Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Aku turun untuk sarapan dan Alejandro sudah duduk di sana.
"Aku menunggumu untuk sarapan," kata Alejandro. Saat kulihat Sofía menuruni tangga, "temanku" langsung bereaksi, tapi aku harus menahan diri. Dia tampak sangat seksi dan luar biasa cantik.
"Maaf kalau membuatmu menunggu lama," kataku malu-malu.
"Jangan khawatir. Silakan duduk," kata Alejandro.
"Terima kasih. Mana Jessica?" tanyaku.
"Jessica tak bangun pagi, jadi jangan pikirkan dia," kata Alejandro.
Kami selesai sarapan.
"Kau pergi denganku?" tanya Alejandro.
"Oh, tidak, jangan khawatir, aku naik taksi saja," kataku.
"Sama sekali tidak boleh. Lagi pula kita ke perusahaan yang sama," kata Alejandro.
"Aku tak bisa pergi bersamamu. Apa kata orang-orang di perusahaan nanti?" kataku.
"Aku tak peduli," kata Alejandro.
"Tapi aku peduli. Aku tak mau jadi bahan gunjingan," kataku.
"Baiklah, kau menang. Kau tak pergi denganku, tapi salah satu sopirku akan mengantarmu, dan itu tak bisa ditawar," kata Alejandro.
"Baiklah," kataku.
Kami naik ke mobil masing-masing. Tiba di perusahaan, Alejandro masuk lebih dulu, lalu aku. Aku duduk di meja kerjaku ketika Carol datang.
"Sofía, ke mana saja kamu? Kau tahu betapa khawatirnya aku? Aku terus meneleponmu dan mengirim pesan, tapi kau tak pernah membalas. Apa yang terjadi padamu?" tanya Carol.
"Ceritanya panjang. Aku kehilangan ponselku, tapi aku baik-baik saja, jangan khawatir," kataku.
"Baiklah, tapi kau harus menceritakan semuanya padaku," kata Carol.
"Tentu saja," kataku.
"Ngomong-ngomong, kau cantik sekali. Kau tahu tidak kalau baju itu mahal sekali, Sofi?" kata Carol.
"Aku tak tahu. Ini hadiah," kataku.
"Dari siapa?" tanya Carol.
"Sudah kubilang, nanti kuceritakan semuanya kalau sudah lebih tenang. Sekarang kita harus mulai bekerja," kataku.
"Baiklah," kata Carol.
* * *
POV Alejandro
Aku tiba di kantorku ketika sekretarisku masuk dan seperti biasa menggodaku, tapi aku mengabaikannya. Dia menyerahkan berkas-berkas dan mengabarkan aku akan ada rapat dengan seorang investor dari Rusia saat jam makan siang. Sayang sekali, aku ingin mengajak Sofía makan siang bersamaku, tapi dia tak mau kami terlihat bersama. Setelah sekretaris keluar, aku memeriksa berkas-berkas ketika kudengar pintu diketuk.
"Masuk," kataku.
"Tuan, investor itu mencari Anda," kata sekretaris.
"Suruh dia masuk," kataku.
"Halo, Alejandro," kata investor itu.
"Kau boleh keluar," kataku pada sekretaris. "Halo, Tiana, lama tak jumpa."
Tiana Karolev, anak tunggal. Teman tapi mesra Alejandro sejak kuliah. Ia selalu ingin menjadi wanita Alejandro, tapi Alejandro hanya ingin bersenang-senang dengannya tanpa komitmen.
"Sudah lama sekali, Alejandro. Ayo kita makan siang untuk membicarakan investasi yang ingin kulakukan sekaligus bertukar kabar tentang kehidupan kita, bagaimana?" kata Tiana.
"Ayo," kataku.
Mereka keluar bersama dari kantor.
* * *
POV Sofía
Suasana tenang-tenang saja, sampai datang seorang wanita yang sangat cantik. Dia hendak berjalan lewat begitu saja, tapi Carol menahannya.
"Maaf, tapi Anda tak bisa lewat begitu saja," kata Carol.
"Dengar, kau tak tahu dengan siapa kau berurusan, jadi bicaralah dengan lebih sopan kalau tak mau kehilangan pekerjaanmu," kata Tiana.
"Tak ada yang tak menghormati Anda. Rekan saya hanya bilang Anda tak boleh lewat begitu saja," kataku.
"Kalian tahu siapa aku?" tanya Tiana.
"Tidak, dan sejujurnya aku tak tertarik," kataku.
"Kau benar. Entah kenapa aku merendahkan diri dengan orang dari kelasmu. Permisi, aku ada janji dengan CEO," kata Tiana.
Saat dia naik ke lift, Carol menelepon sekretaris Alejandro untuk memastikan apakah wanita itu benar-benar punya janji, dan jawabannya ya. Aku pun kesal. Kenapa Alejandro bersama wanita itu? Apa aku sedang cemburu? Sejujurnya, ya, ini sangat menggangguku. Siapa yang tak akan cemburu, sejujurnya dia sangat cantik dan aku sama sekali tidak.