Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Sandiwara di Dalam Hutan
Catatan Penulis:
Halo, Pembaca sekalian. Sekadar informasi teknis agar tidak terjadi kebingungan di bab-bab mendatang: meskipun kesadaran tokoh utama kita adalah sang Putra dari Leluhur Dao dari Alam Dewa yang bernama Su Fan, namun untuk menjaga konsistensi narasi dan menghindari kontradiksi identitas di dunia fana ini, penulis akan lebih sering menggunakan nama Li Fan dalam penyebutan narasi maupun dialog. Nama Su Fan hanya akan muncul dalam konteks kilas balik atau monolog batin yang sangat personal. Selamat menikmati perjalanan sang "Li Fan" dalam mengguncang langit!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
“BOOOOM!”
Hantaman tinju Guan Lao Da menghancurkan semak belukar hingga berkeping-keping, menciptakan lubang besar di tanah yang masih mengepulkan debu. Guan Lao Da berteriak sekali lagi dengan suara bariton yang penuh ancaman mematikan.
“Aku katakan sekali lagi, siapa di sana! Jika kau tidak keluar sekarang juga, jangan salahkan jika tinjuku yang akan berbicara lebih keras pada tempurung kepalamu!” teriak Guan Lao Da dengan urat leher yang menegang.
Saat itulah, dari balik bayang-bayang pohon raksasa yang rimbun, dua sosok kecil perlahan muncul dengan langkah yang ragu namun terkendali. Pakaian mereka compang-camping, penuh noda tanah dan robekan duri hutan, memberikan kesan bahwa mereka adalah pengembara malang.
Itu adalah Li Fan yang memimpin di depan dengan tatapan mata yang sangat tenang, diikuti oleh Jin Tianyu yang tampak waspada dengan tangan terkepal erat di samping tubuhnya. Li Fan menatap kedua pria dewasa itu tanpa menunjukkan rasa takut yang berlebihan, sebuah sikap yang cukup aneh bagi seorang bocah di tengah hutan ganas.
“Paman, maafkan kelancangan kami. Saya tidak bermaksud mengganggu urusan kalian di tempat terpencil ini. Kami hanyalah dua yatim piatu yang lewat untuk berburu mencari makanan demi menyambung nyawa,” ucap Li Fan dengan nada suara yang stabil dan sopan.
Sudah tiga hari penuh Li Fan dan Jin Tianyu bertahan hidup di dalam hutan liar yang dipenuhi binatang buas ini. Mereka beruntung menemukan sebuah gua kecil untuk berteduh dan bertahan hidup dengan cara berburu kelinci liar atau rusa muda menggunakan jebakan sederhana.
Sambil mencari makan, Li Fan terus menyusun rencana strategis untuk mencari informasi agar bisa keluar dari hutan liar ini tanpa tertangkap bandit. Namun, manusia pertama yang mereka temui kali ini tampaknya berada jauh dari kata ramah atau bersahabat.
Li Fan mengamati kedua pria paruh baya itu dengan seksama dari jarak aman beberapa meter. Dari pengamatannya yang tajam, ia segera menyimpulkan bahwa mereka adalah pendekar bela diri yang memiliki pondasi energi dalam yang cukup solid.
Berbeda dengan kultivator yang mengejar keabadian melalui meditasi energi langit, pendekar adalah mereka yang melatih fisik dan seni bela diri murni. Meski memiliki energi dalam yang bisa menghancurkan batu, perbedaan antara pendekar fana dan kultivator sejati tetaplah bagaikan bumi dan langit.
Mengingat kehidupan sebelumnya, Li Fan sendiri adalah seorang pendekar tingkat tinggi yang sangat ditakuti di Jianghu dengan julukan “Kembang Neraka”. Namun, saat ini ia hanya mampu mengeluarkan paling banyak sepuluh persen kemampuannya karena keterbatasan fisik tubuh anak kecil berusia sepuluh tahun.
Meski begitu, Li Fan sama sekali tidak merasa gentar menghadapi intimidasi fisik dari kedua orang dewasa di depannya. Jika situasi memburuk menjadi pertarungan berdarah, ia yakin bisa melarikan diri dengan teknik pernapasan rahasianya, meski itu berarti harus mengorbankan Jin Tianyu.
Namun, mengorbankan satu-satunya orang yang setia padanya adalah sesuatu yang sangat enggan ia lakukan kecuali dalam keadaan paling mendesak. Li Fan tetap berdiri tegak, menunggu reaksi dari kedua pria yang tampak sedang menilai mereka tersebut.
Melihat wajah Li Fan dengan lebih jelas di bawah cahaya matahari yang menembus celah pohon, kedua pria itu tiba-tiba tersentak kaget. Lu Lao San bahkan sampai mundur satu langkah dan berseru dengan nada yang sangat tidak percaya.
“Tu-Tuan muda!? Bagaimana mungkin anda masih hidup dan berada di sini?!” seru Lu Lao San dengan mata yang membelalak lebar.
“Ha!?” Li Fan mengernyitkan dahi karena merasa sangat bingung dengan panggilan tersebut. Begitu pula Jin Tianyu yang menatap sahabatnya dengan pandangan heran seolah-olah Li Fan menyimpan rahasia besar darinya.
Guan Lao Da juga menampakkan ekspresi wajah yang sangat aneh, seolah-olah dia baru saja melihat hantu di siang bolong. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berhasil menguasai diri dan terbatuk pelan untuk mencairkan suasana yang kaku.
“Kalian dua bocah nakal, sebenarnya siapa kalian? Mengapa anak-anak sekecil kalian bisa berkeliaran di tempat berbahaya yang jauh dari pemukiman seperti ini?” tanya Guan Lao Da dengan nada yang mencoba terdengar datar.
Li Fan pun mulai merangkai cerita dengan tenang, menceritakan identitas palsunya sebagai anak dari Desa Batu Hitam yang hancur total diserang kelompok bandit. Ia menceritakan bagaimana ia kehilangan orang tuanya hingga akhirnya terdampar di hutan luas ini bersama temannya.
Mendengar cerita yang mengalir lancar itu, kedua pria paruh baya tersebut saling bertukar pandang dengan penuh arti dan mulai berbisik-bisik di belakang. Mereka sengaja menjauh beberapa langkah agar percakapan mereka tidak terdengar oleh telinga kecil Li Fan.
“Apakah menurutmu bocah kecil itu sedang mencoba membohongi kita dengan cerita sedihnya, Guan Lao Da?” bisik Lu Lao San dengan nada curiga.
“Bocah bernama Li Fan itu terlihat sangat pintar, terlalu tenang, dan sangat waspada untuk anak seusianya. Dia pasti tahu satu gerakan kecil dari kita bisa membunuhnya seketika, jadi dia tidak akan sebodoh itu untuk merangkai kebohongan yang mudah terbongkar,” jawab Guan Lao Da sambil mengelus janggutnya yang kasar.
Lu Lao San mengangguk setuju dengan analisis rekannya, mengingat bahwa mereka pun sempat menjumpai jejak-jejak kekejaman kelompok bandit Geng Serigala Hitam sebelumnya. Keadaan hutan yang kacau memang masuk akal jika ada pengungsi kecil yang tersesat di sana.
Tiba-tiba, sikap Guan Lao Da berubah total dan ia mulai berbicara kepada Li Fan dengan nada suara yang jauh lebih lembut dan penuh perhatian. Perubahan drastis ini langsung membuat insting waspada Li Fan berdenting keras di dalam kepalanya.
“Mendengar ceritamu yang malang, saya secara pribadi turut berduka cita atas tragedi yang menimpa keluargamu di desa. Bagaimana jika karena kalian masih anak-anak tanpa perlindungan, saya menawarkan diri untuk menjaga kalian dari serangan binatang buas di hutan ini?” tawar Guan Lao Da dengan senyum tipis.
Li Fan tahu betul bahwa menolak tawaran dari orang kuat di wilayah asing seperti ini akan berisiko sangat buruk bagi keselamatannya. Lagipula, memiliki perlindungan fisik dari dua pendekar berpengalaman akan meningkatkan peluang mereka untuk keluar dari hutan ini hidup-hidup secara signifikan.
“Terima kasih banyak atas kebaikan paman. Kami akan sangat berterima kasih jika diizinkan untuk ikut bersama kalian,” jawab Li Fan sambil membungkuk sopan, meski hatinya tetap merasa ada yang janggal.
“Bagus kalau begitu! Tidak perlu sungkan pada kami. Mari ikuti kami menuju gerbong di depan sana untuk beristirahat sejenak. Kami masih punya sisa makanan hangat dan air bersih untuk kalian berdua,” ucap Guan Lao Da sambil bertepuk tangan dengan raut wajah senang.
Setelah mengantar kedua bocah itu ke dalam gerbong mewah yang terparkir tak jauh dari sana, Guan Lao Da segera keluar kembali. Ia berdiri di samping gerbong dengan senyuman yang sangat lebar hingga matanya menyipit, seolah baru saja memenangkan undian besar.
Lu Lao San yang masih merasa sangat kebingungan dengan perubahan sikap mendadak pemimpinnya itu segera mendekat dan bertanya dengan suara rendah.
“Guan Lao Da, kenapa kau tampak sangat gembira setelah memungut dua bocah compang-camping itu? Apa kau melihat sesuatu yang spesial dari mereka hingga kita harus repot-repot membawa mereka?” tanya Lu Lao San penasaran.
Guan Lao Da menatap rekannya dengan pandangan tajam seolah-olah dia sedang melihat tumpukan harta karun yang tak ternilai harganya. Ia menarik Lu Lao San sedikit menjauh ke arah semak-semak yang lebih gelap agar percakapan mereka benar-benar tertutup.
“Lu Lao San, apakah kau masih belum mengerti situasi kita saat ini? Surga baru saja menurunkan bantuannya untuk menyelamatkan leher kita berdua dari maut!” ucap Guan Lao Da dengan nada yang sangat bersemangat.
“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin dua anak kecil itu bisa menyelamatkan kita dari amarah Pemimpin Klan Ma?” tanya Lu Lao San yang makin tidak mengerti arah pembicaraan.
“Pikirkan dengan otakmu itu! Kenapa Pemimpin Klan ingin membunuh kita setelah perjalanan ini berakhir? Itu karena tuan muda Ma Liang meninggal karena kecerobohannya sendiri di bawah pengawasan kita, bukan?” tanya Guan Lao Da retis.
Guan Lao Da kemudian menunjuk ke arah gerbong mewah tempat Li Fan sedang beristirahat dengan jari telunjuknya yang gemetar karena gembira.
“Tapi bukankah tuan muda Ma Liang sekarang ada di sini!? Lihat wajah bocah Li Fan itu baik-baik! Struktur wajah, mata, dan tingginya sangat mirip dengan tuan muda kita yang asli!” bisik Guan Lao Da penuh intrik.
Lu Lao San terdiam kaku sejenak sebelum akhirnya matanya membelalak lebar karena menyadari rencana gila yang sedang disusun oleh rekannya tersebut.
“Kau bermaksud... menggantikan posisi tuan muda yang sudah mati dengan bocah hutan itu? Apakah kau sudah gila, Guan Lao Da?” bisik Lu Lao San dengan suara bergetar karena takut.
“Benar sekali. Kita akan membawa anak ini ke Sekte Awan Azure dan menyerahkannya secara resmi sebagai tuan muda klan Ma yang sah. Begitu Pemimpin Klan menerima surat konfirmasi dari sekte bahwa anaknya telah diterima, kita tidak hanya bebas dari hukuman mati, tapi mungkin akan diberi hadiah besar!” jelas Guan Lao Da.
Lu Lao San tampak masih sangat ragu dengan rencana yang sangat berisiko tinggi tersebut.
“Tapi dia tidak benar-benar mirip seratus persen jika dilihat dari dekat. Bagaimana jika penyamaran ini ketahuan oleh orang-orang sekte? Dan bagaimana jika bocah itu menolak untuk bekerja sama dengan kita?” tanya Lu Lao San bertubi-tubi.
“Hmph, kau terlalu khawatir. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum keluarga Klan Ma bisa melihat wajah anaknya lagi secara langsung setelah masuk sekte. Sekte hanya memiliki catatan fisik dari setahun yang lalu, dan perubahan wajah pada anak-anak yang sedang tumbuh adalah hal yang sangat wajar,” jawab Guan Lao Da dengan percaya diri.
Guan Lao Da kemudian menambahkan dengan nada yang lebih licik tentang nasib Li Fan ke depannya jika rencana ini berjalan lancar.
“Mengenai keselamatannya, kau tahu sendiri bahwa Upacara Penerimaan Murid di Sekte Awan Azure itu sangat kejam dan mematikan. Kemungkinan besar bocah hutan itu akan mati di sana tanpa pelatihan persiapan yang memadai. Jika dia mati di dalam sekte karena ujian, itu bukan lagi tanggung jawab kita, dan kita akan bebas selamanya!” tambah Guan Lao Da.
“Dan soal meyakinkannya untuk ikut bersandiwara... kita akan lakukan ini...” Guan Lao Da membisikkan sebuah rencana jahat tambahan ke telinga Lu Lao San yang membuat pria itu mengangguk-angguk setuju.
Setelah mendengar penjelasan panjang dan detail tersebut, Lu Lao San akhirnya menarik napas dalam dan mengangguk dengan tekad bulat yang baru.
“Baiklah, aku setuju dengan rencana gila ini. Jika ini satu-satunya cara agar kita tidak dipenggal oleh Pemimpin Klan, maka aku akan mengikutimu. Setelah bencana ini lewat dan kita mendapatkan hadiah, aku akan segera meninggalkan Klan Ma bersamamu,” ucap Lu Lao San.
“Haha! Begitulah semangatnya! Mari kita urus mayat 'tuan muda' yang asli sekarang dengan benar agar tidak meninggalkan jejak sedikitpun,” ucap Guan Lao Da dengan nada puas.
“Jangan lupa, simpan semua pakaian mewah, lencana keluarga, dan perlengkapan pribadinya. Itu adalah kunci utama agar penyamaran bocah Li Fan terlihat sangat meyakinkan di mata para penguji sekte nantinya,” tambah Guan Lao Da sambil menyeringai.
Keduanya pun segera melangkah dengan cepat menuju tempat mereka menyembunyikan mayat Ma Liang yang asli sebelumnya. Mereka mulai mengubur kenyataan pahit itu dalam-dalam, memulai sebuah sandiwara besar yang penuh dengan intrik berbahaya.
Cerdas...
Lucu...