Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Satu hari
Arhan mengangguk pelan. Ia tahu pria yang duduk di hadapannya adalah Baskara, ayah Nadira sekaligus seseorang yang selama ini selalu menghargai dan memperlakukannya dengan baik. Namun, kali ini ia tidak bisa menghindari tatapan kecewa yang terpancar dari wajah mertuanya.
"Saya tahu, Yah. Saya datang ke sini memang untuk menjelaskan semuanya," jawab Arhan dengan suara rendah.
Baskara mengusap punggung Naya yang duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu tampak beberapa kali melirik ke arah sang ayah, tetapi belum berani mendekat.
"Kalau begitu, duduklah. Saya ingin mendengar langsung dari mulutmu, mengapa kamu bisa membuat Nadira bersedih, bukankah kamu sudah berjanji kepada saya untuk menjaga dan selalu melindungi anak perempuan saya?"
Arhan menarik napas panjang sebelum duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua mertuanya. Sementara itu, Nadira hanya diam. Wanita tersebut duduk di samping ibunya dengan kedua tangan saling bertaut di atas pangkuan.
"Maafkan saya, Yah. Saya benar-benar tidak pernah menyangka Ibu dan adik-adik saya akan melakukan hal sejauh ini," ucap Arhan.
"Jangan meminta maaf sebelum menjelaskan semuanya," sahut Baskara tegas. "Saya ingin tahu, apakah selama ini kamu memang tidak mengetahui apa yang mereka lakukan terhadap Naya?"
Arhan menggeleng.
"Saya memang mengetahui bahwa Ibu beberapa kali meminta bantuan uang. Saya juga tahu Jordi dan Siska sering menggunakan uang yang saya berikan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, saya tidak pernah tahu kalau Ibu sampai mengambil uang sekolah Naya, mengurus apartemen yang sudah saya siapkan untuk anak saya, bahkan mengambil formulir pendaftaran sekolahnya."
Raut wajah Baskara semakin mengeras. "Jadi, kamu tidak tahu atau sebenarnya tidak mau tahu?"
Pertanyaan itu membuat Arhan terdiam.
"Ayah," sela Nadira pelan. Ia melirik ayahnya sebelum kembali menatap suaminya. "Aku rasa Arhan sudah memahami kesalahannya. Biarkan dia menjelaskan semuanya terlebih dahulu."
Baskara mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya masih menyimpan banyak kemarahan, tetapi memilih untuk tidak memotong pembicaraan putrinya. Arhan menatap Nadira sekilas. Ada rasa bersalah yang semakin besar ketika melihat istrinya masih berusaha memberinya kesempatan untuk menjelaskan diri.
"Saya mengakui bahwa selama ini saya terlalu memanjakan keluarga sendiri. Setiap kali mereka meminta bantuan, saya selalu berusaha memenuhinya. Saya pikir dengan membantu mereka, saya bisa menjalankan tanggung jawab sebagai anak sulung."
"Dan di mana tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan ayah?" potong Tuan Wijaya.
Arhan menundukkan kepala.
"Saya salah, Pak."
"Salah?" Tuan Wijaya tertawa hambar. "Arhan, kamu tahu berapa lama Nadira berusaha menyiapkan masa depan Naya? Dia bahkan ikut memikirkan sekolah terbaik untuk anak kalian. Namun, semua itu justru dipermainkan oleh keluargamu."
"Saya tahu, Pak."
"Tidak! Saya rasa kamu belum benar-benar tahu." Suara Tuan Wijaya mulai meninggi. "Kalau kamu tahu, kamu tidak akan membiarkan mereka terus-menerus mengambil sesuatu yang menjadi hak anakmu. Kamu boleh menjadi anak yang berbakti, tetapi jangan sampai kamu melupakan bahwa setelah menikah, kamu juga memiliki keluarga yang harus dilindungi."
Arhan mengepalkan kedua tangannya di atas lutut.
"Saya sudah menemui mereka, Pak. Saya sudah meminta semua yang diambil dari Naya dikembalikan. Saya juga memberikan waktu satu minggu. Kalau mereka tidak mengembalikannya, saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum."
Widya yang merupakan ibunda dari Nadira yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Kamu yakin bisa melakukannya, Arhan? Mereka itu ibu dan saudara kandungmu sendiri."
Arhan mengangguk mantap. "Saya tidak punya pilihan lain, Bu. Selama ini saya selalu berusaha menyelesaikan masalah mereka dengan baik-baik. Tapi kalau itu justru membuat mereka semakin berani mengambil hak anak saya, saya tidak akan membiarkannya lagi."
Nadira akhirnya mengangkat wajah." Kamu yakin Arhan? Itu ibu dan keluargamu? Kamu rela mereka masuk penjara karena masalah ini?"
Arhan terdiam sejenak, ia tidak tahu harus apa. Lagi pula ibunya juga tidak akan mudah mengembalikan hal itu lagi.
" Kalau tidak melakukan ini? Apa yang harus aku lakukan Nadira? Ibu dan yang lain tidak akan melepaskan semua itu dengan mudah. "
Nadira terdiam sejenak, ia menatap suaminya itu. Melihat wajah suaminya itu ia tahu, bahwa Arhan benar benar bersalah dengan sikapnya selama ini dan ia juga tahu suaminya itu mulai merasa kecewa dengan sikap keluarganya.
"Besok adalah pendaftaran terakhir di sekolah itu, kamu tahu kan harus apa Arhan? Aku ga mau tahu pokoknya Naya harus bisa di sekolah elit itu."
Arhan mengangguk pelan. Tatapannya beralih kepada putrinya yang kini masih berada dalam pangkuan Baskara. Ia tahu betul bahwa Nadira tidak sedang membicarakan sesuatu yang bisa ditunda lagi. Pendaftaran sekolah Naya merupakan salah satu hal yang sudah mereka persiapkan sejak jauh-jauh hari. Namun, karena ulah keluarganya, semua rencana itu justru berantakan.
"Aku tahu, Nadira. Besok aku akan mengurus semuanya. Aku akan memastikan Naya tetap mendapatkan tempat di sekolah itu," jawab Arhan dengan suara mantap.
Nadira mengembuskan napas pelan. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa, berusaha menenangkan pikirannya yang sejak tadi dipenuhi berbagai hal. Sejujurnya, ia masih kecewa kepada Arhan. Bukan hanya karena uang sekolah Naya digunakan oleh keluarga suaminya, melainkan karena Arhan terlalu lama membiarkan keluarganya memperlakukan mereka seperti itu.
"Jangan sampai ada masalah lagi, Han. Aku sudah cukup lelah menghadapi semua ini. Aku tidak mau masa depan Naya terus-menerus menjadi korban karena kamu tidak bisa bersikap tegas kepada keluargamu sendiri."
Arhan menundukkan kepala. Ia menerima semua perkataan istrinya tanpa berusaha membantah.
"Aku mengerti. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka ikut campur dalam urusan keluarga kita lagi."
Baskara yang sejak tadi memperhatikan percakapan keduanya akhirnya mengusap kepala Naya dengan lembut. Pria paruh baya itu sebenarnya masih belum puas dengan penjelasan menantunya. Namun, ia juga tidak ingin terus memperkeruh suasana di hadapan cucu kesayangannya.
"Arhan, saya tidak peduli bagaimana caramu menyelesaikan masalah dengan keluargamu. Itu urusanmu. Tapi saya ingin kamu memahami satu hal."
Arhan mengangkat wajah.
"Jangan pernah menjadikan anak dan istrimu sebagai pihak yang harus menanggung akibat dari keputusanmu sendiri. Kamu sudah dewasa. Kamu seorang suami sekaligus ayah. Seharusnya kamu tahu mana yang harus diprioritaskan."
"Baik, Yah. Saya akan mengingatnya."
"Jangan hanya mengingatnya. Lakukan."
Arhan mengangguk kembali. Sementara itu, Widya yang duduk di samping Nadira tampak menghela napas. Ia kemudian meraih tangan putrinya dan mengusap punggung tangannya perlahan.
"Sudahlah, Nadira. Ibu rasa sekarang yang terpenting adalah memastikan urusan sekolah Naya selesai. Jangan sampai anak itu ikut memikirkan masalah orang dewasa."
Nadira mengangguk kecil. Widya kemudian menoleh kepada Arhan.
"Kamu sudah makan, Han?"
Arhan sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Di tengah suasana yang masih terasa canggung, ibu mertuanya justru menanyakan hal sederhana seperti itu.
"Belum, Bu."
"Kalau begitu, makanlah dulu. Sejak tadi kamu terlihat lelah. Ibu tidak ingin kalian terus bertengkar di depan Naya."
.....
Arhan dan Nadira kembali ke rumah Imah, mereka membawa satu pengacara untuk bisa merebut surat pendaftaran itu. Mereka tidak bisa menunggu lama lagi, karena pendaftaran sekolah terakhir adalah hari ini.
" Ngapain kalian disini! Saya ga bakal balikin surat pendaftaran itu dan apartemen itu! Itu sudah saya berikan kepada Arkan!" tegas Imah yang memijat Arhan dan Nadira bersama satu orang yang jelas ia tahu bahwa pria itu adalah pengacara.
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡