Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Jam 6 pagi. Gang kos putri masih basah sisa hujan semalam. Tidak ada ibu-ibu sayur. Hanya kucing oren kemarin yang sekarang pindah tidur di atas keset kos ku.
Aku sudah rapi. Baju atasan putih kerja, bawahan hitam, kerudung coklat susu. Tas ransel hitam tetap. Di dalamnya Al-Quran kecil dan buku stok. Di bawah Al-Quran masih ada amplop coklat 300 ribu bonus Tanah Abang kemarin.
Hari ini hari ke-18. Aktivitas sama seperti setiap hari. Bangun, shalat, lipat mukena, hitung stok. Tidak ada yang berubah. Kecuali satu.
Setiap jam 7.30 pagi, Arpan sudah di depan gang.
Bukan lagi Mbak Sari yang buka ruko duluan. Bukan lagi aku naik angkot sendiri. Tapi Arpan yang jemput.
Entah apa maksud Arpan yang terlalu baik kepadaku.
Dia manager operasional PT. HIJAB BAROKAH. Gajinya besar. Motornya bagus. Dia bisa suruh siapa saja. Tapi kenapa harus aku yang dijemput tiap pagi?
Kebaikan itulah yang membuat hati ku bimbang.
Di satu sisi, dia sangat baik. Seperti kemarin di KRL, dia jadi tameng biar aku tidak didesak laki-laki. Dia belikan nasi telur dadar. Dia bilang mata ku jeli.
Di sisi lain, apakah ini jebakan baru yang Tuhan beri kepadaku untuk menguji keimanan ku? Seperti dulu Kyai Rahman Seperti dulu saat aku jadi Alia kalau dibilang cantik ujungnya minta dibayar.
Aku tarik napas. Keluar kos. Kunci pintu triplek tiga kali.
Jam 7.29 aku sudah di depan gang. Arpan sudah menunggu. Pakai kemeja putih, celana hitam, motor hitam mengkilap. Bukan kaos polo abu-abu kayak kakak kemarin. Sudah jadi manager lagi.
"Pagi, Laila. Ayo, nanti macet," dia bilang, kasih helm hitam.
Aku pakai helm. Helm nya kebesaran. Bau wangi laki-laki. Aku naik. Jaga jarak.
Motor jalan. Pagi di Jakarta macet sekali. Klakson dimana-mana. Asap knalpot. Bajaj salip kanan kiri.
Aku tidak berpegangan
Sampai di perempatan Karet, tiba-tiba ada motor ojek online nyalip dari kiri kencang sekali. Hampir serempet motor kami.
Arpan rem mendadak. Decit.
"Astaga!" Arpan kaget.
Motor kami oleng. Aku terkejut. Tangan ku yang tidak berpegangan . Tubuh ku maju kedepan karena rem mendadak.
Tak sengaja, aku memeluk Arpan dari belakang.
Erat. Karena takut jatuh.
Kepalaku nempel di punggungnya. Tanganku melingkar di jaketnya. Aku bisa dengar jantungku sendiri.
Itu sentuhan pertama ku dengan seorang laki-laki . Setelah aku janji tidak mau disentuh dan menyentuh laki-laki yang bukan mahram.
Takut bercampur rasa tak karuan. Takut jatuh dari motor, takut dosa, tapi juga berdebar-debar yang aku tidak ngerti. Dadaku sesak. Mukaku panas di dalam helm.
"Maaf, Kak! Maaf!" aku langsung lepas. Mundur lagi jauh, hampir jatuh ke belakang.
Arpan tidak jawab langsung. Dia diam. Motornya jalan lagi pelan.
Tapi dari spion motor, aku lihat matanya. Dia tidak takut seperti aku. Dia malah... senyum kecil. Bukan senyum manager. Senyum lain.
Dalam hatinya mungkin ada bayang-bayang ingin mendekati ku jauh lebih dalam lagi setelah pelukan tak sengaja itu. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa lihat dari spion itu sekilas.
Sisa perjalanan tidak ada yang bicara. Hanya suara klakson dan motorku yang bergetar.
Sampai di ruko HIJAB BAROKAH jam 7.55. Ruko masih tutup.
Aku turun cepat. Tidak menoleh ke Arpan. Karena malu. Malu sekali sudah memeluk Arpan dari belakang di motor tadi. Mukaku merah padam, untung ketutup helm dan kerudung coklat susu.
Aku jalan cepat ke pintu ruko, pura-pura cari kunci di tas ransel hitam.
Arpan masih di atas motor. Tidak turun. Dia lihat aku dari belakang. Tersenyum. Lama.
"Laila, helmnya," dia bilang.
Aku balik badan sebentar, kasih helm, langsung nunduk lagi. Tidak berani lihat matanya.
Di dalam ruko, lampu sudah nyala. Ternyata ada orang sudah datang lebih dulu.
Mbak Sari.
Dia sudah duduk di tumpukan mukena putih 100 pcs yang kemarin dari Tanah Abang. Lipat dengan cepat. Wajahnya datar.
"Loh, datang bareng lagi? Mesra banget ya pagi-pagi naik motor berdua. Peluk-pelukan di jalan tadi saya lihat dari jauh," sindirnya. Suaranya pelan tapi tajam.
Aku kaget. "Mbak Sari lihat?"
"Gang depan itu lurus ke ruko, Laila. Motor hitam manager kelihatan dari jauh. Saya datang jam 7 pagi hari ini. Sengaja. Biar buka ruko duluan."
Jantung ku yang tadi berdebar karena takut jatuh, sekarang berdebar karena takut lain.
Mbak Sari berdiri, dekati aku. Bawa gelas air putih .
"Minum dulu. Biar tidak deg-degan lagi habis meluk manager," dia kasih gelas itu.
Aku pegang gelas air putih itu.
Hari ke-18. Tuhan, hari ini tubuh ku tak sengaja memeluk laki-laki di motor karena hampir keserempet. Tuhan, aku takut. Takut jatuh, takut debar ini.
Kebaikan Arpan membuat ku bimbang. Apakah ini penjagaan Mu lewat dia, atau jebakan baru Mu untuk menguji keimanan ku lagi?
Tuhan, kalau ini ujian, kuatkan aku. Jangan biarkan pelukan karena takut itu jadi pintu dosa baru bagiku.
Di luar, Arpan masih di depan ruko, belum masuk. Dia masih senyum lihat ke dalam, ke arah ku.
Dan Mbak Sari masih lihat aku, dengan gelas teh di tangannya.