Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20.kesepakatan.
Ruangan itu luas namun tertata rapi, beraroma campuran harum bunga melati dan teh yang baru diseduh. Di tengah ruangan berdiri meja kayu jati yang dipoles mengkilap, diapit dua kursi empuk berbalut kain sutra merah tua. Nyonya Li duduk di salah satu sisinya, melambai pada Li Hua untuk duduk di hadapannya. Lilin-lilin di sudut ruangan menyinari wajah mereka, menciptakan bayang-bayang lembut yang bergerak pelan di dinding.
Nyonya Li menatap gadis di depannya dengan pandangan yang tajam namun ingin tahu. Ia memutar cangkir teh di tangannya perlahan, lalu membuka pembicaraan dengan suara yang tenang namun penuh penekanan.
"Kau tahu, sepanjang aku menjalankan tempat ini, sudah berpuluh-puluh gadis yang datang ke sini," ucapnya pelan, matanya tak lepas dari wajah Li Hua. "Ada yang menangis sepanjang hari, ada yang mengancam akan melaporkanku, ada yang pasrah seakan jiwanya sudah mati. Tapi kau... kau berbeda. Sejak tadi tidak ada air mata, tidak ada gemetar ketakutan. Itulah sebabnya aku yakin satu hal — kau bukan sekadar pelayan yang berbuat kesalahan."
Li Hua tersenyum tipis, menegakkan punggungnya tanpa terlihat sombong. Ia menatap balik wanita itu dengan tenang.
"Tebakanmu benar, Nyonya Li," jawabnya lantang dan jelas. "Aku adalah Putri Kedua Keluarga Zhang."
Mata Nyonya Li sedikit melebar, namun ia tetap tenang. Ia mengangguk pelan seakan jawaban itu sudah ia duga.
"Jadi memang begitu..." gumamnya pelan. "Pantas saja pembawaanmu berbeda."
"Kalau begitu, katakan padaku — siapa orang yang menjualku kepadamu?" tanya Li Hua langsung, nada bicaranya tegas namun tidak kasar. "Aku perlu tahu siapa yang berani melakukan hal ini."
Nyonya Li menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas piring keramik. "Jujur saja, orang itu menutupi wajahnya. Mengenakan kerudung lebar yang menutupi sebagian wajah, suaranya juga diubah. Aku tidak bisa memastikan siapa dia."
Li Hua mengerutkan kening. "Tidak ada ciri khusus sama sekali? Pakaiannya? Cara bicaranya? Sesuatu yang bisa dikenali?"
Nyonya Li terdiam sejenak, berusaha mengingat pertemuan singkat itu. "Kalau tidak salah... di pinggangnya tergantung sebuah kantong kain kecil, dijahit dengan benang berwarna-warni, bermotif bunga malam yang mekar. Itu cukup mencolok karena warnanya terang."
Wajah Li Hua berubah seketika. Ia terdiam, menunduk sedikit, jari-jemarinya meremas ujung kain roknya. Bunga malam... batinnya. Hanya satu orang yang memiliki kantong seperti itu — pelayan pribadi Shi Yin.Hanya pelayan nya yang memiliki kantong bermotif seperti itu.
"Kau mengenali orangnya?" tanya Nyonya Li melihat perubahan ekspresi gadis itu.
Li Hua mengangkat wajah, mengangguk pelan. "Ya... aku tahu siapa dia,tapi masih kurang bukti."
Nyonya Li tidak menekan untuk mengetahui nama orang itu. Ia menyesap tehnya sekali lagi, lalu berkata dengan nada yang lebih tegas dan dingin.
"Baiklah, kau sudah tahu yang ingin kau ketahui. Sekarang giliranku bicara. Aku sudah mengeluarkan seratus tael perak untuk membelimu. Itu bukan uang sedikit. Aku tidak mau rugi mengembalikanmu begitu saja ke keluargamu, apalagi orang yang menjualmu pasti sudah pergi jauh."
Li Hua tersenyum, seakan sudah menantikan kalimat itu. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya berkilau penuh keyakinan.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berbisnis bersama?" usulnya tenang. "Aku bisa menguntungkan rumah ini — melipatgandakan pendapatannya menjadi tiga kali lipat dari sekarang, dalam waktu tiga bulan. Asalkan kau mau mengikuti saranku."
Nyonya Li terdiam, menatap gadis itu seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tertawa pendek, namun tawanya tidak berisi kebahagiaan, melainkan keraguan.
"Melipatgandakan menjadi tiga kali lipat?" ulangnya sambil menggeleng. "Kau ini putri bangsawan yang hidup dalam kemewahan. Apa yang kau tahu tentang dunia seperti ini? Tentang cara mengelola tempat seperti rumahku?"
"Aku tahu lebih dari yang kau kira," jawab Li Hua mantap, tidak terpengaruh oleh keraguan itu. "Aku tidak meminta kepercayaanmu begitu saja. Kita bisa membuat kesepakatan."
Nyonya Li menatapnya lama, mencoba membaca ketulusan atau kebohongan di balik tatapan itu. "Baiklah... jika kau tidak bisa mendatangkan keuntungan seperti yang kau janjikan, apa jaminanmu? Apa yang akan kau berikan padaku sebagai gantinya?"
Li Hua menegakkan tubuhnya, suaranya tegas dan jelas.
"Jika dalam tiga bulan aku tidak bisa membuktikan apa yang kukatakan, kau boleh menyuruhku bekerja seperti gadis-gadis lain di sini. Aku tidak akan menolak. Aku akan menerima semua keputusanmu."
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Nyonya Li menatapnya, melihat keyakinan yang begitu kuat di mata gadis itu — keyakinan yang membuatnya ragu sekaligus tertarik. Di sisi lain, jika rencana ini gagal, ia tidak akan kehilangan apa pun. Dan jika berhasil... keuntungannya sungguh menggiurkan. Belum lagi, jika ternyata Li Hua benar-benar Putri Keluarga Zhang, ia bisa meminta tebusan yang jauh lebih besar jika hal ini diketahui.
"Baik," ucap Nyonya Li akhirnya, tersenyum tipis. "Aku setuju."
Li Hua tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangannya ke arah wanita itu. Nyonya Li bingung sejenak, namun melihat keramahan dan ketulusan di wajah gadis itu, ia perlahan mengulurkan tangannya juga. Tangan mereka bersalaman — erat, mantap, menjadi tanda perjanjian yang mengikat keduanya.
"Kau tidak akan menyesalinya," ucap Li Hua lembut namun tegas.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Zhang, suasana begitu berbeda — penuh kegelisahan, keributan yang tertahan, dan kepura-puraan yang tersusun rapi. Tuan Besar dan Nyonya Besar baru saja pulang dari pesta Menteri Wang, wajah mereka masih tampak tersenyum sisa kebahagiaan, namun senyum itu lenyap seketika saat Bibi Niang menyambut mereka dengan wajah pucat dan berita yang menggetarkan.
"Li Hua hilang?" Nyonya Besar berbisik, lututnya terasa lemas. "Bagaimana bisa hilang? Bukankah dia ada di sini?"
"Kami sudah mencari ke seluruh bagian kediaman, Nyonya," jawab Bibi Niang menunduk. "Tidak ada jejaknya."
Di samping mereka, Shi Yin berdiri dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat dan sedih — ekspresi yang ia susun dengan hati-hati. Ia memegang lengan ibunya pelan, suaranya terdengar cemas dan pilu.
"Ibu... Ayah..." panggilnya lembut, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi?Adik Li Hua... dia pasti ketakutan sekali. Semoga dia baik-baik saja di mana pun dia berada." Ia menunduk, menyeka air mata buatan di sudut matanya. "Andai saja aku tidak pergi... andai saja aku menemaninya... mungkin hal ini tidak akan terjadi."
Nyonya Besar memeluk putrinya yang tampak begitu tulus berduka. "Bukan salahmu, Nak. Jangan menyalahkan dirimu. Kami akan mencarinya, percayalah."
Tuan Besar berdiri tegang, wajahnya muram. "Perintahkan semua orang mencari ke luar. Beri tahu pengawal gerbang. Siapa pun yang melihatnya, segera lapor."
Namun di balik kepala yang tertunduk itu, sudut bibir Shi Yin tersenyum samar — puas, lega, dan bangga akan rencananya yang berjalan sempurna.
Di bagian lain kediaman, Li Yun berjalan mondar-mandir di ruangannya, langkahnya cepat, wajahnya gelisah. Sesekali ia berhenti di jendela, menatap ke arah gerbang utama, lalu kembali berjalan. Qiao'er duduk di sudut ruangan, melipat tangannya di dada, berdoa dengan tulus di dalam hati, air mata menetes pelan di pipinya.
"Semoga Nona baik-baik saja... semoga dia segera ditemukan..." gumamnya berulang kali.
Belum lama itu berlalu, bayangan hitam meluncur masuk melalui celah jendela, berlutut di depan Li Yun dengan napas yang teratur meski pergerakannya cepat.
"Pangeran..." lapor prajurit itu pelan.
Li Yun berhenti seketika, mencondongkan tubuhnya. "Ada kabar?"
"Kami melacak jejak hingga gerbang samping," jawab prajurit itu. "Hanya ada satu kereta pengangkut kotoran hewan yang keluar pada jam yang tidak biasanya — tepat saat Nona Li Hua menghilang. Kereta itu bergerak menuju arah kota, bukan ke ladang seperti biasanya."
Mata Li Yun menyala tajam, kepalan tangannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kereta pengangkut kotoran..." gumamnya, lalu menegakkan tubuh dengan tegas. "Cari keberadaan para pengangkut itu. Tanyakan siapa yang menyewa mereka, ke mana mereka membawa barang muatannya. Aku yakin Li Hua ada di kereta itu."
"Siap, Pangeran!"
Prajurit itu lenyap kembali ke dalam kegelapan, seakan tak pernah ada. Li Yun berdiri sendirian, menatap pintu yang tertutup. Ia ingin sekali berlari keluar, mencari Li Hua sendiri, membelah seluruh kota jika perlu. Namun ia sadar — ia hanyalah Pangeran Tawanan. Ia tidak bisa keluar masuk kediaman ini sesuka hati tanpa izin Kaisar Ye Lu. Setiap gerakannya dipantau. Jika ia pergi tanpa izin, itu bisa menjadi alasan untuk memulai perang atau menuduh Negeri Tang Liang berkhianat.
Namun ia tidak akan diam saja. Li Hua telah menyelamatkannya, memberinya tempat, memperlakukannya seperti manusia bukan seperti tawanan. Dan sekarang, gilirannya untuk melindunginya.
"Tahanlah, Li Hua..." bisiknya pelan, matanya menatap ke arah cakrawala yang mulai gelap. "Aku akan menemukanmu. Tidak peduli ke mana mereka membawamu, tidak peduli siapa yang berani melakukan ini... aku akan datang menjemputmu."
Di sudut ruangan, Qiao'er mengangkat wajahnya, menyeka sisa air matanya. Ia berdiri perlahan, mendekat ke arah Li Yun.
"Pangeran..." panggilnya lembut. "Saya tahu Pangeran akan menyelamatkan Nona. Saya akan menunggu di sini, dan berdoa semoga perjalanan Pangeran selamat."
Li Yun menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan yang lebih lembut. "Kau tetap di sini, Qiao'er. Jaga tempat ini. Aku akan membawanya pulang."
Ia kembali menatap ke luar, di mana kegelapan malam mulai menyelimuti kota. Di suatu tempat di antara ratusan rumah dan lorong yang berliku, Li Hua ada di sana — sendirian namun tidak menyerah, berhadapan dengan bahaya yang tidak diketahui. Dan ia, Li Yun, akan menjadi orang yang menjemputnya pulang.