NovelToon NovelToon
Kembali Ke Tahun 2005

Kembali Ke Tahun 2005

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Misteri / Nikahmuda / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nunna Zhy

Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.

Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.

Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.

Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang Sama, Rasa yang Berbeda

Refleks pertama Dara adalah mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hampir saja ia berbalik dan kabur tanpa pamit.

“Ra…”

Dara menoleh.

Rere menatapnya dengan wajah memelas, mata membulat sempurna—puppy eyes tingkat dewa.

“Please, Ra…” pintanya lirih. “Temenin gue, ya.”

Dara menutup mata.

Ini perang batin yang tidak adil. Ia tahu betul, tatapan itu adalah senjata pamungkas Rere. Yang kalau sudah dikeluarkan, hampir mustahil untuk ditolak.

Ia menghela napas panjang. “Lo hutang nyawa sama gue.”

Rere langsung tersenyum cerah. “Makasih!”

Dan begitu saja, Dara resmi terjebak.

Mereka akhirnya duduk berempat di satu meja.

Hening.

Hening yang begitu kaku sampai Dara bisa mendengar suara sendok beradu dengan gelas di dapur cafe.

Rere duduk di samping Dara, sementara Aldi berhadapan langsung dengannya. Satu laki-laki lain—Satria, teman Aldi—duduk di samping Aldi dan sejak tadi sibuk menatap Rere dengan senyum yang terlalu cerah untuk ukuran orang baru kenal.

Terlalu cerah.

Terlalu niat.

Dara menunduk, berpura-pura sangat tertarik dengan menu. Padahal isinya cuma itu-itu saja.

“Jadi…” Rere membuka suara, nadanya dibuat ceria berlebihan. “Ternyata kita satu sekolah? Dunia sempit ya?”

“Iya,” sahut Satria cepat. “Terlalu sempit sampai bisa ketemu di Yahoo Messenger.” Ia tertawa kecil, bangga dengan leluconnya sendiri.

Dara mengangkat alis tipis, lalu kembali menunduk.

Dasar buaya, gumamnya dalam hati.

Akal-akalan lo aja kali deketin Rere lewat YM. Wong lo dari dulu emang udah ngincer Rere.

Satria masih menatap Rere. Rere masih tersenyum. Aldi diam. Dara makin malas mengangkat kepala.

“Oiya,” Rere kembali bersuara, seolah keheningan ini harus segera diselamatkan sebelum berubah jadi bencana nasional. “Kalian udah saling kenal, kan? Kita satu sekolah, loh. Masa nggak kenal satu sama lain?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Dara dan Aldi sama-sama mengangkat wajah.

“Sedikit,” jawab mereka bersamaan.

Hening.

Mereka saling melirik.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—seperti sudah latihan—mereka sama-sama memalingkan wajah ke arah berbeda.

Rere menatap bolak-balik, jelas menikmati situasi. “Kok bisa kompak gitu, sih?”

Satria ikut menyahut, polos tapi menusuk, “Iya, kayak habis janjian.”

Dara tersenyum kaku.

Aldi berdehem. “Kebetulan.”

Pelayan datang di saat yang sangat tepat.

“Pesan minum dulu?”

“Iya,” kata Dara cepat, seolah itu pertanyaan hidup-mati. “Apa aja, yang penting dingin.”

Aldi mengangguk. “Sama.”

Pelayan mencatat, lalu pergi.

Hening lagi.

Dara menyilangkan tangan, berusaha terlihat santai. Tapi dari sudut matanya, ia menangkap sesuatu yang membuat dadanya sedikit mengencang.

Aldi tidak menatapnya.

Tidak juga menatap Rere.

Ia menatap meja.

Seolah keberadaannya di sini bukan keinginannya sendiri.

Ini aneh, pikir Dara.

Aldi yang ia ingat dulu—ganteng, ramah, humoris—harusnya sudah melempar satu candaan receh sejak lima menit lalu. Tapi Aldi yang sekarang justru menjaga jarak. Terlalu hati-hati. Terlalu… sadar.

Kesadaran itu membuat pikiran Dara melompat ke satu kemungkinan yang membuat tengkuknya merinding.

Apa mungkin…

dia juga ingat?

Dara mengangkat wajah.

Dan tepat saat itu, Aldi menatapnya.

Bukan tatapan bingung.

Bukan tatapan cuek.

Tatapan singkat, dalam—lalu Aldi mengalihkan pandangan seolah tidak ingin ketahuan.

Jantung Dara berdetak keras.

Karena di detik itu, Dara tahu—

Pertemuan ini bukan kebetulan.

Dan mungkin…

ia tidak sendirian dalam permainan waktu ini.

Bersambung....

1
Vivi Zenidar
karyanya bagus..... semoga akan banyak yg baca dan menyukai
achi
wihhh makin seru thorr👍👍👍
achi
naluri orang tua pasti selalu ada
achi
wkwkwk mari kita lihat siapa yg kebakar duluan
achi
kurang waktu buat komunikasi mereka dulu
achi
sama2 mau ubah takdir tp kalo dah jodoh pasti dikasi jalan
achi
semangatt ka nulis cerita ini 😍😍😍
I'm Girl
nah kan bner, si aldi emang dr masa depan
I'm Girl
cie cemburu si aldi
I'm Girl
ini Aldi pasti dr masa depan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!