Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8
Layar televisi gantung di dalam ruang kerja megah Lee Dong menampilkan siaran langsung berita darurat: api membumbung tinggi melalap Red Dragon Club di Pacific Bluffs, diiringi sirine puluhan armada pemadam kebakaran dan mobil LSPD yang mengepung lokasi.
BRAAK!
Lee Dong melempar cangkir porselen antik seharga jutaan rupiah ke dinding, menghancurkannya berkeping-keping. Napas pria tua bertato naga itu menderu berat, matanya memerah penuh murka yang membakar.
"DUA PULUH MENIT!" raung Lee Dong, suaranya menggelegar memenuhi ruangan bernuansa merah-emas tersebut. "Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi tiga ekor anjing jalanan itu untuk meratakan aset terbesarku! Mana anak buahmu, Shen?! Mana orang-orang terpilih yang kau banggakan itu?!"
Shen berdiri membeku di depan meja kerja, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangan kanannya yang biasa dingin dan tenang kini terkepal kaku di samping badan. Ia hanya bisa terdiam bisu, tak berani menyela sedikit pun di tengah letupan amarah sang bos besar. Suasana di dalam ruangan itu begitu mencekam, seolah oksigen di dalamnya telah menguap habis.
"Tangan kanan musuh mereka sudah mati, mobil si budak Makassar itu sudah kau bakar... lalu kenapa mereka makin liar?!" bentak Lee Dong sambil menudingkan jarinya tepat ke muka Shen. "Saya tidak mau tahu, Shen! Kumpulkan seluruh jaringan Ying Long yang tersisa di kota ini! Bantai mereka bertiga! Bawa kepala Andika, Franklin, dan Lamar ke hadapanku esok hari!"
"Siap, Bos..." jawab Shen singkat dengan suara sangat rendah, menahan gejolak rasa malu dan dendam.
Di tengah suasana tegang yang terasa mampu meledakkan ruangan tersebut, pintu ganda kayu jati mendadak terbuka santai.
Seorang pemuda melangkah masuk tanpa beban. Ia mengenakan setelan jas sutra dari rumah mode ternama dunia bernilai puluhan juta rupiah, kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan aroma parfum mahal langsung menyeruak mengalahkan bau asap dupa di ruangan itu. Pemuda itu adalah Tuu Lee, anak tunggal Lee Dong yang baru berusia 19 tahun.
Tanpa mempedulikan amarah ayahnya yang sedang meledak-ledak atau wajah tegang Shen, Tuu Lee berjalan santai melintasi ruangan sambil sibuk memainkan ponsel pintar keluaran terbaru di tangannya.
"Papi, jangan berteriak-teriak begitu, membuat kepalaku pusing saja," ujar Tuu Lee acuh tak acuh, memutar bola matanya malas. "Aku butuh uang tunai lima ratus juta rupiah malam ini. Teman-temanku sudah menunggu di kelab malam lain di Downtown."
Lee Dong mengelus dadanya, mencoba menahan emosi yang hampir menguras sisa tenaganya, lalu melemparkan seikat cek di atas meja. Tuu Lee menyambarnya dengan senyum remeh, sama sekali tidak peduli bahwa bisnis keluarga mereka sedang dihantam perang berdarah di jalanan.
"Ingat Tuu Lee! Jangan keluyuran terlalu jauh, situasi sedang panas!" tegar Lee Dong memperingatkan.
Namun Tuu Lee hanya mengibaskan tangannya tanpa berbalik, melangkah keluar ruangan dengan siulan kecil.
Di halaman markas, seorang pelayan membukakan pintu untuknya. Tuu Lee masuk ke dalam kabin sedan BMW seri tertinggi keluaran terbaru yang mengilap sempurna—sebuah mobil mewah seharga miliaran rupiah yang dibeli dari uang hasil monopoli amunisi gelap ayahnya.
Mesin BMW itu meraung halus namun perkasa saat Tuu Lee menginjak pedal gas, melesat meninggalkan markas Little Seoul menuju pusat kota, siap menghamburkan uang tanpa menyadari bahwa jalanan Los Santos malam ini sudah berubah menjadi arena perburuan mematikan.
Garasi bawah tanah markas utama Ying Long di Little Seoul berubah menjadi lautan hawa membunuh yang pekat. Shen berdiri tegang di atas panggung beton kecil, menatap 25 orang prajurit terbaiknya yang berbaris sangat rapi dalam beberapa barisan tegak.
Di hadapan mereka, jajaran peti besi terbuka lebar. Belasan MAC-10, senapan serbu AK-47, shotgun taktis, hingga pistol otomatis berkaliber tinggi tertata rapi. Satu per satu anggota maju, menyambar senjata, mengokang magazin dengan bunyi klik-klak besi yang riuh, lalu kembali ke barisan dengan dada tegap dan tatapan mata yang dingin.
Shen melangkah ke tepi panggung. Di bawah sorotan lampu neon yang remang, wajahnya tampak mengeras bagaikan batu karang, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Dengar semuanya!" suara Shen menggema keras di seluruh sudut garasi bawah tanah, merobek keheningan.
Seluruh 25 anggota berdiri semakin tegak, mengunci pandangan mereka tepat ke arah tangan kanan Lee Dong tersebut.
"Semalam, tiga ekor anjing jalanan itu meratakan Red Dragon Club! Mereka membakar kehormatan Ying Long dan meremehkan darah saudara-saudara kita!" raung Shen, matanya berkilat memancarkan dendam yang mendalam. "Mereka pikir setelah membunuh Little Jacob, kita akan takut? Mereka pikir dengan membakar satu klub, Ying Long akan berlutut?!"
"TIDAK!" seru belasan anak buahnya serempak, menghentakkan kaki ke lantai semen garasi.
"Malam ini, tidak ada lagi perburuan di balik bayang-bayang! Tidak ada lagi taktik mengintai!" bentak Shen sambil mengangkat tinggi-tinggi senapan AK-47 di tangan kanannya. "Kita datangi sarang mereka di Cypress Flats! Kita hancurkan gudang amunisi mereka, kita ratakan investasi mereka, dan kita bawa kepala Andika, Franklin, dan Lamar langsung ke hadapan Bos Lee Dong!"
"RATAKAN! RATAKAN!" teriak seluruh barisan, membenturkan senapan ke dada mereka dengan semangat yang terbakar hebat. Pekikan perang memenuhi seluruh ruangan.
Shen mengangguk puas, menggerakkan tangannya memberi aba-aba. "Bergerak sekarang! Tunjukkan pada jalanan Los Santos siapa penguasa sebenarnya!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, 25 anggota bersenjata lengkap itu membubarkan barisan dengan teratur. Mereka melangkah cepat menuju jajaran mobil sedan Sultan dan Primo berwarna hitam legam yang sudah berjejer rapi di garasi.
Pintu-pintu mobil ditutup serentak dengan bunyi dentum keras. Satu per satu mesin V6 dan V8 dari deretan sedan hitam itu menyala meraung-raung, memenuhi garasi dengan kepulan asap knalpot dan aura kematian yang makin tebal.
Shen melangkah masuk ke kursi penumpang depan sedan terdepan, memegang erat senapannya. Konvoi enam sedan hitam berisi puluhan anggota bersenjata berat itu pun bergerak keluar dari garasi bawah tanah, meluncur beriringan di bawah kegelapan malam, melaju kencang menuju gudang Cypress Flats untuk memulai perang total!
Sementara ke tiga pria,yaitu lamar,Franklin,dan Andika masih sedang santai namun bersiaga,Andika yang tengah duduk,nampak menghembuskan asap rokoknya,dan menikmati sebotol minuman,sementara Franklin sedang asyik mengisi amunisi demi amunisi dari ak47 nya mereka pun sudah lebih dari siap untuk menghadapi siapa pun dan musuh apapun yg akan datang menghampiri,lamar sesekali keluar mengintip untuk mengecek ke adaan,dan akhirnya semua pun terjadi,beberapa mobil terlihat mendekat untuk menghabisi ke tiga pria tersebut.