Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Undangan Pernikahan
Libur kerja selama berhari-hari ternyata membawa dampak yang sangat besar bagi Alvian. Terlalu lama bersantai di rumah membuat kepalanya tercengang melihat banyaknya data yang harus ia cek ulang. Belum lagi Alvian harus menghadiri rapat dengan beberapa perusahaan mengenai perkembangan hotelnya.
Meskipun rasa pusing menderanya, Alvian harus tetap profesional. Ia tidak boleh mengeluh hanya karena kondisi tubuhnya. Perlu diketahui bahwa Alvian sangat tidak suka jika orang lain menatapnya khawatir.
Alvian meraih telepon untuk menghubungi bagian dapur. Jam sudah menunjukan pukul setengah satu, namun makan siang Alvian belum diantarkan.
Tok tok tok...
Kening Alvian mengernyit heran. Seingatnya ia tidak memiliki jadwal pertemuan pribadi dengan siapapun. Tapi meski begitu, Alvian tetap mempersilahkan orang itu masuk.
"Waah! Pengantin barunya udah berangkat nih? Gimana acara liburannya sama istri? Lancar, Pak?"
Mendengar pertanyaan Gio yang menyebalkan membuat Alvian ingin melemparkan ponselnya ke wajah sahabatnya itu. Namun ia sadar, ponselnya terlalu berharga jika rusak karena wajah Gio.
"Jaga bicaramu, Tuan Gio yang terhormat," desis Alvian kesal.
"Ck! Santai kali, bro. Lagian sekarang jam istriahat. Jadi gue nggak harus bersikap hormat sama lo," balas Gio tidak ingin berhenti mengganggu Alvian.
"Gimana sama Medisya?" Lanjut Gio bertanya.
"Apanya yang gimana?" Tanya Alvian tidak mengerti. Ia melepas jasnya dan menyampirkan benda itu ke kursi kerjanya.
Gio mendengus mendengarnya. Sahabatnya itu sangat cerdas dalam urusan pekerjaan. Namun jika bersangkutan dengan wanita, Alvian sangat acuh.
"Trauma dia sembuh?" Gio menatap Alvian. Kali ini ia serius bertanya.
Alvian menghela nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya. "Belum," balasnya singkat.
"Lo nggak nyentuh dia 'kan?"
Pertanyaan Gio kali ini membuat Alvian menatapnya nyalang. Pria itu sepertinya sudah melewati batasannya.
"Itu di luar kepentingan lo, Gi," ucap Alvian datar.
Bukannya diam, Gio justru terkekeh meremehkan. "Iya tau. Gue cuma ngerasa kasihan aja kalau Medisya terus-terusan lo suruh buat memuaskan nafsu bejat lo itu."
"Brengsek," umpat Alvian, "dia istri gue. Sudah jadi tugas dia untuk melayani gue!" Serunya asal.
Namun Gio tau, meski Alvian berkata dengan nada serius, pria itu tidak mungkin memaksa Medisya untuk melakukan keinginannya. Ya, tumbuh bersama selama beberapa tahun membuat Gio paham dengan sikap dan sifat Alvian.
Gio mengeluarkan sebuah gulungan kertas berwarna biru muda yang dihiasi pita putih dan menyerahkan itu pada Alvian.
"Undangan dari Clara. Dia minta lo datang ke pernikahannya," ucap Gio.
Mendengar nama Clara disebutkan membuat Alvian mengeraskan rahangnya. Ia meraih kertas itu kasar dan langsung membukanya.
"Pernikahannya tiga hari lagi dan lo baru menyerahkan ini ke gue?" Tanya Alvian marah.
"Orang gue aja baru terima tadi pagi!" Kesal Gio, "memangnya kenapa? Apa urusannya sama lo kalau pernikahan Clara tiga hari lagi?"
Melihat Alvian terdiam membuat Gio mengangkat satu alisnya. "Lo nggak ada niatan buat menghalangi pernikahan mereka kan, Al?"
Alvian menatap Gio tajam lalu mendengus kecil. Pria itu selalu saja mengerti apa yang dipikirkannya. Ia memang memiliki niat jahat itu. Alvian tidak rela Clara bersanding dengan pria lain setelah wanita itu menghancurkan perasaannya.
"Ingat, Al! Udah ada Medisya dan anaknya yang harus lo jaga. Lebih baik lo lupain dendam lo itu. Lagian untuk apa? Setelah lo berhasil menghalangi pernikahan mereka, lo mau apa? Menjadikan Clara sebagai istri kedua lo terus membuatnya menderita?"
"Sebenarnya gue cuma mau melihat Clara hancur, tapi ide lo bagus juga, Gi. Gimana kalau gue menikahi Clara? Seperti yang lo bilang barusan." Alis Alvian terangkat melihat raut kesal Gio.
"Lo gila!" Seru Gio tidak mengerti dengan keinginan Alvian.
Sedangkan Alvian tersenyum puas karena berhasil membuat Gio marah. Padahal hanya berucap sembarangan. Tentu saja! Tidak mungkin ia menjadikan Clara sebagai istrinya sedangkan sudah ada Medisya di posisi itu. Hanya beberapa detik senyumnya bertahan, karena ia langsung memberikan tatapan membunuh pada sahabatnya itu.
"Cukup, Gi. Gue minta sama lo buat berhenti ikut campur masalah gue kecuali jika gue meminta bantuan lo," ucap Alvian tegas.
###
Perdebatannya dengan Gio membuat Alvian merasa malas untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Sejak tadi ia hanya diam sembari menggenggam undangan dari mantan tunangannya itu.
Menghalangi pernikahan Clara.
Setelah Alvian pikir ulang, tindakan itu tidak menguntungkannya. Lagipula ia akan terlihat seperti pria rendahan yang berbuat hina demi seorang wanita.
Memikirkan Clara membuat Alvian mengingat Medisya di apartemen. Perempuan itu sendirian di sana. Alvian ragu ia akan baik-baik saja. Pasalnya Medisya terlihat tidak nyaman di tempat Alvian.
Sebenarnya Alvian bisa menolak keinginan Medisya untuk tinggal di apartemennya. Mengingat gadis itu sering bermimpi buruk jika tidur di tempat lain selain kamarnya. Terbukti semalam, Medisya bangun dari tidurnya dengan nafas tidak teratur.
Namun menolak sama saja dengan tidak mengizinkan Medisya untuk sembuh dari trauma. Jadi ia menghargai kemauan Medisya dan membawanya tinggal di apartemennya.
Rasa penasaran Alvian akan perempuan itu memaksanya untuk meraih ponsel dan menghubungi Medisya. Entah mengapa Alvian ingin sekali mendengar suara perempuan itu.
"Hallo, assalamualaikum."
Suara lirih itu membuat Alvian merasa tenang. Entahlah, ia juga tidak tau kenapa bisa begitu.
"Waalaikumsalam. Sedang apa?" Tanya Alvian sembari meraih dokumen keuangan minggu lalu dan membukanya.
"Belajar masak sama mamah."
Sejenak Alvian menghentikan aktivitasnya. "Mamah?" Tanya Alvian memastikan.
"Iya. Mamah Melinda di sini dari tadi pagi."
Alvian ingin berucap, namun suara Melinda dari sebrang telfon membuatnya diam kembali.
"Kamu pulang jam berapa, Al? Mamah nunggu kamu di sini, tau!"
"Untuk apa menunggu Vian?" Balas Alvian bertanya.
"Katanya kamu sakit, jadi mamah mau tau kondisi kamu!"
"Mamah bisa ke kantor untuk melihat Alvian langsung. Kenapa malah ke apartemen Vian?"
"Ya mamah 'kan juga mau lihat Medisya. Takutnya dia sakit lagi gara-gara kamu tinggalin!" Ucap Melinda menyinggung Alvian tentang malam pertama Alvian dan Medisya tinggal di apartemen.
Sedangkan Alvian mendengus kesal. "Vian tidak mungkin meninggalkan Medisya, mah. Mana Medisya? Alvian mau bicara sama dia."
Dapat Alvian dengar Melinda memanggil Medisya. Menyuruh perempuan itu mengecilkan api kompor dan mengatakan bahwa Alvian ingin berbicara.
"Kenapa, mas?" Tanya Medisya.
"Kamu baik-baik saja 'kan di apartemen?"
"Iya. 'Kan ada mamah di sini."
"Masaknya masih lama?"
"Masih kayaknya."
"Kalau sudah selesai langsung istirahat. Kamu tidak boleh kelelahan. Ingat, ada anakku yang harus kamu perhatikan juga," pesan Alvian.
Setelah Medisya mengiyakan perintahnya, Alvian segera menutup ponselnya dan kembali meneliti dokumen di tangannya.
Namun sialnya, sebuah pikiran terlintas kembali di kepalanya. Apakah ia harus mengajak Medisya ke acara pernikahan Clara? Mengingat pernikahannya dengan perempuan itu belum terpublikasikan. Tidak ada yang tau hubungan Alvian dan Medisya selain keluarga mereka dan Gio tentunya.
Alvian menghela nafasnya pelan. Ia akan mendiskusikan ini dengan Abraham nanti. Karena sejak dulu ia pasti datang ke papahnya itu jika sedang dalam kebingungan. Alvian harap Abraham bisa memberinya solusi yang baik untuknya.
###