Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 07
PERNIKAHAN KILAT PENUH ADRENALIN
Miami - US
Menjelang malam ketika jet pribadi mendarat mulus. Myra yang tertidur selama perjalanan, kini saat dia membuka matanya, ia sudah berada di dalam mobil yang melaju, membelah kegelapan.
Ia berkerut alis melihat ke arah jendela dan saat itu juga Myra menoleh kaget dan melihat, pria yang sama, yang juga duduk di sebelahnya.
“Tidurmu nyenyak?”
Myra mendudukan dirinya dan merasakan bahwa kedua tangannya sudah tidak lagi terikat. “Aku akan tidur nyenyak setelah bebas darimu.”
“Hm.” balas Silas yang tak ingin memperpanjang, karena dia tahu sendiri bagaimana Myra tidur begitu nyenyak hingga mendengkur.
Sementara wanita itu menatapnya sinis sebelum akhirnya dia menoleh ke jendela, mencoba mengintip pemandangan di sana, hingga mengintip lewat spion kiri dan melihat beberapa mobil hitam yang mengikutinya juga.
“Kita di mana?” tanya Myra sedikit kesal.
“Miami.” Jawab Silas tanpa menoleh dan masih fokus menatap lurus dengan tatapan tajam dan santai. “Jangan khawatir, kita akan menikah di sini, setelah itu pergi ke New York.”
“Menikah?” Myra menyeringai kecil mendengar kata itu. Namun apalah dayanya yang tak bisa melawan dan hanya bisa pasrah.
Tak ada kata lagi ketika Myra memilih diam menatap ke jendela. Sementara Silas sesekali menoleh sejenak dan menatapnya.
.
.
.
Beberapa menit terbuang di perjalanan. Lagi dan lagi Myra dibuat kaget saat mobil mereka memasuki sebuah gerbang hitam menuju sebuah mansion minimalis namun cukup mewah dan elegan.
Dan di sana... Seorang pria kaos hitam dan jas hitam berdiri seolah sebagai pemimpin dari para pria lainnya yang juga berdiri menunggu kedatangan Silas.
-‘Astaga... Sekarang apa lagi? Kenapa banyak sekali pria sangar di sini?’ batin Myra yang tak tahu harus berbuat apa, sampai dia tak sadar jika Silas sudah keluar mobil dan kini salah satu anak buahnya membukakan pintu untuknya.
“Anda bisa keluar, Nyonya.” kata penjaga Silas.
Myra menelan ludah, namun ia tak ingin menjadi penakut. Dia segera keluar, memperhatikan kesekitarnya yang begitu asing. Ia melihat Silas berjalan santai ke arah salah satu pria di sana yang juga menyambutnya.
“Selamat datang, Tuan Silas. Saya harap perjalanan Anda baik-baik saja.” kata pria bernama Kael tangan kanan Silas.
“Ya. Semuanya mulus, hanya mengendalikan seorang betina.” Balas Silas tanpa menoleh namun sekilas Kael melirik ke arah Myra dengan tatapan tegas dan selalu seperti itu.
“Bagaimana dengan yang lain?”
“Seperti biasa, Tuan. Mungkin mereka menunggu Anda kembali.”
Silas terdiam beberapa detik, lalu dia menoleh ke belakang, tepat ke arah Myra yang berdiam diri dan memandangnya dengan wajah kikuk.
Setelah itu dia kembali menatap ke Kael.
“Kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?”
“Ya, Tuan. Pendeta itu ada di dalam.”
Pria berkemeja hitam itu berbalik dan berjalan santai ke arah Myra. Sementara Myra sama sekali tidak berpaling darinya sampai mereka saling berhadapan dengan jarak dekat saat Silas menatap lekat nan tajam.
“Dengarkan aku. Jika kau masih ingin hidup, maka diam dan menurut lah, setelah itu aku akan memberitahumu sesuatu.” kata Silas yang terdengar begitu meyakinkan.
Namun tetap saja. Memaksanya menikah dengannya dengan sebuah ancaman nyawa membuat Myra kesal.
”Up to you, Mr. Silas.” tegasnya. “Aku hanya ingin segera pergi. Di sini... Aku risih dengan banyak pria sangar yang berkumpul.”
“Mereka anak buah ku, mereka juga akan patuh dengan mu.” balas Silas dengan nada santai sembari berbalik membelakangi Myra.
Tanpa banyak bicara lagi. Silas melangkah masuk mengikuti langkah Kael yang memberitahu keberadaan pendeta, sementara anak buah Silas mengawal Myra hingga wanita itu tak bisa kabur dan memilih mengikuti langkah pria itu masuk.
Ada ketakjuban di mata Myra ketika melihat isi di dalam mansion tersebut yang begitu elegan meski nuansanya masih sama seperti pemiliknya. Tapi seperdetik setelahnya, kedua alis Myra berkerut ketika melihat keberadaan seorang pendeta di sana.
Di dalam ruangan dekat perapian.
Dia pelayan wanita juga ada di sana, seolah-olah semuanya sudah direncanakan dengan sempurna.
Melihat keberadaan Silas. Sang pendeta paruh baya itu segara berdiri mendekat ke arah Silas dan Myra berdiri di samping Silas.
“Ada beberapa tahapan yang harus— ”
“Lakukan saja secepatnya. Dan jangan berbelit.” kata Silas terdengar dingin sehingga pendeta tadi tak bisa berkata-kata meski ia sekilas menatap ke arah Myra yang terlihat tertekan seolah ingin meminta bantuan.
Tak menunggu lama. Pendeta itu segera menyelesaikan upacara pernikahannya. Toh dia juga sam seperti Myra— terjebak diantara orang-orang sangar tadi.
Berulang kali Myra menarik nafas dalam-dalam setiap kali pendeta itu membacakan doa-doa dan janji-janji pernikahan. Sampai akhirnya pertukaran cincin.
“Bagus. Aku tidak ada cincin untuk ditukar, itu artinya pernikahan batal. Benar pendeta?” ujar Myra bak wanita yang bosan hidup.
Tak lama Silas langsung meraih tangannya, memasukkan cincin ke jari manis Myra.
Namun satu hal yang membuat Myra kaget adalah, cincin pernikahan tersebut. Cincin iy sama seperti milik peninggalan ibunya. Dan saat Myra penuh tanya hingga ia menatap ke wajah Silas.
Pria itu sudah menatapnya lebih dulu, lalu menyeringai kecil.
“Nyonya.” Kael memberikan cincin pernikahan ke Myra.
Dengan wajah bingung hingga tegang. Myra begitu susah bernafas, namun dia meraih cincin tersebut. Cukup lama ia ragu saat menyentuh cincin yang sama, hingga matanya berkaca-kaca mengenang ibunya.
“Ada apa?” tanya Silas datar dan serak.
Myra menatapnya sekilas lalu ia menahannya dan mau tak mau ia memasangkan cincin itu ke jadi manis Silas.
Hanya ada keheningan, bukan sorakan bahagia seperti pernikahan pada umumnya. Bahkan tak ada gaun yang harus Myra kenakan.
“Sekarang Anda bisa mencium pengantin Anda.”
Myra masih diam. Kefokusan nya seolah pudar dalam kenangannya bersama sang ibu sehingga tatapan matanya mengarah ke bawah. Silas yang memperhatikannya, ia bergerak maju, tangan kanannya menyentuh tengkuk Myra, mendorongnya mendekat dan mencium bibirnya di saat wanita itu masih melamun.
Myra merasakan ciuman itu, dia menutup matanya tapi juga pasrah seolah-olah ia benar-benar lelah untuk memberontak. Tidak akan ada gunanya.
Setelah ciuman itu selesai.
Darr!
Satu tembakan membuat Myra terkejut dan langsung menoleh kaget ke pendeta yang tergelatak dengan bersimbah darah di dadanya.
Ia menatap terkejut ke Kael yang baru saja memasukkan kembali pistolnya di balik jasnya.
“Selesaikan dan urus dengan benar pendeta itu. Dia pantas di kremasi, lalu berikan abunya ke keluarganya.” pinta Silas.
Mendengar itu Myra benar-benar tak habis pikir dengan hati pria itu. Ia menarik lengan Silas cukup kasar. “Apa kau pikir dia boneka? Kalian menghabisinya dan menyelesaikannya begitu saja.”
Mata cokelat Silas menatapnya lekat. “Dan kau akan selalu melihat yang seperti ini, mulai sekarang.” balas pria itu yang tak peduli.
Myra menatap marah. Sementara Silas duduk santai di sofa singel sembari menikmati beer nya. Dan Myra? Ia memperhatikan anak buah Silas yang sibuk mengurus jasad pendeta tadi, lalu dia menatap ke pelayan yang ada di sana.
Mereka juga wanita, dan Myra bisa melihat wajah tegang mereka.
“Kau pria gila.”
“Thanks.” balas Silas dengan santai. “Kemarilah. Biarkan aku melihatmu cukup dekat, sayang.” pintanya menatap datar penuh perintah.
Myra tersenyum kecil mendengar itu. Antara percaya tidak percaya bahwa dia sudah menjadi istri seorang pria gila seperti Silas. Yang benar saja.