya, tapi ada teman lama Papa nya beserta keluarga nya juga.

...****************...

Melia duduk di samping kemudi dengan rasa yang canggung yang begitu melekat, inikah rasanya bertemu setelah sekian lama dengan orang yang di sayang.

"Kenapa curi-curi pandang terus? Mau tanya apa?" ujar Dimas yang tetap fokus pada jalanan sesekali melirik ke arah kaca.

Melia yang terciduk memilih untuk diam tak menanggapi, jantung nya terasa berdegub makin kencang setelah mendengar suara Dimas sekian lama nya.

"Ng-nggak papa, kan aku punya mata jadi wajar ngelihat ke sana kemari" elak Melia mencoba membela diri nya.

Dimas terkekeh. "Kabar kamu gimana?" tanya Dimas, seperti nya memang harus dia yang memulai duluan.

Melia melirik ke arah Dimas sebelum menjawab. "Baik-baik aja.. Kak Dim kabar nya gimana juga?" balas Melia, ia hanya memberi balasan yang menurut nya setimpal.

"Nggak baik" jawab Dimas membuat Melia menatap nya lagi dengan alis mengkerut.

"Ken-"

"Karna jauh dari kamu" Dimas langsung menyela pertanyaan Melia, saat mobil berhenti tepat di parkiran perpustakaan, lalu ia menatap ke arah Melia dengan tatapan lekat.

Deg

Melia mengerjap pelan dan merasakan oksigen yang berkurang. Di tambah Dimas yang semakin mendekat seakan ingin mencium nya.

Klik

"Udah sampai" ujar Dimas membuat Melia menatap sekeliling dan baru menyadari hal itu.

Dengan kegugupan tingkat dewa, Melia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam ruang perpustakaan.

Dimas pun segera menyusul Melia, tapi karena Melia memiliki badan yang kecil dan lari nya cepat, jadi Dimas kehilangan jejak Melia.

"Kecil-kecil nyusahin" gumam Dimas di akhiri helaan napas berat, lalu ia memilih untuk mencari buku juga yang ingin ia baca, siapa tau ia tertarik untuk membeli nya.

Saat Dimas mendapatkan buku yang menarik perhatian nya, ia segera duduk di bangku kosong untuk membaca.

Tak berselang lama, terdengar keributan yang langsung menjadi sorotan dari semua yang ada di dalam ruangan perpustakaan.

Ada yang melerai, ada juga yang merekam, hingga petugas datang dan membawa pelaku yang membuat keributan di perpustakaan.

"Saya nggak salah Bu, dia yang duluan nimpuk kepala saya" telinga Dimas langsung menajam saat mendengar suara gadis yang ia cari-cari.

"Iya Dek iya, tapi kamu tetap harus di bawa ke kantor dulu, biar nggak ganggu yang lain juga, ini perpustakaan" balas petugas itu terus menarik Melia dan gadis lainnya dengan kedua tangan nya.

Dimas pun menoleh ke belakang dan mengernyit saat melihat Melia di seret oleh petugas melewati nya.

"Ada apa ini?" tanya Dimas menghentikan petugas itu yang membuat petugas nya menatap jengah ke arah Dimas.

"Mereka buat keributan di lorong buku, jadi saya akan bawa mereka ke kantor satpam untuk di beri sanksi" jawab petugas itu dengan mata tajam.

Dimas menghela napas dan mengikuti ketiga nya menuju kantor satpam.

"Dia yang mulai duluan, Kak" adu Melia saat sudah berada di kantor satpam kepada Dimas yang menatap nya datar dengan kedua tangan di saku celana.

"Coba ceritakan dulu, jangan ada yang di lebih-lebihkan atau di simpang siurkan, jujur!" sentak petugas itu dengan mata melotot.

Melia meneguk ludah nya tak mampu mengeluarkan suara lagi, walau ia sering berbuat nakal tapi setiap kenakalan nya di ketahui orang, ia akan takut bila orang itu mengadu pada Josep dan Gina.

"Kak Dim.. Jangan bilang ke Mama Papa ya, please" melas Melia menatap ke arah Dimas yang berdiri tak jauh dari nya.

"Jelasin" titah Dimas dengan suara berat.

"Tadi aku mau ambil buku di rak bawah, nggak tau tiba-tiba ada yang serobot dan ngejatuhin buku yang ada di rak paling tinggi itu sampai kena kepala ku terus aku nggak terima lah, masa badan segede ini nggak dia lihat, jadi kami jambak-jambakan sama pukul-pukulan pakai buku sampai buku nya robek tadi, duh nggak tau deh ini rasanya perih banget, semoga nggak keluar darah aja" jelas Melia sembari mengelus pucuk kepala nya yang memang terasa perih.

Melia mengernyit lalu menatap telapak tangan nya yang memang terdapat darah segar.

Dimas yang berada di dekat nya langsung menghela napas. "Berapa sanksi yang harus di bayar?" tanya nya sembari mengeluarkan dompet nya.

Usai mengganti kerugian dan kerusakan yang di perbuat oleh Melia, Dimas segera menarik tangan Melia untuk pergi dari perpustakaan.

Di dalam mobil, Melia nampak memejamkan mata sekaligus memegang kening nya yang terasa pusing, mungkin karena Hemophobia yang kambuh saat melihat darah tadi.

"Phobia darah mu belum sembuh? Masih pusing?" tanya Dimas yang dapat menebak tingkah Melia yang nampak lesu. Melia mengangguk sebagai jawaban.

Ciiit

Melia membuka mata nya dan mengernyit heran melihat Dimas yang buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke apotek.

"Dia pusing juga?" gumam Melia lalu memilih untuk memejamkan mata nya kembali agar pusing yang di derita nya hilang.

Melia menghela napas berat. "Kayaknya aku harus psikoterapi" gumam nya lagi tak menyadari Dimas sudah masuk ke dalam mobil.

"Ku temanin, mau?" tanya Dimas langsung membuat mata Melia terbuka dan menatap Dimas dengan sayu.

"Nggak usah, ngerepotin Kak Dim" tolak Melia lalu kembali memejamkan mata nya, rasa nya ia ingin pingsan saja karena berat nya kepala nya.

Dimas tak menanggapi, ia segera melajukan mobil tanpa banyak basa-basi lagi. "Jangan membantah" gumam Dimas yang dapat di dengar oleh Melia.

Tak lama, Dimas kembali menghentikan mobil nya. "Udah sampai rumah? Akhirnya.. Kok ke sini?" Melia langsung melayangkan protes saat membuka mata yang pertama kali di lihat nya ialah rumah sakit, bukan rumah nya.

"Keluar" titah Dimas sambil melepas seat belt dan keluar dari mobil, berbeda dengan Melia yang masih bengong di dalam mobil.

Dimas berdecak dan membukakan pintu mobil untuk Melia. "Cepat" desak Dimas tak memberi kesempatan Melia untuk kembali protes.

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!