“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Pelukan Setelah Badai
Suara dari pengeras rumah sakit tua itu masih bergema di kepala Bianca.
Karena malam ini, salah satu dari kalian akan mengetahui bahwa cinta kalian mungkin merupakan dosa yang telah direncanakan sejak sebelum kalian dilahirkan.
Bianca menatap Dante. Wajah suaminya begitu pucat hingga ia hampir tidak mengenali pria yang biasanya selalu tampak tak terkalahkan itu.
“Dante,” panggilnya pelan. “Kau mengenali suara tadi, bukan?”
Dante tidak segera menjawab. Ia memasukkan pistolnya ke balik jas, lalu menoleh kepada Marco.
“Bawa Adrian ke mobil. Periksa seluruh jalan keluar. Tidak seorang pun meninggalkan tempat ini tanpa sepengetahuanku.”
“Baik, Don.”
Setelah Marco pergi, Bianca kembali berdiri di hadapan Dante.
“Jangan menghindariku.”
“Aku tidak menghindar.”
“Kau bahkan tidak berani menatap mataku.”
Kalimat itu membuat Dante terdiam. Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap Bianca. Mata biru safirnya menyimpan sesuatu yang belum pernah dilihat Bianca sebelumnya: ketakutan yang begitu dalam hingga nyaris menyerupai keputusasaan.
“Suara itu milik seseorang bernama Gabriel,” katanya akhirnya. “Dia adalah tangan kanan ayahku selama bertahun-tahun.”
“Bukankah dia sudah meninggal?”
“Begitulah yang diberitahukan kepadaku.”
“Siapa yang memberitahumu?”
Dante menarik napas panjang.
“Ayahku sendiri.”
Bianca merasakan bulu kuduknya meremang.
“Jadi, ayahmu mungkin memalsukan kematian orang kepercayaannya?”
“Aku tidak tahu.” Dante mengusap rahangnya. “Namun, jika Gabriel masih hidup, berarti ada seseorang yang sengaja menghapus jejaknya dari semua catatan keluarga.”
“Dan seseorang itu mungkin tahu siapa ayah kandungku.”
Dante mengangguk.
Bianca menunduk. Terlalu banyak rahasia bermunculan dalam waktu singkat. Ia baru saja menemukan Adrian, mengetahui kemungkinan bahwa identitasnya telah disembunyikan sejak lahir, dan sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang dianggap telah mati selama dua belas tahun mungkin masih hidup.
“Aku lelah, Dante,” bisiknya. “Aku lelah mencari jawaban yang selalu melahirkan pertanyaan baru.”
Dante mendekat satu langkah.
“Bianca…”
“Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri sekarang.”
Suara Bianca pecah. Ia berusaha menahan air matanya, tetapi semuanya terasa terlalu berat.
Dante mengulurkan tangan, lalu berhenti sejenak.
“Bolehkah aku memelukmu?”
Pertanyaan sederhana itu justru meruntuhkan pertahanan Bianca.
Ia mengangguk.
Dante menariknya ke dalam pelukan. Bianca menyandarkan wajah di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang terdengar kuat dan teratur. Lengan Dante melingkari tubuhnya dengan hati-hati, seolah ia sedang memegang sesuatu yang sangat berharga dan takut merusaknya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Bianca membiarkan dirinya menangis tanpa berusaha terlihat kuat.
Dante tidak memintanya berhenti. Ia hanya mengusap rambut Bianca perlahan.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa semua jawaban yang kita temukan akan menyenangkan,” bisik Dante. “Tetapi aku berjanji tidak akan sengaja membiarkanmu menghadapi kebenaran sendirian.”
Bianca mencengkeram bagian belakang jasnya.
“Jangan berbohong kepadaku.”
“Aku akan berusaha mengatakan semuanya, bahkan ketika kebenaran itu membuatmu membenciku.”
Bianca mengangkat wajah. Jarak mereka begitu dekat sehingga ia dapat melihat bayangan dirinya di mata Dante.
“Dan jika ternyata keluargaku memang musuh keluargamu?”
Dante menyentuh pipinya dengan lembut.
“Kalau begitu, kita akan menghadapi masa lalu mereka tanpa membiarkan masa lalu menentukan apa yang harus kita rasakan.”
Bianca menatapnya lama, lalu mendekat dan memeluknya sekali lagi.
Di tengah kekacauan yang mengelilingi mereka, pelukan itu menjadi satu-satunya tempat yang terasa aman.
Mereka kembali ke Villa Vieri menjelang pukul tiga dini hari.
Adrian segera dibawa ke kamar tamu dan diperiksa oleh dokter keluarga. Luka-lukanya cukup serius, tetapi tidak mengancam nyawanya. Setelah memastikan kakaknya mendapatkan perawatan, Bianca berjalan ke balkon kamar Dante.
Hujan telah berhenti. Kota Roma terbentang di kejauhan, diterangi lampu-lampu yang berkilauan di balik kabut tipis.
Bianca berdiri di dekat pagar balkon, memeluk tubuhnya sendiri.
Ia mendengar pintu terbuka, tetapi tidak menoleh ketika Dante menghampirinya.
“Dokter mengatakan Adrian perlu beristirahat,” kata Dante. “Dia akan baik-baik saja jika tidak ada komplikasi.”
“Syukurlah.”
Dante berdiri di sampingnya.
“Dia meminta bertemu denganmu besok pagi.”
“Aku ingin berada di sisinya sekarang.”
“Kau boleh masuk kapan saja. Tetapi kau juga perlu beristirahat.”
Bianca tertawa kecil tanpa kegembiraan.
“Kau terdengar seperti dokter.”
“Jangan menghina dokter. Mereka bekerja lebih keras daripada sebagian besar orang yang kukenal.”
Bianca akhirnya menoleh. Untuk sesaat, senyum tipis muncul di bibirnya.
Dante memperhatikan senyum itu seolah baru saja menerima sesuatu yang sangat berharga.
“Aku suka ketika kau tersenyum,” katanya.
“Jangan mulai merayuku hanya karena kau merasa bersalah.”
“Aku tidak merasa bersalah karena ingin melihatmu bahagia.”
“Lalu apa yang membuatmu merasa bersalah?”
Pertanyaan itu menghapus senyum Dante.
Bianca menatapnya dengan serius.
“Dante, pesan yang kita terima tadi mengatakan cinta kita mungkin telah direncanakan sebelum kita lahir. Aku tidak tahu apa maksudnya, tetapi aku tidak ingin kau menyembunyikan sesuatu yang berkaitan denganku.”
Dante memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang pernikahan kita.”
Jantung Bianca berdegup lebih cepat.
“Apa?”
“Perjanjian yang dibuat antara keluarga Vieri dan Laurent jauh lebih tua daripada yang kukatakan kepadamu.”
“Seberapa tua?”
“Sekitar tiga puluh tahun.”
Bianca mengerutkan kening. “Aku bahkan belum lahir saat itu.”
“Benar.”
Dante menjelaskan bahwa ayahnya pernah membuat kesepakatan rahasia dengan seorang anggota keluarga Laurent. Perjanjian tersebut menyangkut perlindungan aset, sebuah dokumen kepemilikan, dan sesuatu yang disebut Protokol Delapan Kelopak.
Nama itu membuat Bianca teringat pada lambang bulan sabit yang terus muncul dalam penyelidikan mereka.
“Apakah pernikahan kita bagian dari perjanjian tersebut?” tanyanya.
“Tidak secara langsung.” Dante berhenti sejenak. “Tetapi seseorang mungkin telah menggunakan perjanjian lama itu untuk memastikan keluarga kita kembali terikat.”
“Siapa?”
“Aku belum tahu.”
Bianca menggeleng, kecewa.
“Selalu jawaban yang sama.”
“Aku tidak akan mengarang jawaban hanya agar kau merasa lebih tenang.”
Bianca terdiam. Ia tahu Dante benar, meskipun sulit menerimanya.
“Kalau begitu, berjanjilah satu hal kepadaku.”
“Katakan.”
“Jika suatu hari kau mengetahui bahwa pernikahan ini memang direncanakan oleh orang lain, jangan biarkan mereka menentukan apakah kita harus tetap bersama atau berpisah.”
Dante menatapnya dalam-dalam.
“Aku menikahimu karena sebuah kesepakatan,” katanya. “Namun, perasaanku kepadamu bukan bagian dari kesepakatan itu.”
Bianca merasakan dadanya menghangat, meski ketakutan masih mengendap di hatinya.
Dante mengangkat tangannya, menyentuh pipinya, lalu berhenti sejenak untuk memberi Bianca kesempatan menjauh.
Bianca justru mendekat.
Ciuman mereka lembut dan singkat. Tidak ada tuntutan di dalamnya, hanya keinginan untuk memastikan bahwa di tengah semua rahasia, mereka masih memiliki sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri.
Ketika mereka berpisah, Dante menyandarkan dahinya pada dahi Bianca.
“Aku tidak tahu bagaimana akhir semua ini,” bisiknya.
“Aku juga tidak.”
“Tetapi aku ingin kau tetap di sisiku.”
Bianca menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, berhentilah mencoba melindungiku dengan menyembunyikan kebenaran.”
Dante mengangguk. “Aku akan mengingatnya.”
Pagi datang bersama kabar buruk.
Bianca baru saja selesai mengganti pakaian ketika Marco mengetuk pintunya dan memberitahukan bahwa Adrian telah terbangun. Ia segera bergegas menuju kamar tamu.
Adrian duduk bersandar pada bantal dengan wajah pucat. Di samping ranjangnya terdapat segelas air dan beberapa obat.
“Adrian!”
Kakaknya tersenyum lemah. “Kau selalu berlari seperti itu sejak kecil.”
Bianca langsung memeluknya, kali ini lebih hati-hati agar tidak melukai tubuhnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi.”
“Aku akan berusaha tidak menghilang.”
Bianca duduk di sisi ranjang.
“Aku ingin tahu semuanya tentang surat ayah dan Rafael Moretti.”
Adrian menghela napas.
“Aku belum menemukan seluruh jawabannya. Tetapi sebelum aku ditangkap, aku sempat menyimpan salinan dokumen di tempat yang tidak akan mereka cari.”
“Di mana?”
“Rumah lama kita.”
Bianca terdiam.
Rumah masa kecil mereka telah lama ditinggalkan setelah ibunya meninggal. Ayah mereka menjual sebagian besar properti keluarga, tetapi rumah itu tetap menjadi tempat yang tidak pernah ingin Bianca kunjungi lagi.
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?”
“Karena aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Adrian melirik pintu, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarkan.
“Bianca, ada satu hal lagi. Sebelum aku dibawa pergi, aku mendengar Luciano berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dia mengatakan bahwa pernikahanmu dengan Dante telah membuat rencana mereka berubah.”
“Rencana apa?”
“Aku tidak tahu. Tetapi dia menyebut satu nama.”
Adrian meraih tangan adiknya.
“Isabella Moretti.”
Bianca membeku.
Isabella, perempuan dari masa lalu Dante yang selalu muncul membawa potongan-potongan rahasia, mungkin mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini ia akui.
“Menurutmu, dia bekerja untuk Luciano?”
“Aku tidak tahu apakah dia sekutu atau musuhnya. Namun, aku yakin dia terlibat.”
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
Dante berdiri di sana dengan sebuah amplop hitam di tangannya.
“Bianca,” katanya, “kau perlu melihat ini.”
Ia meletakkan amplop itu di atas meja.
Di dalamnya terdapat foto lama Elena Laurent yang sedang menggendong seorang bayi. Di sampingnya berdiri Alessandro Vieri, sementara wajah seorang pria ketiga telah dicoret dengan tinta merah.
Pada bagian belakang foto tertulis sebuah nama.
Gabriel Moretti.
Bianca menatap tulisan itu, lalu perlahan mengangkat wajah.
“Gabriel,” bisiknya. “Orang yang suaranya kita dengar semalam.”
Dante mengangguk.
“Dan Moretti adalah nama yang sama dengan Rafael.”
Sebelum siapa pun sempat berbicara, ponsel Dante berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan beberapa detik, lalu ekspresinya berubah muram.
“Apa yang terjadi?” tanya Bianca.
Dante menurunkan ponselnya.
“Isabella baru saja menghilang dari apartemennya.”
“Diculik?”
“Tidak ada tanda-tanda perlawanan.” Dante menatap foto di atas meja. “Dia pergi atas kemauannya sendiri.”
Bianca merasakan firasat buruk menjalar di dadanya.
Di balik foto itu, ada tulisan kecil yang sebelumnya tertutup lipatan kertas.
Ia membaliknya.
Jika kalian ingin mengetahui siapa anak yang sebenarnya dibawa pulang oleh Elena, temukan Isabella sebelum Luciano menemukannya.
Bianca menatap Dante.
Ketenangan singkat yang mereka temukan setelah badai kini kembali runtuh.
Dan kali ini, mereka tidak hanya mencari kebenaran tentang masa lalu.
Mereka sedang berlomba menyelamatkan seseorang yang mungkin memegang jawaban atas seluruh rahasia keluarga Vieri.
Bersambung — Bab 17: Pengkhianat di Meja Makan
jangan lupa mampirr🤭