Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran yg terlambat
Air hujan malam itu tumpah begitu deras, mengguyur jalanan dan membasahi sekujur tubuh mereka tanpa ampun. Namun, di bawah teras rumah yang sempit, dunia seolah berhenti berputar bagi keduanya.
Elena membenamkan wajahnya di dada bidang Julian, melingkarkan kedua tangannya dengan erat seolah pria itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai yang menghancurkan dunianya. Di tengah deru air hujan yang menghantam atap, Julian langsung menyadari getaran hebat di tubuh mungil itu.
Isakan tertahan yang lolos dari bibir Elena langsung meremukkan hati Julian.
Tanpa berpikir dua kali, Julian membungkuk dan mengangkat tubuh Elena dalam gendongannya, membawanya menepi ke sudut teras yang lebih kering dan terlindung dari cipratan air hujan. Ia mendudukkan Elena di atas kursi teras, sementara dirinya tetap berdiri di hadapan gadis itu, langsung merengkuh dan mendekap erat tubuh yang menggigil tersebut.
Julian membiarkan Elena meluapkan segala kesedihannya. Tangannya yang hangat tak henti-hentinya memberikan belaian halus di rambut basah Elena, menyalurkan ketenangan di tengah hantaman badai emosi yang melanda.
Di dalam dekapannya, isak tangis Elena kian pecah. Suaranya bergetar hebat, tercekat di tenggorokan, seiring dengan pecahan-pecahan luka lama yang kembali mencuat ke permukaan.
"Jules... Kenapa susah banget..." rintih Elena di tengah isakannya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan, namun terdengar begitu pilu di telinga Julian.
"Kenapa aku nggak bisa lupain dia...? Kenapa rasanya sakit banget..."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa saring, tanpa malu. Elena mengutarakan seluruh beban kepedihan tentang Nathaniel—pria yang telah meninggalkan luka mendalam, bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya meskipun ia tahu pria itu sudah lama menutup pintu baginya. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri, merasa bersalah pada Julian yang telah memperlakukannya dengan begitu tulus, namun hatinya masih tersangkut di reruntuhan masa lalu.
Mendengar pengakuan itu, dada Julian bergemuruh. Ada rasa nyeri yang mencubit ulu hatinya—menyadari bahwa di pelukannya saat ini, raga gadis itu memang bersamanya, namun sebagian jiwa Elena masih tertinggal dan tersiksa oleh bayang-bayang pria lain.
Namun, alih-alih marah atau merasa tersaingi, gelombang rasa protektif yang jauh lebih besar justru membuncah di dalam diri Julian. Ia semakin mempererat dekapannya, menenggelamkan kepala Elena di ceruk lehernya, lalu mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Sstt... it's okay, El. Nangis aja, keluarin semuanya," bisik Julian serak di dekat telinga Elena, suaranya penuh ketulusan yang menembus deru hujan.
"Aku di sini. Aku nggak akan kemana-mana. Pelan-pelan... kita lewatin ini bareng-bareng, ya?"
Deru air hujan yang masih menimpa atap teras seolah mengiringi hantaman badai lain yang kini berbalik menerpa batin Julian.
Di tengah usahanya menenangkan Elena yang masih terisak di dalam dekapannya, sebuah kesadaran telak menghantam kesadaran Julian. Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan emosional yang selama ini ia bangun runtuh, meninggalkan rasa gamang dan keraguan luar biasa yang mendesak dadanya.
Pikiran Julian melayang jauh, menembus jarak ke apartemennya, pada sosok Claire wanita yang berstatus sebagai kekasih resminya, wanita yang sudah merencanakan masa depan bersama dan dijadwalkan akan ia nikahi tahun depan.
Claire adalah wanita yang baik, mandiri, dan sangat pengertian. Hubungan open-relationship yang mereka jalani berjalan transparan, tanpa beban. Namun, malam ini, sebuah kenyataan pahit menampar Julian dengan keras: ia tidak pernah merasa cemas.
Selama bertahun-tahun bersama Claire, Julian tidak pernah sekalipun merasakan secuil pun rasa cemburu, tidak pernah ketakutan setengah mati, dan tidak pernah merasa hancur ketika bayangan Claire bersama pria lain melintas di kepalanya. Hubungan itu nyaman, rasional, dan aman tetapi kosong dari kobaran api yang sesungguhnya.
Sebaliknya, menyaksikan bagaimana hancurnya ia malam ini hanya karena melihat air mata Elena yang menetes untuk pria lain, rasanya seperti sebuah belenggu besi yang menghantam keras tepat di ulu hatinya, meninggalkan rasa sesak yang hampir merenggut pernapasannya.
Julian menunduk, menatap wanita dalam dekapannya yang masih rapuh. Ia menyadari sebuah kebenaran mutlak yang selama ini ia tepis rapat-rapat di balik topeng persahabatan mereka: Claire mungkin adalah wanita yang akan ia nikahi di atas kertas tahun depan, tetapi Elena...
Elena adalah satu-satunya pemilik jiwanya seutuhnya.
Rasa takut kehilangan Elena jauh lebih mengerikan daripada ketakutan apapun di dunia ini. Dan fakta bahwa ia baru menyadari kedalaman cintanya saat Elena tengah menangisi pria masa lalunya, membuat Julian merasa terjebak dalam dilema yang teramat kejam.
Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur dini hari itu, Julian mempererat dekapannya. Apapun konsekuensinya di masa depan termasuk bayangan pernikahannya dengan Claire untuk saat ini, Julian tahu ia tidak akan pernah sanggup melepaskan gadis di pelukannya.
ayo tor lanjutin update nya