TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Author POV.
"Jadwal kamu hari ini, pukul 10 menghadiri launching produk terbaru Grissom Jewerly, pukul 1 shooting film hingga pukul 7 malam, lalu menghadiri pernikahan pemilik perusahaan Raveno's Internasional. "Ucap seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah manager Aiden.
Aiden memijat kepalanya lelah. Ia baru tidur 4 jam setelah pulang shooting dan akan kembali sibuk dengan seluruh kegiatannya lagi.
Dia lelah, di tambah pikirannya tersita memikirkan Valerie saat ini. Jelas semalam gadis itu baik-baik saja, hingga akhirnya tiba-tiba mengatakan tak enak badan, jujur Aiden khawatir setengah mati.
Dia merindukan gadis itu hanya dalam semalam. Kerinduan yang menggebu-gebu selama 13 tahun, masih belum terbayar sepenuhnya dengan kebersamaan mereka empat hari terakhir.
Dia benar-benar ingin mendengar suara gadis itu sekarang juga. "Berikan ponselku! "Managernya dengan patuh memberikan ponselnya.
Dengan gerakan tak sabar, Aiden menekan tombol 2 lama, menandakan bahwa speed call kedua Aiden adalah Valerie, setelah speed call pertama yaitu mamanya.
Aiden menunggu dengan tak sabar hingga akhirnya telfon diterima.
"Valerie, bagaimana keadaanmu? Aku khawatir kau tidak menghubungiku pagi ini. "Ucapnya dengan nada khawatir.
"Valerie sedang tidur, dia kelelahan dengan aktivitas kami tadi malam. "Aiden terdiam mendengar jawaban bukan suara Valerie, melainkan suara seorang pria yang menjawab telfonnya. Di tambah kata-kata pria itu membuat Aiden semakin berfikir keras.
"Siapa kau? Kenapa ponsel Valerie ada padamu? "Tanya Aiden dengan nada tak suka.
"Apa kurang jelas? Tentu saja aku kekasihnya sekaligus calon suaminya. "Tangan Aiden menggenggam ponselnya erat seakan ingin meremukkan benda di tangannya itu, setelah mendengar jawaban lelaki di seberang sana.
"Dimana valerie? Berikan ponselnya padanya! Aku tau kau berbohong, dia mengatakan tak mempunyai kekasih, bagaimana mungkin dia memiliki calon suami bahkan kekasihpun tak ada. Hentikan leluconmu dan DIMANA DIA? "Bentak Aiden marah dengan emosi yang meluap-luap. Ia semakin khawatir dengan keadaan valerie. Apa yang terjadi pada gadis itu bersama pria itu?
"Dimana dia bukanlah urusanmu. Jangan mengganggu milikku jika kau masih ingin menikmati dunia. "Ucapnya kasar dengan nada super dingin, lalu menutup telfon tersebut secara sepihak meninggalkan Aiden dengan wajah marah dan geram.
"****. "Aiden memaki ponselnya marah karena pria di seberang sana menutup telfon mereka secara sepihak.
Aiden berbalik menatap ke arah managernya dengan tatapan tajam. "Bayar mata-mata, cari tau di mana Valerie sekarang! "Ucapnya dingin, lalu beranjak pergi masih dengan kemarahan yang menggebu-gebu.
***
Valerie POV
Kulangkahkan kakiku hingga sampai di depan pintu kamarnya yang sejak semalam menjadi kamarku juga katanya. Kubuka pintunya dengan sangat perlahan, lalu masuk dan menutup pintu kembali dengan pelan.
Kutatap punggung Sean yang sedang berdiri di balkon sambil menatap ke depan. Dengan langkah pasti, aku mendekati Sean dan ikut berdiri di sebelahnya sambil menyentuh pagar balkon tersebut.
Kutatap wajah Sean dari samping, membuat jelas setiap lekuk wajahnya dari kening, hidung, hingga rahangnya yang tegas.
Sean masih berdiri dalam diam tanpa menoleh ke arahku walau ia tau keberadaanku. Dia tidak sedang menikmati pemandangan dari atas sini. Dia melamun dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala pintarnya.
Aku berdiri diam menatap wajahnya lekat, membiarkan diriku terhanyut mengamatinya dengan wajah dinginnya yang tampan. Aku tak pernah menyangkal Sean adalah pria tampan yang panas. Berada di dekatnya saja jantungku suka berolahraga.
Aku yakin itu hanya respon biasa jika berdekatan dengan pria tampan. Jantungku juga berolahraga jika dekat dengan Aiden dan pria tampan lainnya.
Aku masih diam tak tau harus melakukan apa selain mengamatinya. Namun jika seperti ini masalah tidak akan kelar, bisa-bisa Sean melampiaskannya padaku dan aku jadi santapannya malam ini.
Aku harus melakukan sesuatu. Aku juga tak suka Sean yang diam dan dingin seperti ini, aku lebih suka dia yang cerewet dan membalas perkataanku, terlebih sikap lembutnya padaku.
Dengan yakin, kuulurkan tanganku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Jari-jemariku menyusup di antara jari-jemari tangannya, sehingga mengait dengan erat.
Setelah aku menggenggam tangannya, Sean langsung menoleh menatapku dengan wajah kusutnya. Wajahnya menggambarkan ia frustasi dan lelah.
Matanya menatapku dengan mata sayunya dan entah kenapa dadaku ikut sakit melihat wajahnya yang frustasi seperti ini. Ini bukan respon biasa, apa dadaku juga sesakit ini saat melihat orang yang baru aku kenal menatapku sama seperti yang Sean lakukan?
Entah kenapa rasa sakit yang Sean rasakan ikut kurasakan dan menyusup ke dadaku.
"Valerie. "Gumamnya pelan dengan nada parau seakan kesakitan. Aku tak tahan lagi, aku tak ingin rasa sakit ini semakin berkepanjangan.
Kudekatkan tubuhku padanya lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Kedua tanganku melingkar di lehernya, membiarkan wajahnya terbenam di leherku.
Kurasakan kedua tangan Sean ikut memeluk pinggangku dan membalas pelukanku dengan sangat erat, seakan takut untuk melepaskanku.
Dengan lembut ku elus kepalanya naik turun, mencoba menenangkannya. Sedangkan pikiranku terbang mencari-cari alasan mengapa Sean tiba-tiba bersikap seperti ini setelah menerima telfon dari Aiden?
Kurasakan hembusan nafas Sean di leherku, menyapu sampai membuat tubuhku merinding. Hingga lama kelamaan kurasakan bibir Sean mulai mengecupi ceruk leherku berulang kali dengan lembut.
"Aku tau kamu masih sama seperti dulu, kamu tidak menghiraukanku di saat aku sangat menyedihkan. Kamu datang mendekapku dan membuat keinginan hidupku kembali tumbuh. "
"Begitupun sekarang, kamu memutuskan datang menghampiriku dan tak menghiraukanku. Kau tetap tidak bisa membiarkanku sendiri sama seperti dulu. Kamu tetap Valerieku yang dulu, gadis kecilku. "Ucapnya. Apa yang sejak tadi dia bicarakan panjang lebar? Dulu? Masih sama? Gadis kecil?
Rasa penasaranku selama ini langsung bergejolak naik ingin mengetahui sesuatu apa yang di sembunyikan Sean tentang diriku dan dirinya. Apa dulu sewaktu aku kecil pernah bertemu dengan Sean, tapi kenapa aku tidak mengingatnya?
"Sean ada yang ingin kutanyakan. "Ucapku cepat sambil melepas pelukan kami dan menatapnya lekat.
Kulepas lingkaran tanganku dari lehernya, namun Sean masih tetap memeluk pinggangku dengan erat dan menatapku sama lekatnya.
"Apa yang kamu sembunyikan tentang kita Sean? Apa maksud semua perkataanmu tadi? "Tanyaku tak sabar dan membiarkan Sean masih memeluk pinggangku.
"Kamu tidak mengingatnya? "Tanyanya dengan wajah polos. Jika aku tau, aku tak akan bertanya padamu Sean yang tampan.
"Tidak. "Jawabku cepat.
"Tak apa, kau hanya perlu mengingatnya perlahan-lahan. "Ucapnya santai dan kembali ingin memeluk tubuhku. Namun segera kutahan dadanya dan menatapnya dengan pandangan menuntut.
"Aku tak bisa Sean, aku sudah mencobanya. "Ucapku frustasi dan menatapnya dengan wajah lelah.
Kulihat pandangan Sean melembut menatapku, lalu senyum mengembang hangat padaku. "Kamu akan mengingatnya sayang, pasti. Percayalah padaku! "Ucapnya lembut sambil menyentuh pipi kiriku dan mengusapnya lembut.
Aku masih menatapnya dengan mata tak setuju dan tak puas dengan jawabannya. Namun melihat pandangan matanya yang begitu percaya diri, membuatku menyerah sambil menghembuskan nafas pasrah.
"Bagaimana jika aku tetap tak akan bisa mengingatnya? "Tanyaku dengan wajah khawatir.
"Kamu percaya padaku? "Tanyanya serius. Aku menatapnya dengan kening berkerut.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu jika aku bahkan tak dapat mengingat apapun tentangmu Sean? " Batinku berteriak frustasi tak tau ingin menjawab apa.
Namun aku mencoba menguatkan hatiku. Jika aku ingin tau jawabannya, satu-satunya cara adalah percaya dengannya.
"Iya, aku mempercayaimu. "Jawabku dengan penuh tekat. Sean menatapku dengan senyum lebarnya, lalu memelukku lagi dengan erat sambil membenamkan wajahnya kembali di ceruk leherku.
"Terimakasih sudah mempercayaiku. "Ucapnya dengan penuh kelembutan. Apa ini sebuah permulaan yang bagus? Aku mempercayainya, artinya aku akan semakin dekat dengannya.
"Tidak, Valerie jika kau ingin jawabannya maka kau harus mempercayai Sean! " Batinku semakin mencoba menguatkan diri dan hatiku.
Sean sekarang aku mulai mempercayaimu, jangan mengecewakaanku.
Bersambung.....
Hay... Hay.. Hay..
Rindu ya?? Ini sudah di up. Kurang?? crazy up?? masalahnya, aku ngetik cerita ini nggak langsung sampai end. Klau aku mau up aku ketik, cuman aku dah catat garis besar tiap part yang akan ku post gituloh.
Nggak bosen2 aku ingatkan, follow Ig khusus ceritaku dan menjadi lara pecinta novel buatanku. lihat pict para pemain, spoiler, dan cerita baru yang akan dipost setelah ceritaku yang pertama tamat, serta berita kapan aku update, supaya klian nunggunya enak gituloh.
Oh iya klau klian mau post story tentang ceritaku jangan lupa tag aja IGku dan akan aku repost kembali di storyku.
Ngomong-ngomong hari pict sean kosong ya, mampir aja ke IG untuk lihat muka babang sean.
Jangan lupa like, share, dan komen sebanyak mungkin supaya aku makin Semangat ngetik.
Bye... 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih