kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK LAMA DAN PERTEMUAN BARU.
Pagi itu gue bangun lebih awal dari biasanya. Langit masih kelabu, embun belum kering di daun jendela. Gue turun ke dapur, berniat bikin minum—tapi suara bicara dari ruang kerja Ayah bikin langkah gue terhenti. Pintunya sedikit terbuka.
"meraka...sudah mulai mencari jejaknya," suara Ayah terdengar berat. "Kalau Valerian benar kembali, kita tidak bisa menunda lagi."
"Anak-anak sudah terlibat, Abian," jawab Bunda, suaranya bergetar. "Mereka berhak tahu semuanya."
"Benar. Tapi takutnya... kebenaran itu terlalu berat untuk mereka."
Gue nggak tahan lagi. Gue dorong pintu pelan-pelan. "Berat kayak apa, Yah?"
Ayah sama Bunda menoleh serentak, wajahnya pucat. Gue melangkah masuk, berdiri tegak—nggak mau kelihatan takut.
"Siapa Valerian sebenarnya? Dan kenapa kehadirannya bisa bikin semua orang takut?" tanya gue lurus.
Ayah menghela napas panjang, lalu memberi isyarat gue duduk. Dia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah album foto tua, pinggirannya sudah menguning.
"Ini kami bertiga..." Ayah menunjuk foto hitam-putih di halaman pertama. Dia muda, tersenyum lebar. Di sebelahnya ada Arga—Daddy Arka—dengan tatapan tajam tapi hangat. Dan di tengah-t mereka, seorang cowok dengan senyum yang memikat, rambut agak berantakan, matanya bersinar. "Ini Valerian Kirana. Teman kami paling dekat."
Gue menatap wajah itu. Ada sesuatu di tatapannya yang bikin merinding—seolah dia menyimpan rahasia di balik senyumnya.
"Dulu kami bertiga mendirikan sesuatu bersama," Ayah lanjut pelan. "Sebuah usaha yang tumbuh cepat, sangat besar. Tapi kesuksesan itu membawa godaan. Ada perselisihan... tentang cara, tentang kebenaran. Valerian merasa kami mengkhianati kesepakatan. Suatu malam, terjadi pertengkaran hebat. Sesuatu terjadi... kecelakaan. Valerian menghilang. Kami mengira dia pergi jauh, melupakan semuanya."
"Dan ternyata nggak..." gumam gue.
Ayah menggeleng. "Dan ternyata dia menunggu. Sampai kami punya anak. Sampai keluarga kami merasa aman."
Jantung gue berdegup kencang. "Jadi dia mau balas dendam ke kita? Ke aku sama Arka?"
Bunda meraih tangan gue, genggamnya erat. "Itulah yang kami coba cegah. Pernikahan kalian... kami harap bisa menyatukan kekuatan keluarga kami, melindungi kalian berdua."
Gue menelan ludah. "Tapi Arka sama aku—kita nggak butuh dilindungi kayak anak kecil. Kita mau hadapin ini bareng."
Saat itu juga pintu depan berbunyi. Arka berdiri di sana, napasnya agak terengah, seolah langsung lari ke sini. Dia melangkah masuk, menatap Ayah dan Bunda, lalu ke arah gue.
"Gue dengar semuanya," katanya tegas. "Dari depan pintu. Gue tahu Valerian itu musuh keluarga kita. Tapi gue juga tahu satu hal lain." Dia melangkah mendekat, menatap Ayah lurus-lurus. "Kecelakaan itu... apakah ada yang lain yang disembunyikan? Karena kemarin gue dapat kabar—Callysta bukan anak Valerian. Dia keponakan. Dan Valerian punya anak sendiri."
Ruangan hening seketika.
"Siapa?" tanya Ayah pelan.
Arka menggeleng. "Belum ketahuan. Tapi anak itu ada di dekat kita. Selama ini."
Gue merinding. "Di sekolah?"
"Kemungkinan besar." Arka menatap gue lekat-lekat. "Itulah kenapa ada yang selalu mengawasi. Bukan cuma Callysta. Ada orang lain yang berdiri di samping kita, tersenyum, berbicara... sambil menyimpan rahasia."
Siang itu, gue sama Arka duduk di tempat rahasia kita—di bawah pohon rindang, tempat di mana semuanya mulai terasa nyata.
"Lo nggak takut?" tanya Arka pelan, jari-jarinya menyentuh punggung tangan gue.
"Takut sih," jawab gue jujur. "Tapi lebih takut kalau kita nggak berani hadapin. Gue nggak mau lari, Arka. Gue mau tahu siapa di antara teman-teman kita yang menyembunyikan wajah aslinya."
Arka tersenyum tipis, lalu menarik gue ke pelukannya. "Gue bangga sama lo, Aluna. Lo hebat banget."
Sore itu di sekolah, suasana terasa beda. Gue memperhatikan setiap orang dengan tatapan baru. Teman yang menyapa riang—apakah tulus? Yang tertawa di meja sebelah—apakah ada maksud lain?
Sasa nyamperin gue saat istirahat. "Na... lo kenapa mukanya serius banget?"
Gue menatapnya. Sasa—satu-satunya yang selalu ada, yang nggak pernah berubah, yang membela gue saat semua orang menjauh. Tapi Arka bilang anak Valerian ada di dekat kita...
"Na?" Sasa melambaikan tangan di depan wajah gue.
"Nggak apa-apa, Sa. Cuma banyak pikiran." Gue tersenyum tipis.
Sasa menggenggam tangan gue. "Inget ya, apa pun yang terjadi, gue di sini. Lo nggak sendirian."
Gue mengangguk, tapi di dalam hati ada keraguan kecil. Apakah benar-benar nggak sendirian? Atau justru orang yang paling dekat itulah yang menyimpan rahasia terbesar?
Saat gue berjalan pulang, seseorang muncul dari balik pohon. Sosok yang gue kenal, yang selalu tersenyum ramah.
"Aluna..." suaranya rendah. "Kita harus bicara."
Jantung gue berpacu kencang. Langit mulai gelap, bayangan memanjang. Permainan bukan lagi tentang menyembunyikan. Ini tentang siapa yang berani berkata jujur duluan.