Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : TATA KRAMA DAN ETIKA
Tibalah waktunya seleksi terakhir sebelum para peserta melaju ke tahap berikutnya dan dapat bertemu langsung dengan para dewan istana dan keluarga kekaisaran. Seorang Shizi Fei harus mampu menguasai semua pelajaran Tata Krama dan Etiket dengan benar. Oleh karena itu, terdapat tiga tes yang menjadi pondasi utama dalam seleksi ini.
Di pagi hari yang cerah, Tujuh Puluh peserta yang lolos kini telah berbaris rapi di aula terbuka untuk mengikuti ujian berikutnya. Kali ini, satu-persatu berdasarkan urutan halaman dan kamar mereka di panggil ke depan. Halaman Timur dipanggil paling pertama, setelah kamar pertama dan kedua selesai maka giliran kamar ketiga tempat Ye Ning dan lainnya.
Tes pertama : Tata cara memberi hormat kepada Keluarga Inti kekaisaran dan kepada suami yang merupakan seorang Shizi.
- Qing He yang maju pertama di antara mereka. Cara berdirinya sangat stabil, gerakannya anggun dan sudut antara kedua siku juga sangat sempurna. Nilai A+ diberikan oleh Tang Momo kepadanya. Qing He tersenyum bangga mendengarnya.
- Ming Yi meskipun sedikit kikuk namun ia menyelesaikan etiket dengan baik dan tidak melakukan kesalahan yang berarti. Tang Momo memberikan nilai B+
- Jiu Lin dan Lu Wan menunjukkan gerakan yang sesuai meskipun tidak begitu sempurna seperti Qing He. Nilai mereka A.
- Kini giliran Ye Ning untuk menunjukkan aksinya eh maksudnya kemampuannya. Saat berjalan ia melenggak-lenggokan badannya, memanggil "BIXIA" terlalu keras hingga memekakan telinga pendengarnya. Lalu membungkuk dengan terlalu kasar dan cepat.
Tang Momo melihat tindakan Ye Ning ini hanya menghela nafas, sedangkan Ye Ning tertawa kecil dibalik punggung tangannya merasa yakin bahwa kali ini tak mungkin Tang Momo berani meloloskannya.
"Nona Ye Ning meskipun tampak serampangan, namun ia memiliki jiwa hormat yang luar biasa terhadap kaisar. Lolos!"
Ujar Tang Momo sambil menyuruhnya untuk menepi dan membiarkan yang lain mengikuti tes.
Ye Ning tercengang menatap Tang Momo tak percaya. Lu Wan tersenyum kecil, Ming Yi menepuk jidat sedangkan Jiu Lin sedikit cemberut. Akhirnya ujian pertama selesai dan selanjutnya adalah cara berjalan, duduk, berdiri dan berbicara.
Sebagai seorang Shizi Fei, setiap gerak-gerik langkah harus mencerminkan martabat keluarga kekaisaran. Bahka cara berjalan pun diatur secara ketat oleh istana. Mereka harus melangkah dengan langkah kecil, tenang juga teratur.
Punggung harus tetap tegak, dahu sedikit terangkat yang menunjukkan kewibawaan seorang anggota keluarga kekaisaran. Tidak menghentakkan kaki saat berjalan sehingga menimbulkan suara dan dilarang berlari kecuali dalam kondisi darurat.
Semua peserta yang tersisa menunjukkan cara berjalan sesuai dan etika dan tata krama istana. Tentu saja pengecualian untuk Ye Ning, ia berjalan sambil menghentakkan tumit sehingga mengeluarkan bunyi. Dan berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Duduk di kursi dengan pantat duluan yang jatuh, berdiri dengan cepat bahkan berbicara dengan keras sambil tertawa keras.
Alasan Tang Momo untuk meluluskannya kali ini adalah : Meskipun Nona Ye Ning belum menguasai tata krama dengan baik, seorang Shizi Fei juga harus memiliki ketegasan dan kemantapan hati. Dan Nona Ye Ning telah menguasai keduanya.
Ye Ning hampir ingin mengamuk dan menarik sanggul Tang Momo ketika mendengarnya, dengan wajah emosi ia kembali ke barisan dengan langkah keras. Tap..Tap..Tap.. Membuat Tang Momo memejamkan mata dan mengerutkan dahi.
Para peserta lain mulai berbisik dan memandang dengan curiga, namun tidak ada yang berani mengatakan atau protes secara langsung.
Ujian terakhir dari rangkaian Tahap Etika dan Tata Krama ini adalah tata cara makan, menyajikan dan meminum teh serta bagaimana langkah menerima tamu dengan benar.
Cara makan yang paling sempurna dan anggun dilakukan oleh Qinghe, Menyajikan teh dan meminum dengan sudut sempurna ditampilkan oleh Ming Yi. Sedangkan Lu Wan sangat ramah dalam menerima dan menyambut tamu. Jiu Lin biasa saja tetapi juga tidak bisa dikatakan buruk.
Ye Ning yang sudah kehabisan ide untuk bertingkah bagaimana lagi pun hanya melakukannya dengan santai tetapi dengan wajah lesu dan tidak bersemangat. Tetapi jawaban Tang Momo sangat membuat Ye Ning takjub, betapa sayangnya orang bijak seperti Tang Momo harus terkurung di Istana megah.
"Nona Ye Ning tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain. Di balik etiket dan peraturan istana, seorang anggota keluarga kekaisaran tetaplah manusia. Kejujuran terhadap diri sendiri adalah kualitas yang sangat berharga."
Bahkan kali ini Ye Ning hanya bisa mengacungkan jempol kepada Tang Momo dan tidak memiliki tenaga lagi untuk protes.
Setelah semua peserta meninggalkan aula, salah-satu dayang mendekati Tang Momo dan bertanya kenapa memberikan begitu banyak pengecualian untuk Nona Ye Ning.
Tang Momo menjawab sambil tersenyum "Etiket istana dapat dipelajari oleh siapa pun dalam waktu singkat. Istana tidak pernah kekurangan wanita cerdas dan anggun tetapi wanita yang memiliki karakter ketegasan dan keteguhan hati seperti Nona Ye Ning mungkin hanya muncul sekali dalam seratus tahun"
Dayang itu mengangguk dan mencoba memahami makna di balik kata-kata Tang Momo. Tang Momo pun kembali ke ruangannya sambil membawa hasil ujian peserta.
Ye Ning kembali ke halaman Timur dengan langkah gontai dan langsung tertidur begitu terbaring di atas ranjangnya. Qing He yang masuk setelahnya hanya melihat sekilas ke arahnya dan menggeleng.
Jiu Lin menyusul dengan langkah cepat dan menghentakkan kakinya saat melewati Ye Ning. Ia mengambil beberapa cemilan di atas meja perkakasnya dan keluar lagi. Rupanya ia menyusul Lu Wan dan Ming Zi yang saat ini tengah duduk di paviliun teratai.
Begitu duduk bersama mereka, Jiu Lin langsung mendengus dan berkata "Sepertinya Ye Ning memiliki orang berpengaruh di belakangnya. Ia ingin mengalahkan kita semua dengan cara curang"
Mendengar perkataan itu, membuat Ming Zi dan Lu Wan memandang Jiu Lin dengan wajah curiga. Jiu Lin yang ditatap seperti itu merasa gugup dan malu.
"kenapa? Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?" Tanyanya
Kemudian Ming Zi menghela nafas, sambil menatap matanya ia berkata "Menurutku kamu sekarang yang sedikit gelisah. Setelah kami berpikir secara logika, sudah jelas bahwa Ye Ning justru berusaha gugur dalam seleksi ini"
Jiu Lin membela diri dengan mengatakan "Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat!"
Lu Wan langsung menimpali " Kenapa kamu sekarang bertindak seperti kami menghinamu?"
Jiu Lin tergagap dan tidak mampu berkata apapun.
Mendapat cercaan seperti itu, membuat Jiu Lin memasang wajah seperti tersakiti dan ingin menangis.
Akhirnya ia pergi dari hadapan mereka dan langsung menangis, entah kemana ia pergi karena tidak kembali ke kamarnya.
Melihat itu, Lu Wan hanya bisa menghela napas dsn bergumam pelan "sifat cemburunya semakin parah,"
Ming Zi dan Lu Wan hanya melihat punggung Jiu Lin yang semakin menjauh.