Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi goreng ati ampela.
Kehidupan bagai sebuah air di lautan. Ada masanya tenang, adapula masanya gelombang besar menerjang.
❤️❤️❤️
Sarapan selesai. Tepat pukul 08.00 WIB, Adnan dan Alina pamit untuk pindah rumah. Rendy, ia sudah mengetahui hal itu. Malam sebelumnya Adnan sudah membicarakan. Lisa tak bisa menahan kepergian anak dan menantunya. Ia tetap tersenyum merelakan keduanya angkat kaki dari rumah.
Sesuai rencana, Adnan membeli rumah yang tidak jauh dari kantor. Kira-kira hanya perlu 5 menit untuk sampai ke tempat ia bekerja. Rumah yang tidak terlalu besar, akan tetapi stategis. Terdapat di tengah-tengah jantung kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.
Setelah menepati rumah baru. Alina dan Adnan memulai peran masing-masing. Seperti kesepakatan, Alina bekerja sebagai sekertaris suaminya. Hari pertama bekerja semua berjalan sesuai rencana. Alina cekatan, pandai membawa diri, dan cepat tanggap. Adnan tidak terlalu kesulitan mengajarinya.
Hari ini, tepat di mana hari ke-3 Alina berkerja. Di rumahnya, Alina sama sekali tidak memakai pembantu rumah tangga. Hanya ada seorang wanita paruh baya yang datang seminggu sekali untuk sekadar mencuci, dan mengosok pakaian. Selebihnya, ia kerjakan sendiri.
Adnan, lelaki itu tentu sudah menawari ART untuk meringankan beban istrinya. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Alina dengan alasan mereka masih belum memiliki anak kecil. Jadi, pekerjaan rumah tidak terlalu banyak dan menumpuk.
Pagi ini sehabis salat Subuh, Alina sudah berjibaku di dapur. Dulu, saat ibunya masih sadar. Mereka sering memasak bersama. Membuat kue dengan penuh cinta. Kali ini, ia melakukannya untuk suami sendiri.
Bau harum nasi goreng menggoyang lidah. Adnan yang baru selesai mandi di kamar bisa mengendusnya. Sesekali senyum kecil terlukis di wajah. Alina bertransformasi dari gadis bar-bar menjadi istri yang hebat. Meski sampai saat ini pun sifat menyebalkan dan keras kepalanya masih tetap melekat.
Beberapa detik selanjutnya, terdengar pintu kamar terbuka. Alina masuk masih memakai celemek agar saat memasak tak mengotori bajunya. Alina mendekat, tersenyum tipis. Lalu, meraih dasi di tangan suaminya. Ia sedikit berjinjit agar tangannya sampai untuk melingkarkan, dan memasangkan dasi di kerah baju Adnan.
Adnan terpukau. Dari dekat wajah Alina tampak berseri tanpa noda. Pipinya yang putih mulus dengan bibir kecil menggemaskan.
"Nah, udah selesai," ujar Alina. "Sekarang, kita sarapan, ya."
"Kamu masak apa?"
"Nasi goreng."
"Cacing di perutku langsung demo minta jatah."
"Ayo, turun."
Keduanya keluar kamar, dan menuruni satu per satu anak tangga. Kini, Alina dan Adnan duduk di kursi meja. Sepiring nasi goreng ati ampela lengkap dengan krupuk sudah tersaji di depan. Adnan bisa mencium aroma nikmat yang menusuk langsung ke hidung. Alina duduk di hadapannya dengan sepiring nasi goreng juga.
Adnan berdoa, meraih sendok, mengambil sesuap nasi goreng, lalu memasukkannya pada mulut tanpa curiga. Seketika matanya membulat, rasa pedas menjalar dari mulut tembus ke telinga. Entah berapa biji cabai yang Alina masukkan dalam nasi goreng tersebut. mulutnya ingin mengeluarkan kembali. Namun, senyum Alina yang sumringah menghentikan niatnya.
"Gimana enak, kan?" tanya Alina harap-harap cemas.
Adnan mengangguk sembari mencoba menelan sedikit demi sedikit makanannya. Alina berinisiatif menyuapi suaminya dengan sesendok full nasi goreng. Seketika Adnan menahan saliva. Ingin menolak, takut sang istri marah. Tak menolak, perutnya yang akan menjadi taruhan.
Pada akhirnya demi menghargai Alina yang sudah bersusah payah Adnan menerima suapan pertama untuknya. Telinganya mulai panas, lidah pun terasa kelu. Ia tak kuat lagi menahan, tangannya langsung meraih segelas air di depan, dan menghabiskannya.
"Aku terhura lho, Mas. Padahal aku tadi kebanyakan kasih cabe.. Biasanya, kalau di rumah aku bikin pakai cabe setan 5 biji aja. Nah, barusan aku khilap, cabenya kukasih 10. Tapi ... enak, kan, Mas?" tanya Alina polos tanpa berdosa.
Sontak Adnan menelan air liur begitu mendengar penuturan istrinya. Jika dibiarkan, mungkin ia bisa masuk rumah sakit. Tidur di sana tidak menyenangkan. Terlebih, ia tak bisa memeluk Alina sepanjang malam.
"Aku boleh ngomong sesuatu?" Adnan mencoba lembut agar Alina tak merasa tersinggung.
"Ngomong aja, Mas? Kalau nasi gorengnya kurang, tenang! Aku masaknya sepenggorengan."
Deg!
Hati Adnan berdebar. Dua suap saja dia tidak kuat. Apa lagi harus menghabiskan satu penggorengan. Sebenarnya Alina memasak untuk sarapan atau hajatan? Mengapa banyak sekali? Apa dia menghabiskan persediaan beras di rumah, untuk memasak sarapan pagi ini?
"Begini ... aku sebenarnya engga suka makan pedas. Ada pengalaman buruk tentang itu," ungkap Adnan.
Alina terperanjat, kaget. Mulutnya menganga mendengar pengakuan Adnan. Mengapa sejak tadi lelaki itu hanya diam saja?
"Ya Allah. Maaf, Mas," kata Alina. "Aku engga tau, kalau kamu engga suka pedes. Dari tadi kamu cuman diem aja, Mas."
"Aku menghargaimu."
"Tapi, lain kali bilang. Aku kayak istri yang lagi nyiksa suaminya."
"Kamu memang nyiksa aku."
"Hah!"
"Ya, nyiksa hatiku setiap hari. Makanya, aku lebih baik membawamu ke kantor. Setidaknya, aku bisa melihatmu sepanjang hari." Adnan menyunggingkan senyuman kecil.
"Jangan gombal, Mas. Engga cocok sama kamu. Aku malah pengen muntah dengernya."
"Kalau gitu, aku gombalin tetangga sebelah."
Alina tertawa kencang. Tetangga sebelah? Suaminya tidak tahu, jika tetangga sebelah mereka adalah seorang preman. Alina pernah bertemu sekali saat membuang sampah. Ia melihat tetangganya itu baru saja pulang menggunakan motor besar.
Usianya mungkin satu tahun lebih muda dari Adnan. Namun, di wajah dan tangannya ada tato bergambar bunga dan macan. Alina sempat menyapa, hanya untuk sekadar bersosialisasi, akan tetapi lelaki itu justru memalingkan wajah. Membuat Alina kesal dan tak ingin bertemu kembali.
"Kenapa kamu tertawa? Harusnya cemburu?" tanya Adnan heran.
Alina berdiri, mendekat pada Adnan. Menggeser sedikit posisi nasi goreng dari hadapan suaminya, lalu menggantinya dengan roti tawar yang selalu tersedia di meja makan.
"Tetangga samping kita itu preman. Kalau Mas mau, sih, aku mah engga apa-apa. Cuman geli aja bayanginnya." Tawa Alina semakin kencang sembari tangannya mengoles selai coklat di roti, lalu memberikannya pada mulut Adnan. "Nanti, ada kabar beredar, kalau Direktur Utama Wijaya Land berselingkuh dengan seorang lelaki."
Tangan Adnan mengambil roti di mulutnya. Mengunyah perlahan potongan roti yang terlanjur tergigit. Setelah menikah, Alina lebih lihai dalam hal berdebat dengannya. Apa pun itu, Alina selalu menang. Namun, ia tetap menghormati Adnan sebagai suami.
"Tunggu!" Adnan menatap lekat Alina. "Dari mana kamu tau, kalau tetangga kita itu preman?"
Ide jahil tercetak di otak Alina. Ia ingin melihat reaksi Adnan, jika ia menggodanya kembali seperti Riki beberapa hari lalu.
Alina mendekati telinga Adnan, lalu berbisik, "Aku sering ketemu dia, kalau buang sampah pagi hari. Orangnya ganteng, macho, murah senyum. Pokoknya idaman para wanita."
Setelah membisikkan itu, Alina hendak melangkah jauh dari Adnan. Gerakannya kalah cepat, tangan Adnan lebih lihai untuk menarik tubuh Alina hingga duduk di pangkuannya.
"Berani bicarakan lelaki lain di depanku sekali lagi. Aku kasih stempel di wajahmu, mau?" Ujung bibir kanan Adnan terangkat. Sorot matanya tak sedang bercanda kali ini. Sehingga, mampu membuat Alina mengangguk. Takut.
...****************...
Jangan lupa like, coment, dan vote🤭🤭
Huru-hara rumah tangga mereka baru akan dimulai. Sudah siapkah kalian?🙈
Tenang! Aku engga sadis, kok. Cuman sedikit jahil aja🤭🙏