NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Steven yang mendengar suara teriakan Laluna yang memanggil namanya dari barisan tangga paling atas segera berlari keluar kamar, bergegas ia menemui wanita paruh baya itu dengan panik.

"Ma, ada apa?"

"Kakak mu, Kakakmu dalam bahaya. Ayo, dobrak pintunya, ayo cepat!"

Lelaki muda ini mencoba menekan engsel pintu yang terkunci dan mengetuknya beberapa kali.

"Raisa"

"Kak Angga" panggilannya.

"Sudah dobrak saja, ayo cepat!"

Steven mulai melangkah mundur lalu dengan sekali tendangan pintu itu terbuka, tapi begitu mereka masuk kedalam Angga telah berada diatas lantai, tangannya memegang pisau pemotong buah yang berlumuran darah, sementara Raisa tergeletak dihadapannya yang mana piyamanya berwarna putih itu kini berubah menjadi warna merah, darah dari luka tusuk di perutnya bahkan perlahan mengalir kearah kaki Laluna.

Wajah Angga tampak pucat lalu tiba-tiba tangannya gemetar hebat hingga pisau itu terjatuh diatas lantai, bunyi nyaring dari benda tajam itu membuat wanita paruh baya itu melangkah mundur ketakutan.

"AAAAAAAAGH!"

"Mama, bukan aku, bukan aku, Ma" ucap Angga terbata.

Berbeda dengan Steven yang tak ingin keadaan menjadi parah, sebelum kabar itu terdengar ke telinga para pembantu rumah tangga mereka, ia dengan sigap menggendong tubuh ramping Raisa yang sudah terkapar lemas itu.

"Ma, cepat bersihkan darahnya!" Titahnya lalu ia bergegas pergi membawa Raisa menuju lift.

Tetesan darah mengalir mulai dari kamar kakaknya sampai kelantai teras depan rumah, ia memasukkan Raisa kedalam mobilnya lalu bergegas menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit dengan dibantu oleh beberapa pelayan medis ia membawa Raisa untuk mendapatkan perawatan.

"Pak, boleh kami tahu penyebab pasien bisa terluka?" Tanya salah seorang perawat yang menghampiri Steven didepan ruangan Raisa kini dirawat.

"Saya tidak tahu, Sus. Saya baru kembali dari luar dan saya mendapati dia sudah tergeletak tak sadarkan diri" jawabnya.

"Baik, nanti kami akan menghubungi Bapak lagi"

"Iya Sus, terimakasih"

Steven terduduk lemas bersandar pada tembok dingin rumah sakit, karena terlalu panik ia bahkan berjalan tanpa alas kali dan jaket dan baru ia sadari ketika angin berhembus menusuk tulang belulangnya.

Beruntung Laluna datang membawa sebuah sendal Steven dan sweater untuk anak bungsunya tersebut.

"Steven!" Panggilnya dari arah lorong.

Lelaki itu segera berdiri memeluk mamanya begitu erat sambil menangis tersedu-sedu, saat itulah Laluna sadar bahwa anaknya tersebut masih menyimpan perasaan pada menantunya tersebut.

Laluna mengusap pelan belakang punggung anak laki-lakinya tersebut, ia lalu memberikan ponsel milik lelaki itu yang tadinya tertinggal di kamar.

"Mama sudah memberitahu Arni dan calon mertuamu, kemungkinan sebentar lagi mereka sampai!"

"Bagaimana dengan Kak Angga?" Tanya Steven sembari mengenakan sendal dan sweater yang dibawakan oleh Laluna.

"Kakakmu masih panik"

"Steven!"

Pemilik nama itu menatap Laluna datar untuk beberapa saat, wanita paruh baya ini menarik tangan Steven menjauh dari ruangan itu sesaat.

"Kakakmu bilang Raisa menusuk dirinya sendiri, Mama bingung. Untuk apa Raisa melukai dirinya sendiri?" Tanyanya.

"Tentu saja untuk membuat Angga telihat buruk!" Seru seseorang dari belakang.

Arni dan Tina tiba-tiba muncul disana. Melihat di kedua tangan Steven masih berlumur darah membuat Arni panik.

"Astaga, sayang. Kamu terluka juga?"

Arni menghampiri Steven sambil terus berpura-pura panik, Steven segera menepis keras tangan Arni hingga gadis itu hampir saja menabrak Tina.

"Steven, ada apa ini? Kamu berani memperlakukan anak saya seperti itu di depan saya?" Ujar Tina menatap tak suka pada Steven.

Perbuatan Steven yang mendorong Arni bahkan membuat Laluna malu menatap Tina, ia memukul pelan lengan Steven namun Steven tetap menepis tangan Laluna.

"Steven!" Tegur Laluna tegas.

"Kamu darimana saja? Seharian ini kau mengabaikan ku, sebenarnya ada apa dengan kedua anak Mama?" Tanyanya menatap calon istri dan mertuanya itu bergantian.

Sama halnya dengan lelaki yang diselimuti kemarahan itu, Tina juga menatap anak gadisnya dengan kening yang mengerti sempurna. Sementara Laluna masih tak mengerti dengan perkataan anak laki-lakinya tersebut.

"Bukannya tadi pagi kamu pamit untuk menjemput Arni karena kalian ingin pergi ke kantor bersama?" Tanyanya.

"Aku, aku ada pemotretan pagi tadi Ma, jadi aku dan Steven tidak jadi pergi" jawab Arni sebelum Steven angkat suara.

"Selesai pemotretan kamu kemana? Semua pesan dan telepon dariku kau abaikan"

"Aku masih,"

"Omong kosong kalau kau masih sibuk, aku tahu jadwal pemotretan mu kapan dimulai dan kapan selesai, bahkan jika kamu mengatakan kamu tidak memegang ponsel mu, itu sebuah kebohongan besar, saat makan bersama pun kau selalu sibuk memainkan ponselmu, Arni"

Tanpa mendengar jawaban dari tunangannya itu Steven berlalu dengan marah meninggalkan ketiga wanita tersebut, semula ia pergi ke kamar mandi umum dirumah sakit untuk membersihkan diri sebelum ia kembali ke mobilnya lalu pergi menuju supermarket di pusat kota. Begitu tiba di dalam supermarket ia berdiri didepan rak minuman beralkohol juga rokok, sejenak ia menatap deretan produk dihadapannya itu, ia ragu-ragu untuk mengambilnya sebab ini adalah kali pertama ia ingin merasakannya.

"Kalau ragu jangan dibeli, kalau sudah dibeli jangan ragu"

Sebuah suara serak namun pelan membuat Steven sedikit terkejut, begitu menoleh ia mendapati Indra berdiri dibelakangnya juga memegang minuman beralkohol juga sebungkus rokok.

"Mie instan dan sosis juga cocok dengan ini, mari Pak. Saya temani anda minum!"

Steven tersenyum saat Indra bersedia menemaninya mengisi malam gundahnya, tanpa ragu ia membeli sebotol minuman juga beberapa bungkus rokok dan sesuai dengan saran Indra sebelumnya ia juga membeli dua bungkus mie instan dan beberapa sosis siap saji sebagai pelengkap. Setelah membayar belanjaan, keduanya duduk di depan supermarket sambil meneguk minuman beralkohol itu.

"Aku ingat wajahmu, tapi tidak ingat namamu. Siapa namamu?"

"Indra, Pak" jawab Indra tersenyum.

Lelaki yang duduk dihadapannya itu mengangguk beberapa kali.

"Aku akan ingat namamu. Ngomong-ngomong sedang apa kamu disini, seingatku rumahmu jauh dari sini!" Ujar Steven lalu menikmati mie instan yang baru saja matang itu.

Sama seperti atasannya tersebut Indra juga menyeruput mie instan miliknya, mulai dari mie hingga kuahnya terlihat begitu ia nikmati dengan serius.

"Saya pusing Pak, bukan soal kerjaan ya. Ini soal Bapak sayang di kampung, saya berharap beliau mau ikut dengan saya disini, tapi beliau selalu saja menolak"

"Bohong, ini bukan tentang Bapak kamu, tapi tentang Ibu kamu. Iya kan?"

Indra tertawa cekikikan sendiri, ia menunjuk Steven sambil mengangkat botol minumannya.

Gluk gluk gluk

Tiga teguk minuman masuk membasahi tenggorokannya, Steven tersenyum melihat bawahannya itu sudah mabuk padahal belum meminum setengah botol minumannya, wajah Indra bahkan memerah bak tomat yang baru saja matang.

"Bapak kok bisa tahu? Kan saya belum memberitahu Bapak, ahhh aku tahu" ucap Indra lalu mendekatkan kepalanya pada Steven lalu berbisik di telinga lelaki seumurannya tersebut.

"Bapak cenayang ya?"

Keduanya tertawa bersama sebelum Steven meneguk juga minumannya, sambil sesekali mereka bertukar cerita satu sama lain.

"Kamu tahu? Saat kamu melamar ke perusahaan Kakak saya, kami membaca biodatamu, jadi kami tahu pasti siapa ayah dan ibumu. Ini tidak ada kaitannya dengan cenayang!" Seru Steven.

"Owhhhh, begitu ya Pak? Saya baru ingat kalau Bapak juga ikut mewawancarai para pelamar. Kalau begitu saya mau melamar lagi!"

"Di perusahaan kita?"

"Iya, Pak!"

"Mau melamar jadi apa? Mau gaji berapa?"

Sejenak Indra meletakkan jari telunjuknya di ubun-ubun sambil memanyunkan bibirnya yang mulai bengkak kearah Steven, keduanya bahkan tak sadar kalau orang-orang yang duduk disamping mereka menertawakan kelucuannya.

"Pokoknya ya Pak, saya mau pekerjaan yang paaaaaling santai tapi gaji lebih banyak, datang lebih telat tapi pulang lebih awal"

Orang-orang disana mulai tertawa namun tak sedikit yang setuju dan menginginkan pekerjaan dengan ciri-ciri yang dimaksud oleh Indra, Steven menarik jari tengahnya lalu menyondongkan badannya pada lelaki dihadapannya kini.

Plak

Bunyi sebuah sentilan di dahi lelaki itu mengundang kembali gelak tawa orang-orang yang tengah memperhatikan keduanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!