NovelToon NovelToon
My Crazy CEO

My Crazy CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:406.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ria Mariana

Update kalo ingat.

NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO

Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.

Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.

"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.

Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Navier murka?

Dengan wajah yang terluka Navier harus datang ke kantor, dia tidak boleh malas-malasan

karena lengah sedikit saja perusahaan akan berakibat fatal. Dia bekerja dengan serius untuk mempertahankan perusahaannya. Seline melihat Navier yang sedang membaca dokumen sambil mmegangi kepalanya. Dia juga melihat Ali yang sibuk dengan berkas ini dan itu. Sampai ketika seseorang dengan anak kecil menerobos masuk

dan memaksa untuk menemui Navier padahal petugas pengamanan sudah menahannya.

“Kak Seina?” ucap Ali.

“Biarkan aku bertemu dengan Navi!”

Navier yang mendengar keributan langsung memandangi dari tempat dia sedang duduk.  Navier melambaikan tangan mengisyaratkan jika Seina boleh masuk. Petugas keamanan melepaskan Seina, Seina langsung masuk ke

ruangan Navier bersama Darsen. Navier memandangi mereka dengan tatapan malas dan tiba-tiba Seina bersujud dihadapan Navier.

“Tolong bebaskan Dale dari penjara! Kumohon Navi! Hanya kau yang bisa mengeluarkan Dale

dari penjara,” ucap Seina.

Navier memandanginya dengan kesal, ia memalingkan wajah dan hatinya terasa terluka karena kakak perempuannya hanya memikirkan Daleon padahal dengan jelas wajah Navier babak belur dibuatnya.

“Dia sudah melakukan kejahatan dan itu hukuman yang pantas baginya,” jawab Navier.

“Darsen masih butuh papanya, kumohon lepaskan Dale!”

Navier masih sangat tenang padahal tubuhnya sudah bergetar, ia ingin sekali melempar vas bunga kearah Seina tetapi dia tidak mungkin melakukannya. Navier mencoba menatap Darsen yang ikut terduduk dilantai mengharap Om nya melepaskan papanya.

“Kau dan Dale hanya memikirkan diri kalian sendiri, kalian menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kami sampai Darsen sebesar ini.”

“Kau tau sendiri ‘kan jika papa menentang hubungan kami? Kami saling mencintai, kami juga bukan kakak adik kandung,” ucap Seina.

“Segitunya sampai anak kalian menjadi korban? Darsen adalah korban dari keegoisan kalian, harusnya Darsen bisa sekolah tetapi kini dia tidak bisa karena pikiran kalian yang kekanak-kanakan.”

Seina berdiri lalu memohon tepat dibawah kaki Navier dan begitu pula Darsen, ia menangis memohon om nya untuk membebaskan papanya. Navier begitu muak, ia lantas berdiri dan menjauhi mereka. “Bahkan hanya Kak Dale yang kau khawatirkan? Papa sudah beberapa hari ini dirumah sakit tetapi sedetikpun kau menjenguknya.”

“Aku takut bertemu papa,” jawab Seina.

“Dasar pengecut! Aku benci orang pengecut sepertimu.”

Seina berdiri, ia mengusap air matanya. Dia mendekat ke Navier. “Jika begitu tolong berikan hak Daleon, kau jangan serakah Navi! Kau hanya ingin menguasai perusahaan ini sendirian ‘kan jika Dale masuk penjara?”

Navier meremas jemarinya, dia hanya menjalankan perusahaan saja tanpa berpikiran macam-macam. Dia lalu mengeluarkan dompet dan mmemberikan uang kepada Seina. “Pergilah! Darsen tanggung jawabku selama Kak Dale dipenjara. Aku akan menanggung biaya hidupnya. Pakai uang itu untuk bertahan hidup!”

Navier lalu berjongkok didepan Darsen, ia mengusap air mata Darsen. Seina lalu menggandeng tangan Darsen dan membawa uang itu. Navier menatap kepergian mereka, dia tidak ada pilihan lain karena perbuatan Daleon melanggar hukum. Navier lalu melanjutkan pekerjaannya, Seline lalu masuk membawa berkas yang harus

diperiksa.  Navier membaca surat itu dengan seksama.

“Keadaan papa anda bagaimana?” tanya Seline.

“Semakin hari semakin membaik.”

Navier melirik tangan Seline yang membiru, dia langsung melihatnya. Nampak lingkaran biru membekas dipunggung telapak tangan Seline. Seline menarik tangannya.

“Tanganmu kenapa?” tanya Navier.

“Saya hanya kelelahan.”

Navier menaikkan alisnya, ia mengambil salep dilaci dan mengoleskannya ditangan Seline. Seline menatap wajah Navier yang tampan, dia tersenyum tipis.

“Jika ada apa-apa bilang kepadaku!”

“Tuan, jujur saja saya tidak nyaman dengan perlakuan tuan. Saya sudah punya pacar.”

Navier berdiri, ia merasa marah dengan Seline. Baru kemarin mereka berciuman lalu kini mendadak mempunyai pacar. Navier menatap tajam Seline, beraninya perempuan itu selalu mempermainkannya.

 “Cepat bilang jika semua itu bohong!” ucap Navier dengan nada meninggi.

Seline menundukkan kepala dan meminta maaf sebesar-besarnya. Dia berpamitan keluar

dari ruangan Navier tetapi Navier menarik tangannya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan permainan ini.

“Jangan harap hidupmu akan tenang jika mempermainkanku seperti ini!” ancam Navier.

Seline melepaskan tangan Navier. “Maaf, tuan. Saya semakin tidak nyaman jika anda terus-terusan mengancam saya. Sebaiknya anda mencari pacar yang sederajat dengan anda. Permisi.”

Navier  begitu geram, Ali hanya menyunggingkan senyuman saat melihat drama menarik dari ruang Navier. Navier memang orang yang keras dan harus mendapatkan apa yang dia ingin dapatkan dan dia tidak mungkin menyerah begitu saja.

“Seline,” teriak Navier.

Seline yang akan duduk diruangannya sendiri kini berdiri lagi, ia kembali ke ruangan Navier dengan penuh percaya diri.

“Pel seluruh lantai digedung ini! Sekarang kau bukan sekertaris lagi melainkan hanya petugas kebersihan. Mengerti?” ucap Navier.

Seline begitu terkejut, dari sekertaris turun menjadi petugas kebersihan? Apakah ini sifat asli Navier? Apa sekejam itukah Navier? Seline tidak dapat mengelak keputusan dari sang presdir. Dia hanya menganggukkan kepala setidaknya dia tidak dipecat dari perusahaan besar itu.

“Tunggu apa lagi! Cepat ganti pakaianmu dengan baju petugas kebersihan!”

“Baik, tuan.”

Seline tidak ingin berdebat dan memilih mengiyakan ucapan sang tuan. Dia dengan sedih keluar

dari ruangan Navier.  Ali langsung menghampiri Navier dan menganggap adik sepupunya itu keterlaluan.

“Kau urusi urusanmu saja! Aku sudah banyak masalah dan tidak ingin menambah masalah,” ketus Navier.

“Kau ingin mengajak bertengkar?” tanya Ali.

Navier berdiri lalu melepas jasnya, ia menerima tantangan Ali yang mengajaknya bertengkar.

Ali juga menatapnya dengan tajam dan mereka akhirnya bertengkar, saling berguling dilantai. Kim dan Jackson yang akan masuk ke ruangan mereka terkejut dan langsung melerai mereka.

“Kenapa kalian selalu bertengkar?” tanya Kim.

“Uncle, Ali dulu yang mengajak bertengkar,” ucap Navier.

“Tidak, yah. Navi sangat menyebalkan.”

Kim langsung menyuruh mereka duduk tenang, mereka berempat kini hanya saling memandang.

Jackson mulai melakukan pembicaraan yang serius. Dia mengeluarkan data-data mafia yang ia akan kejar.

“Navier, kau mengenal pria ini? Katanya dia pernah bekerja sama dengan perusahaan ini? Kau

punya kontaknya yang bisa dihubungi?” tanya Jackson.

Navier membaca data itu dan terlihat foto seseorang yang sangat tidak asing dengannya. Bola matanya terus membaca isi data tersebut dan dia baru teringat jika orang itu baru beberapa hari yang lalu melakukan meeting dengannya.

“Dia Tuan Abraham, baru beberapa hari yang lalu kami melakukan meeting untuk membahas proyek baru tapi ada apa dengan orang ini?” tanya Navier.

“Abraham? Padahal nama aslinya adalah Anderson. Apa dia membuat gerak-gerik mencurigakan?”

tanya Jackson.

“Tidak ada,m tapi selama meeting berlangsung dia hanya diam dan  sekertarisnya yang aktif berbicara.”

Jackson memegang dagunya, ia berpikir sejenak lalu meminta Navier untuk menyerahkan nomor kontaknya. Navier menyuruh Ali untuk membuka surat-surat yang ditinggalkan Tuan Abraham dan disana tidak ada nomor telepon atau email yang ditinggalkan. Itu begitu janggal, kenapa bisa orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaan besar tidak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi.

“Kalian jadi bekerja sama dengannya?” tanya Kim.

“Tidak jadi, yah. Dia ingin bekerja sama dalam pembangunan pusat perbelanjaan tetapi lokasinya berada di pemukiman warga dan kami tidak setuju karena semua itu akan mengganggu kehidupan warga yang terdampak,” jawab Ali.

“Pusat perbelanjaan? Dia bekerja dalam bidang apa?” tanya Jackson.

“Dia kontraktor,” jawab Navier.

Navier lalu membanting majalah didepannya, ia heran kenapa seolah dia sedang diintrogasi.

Jackson tersenyum, dia menjelaskan jika hanya mewawancarai saja.

“Kalian sedang memburu orang? Kenapa tidak meminta bantuan satelit saja untuk menemukan

orang tersebut?” ucap Navier.

“Tidak bisa tuan muda, mereka bukan orang sembarangan. Mereka sudah meretas data informasi mereka dengan yang palsu. Status terakhir yang terbaca hanyalah tempat terakhir dimana mereka singgah dan tentu saja mungkin mereka sudah tidak ada ditempat itu lagi,” ucap Kim.

**

Seline sedang mengepel lantai, banyak pegawai yang memandanginya. Bisa-bisanya seorang sekertaris bisa diturunkan menjadi seorang petugas kebersihan. Dia mengepel lantai sebersih mungkin, dia tetap percaya diri dan tidak malu.

Navier yang keluar dari lift bersama Ali dengan sengaja menendang ember yang berada

didepannya dan membuatnya tumpah. Seline hanya menatapnya dengan kecewa.

“Kau sengaja menaruh ember disitu?” ucap Navier dengan nada kasar.

“Itukan dipinggir, tuan.”

“Apa kau bilang? Jadi kau menganggapku dengan sengaja menendangnya?”

Navier mendekati Seline dan menunjuk wajah Seline dengan angkuhnya. Navier lalu

mengambil ember itu dan meletakkannya dikepala Seline. Seline hanya bisa bersabar.

 

 

“Aku bisa menjadi kucing yang manis dan lembut tetapi aku juga bisa menjadi singa yang siap menerkammu. Harusnya kau tahu batasanmu, seenaknya mempermainkan perasaanku,” ucap Navier dengan angkuh.

1
Lies Atikah
kim hobi nya menanam benih
Lies Atikah
rumit tapi seru thor lanjut
Dwi apri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dwi apri
walah....bener2 bikin ngakak guling2🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros Liana
lama trus updatenya,jg gk seru
Uyun Syarukhan
lanjut kak lg seru2 y....ne cerita y....🥰🥰🥰
armanto Manto
.
sakura71
ak mewekkk tentang kim.lnjut ngakakk parah
sakura71
thorrr ngakakkk
Neng Luthfiyah
ini ceritanya ko gantung gk ada terusannya pdhal seru🤔
Noel Sentia Lena Stg
y...mna kelanjutannya kk,,,,,
Noel Sentia Lena Stg
darsen panggil navier = om napret
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...
Noel Sentia Lena Stg
kok kim nika lg,aduh,..............
Noel Sentia Lena Stg
rasa2 merinding q bc,trus tiba2 nangis liht navi dbuat sprti tu...sabar y navi.......
Noel Sentia Lena Stg
hahahaa.ketawa melulu smpe sakit perut
Noel Sentia Lena Stg
sumpah dhe ..ketawa2 sndiri jd nya🤣🤣🤣
Ati Pct
😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣
SeQuer ThinTacel AgusTin
jgn" pacar Ali anaknya Mauren si jeni
SeQuer ThinTacel AgusTin
kasian navier
SeQuer ThinTacel AgusTin
ku udh baca cerita dewa tp mlah blm baca cerita Sean
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!