Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 5
Kayu penyangga pintu yang sudah lapuk itu bergetar hebat saat sebuah tendangan keras menghantamnya dari luar. Belum sempat Shen Jue melangkah lebih mendekat, daun pintu gubuknya terdorong paksa hingga terbuka lebar, menghembuskan debu-debu tanah yang beterbangan disiram cahaya siang.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun melangkah masuk tanpa permisi. Wajahnya yang bulat berona kemerahan akibat terik matahari, dipadukan dengan sepasang mata kecil yang memancarkan keserakahan yang tidak berusaha disembunyikan. Dialah Zhao Feng, atau yang biasa dipanggil Paman Zhao oleh warga desa. Di belakangnya, berdiri anak laki-lakinya, Zhao Huo, yang tadi pagi baru saja membangkitkan Roh Ayam Jantan.
"Shen Jue! Kau masih punya muka untuk sembunyi di dalam rumah?" seru Zhao Feng dengan nada kasar, matanya menyapu sekeliling gubuk yang kosong melompong dengan tatapan merendahkan.
Shen Jue menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan pria tambun itu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap dua tamu tak diundang tersebut dengan binar mata yang teramat tenang.
"Ada urusan apa Paman Zhao merusak pintu rumah orang siang-siang begini?" tanya Shen Jue dengan nada datar tanpa bisikan ketakutan sedikit pun.
Zhao Feng agak tertegun melihat reaksi anak itu. Biasanya, anak yatim piatu ini akan langsung menunduk gemetar dan bersembunyi di balik tikar jika ia membentaknya. Namun hari ini, anak kurus di depannya berdiri begitu tegap dengan tatapan mata yang mendominasi, seolah-olah dialah pemilik tempat ini dan Zhao Feng hanyalah seekor pengganggu kecil.
Zhao Feng berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya, lalu maju satu langkah sambil menunjuk wajah Shen Jue. "Jangan pura-pura lupa, bocah sialan! Ayahmu dulu menunggak sewa tanah di dekat perbatasan hutan sebanyak lima puluh koin perunggu! Sekarang ayahmu sudah mati, dan kau baru saja membangkitkan roh sampah yang tidak ada gunanya. Bagaimana caramu membayar utang keluargamu?"
Zhao Huo yang berdiri di belakang ayahnya ikut melipat tangan sambil tersenyum sinis. "Benar! Kau cuma membangkitkan belati rongsok tumpul! Mau sampai mati pun kau tidak akan pernah punya lima puluh koin perunggu!"
Shen Jue menyipitkan matanya. Dari ingatan anak pemilik tubuh ini, almarhum ayahnya selalu membayar sewa tanah secara rutin setiap bulan kepada kepala desa, bukan kepada Zhao Feng. Pria tambun ini hanya memanfaatkan situasi setelah melihat Shen Jue membangkitkan roh yang dianggap tidak berharga, berharap bisa mengusir anak itu dan menguasai gubuk serta sebidang tanah kecil di belakang rumah ini.
"Utang?" tanya Shen Jue sambil mengukir senyum tipis di bibir pucatnya. "Seingatku, Ayah selalu menyerahkan hasil panen langsung kepada Tetua Desa. Sejak kapan Paman Zhao jadi penagih sewa tanah desa?"
Wajah Zhao Feng mendadak berubah menjadi merah padam karena rahasia kelicikannya dibongkar secara langsung. "Jaga mulutmu, bocah tidak tahu diri! Kau pikir siapa yang akan percaya pada omongan anak yatim piatu tanpa masa depan sepertimu? Hari ini, kalau kau tidak bisa menyerahkan lima puluh koin perunggu atau sertifikat tanah ini, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!"
Zhao Feng mengepalkan tangannya yang tebal. Energi spiritual yang dangkal merambat naik dari lengannya, lalu sebuah parang besi pendek yang tumpul dan kasar mewujud di genggaman tangan kanannya. Itu adalah Roh Senjata miliknya, Parang Pemotong Kayu.
"Jangan salahkan aku kalau kulitmu yang tipis itu harus terluka!" ancam Zhao Feng sambil mengangkat parang besinya, melangkah maju hendak mencengkeram kerah baju Shen Jue.
Namun, bukannya mundur atau menjerit minta tolong, Shen Jue justru memiringkan kepalanya sedikit. Penglihatannya yang tajam langsung menganalisis pergerakan Zhao Feng. Sebagai seorang mantan master tempa, Shen Jue tidak hanya paham tentang struktur logam, tetapi juga memahami jalur aliran energi di dalam tubuh manusia.
Ia melihat dengan sangat jelas bagaimana energi spiritual Zhao Feng mengalir tersendat-sendat di bahu kanannya. Pria ini pasti pernah mengalami cedera otot parah akibat mengangkat beban berlebih saat muda, meninggalkan bekas luka pada meridian utamanya yang membuat aliran roh di lengan kanannya selalu tidak stabil.
Saat telapak tangan Zhao Feng yang memegang parang tinggal beberapa senti dari dadanya, Shen Jue bergerak.
Gerakannya tidak cepat, tetapi sangat presisi dan efisien. Ia merendahkan tubuhnya setengah inci, mengelak dari cengkeraman Zhao Feng tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Bersamaan dengan itu, jemari kanan Shen Jue yang secara tersembunyi memegang belati kecil berkarat melesat maju, menyentuh tepat pada titik persendian bahu kanan Zhao Feng.
Tusukan itu sama sekali tidak melukai kulit atau menembus daging. Bilah belati yang tumpul itu hanya menekan halus pusat alur energi di bahu pria itu.
Srrtt!
Suara desiran halus yang tak terdengar oleh telinga biasa tercipta saat belati berkarat itu memotong alur energi spiritual milik Zhao Feng secara mutlak.
"Aagghh!" jerit Zhao Feng tiba-tiba.
Parang besi di tangannya seketika hancur berubah menjadi gumpalan asap abu-abu dan menghilang. Pria tambun itu melangkah mundur tiga tindak dengan wajah pucat pasi. Lengan kanannya yang tadi terangkat kini terkulai lemas di samping tubuhnya, menggantung seperti sepotong daging mati tanpa tenaga sedikit pun.
"L-lenganku! Kenapa lenganku tidak bisa digerakkan?!" pekik Zhao Feng histeris dengan tangan kiri memegangi bahu kanannya yang mendadak dingin membeku.
Zhao Huo yang melihat ayahnya menjerit langsung panik dan maju menghampiri. "Ayah! Ada apa dengan tangan Ayah?"
Zhao Feng mencoba mengerahkan energi spiritualnya untuk menggerakkan jemarinya, tetapi saluran energinya di bahu sudah terputus total. Lengan kanannya terasa sama sekali bukan milik tubuhnya lagi. Rasa takut yang sangat pekat mencengkeram dadanya saat ia menatap Shen Jue yang berdiri tenang di depannya.
Shen Jue menyembunyikan belati berkaratnya kembali ke dalam jiwa, lalu mengibaskan debu dari lengan bajunya dengan santai.
"Paman Zhao, cedera tua di bahu kananmu itu sudah merusak pembuluh energimu sejak lama," ucap Shen Jue dengan nada suara yang begitu meyakinkan, dingin, dan penuh wibawa. "Tadi sewaktu kau memaksakan energi rohmu untuk mengancamku, pembuluh itu pecah dari dalam. Kalau aliran roh di lengan itu mati total selama tiga hari, dagingnya akan membusuk dan lenganmu harus dipotong."
Wajah Zhao Feng seketika berubah menjadi pucat seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes deras dari pelipisnya. Sebagai rakyat biasa di desa terpencil, ia sama sekali tidak paham tentang seluk-beluk meridian tubuh. Mendengar penjelasannya yang terdengar begitu masuk akal dari mulut Shen Jue yang berekspresi dingin bagai tabib ulung, nyalinya langsung ciut menjadi abu.
"K-kau... bagaimana kau bisa tahu?!" tanya Zhao Feng dengan suara gemetar hebat.
"Aku memang hanya membangkitkan belati kecil," sahut Shen Jue sambil melangkah satu tindak mendekati Zhao Feng, membuat pria itu secara refleks mundur ketakutan. "Tapi belati ini punya kepekaan tinggi terhadap aliran energi yang rusak. Hanya aku yang tahu titik mana di bahumu yang harus ditekan untuk menyambung kembali saluran energinya sebelum lenganmu benar-benar membusuk."
Zhao Feng menelan ludah kasar. Ketakutan akan kehilangan lengannya jauh melampaui rasa rakusnya untuk merebut tanah gubuk ini. Ia memegang lengan kanannya yang terkulai mati, lalu menatap keranjang bambu yang dibawa oleh anaknya, Zhao Huo. Di dalam keranjang itu terdapat sepuluh pon beras putih dan sepotong daging babi asap yang tadi pagi baru mereka beli dari pasar kota.
"S-Shen Jue... tolong aku! Kita ini tetangga!" ratap Zhao Feng dengan suara memelas, tidak ada lagi sisa-sisa kesombongannya yang tadi. "Tolong obati tanganku! Aku... aku tidak akan pernah menagih utang itu lagi!"
Shen Jue menatap keranjang bambu di tangan Zhao Huo dengan binar mata yang puas. Tubuh kecilnya saat ini sangat membutuhkan asupan gizi berkualitas untuk memulihkan daya tahan fisiknya sebelum ia bisa mulai melatih kekuatan jiwanya lebih lanjut.
"Tinggalkan keranjang bahan makanan itu dan lima belas koin perunggu di meja," kata Shen Jue datar tanpa tawar-menawar. "Sebagai ganti biaya pengobatan awal untuk menyangga lenganmu."
Zhao Feng tidak berpikir dua kali. Tanpa memedulikan Zhao Huo yang hendak memprotes, ia merebut keranjang bambu itu dan meletakkannya di atas meja kayu dengan tergesa-gesa, beserta sekantong kecil koin perunggu yang ia keluarkan dari sakunya.
"Sudah! Sudah aku taruh di meja!" seru Zhao Feng panik. "Sekarang tolong lenganku!"
Shen Jue melangkah mendekat. Tanpa menggunakan belatinya lagi, ia hanya menekan dua titik akupunktur biasa di sekitar bahu Zhao Feng menggunakan ibu jarinya dengan sedikit dorongan tenaga fisik. Tekanan itu sekadar melancarkan aliran darah lokal yang tadi sempat tersumbat oleh benturan energi.
"Uhh!" desah Zhao Feng saat rasa hangat perlahan kembali ke jemarinya. Ia mencoba menggerakkan telunjuknya, dan jari itu mulai bisa menekuk kembali walau masih terasa agak lemah.
"Aliran utamanya sudah saya sangga sementara," kata Shen Jue sambil menarik tangannya kembali. "Dalam tiga hari ke depan, jangan pernah mencoba memanggil roh parangmu lagi kalau tidak mau lenganmu lumpuh permanen. Sekarang, keluar dari rumahku."
"B-baik! Terima kasih, Shen Jue!" pungkasi Zhao Feng setengah berlari keluar dari gubuk sambil memegangi tangannya, diikuti oleh Zhao Huo yang berlari ketakutan di belakangnya.
Pintu gubuk kembali sepi saat langkah kaki kedua orang itu menghilang di kejauhan.
Shen Jue berjalan menuju meja kayu, menatap keranjang beras putih, daging asap, dan kantong berisi lima belas koin perunggu. Ia mengukir senyum tipis yang puas, menyadari bahwa di dunia yang penuh dengan manusia dangkal ini, kecerdikan dan penguasaan pengetahuan jauh lebih mematikan daripada sekadar ayunan senjata tajam yang kasar.
"Bahan makanan yang cukup untuk dua minggu," gumam Shen Jue pelan sambil mengangkat potongan daging asap itu. "Sekarang, proses pemulihan fisikku yang sebenarnya baru bisa dimulai."