yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 13) rahasia yang tersembunyi
Beberapa hari berlalu dengan tenang dan penuh kebahagiaan. Yuna semakin sehat, dan Marco selalu ada di sisinya, tak pernah jauh. Namun semakin lama mereka bersama, semakin banyak hal yang membuat Yuna penasaran.
Ada ruangan di lantai dua, di ujung lorong yang gelap, yang pintunya selalu tertutup rapat. Sering kali Yuna melihat Marco berdiri di depan pintu itu, menatapnya lama dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran antara kesedihan, rindu, dan ketakutan. Setiap kali Yuna bertanya, dia hanya akan tersenyum tipis dan berkata, "Belum saatnya, Sayang. Nanti aku akan ceritakan semuanya."
Keingintahuan Yuna semakin besar. Dia tahu Marco punya masa lalu yang kelam. Dia tahu dunianya penuh rahasia. Tapi dia juga tahu bahwa rahasia-rahasia itu perlahan mulai menghalangi mereka untuk benar-benar menjadi satu.
Suatu sore, saat Marco sedang menelepon di halaman belakang, Yuna berjalan menuju ruangan itu. Tangannya terhening di gagang pintu. Jantungnya berdebar kencang. Haruskah dia masuk? Atau haruskah dia menunggu Marco sendiri yang menceritakannya?
Belum sempat dia memutuskan, suara Marco terdengar dari belakangnya.
"Yuna?"
Yuna berbalik dengan terkejut. Marco berdiri di sana, wajahnya tidak marah, tapi terlihat terkejut dan sedikit cemas.
"Maaf... aku hanya penasaran," aku Yuna pelan, menunduk sedikit. "Aku tidak bermaksud tidak sopan."
"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu adalah istriku. Tidak ada rahasia di antara kita selamanya. Hanya saja... cerita di balik pintu ini menyakitkan. Dan aku takut melihatmu kecewa padaku setelah mengetahuinya."
Yuna menggenggam tangannya erat. "Aku mencintaimu, Marco. Bukan hanya bagian baikmu. Tapi seluruh mu. Termasuk masa lalu mu, bebanmu, dan rahasiamu. Bagaimanapun ceritanya, aku ingin tahu. Karena aku ingin menjadi tempat di mana kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi."
Marco menatapnya lama, lalu perlahan menghela napas panjang. Dia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka.
Ruangan itu bukanlah ruangan yang menakutkan seperti yang dibayangkan Yuna. Justru sebaliknya — ruangan itu penuh kenangan. Ada rak buku yang rapi, meja kayu tua, dan di dinding tergantung sebuah lukisan besar seorang wanita muda yang cantik, tersenyum lembut. Di sudut ruangan, ada kotak-kotak berisi surat dan foto-foto lama.
"Ini... siapa dia?" tanya Yuna pelan, menunjuk lukisan itu.
Marco berdiri diam menatap lukisan itu. Matanya terlihat berkaca-kaca untuk pertama kalinya bukan karena kesedihan yang menyakitkan, tapi karena rindu yang mendalam.
"Dia adalah ibuku," jawabnya pelan. "Dia meninggal saat aku berusia sepuluh tahun. Di bunuh oleh musuh ayahku. Di depan mataku."
Yuna menutup mulutnya dengan tangan, terkejut sekaligus terharu. Dia berjalan mendekat dan memeluk pinggang Marco dari samping, mendekatkan dirinya ke lelaki itu.
"Itulah sebabnya aku menjadi Qing yang dingin dan kejam. Setelah dia pergi, aku belajar bahwa menjadi lemah berarti celaka. Bahwa tidak boleh ada yang tahu apa yang kau rasakan, karena perasaan adalah kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh. Aku membangun tembok setinggi mungkin di hatiku, berharap tidak ada yang bisa menyakitiku lagi."
Dia menunjuk ke arah meja, di mana ada sebuah buku harian kecil yang tertutup debu tipis.
"Ini buku hariannya. Dia menulis untukku setiap hari, berharap aku akan membacanya saat aku sudah cukup dewasa untuk mengerti. Tapi aku terlalu marah pada dunia untuk membacanya. Sampai hari ini."
Marco mengambil buku itu, menyekanya dengan lembut. Lalu dia menyerahkannya kepada Yuna.
"Dia menulis tentang kebaikan, tentang keberanian, tentang mencintai meski berisiko. Dia adalah wanita yang sangat lembut namun sangat kuat. Kadang aku merasa takut... takut aku tidak layak dicintai, karena aku tidak sebaik dia. Tapi kamu... kamu mengingatkanku padanya, Yuna. Kebaikanmu, keberanianmu, caramu mencintai meski aku tidak mudah dicintai... itu persis seperti dia."
Yuna membuka buku harian itu perlahan. Halaman pertama tertulis:
"Untuk anakku, pahlawan kecilku. Jangan pernah biarkan dunia ini mengubah hatimu yang baik. Menjadi kuat bukan berarti menjadi keras. Menjadi kuat berarti tetap mencintai meski pernah terluka."
Air mata menetes di pipi Yuna. Dia menutup buku itu dan meletakkannya di meja, lalu memeluk Marco erat-erat, menempelkan dahinya ke dadanya.
"Kamu tidak perlu sempurna untukku. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Dan hatimu tidak pernah hilang, Marco. Itulah sebabnya kamu mencintaiku. Itulah sebabnya kamu melindungi orang-orang yang kamu sayangi. Kamu baik... bahkan lebih baik dari yang kamu sadari."
Marco memeluknya kembali, merasa sepotong hati yang lama hilang dan terluka akhirnya menemukan tempatnya lagi. Dia mencium puncak kepala Yuna, merasa lega yang luar biasa — beban berat yang dipikulnya selama dua puluh tahun perlahan terangkat dari pundaknya.
"Terima kasih sudah tidak pergi. Terima kasih sudah mau mengenal seluruh diriku," bisiknya pelan.
"Mulai sekarang, kita hadapi semuanya bersama-sama. Masa lalu, masa depan, suka maupun duka. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi tembok di antara kita," janji Yuna tulus.
Namun di tengah kehangatan itu, di sudut lain ruangan, ada sebuah foto lama yang terbalik. Di bagian belakangnya, tertulis sebuah nama yang belum pernah disebutkan siapa pun — sebuah nama yang jika terungkap, akan mengubah segalanya.
Tapi untuk hari ini, mereka cukup berbahagia. Cukup saling memahami. Dan kebenaran itu... akan menunggu saat yang tepat untuk terungkap.
BERSAMBUNG...