NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Di Dunia Modern

Dewa Pedang Di Dunia Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Dunia Masa Depan
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.

Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.

Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.

Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.

...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Dari Li Na

Ah Yin berdiri terpaku selama beberapa saat, memandangi sosok Zhang Lin dan Li Na yang masih saling mendekap erat di tengah riuh rendah koridor gawat darurat. Setelah membiarkan kedua insan itu meluapkan rasa lega dan emosi yang membuncah di antara mereka, Ah Yin perlahan menekan rasa nyeri yang menyayat dadanya. Ia memaksakan langkah kakinya untuk bergerak maju, mengikis jarak dan bergabung di antara mereka dengan raut wajah yang kembali terlihat tenang dan terkendali.

Suara dentang tumit sepatu Ah Yin yang mendekat membuat pelukan erat antara Zhang Lin dan Li Na perlahan terurai. Li Na menyapu sisa air mata di pipinya, lalu menoleh ke arah Ah Yin dengan sorot mata penuh rasa terima kasih yang teramat sangat.

"Terima kasih banyak, Nona Ah Yin..." ucap Li Na dengan suara yang masih serak akibat tangisan panjang. "Jika kamu tidak mengirimkan bantuan ke tempat itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Zhang Lin. Aku sungguh tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan cara apa lagi."

Ah Yin menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang terkesan dipaksakan. "Kamu tidak perlu berterima kasih, Li Na. Yang terpenting sekarang kalian bertiga sudah selamat."

Sorot mata Ah Yin kemudian beralih tajam menatap wajah Zhang Lin yang masih dipenuhi bekas luka dan memar. Aura kewibawaannya kembali muncul saat ia mulai melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengusik pikirannya.

"Sekarang, bisakah kalian memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ah Yin dengan nada suara yang serius dan menekan. "Orang-orang yang menyekapmu dan menyerang Zhang Lin di pabrik tua itu... mereka bukan perampok atau preman jalanan biasa. Senjata yang mereka gunakan, cara mereka bertindak, dan koordinasi mereka sangat rapi. Siapa sebenarnya mereka, Zhang Lin?"

Li Na yang mendengar pertanyaan itu membuka mulutnya, bersiap untuk menceritakan semua keanehan yang ia saksikan sendiri di tempat kejadian. "Nona Ah Yin, sebenarnya orang-orang itu—"

"Mereka hanya kelompok penjahat biasa, Nona Ah Yin," potong Zhang Lin secara mendadak dengan suara yang berat dan tegas.

Kata-kata Zhang Lin yang memotong pembicaraan secara tiba-tiba itu membuat Li Na dan Ah Yin seketika menoleh menatapnya dengan raut wajah terkejut. Li Na membelalakkan matanya tidak percaya, sementara Ah Yin mengerutkan keningnya semakin dalam, merasa ada sesuatu yang janggal dari kebohongan yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya tersebut.

Zhang Lin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Ah Yin. "Mereka hanya sekelompok penculik yang mengincar uang tebusan dan salah sasaran. Masalah ini sudah selesai sekarang karena mereka sudah melarikan diri dari tempat itu."

"Salah sasaran?" ulang Ah Yin dengan nada suara yang dipenuhi keheranan dan rasa curiga yang mendalam. "Zhang Lin, kamu dibantai hingga hampir tewas di tempat itu! Pasukan keamanan keluargaku menemukanmu tergeletak di atas genangan darah! Bagaimana mungkin kelompok penculik biasa bisa berbuat senekat dan sebrutal itu tanpa ada motif dendam yang jelas?"

"Itu hanya kejahatan biasa di area terpencil, Nona Ah Yin," jawab Zhang Lin pendek, sama sekali tidak memberikan ruang untuk perdebatan lebih jauh. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi."

Atmosfer di antara mereka bertiga mendadak terasa begitu canggung dan tegang. Ah Yin bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa Zhang Lin sedang membangun dinding pembatas yang tebal darinya, menutupi sebuah rahasia besar yang tidak ingin bagikan kepadanya. Ada kepedihan halus yang kembali menusuk hati Ah Yin saat menyadari bahwa Zhang Lin lebih memilih untuk menyembunyikan kebenaran darinya.

Sebelum Ah Yin sempat melontarkan pertanyaan balasan untuk menuntut kejelasan, Zhang Lin sudah lebih dulu memajukan langkah kakinya. Ia memegang lembut lengan Li Na, lalu kembali menatap Ah Yin dengan raut wajah yang memohon pengertian.

"Li Na, ikut aku sebentar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan berdua saja," kata Zhang Lin pelan namun mantap.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ah Yin. "Nona Ah Yin, bolehkah aku minta bantuanmu sekali lagi? Tolong tetap di sini dan bantu menjaga Lin Yi di ruang perawatan untuk sementara waktu. Kami butuh waktu sebentar untuk berbicara di tempat yang lebih tenang."

Permintaan itu disampaikan oleh Zhang Lin dengan nada suara yang begitu sopan, tetapi maknanya sangat jelas: ia ingin menyampingkan Ah Yin dari urusan ini.

Ah Yin berdiri membisu di tengah koridor yang ramai. Hatinya terasa begitu sesak menerima penolakan secara halus tersebut. Ia ingin sekali menolak, ingin sekali menuntut agar ia tetap dilibatkan setelah semua usaha dan bantuan yang sudah ia kembangkan untuk menyelamatkan nyawa Zhang Lin. Namun, melihat keteguhan di sepasang mata Zhang Lin dan bagaimana tangan pria itu merangkul Li Na dengan begitu protektif, Ah Yin sadar bahwa ia tidak memiliki alasan atau hak untuk memaksa lebih jauh.

Ah Yin menghela napas panjang, mencoba mempertahankan sisa harga diri dan ketenangannya di hadapan mereka berdua.

"Baiklah," jawab Ah Yin dengan suara yang terdengar begitu pasrah dan dingin. "Aku akan berada di depan ruang perawatan Lin Yi. Selesaikan urusan kalian."

"Terima kasih banyak, Nona Ah Yin," sahut Zhang Lin singkat.

Tanpa menunggu balasan lagi dari Ah Yin, Zhang Lin langsung menuntun langkah Li Na berjalan menjauhi area koridor gawat darurat yang bising. Li Na melangkah menuruti tarikan tangan Zhang Lin dengan pikiran yang berkecamuk penuh kebingungan, sementara Ah Yin hanya bisa berdiri menatap punggung kedua orang itu yang perlahan-lahan menghilang di balik belokan lorong rumah sakit.

Zhang Lin membawa Li Na menaiki tangga darurat, terus melangkah naik melewati tingkatan demi tingkatan lantai hingga akhirnya mereka tiba di pintu besi paling atas. Zhang Lin mendorong pintu tebal tersebut, membimbing Li Na melangkah keluar menuju ke area atap rumah sakit yang luas dan terbuka.

Angin malam yang dingin langsung menyergap tubuh mereka berdua. Pemandangan gemerlap lampu kota yang membentang luas di bawah sana sama sekali tidak mampu mencairkan ketegangan berat yang melingkupi Zhang Lin dan Li Na saat ini. Suara deru angin malam yang bertiup kencang menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di antara mereka.

Li Na memeluk tubuhnya sendiri untuk mengusir rasa dingin, lalu membalikkan badannya membelakangi pagar pembatas atap. Matanya menatap lurus ke arah Zhang Lin yang berdiri diam menatap kegelapan malam.

"Zhang Lin ..." panggil Li Na dengan suara yang tertahan. "Kenapa tadi kamu memotong perkataanku di depan Nona Ah Yin? Kenapa kamu berbohong dan tidak memberitahunya hal yang sebenarnya terjadi di pabrik tua itu? Nona Ah Yin sudah banyak membantu kita, dia bahkan menyelamatkan nyawamu! Kenapa kamu harus merahasiakannya dari dia?"

Zhang Lin berbalik perlahan, menatap Li Na dengan pandangan mata yang begitu dalam dan dipenuhi beban berat yang teramat sangat.

"Karena ini bukan urusannya, Li Na," sahut Zhang Lin dengan nada suara yang begitu berat. "Konflik ini sangat berbahaya. Orang-orang itu adalah iblis berdarah dingin yang tidak akan segan-segan menghabisi siapa pun yang mencampuri urusan mereka. Aku tidak ingin Nona Ah Yin atau keluarganya ikut terseret semakin jauh ke dalam bahaya ini hanya karena menolongku."

Li Na mengatupkan bibirnya rapat-rapat setelah mendengar alasan tersebut. Jawaban Zhang Lin memang masuk akal untuk melindungi Ah Yin, tetapi hal itu justru semakin menegaskan betapa mengerikannya sosok musuh yang sedang mereka hadapi saat ini.

Li Na melangkah satu kali mendekati Zhang Lin. Suasana emosional yang sempat tertahan sejak mereka berada di koridor bawah kini akhirnya pecah sepenuhnya. Matanya kembali berkaca-kaca, dipenuhi oleh tumpukan pertanyaan yang sudah membakar benaknya sejak di restoran BBQ hingga pertempuran berdarah di pabrik tua.

"Kalau begitu... sekarang bisakah kamu menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Li Na dengan suara yang gemetar oleh ketakutan dan rasa penasaran yang luar biasa mendalam.

Zhang Lin hanya diam terpaku, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut wanita di hadapannya itu.

"Siapa orang-orang menyeramkan tadi, Zhang Lin?" lanjut Li Na dengan nada suara yang semakin meninggi dan dipenuhi oleh desakan emosi. "Kenapa mereka mengincarmu dengan cara yang begitu kejam? Dan apa sebenarnya hubungan kamu dengan pria berjas rapi yang menjadi pimpinan mereka itu? Kenapa dia dan anak buahnya terus-menerus memanggilmu dengan sebutan Jenderal?! Kamu... kamu sebenarnya kenal dengan mereka, kan?!"

...

-BERSAMBUNG-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!