NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

‎Pintu terbuka, dan Amara melangkah masuk dengan senyum lembut, seolah tidak ada beban sama sekali.

‎‎"Kau memanggilku?" tanyanya santai.

‎‎Rafael berdiri di depan kaca besar yang menampilkan hamparan kota di bawah sana. Kedua tangannya terselip di kantong celana, bahunya terasa kaku. Ia terdiam sejenak, lalu perlahan berbalik. Langkahnya tenang namun berat saat mendekat, hingga ia berhenti tepat di depan Amara. Tatapannya datar, tajam, tak sehangat dulu.

‎‎"Bukankah sudah kubilang," ucapnya rendah, namun tegas, "apa yang terjadi di apartemen malam itu hanyalah sebuah kecelakaan. Kita tidak perlu memperumit keadaan. Untuk apa kau mengembalikan jam tanganku pada Alina, dan membiarkan dia mendengar kalau kita ini mantan kekasih?"

‎‎Senyum di wajah Amara perlahan memudar, matanya membelalak sedikit.

‎‎"Rafael... bukan aku yang mengatakannya pada Alina," suaranya terdengar sedikit defensif namun tetap berusaha tenang. "Itu Linda yang kelepasan bicara. Dan soal jam tangan itu... kupikir lebih baik aku mengembalikannya langsung daripada menunda-nunda, kebetulan saja aku bertemu dengannya di kafe. Kenapa? Apa Alina salah paham soal itu?"

‎‎Ia menatap Rafael dengan tulus, seolah benar-benar ingin memperbaiki kesalahpahaman itu.

‎‎"Jika iya, biar aku yang bicara dan menjelaskan padanya nanti. Aku akan jelaskan semuanya, supaya tidak ada kesalahpahaman di antara kalian."

‎‎Rafael menghela napas kasar, menepis tawaran itu dengan satu gelengan kepala.

‎‎"Tidak perlu. Jangan pernah mendekati istriku lagi, Amara. Semua yang terjadi kemarin sudah cukup merusak rumah tanggaku."

‎‎Amara menatapnya, masih mencoba terlihat tulus.

‎‎"Rafael, aku hanya tidak mau Alina salah paham. Kalian sudah menikah—"

‎‎"Justru karena kami sudah menikah," potong Rafael, datar. Tidak ada nada tinggi, tidak ada emosi meledak. "Perjodohan atau bukan, Alina tetap istriku. Itu kewajiban yang harus aku jaga. Dan kamu sudah membuat kewajiban itu jadi rumit."

‎‎Ia berjalan kembali ke meja kerjanya, merapikan map yang tadi tidak ia sentuh.

‎‎"Apa yang terjadi di apartemen malam itu sudah selesai. Aku tidak mau cerita itu sampai ke telinga Alina."

‎‎Amara terdiam, senyumnya sudah hilang sepenuhnya.

‎‎"Aku mengerti..." gumamnya pelan. "Tapi... kemarin itu adalah yang pertama bagiku. Apa kamu benar-benar ingin melupakannya? Kamu bahkan menyebut namaku beberapa kali di setiap sentuhan—"

‎‎"Cukup, Amara."

‎‎Suara Rafael naik setengah oktaf. Untuk pertama kalinya sejak Amara melangkah masuk, ketenangannya yang ia jaga begitu rapi akhirnya retak.

‎‎Ia menatap Amara tajam. Bukan tatapan dingin yang datar seperti tadi, melainkan kepanikan yang berusaha ia tahan sekuat tenaga.

‎‎"Jangan pernah ulangi kalimat itu lagi di gedung ini."

‎‎Amara justru tersenyum tipis. Dia tahu betul dia sedang memegang kendali atas sesuatu yang Rafael takutkan.

‎‎"Kenapa? Kamu takut kedengaran? Padahal malam itu kamu tidak menolak sama sekali, Rafael. Kamu yang—"

‎‎"Amara!"

‎‎Rafael menggebrak meja dengan begitu keras hingga map cokelat yang baru saja dirapikan Revan terlempar ke lantai, kertas-kertasnya berhamburan tak teratur.

‎‎Ruangan itu seketika hening.

‎‎Napas Rafael terdengar berat dan tidak teratur. Kedua tangannya mengepal kuat di atas permukaan meja, buku jarinya memutih.

‎‎Amara mundur selangkah, tapi di matanya tak ada sedikit pun rasa takut. Justru terlihat kepuasan yang samar.

‎‎"Kamu yang langsung datang ke apartemenku begitu mendengar aku terjatuh di kamar mandi. Kamu yang memilih datang kepadaku malam itu, sementara istrimu menunggu sendirian di kafe. Kita berdua tahu persis apa yang terjadi setelah itu, Rafael."

‎‎Rafael memejamkan mata rapat, rahangnya mengeras hingga terlihat garis tegas di sana.

‎‎Dan ingatan malam itu kembali terputar di kepalanya, jelas dan menyakitkan.

‎‎Amara bilang terjatuh, ia datang untuk membantu. Amara menangis, bilang dia takut sendirian. Satu pelukan yang seharusnya tidak berlangsung selama itu. Lalu batas yang perlahan kabur. Lampu apartemen yang tak dimatikan, jam tangannya yang tergeletak di atas nakas karena ia pergi dengan terburu-buru.

‎‎Kecelakaan? Ya, awalnya memang begitu. Tapi di tengah malam itu... ia tahu itu bukan lagi sekedar kecelakaan.

‎‎"Dan sekarang kamu berani menyebut itu hanya sebuah kecelakaan?" Amara melanjutkan, suaranya pelan namun setiap katanya terasa seperti jarum yang menusuk. "Dan saat kita bersama... kamu menyebut namaku, Rafael. Berkali-kali. Bukan nama Alina."

‎‎Rafael membuka matanya perlahan. Tatapannya kini bukan lagi marah. Tatapannya terlihat kosong, seolah seluruh tenaga di tubuhnya baru saja dikuras habis.

‎‎"Keluar."

‎‎Suaranya sangat rendah, hampir berbisik. Tapi perintah itu terasa tak bisa dibantah.

‎‎"Apa?" Amara terkejut sedikit.

‎‎"Keluar dari ruanganku. Sekarang."

‎‎Amara menatap punggungnya yang tegak namun tampak rapuh itu lama sekali, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia berjalan perlahan menuju pintu.

‎‎Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti. Tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar lembut namun penuh ancaman tersembunyi.

‎‎"Malam itu adalah yang pertama dan satu-satunya bagiku, Rafael. Aku bahkan masih menyimpan seprai itu di kamarku. Kalau Alina suatu hari bertanya... haruskah aku jujur padanya?"

‎‎Rafael tak menjawab. Ia tetap berdiri membelakangi pintu, kedua tangannya masih mengepal di atas meja yang berantakan, menahan rasa bersalah yang perlahan mencekiknya.

‎‎Amara memutar gagang pintu dan menariknya perlahan. Pintu itu ternyata tidak tertutup rapat, hanya tertutup sebagian, menyisakan celah tipis yang cukup untuk suara di dalam ruangan terdengar keluar.

‎‎Napasnya tertahan seketika.

‎‎Revan sudah berdiri tepat di luar sana. Map cokelat di tangannya, lengan kemejanya digulung sampai siku.

‎‎Amara berhenti sepersekian detik. Matanya masih berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu berdiri di sana, dan berapa banyak yang sudah ia dengar.

‎‎Revan tetap diam. Tidak ada sapaan, tidak ada tanya. Hanya tatapan datar yang membuat Amara merasa seolah-olah setiap kata barusan baru saja tertangkap basah.

‎‎Amara langsung membuang muka, berjalan cepat melewati Revan menuju ke arah lift. Bunyi sepatu hak tingginya terdengar keras dan terburu-buru di koridor lantai 30 yang sepi.

‎‎Revan menunggu sampai suara langkah kakinya menghilang, lalu melangkah masuk ke ruangan dan menutup pintu perlahan, kali ini menutupnya rapat.

‎‎Di dalam, Rafael masih berdiri dengan posisi yang sama. Kedua tangannya menumpu di meja, kertas-kertas berserakan di lantai. Punggungnya kaku.

‎‎Revan berjalan mendekat, berjongkok, memunguti kertas-kertas itu satu per satu tanpa suara. Ia susun kembali ke dalam map.

‎‎"Tuan Rafael."

‎‎Suara Revan rendah, tenang.

‎Rafael tidak menjawab.

‎‎Revan meletakkan map yang sudah rapi kembali di atas meja. Lalu ia berdiri di samping meja.

‎‎"Mobil sudah siap. Anda ada janji makan siang dengan Tuan Mike."

‎‎Rafael akhirnya menghela napas panjang. Ia menarik kursi dan duduk, memijat pelipisnya.

‎‎"Revan."

‎‎"Ya, Tuan?"

‎‎"Tadi kamu dengar?"

‎‎Revan terdiam dua detik. Terlalu lama untuk sebuah jawaban tidak.

‎‎"Tidak, Tuan," jawabnya akhirnya, datar. "Saya baru sampai."

‎‎Bohong. Rafael tahu Revan bohong. Revan juga tahu Rafael tahu dia bohong.

‎‎Tapi Rafael tidak membahasnya. Ia justru berkata pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.

‎‎"Urusan Amara... jangan sampai Alina tahu detailnya."

‎‎Revan mengangguk kecil. Matanya melirik pantulan kota di kaca besar, lalu kembali ke Rafael.

‎‎"Baik, Tuan. Saya mengerti."

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
Adira🍓
Hayoo loh Revan,,, ketahuan kan 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!