AREA DEWASA 18+ HARAP BIJAKSANA!
Marco Smith Robert, 30 tahun. Pria bengis dengan sejuta kelicikan baginya dunia hanya tentang kepalsuan. Kejam dan otoriter adalah dua sifat yang mendarah daging.
Alfiana Wulan, 15 tahun. Orang memanggilnya Nana. Gadis baik dengan sejuta senyum, setiap harinya dihabiskan dengan berdagang kue keliling.
"Jangan membantahku Nana! Atau ku cincang tubuh jelek mu menjadi makan anjing pelihara ku!" Kilatan amarah Marco dengan tangan menggenggam cambuk.
"Uncle tapi aku... "
"Nana.... Kau harus mati!!!!" cambukan pertama di layangkan oleh Marco pada punggung gadis kecil itu.
"Uncle, Arghhh!" Tangisnya tergugu menahan nyeri yang teramat sakit di punggungnya.
Akankah Nana bisa keluar dari jerat manusia iblis seperti Marco? Atau kematian yang lebih dulu menghampirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Niswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UM - Dalang
...Sedikit INFO ya!!!!...
...Kenapa di pindah di sini? Author dongkol dengan pihak NT dua kali di tolak dan harus nunggu 7 Hari......
...Nah daripada gitu mending author bikin baru disini. Sama kok bab nya dari 1-19 ini......
...Cuman pindah, Dan maaf jika ada beberapa part yang emang author singkat, di hilangkan dan tidak di jabarkan. Ya karena gak mau lagi di cekal oleh Noveltoon....
...Harap pengertian ya!...
...Mohon dukungan....
...Gak minta vote gakpapa kok! Yang penting jangan komen julid, like aja. Jangan lupa di love tambah ke favorit udah itu aja.... ❤❤❤...
...***********...
"Bagaimana keadaan nya!" Tanya Uncle Marco kala pagi sudah menjelang! Lupakan semalam, Tubuhnya tangguh menerima sebanyak apapun alkohol dan esok harinya ia akan kembali bugar.
"Masih sama tuan! Tak ada perkembangan apapun!" Tutur Hilda, pelayan yang bertugas menjaga Nana di rumah sakit.
"Kau boleh pergi! Bawa beberapa baju. kesini untuknya?" Titah Uncle Marco, "Dan kau pitter, temani dia untuk mengambil semua keperluan Nana! Setelahnya kau urus bisnis kita dan laporan padaku!"
"Baik tuan!" Ujar Pitter dan Hilda membungkuk, pergi meninggalkan sang bos.
Bukan kah dulu ia tak peduli dengan siapapun! Baginya dunia hanya tentang kepalsuan? lalu mengapa dirinya menempatkan beberapa pengawal untuk gadis itu!
sampai memberikan pelayan pribadi?
Bukankah Marco pernah berkata dengan begitu congkaknya bahwa Nana bukan tipe nya?
Lantas apa yang di lakukan nya sekarang?
Cinta?
Tak mungkin! Itu lolucon, Ah masak Marco mencintai gadis jelek seperti Nana?
"Aughhh!!!" Rintihnya sakit, perlahan kedua kelopak mata Nana terbuka sempurna.
"Sebentar! Akan ku panggilan dokter!" Ujarnya dengan nada lembut.
"Bagaimana?" Ujar Uncle Marco bertanya pada Dimas setelah selesai mengecek keadaan Nana yang sudah siuman.
"Jangan membuatnya tertekan terlebih dahulu! Turuti apa kemauan nya!" Tutur Dokter Dimas.
"Tak mungkin seorang Marco tunduk pada gadis seperti nya!"
"Terserah! Pasien ku banyak! Bye!"
"Dasar dokter sialan!"
Derap langkah kaki memasuki ruang inap mewah itu.
"Na!" Panggilnya dengan super lembut, dasar mulut sialan, kenapa kau mendukung titah atau saran dari dokter tadi! Aku tuan mu! menurut lah dan berbicara kasar seperti biasanya.
Memang dia siapa? mengatur kau yang seorang penguasa.
Hening....
"Kau mau makan?" Mulut sialan! kau terus saja berkata lembut.
Hening.....
"Apa kau ingin minum?" Tawarnya lagi dengan nada lembut meski tak ada sahutan.
"Nana... Apa kau pusing? Kau butuh ku panggilkan dokter!" Ujarnya Uncle Marco begitu lembut.
Gadis Sialan! Jika kau sehat aku akan menghukum mulut mu! untuk selalu berucap dalam kungkungan ku! Pekik Uncle Marco, sabarnya begitu di tahan, jika ubun-ubun nya bisa bereaksi mungkin akan mengeluarkan asap yang mengepul.
Apa kataku? mengukung nya? Sialan!! junior juga berpihak pada gadis itu!! Pekik Uncle Marco, pikiran nya sudah travelling di antah brantah.
"Jangan sakiti aku! Lepaskan aku!" Lirih Nana kala melihat pelototan dari sang bos mafia.
"Aku tak akan menyakitimu!"
"Lepaskan aku!"
"Mimpi... Itu tak mungkin!"
"Hiks... hiks... hiks..." Tumpah ruang sudah air mata milik Nana yang sejak tadi sudah di tahan.
"Ku Mohon dengarkan aku maaf!" Lirih Uncle Marco langsung mendekap Nana kedalam pelukan hangatnya.
Duh, Jampi-jampi apa yang kau berikan pada bos mafia gila ini hingga ia tetap mempertahankan kata lembutnya dan mendekapmu.
Apa karena sepotong roti? Kau memasukkan pelet kedalam nya Na? Atau? pelunak mulut?
"Hiks... jangan sentuh aku! Aku kotor! Aku... "
"Plis diam oke! dengarkan aku!"
"Aku kotor!"
"Diamlah! dengarkan aku! Oke maaf! Tapi sungguh bukan aku yang memancing mu, tapi kau yang terpengaruh obat itu dan memancingku!"
"Apa? Aku... hiks... hiks... hiks...."
"Oke diam lupakan semuanya! Aku akan menikah dengan mu!"
"Tapi aku tak mau menikah dengan orang yang tak mencintai ku!"
"Lalu kau ingin bagaimana hem?" Ujar Uncle Marco, pelukan nya sudah terurai. menatap manik mata itu yang masih basah.
"Lepaskan aku!"
"Aku tak bisa mengabulkan itu! Kau tak bisa lari dari ku Nana! Kalau kau terus menginginkan itu! Nyawamu akan menjadi taruhan nya!'
"Maksudnya apa?" Tanya Nana mendelik tajam, ia tak percaya dengan fakta yang di ungkap Uncle Marco.
"Akan ku jelaskan setelah kau sembuh Nanti! Sekarang istirahat lah!"
"aku... "
"Jangan membantah ku!"
...***********...
"Kau memang hebat Baby!" Ujar Wilson pada Jessica.
"Tentu! Aku harus hebat akan seimbang dengan mu!"
"Kau terbaik!"
"Lalu apa bayaran yang akan ku terima?"
"Bersenang-senang lah..." Ujar Wilson memberikan black card pada Jessica.
"Kau terbaik! Thanks!" Ujar Jessica tersenyum, meriah lembut black card dari tangan Wilson.
Cici bagai tangan kanan tanpa kata dan pendengaran, ia setia pada Jessica mengantar kan nya kemanapun Jessica pergi. Tapi hanya menunggu di dalam mobil.
Bekerja dengan Jessica, apapun itu diam lah. Jangan ikut campur apapun masalah yang ada di dalam nya.
...************...
"Bos!"
"Aku sudah tau apa yang ingin kau sampaikan!" Ujar Louis dengan tatapan meremehkan.
"Apa yang kakak tersayang ku lihat darinya? Kenapa dia melindungi gadis itu? Hah.. Tak ku sangka dia terjebak dalam permainan nya sendiri!" Celetuk Louis.
"Ya bos kau benar! Tapi dia gadis yang baik."
"Dia bukan baik! Terlampau bodoh. Mau saja menjadi tawanan bos mafia gila itu karena ku!"
"Lalu? Apa yang akan anda lakukan bos?"
"Diam dulu! Biarkan Wilson yang membuat onar! Saat dia kalah barulah waktu yang pas aku membunuh kakak ku yang sialan itu tanpa susah payah!" Jujur ya dengan seringai licik.
"Bos yau tentang Wilson?" Gagapnya bertanya lagi.
"Ya tentu aku tau! Bahkan sangat tau!"
...**********...
Berjalan dengan anggun, di tunjang dengan badan yang proposional! Sudah biasa jika Jessica menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
Peduli apa dengan Cici sang asisten yang tengah kepayahan membawa beberapa paper bag.
Bugh!!!!
Tersandung dengan beberapa paper bag yang tercecer di lantai.
"Kau tak apa?" Sapa seorang pria membantu Cici memungut beberapa paper bag dan membantunya berdiri.
"Ah ya! Tak apa tuan! Terimakasih!" Ujar Cici sopan.
"Cici......!!!!!!" Teriaknya memekik kan telinga.
"Baik nona! saya ke sana!" Ujar Cici menjawab panggilan itu, kaki mungilnya tergesa untuk berlari mengejar sang majikan.
"Lama sekali!"
"Maaf nona!"
"Masukkan semua barang itu! Ayo pulang!" Titah Jessica bagai penguasa.
Andai Cici memiliki pilihan pekerjaan yang lebih baik, mungkin ia akan pergi meninggalkan Jessica. Hah... Namun meski begitu gaji yang di tawarkan Jessica begitu besar. Sangat cukup untuk membiayai semua hidupnya dan keluarganya di kampung.
Percuma gaji besar, namun pekerjaan nya selalu membuatnya repot dan kewalahan.
...🍒🍒🍒🍒🍒...
Happy Reading.
othornya ada" aja
bayangin wajah lugunya Nana