NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: SURAT TANPA PENGIRIM

Pagi turun di perbukitan dengan selimut kabut putih yang luar biasa tebal, menelan pepohonan pinus dan menyembunyikan tebing-tebing curam di sekeliling kediaman megah itu.

Udara terasa lembap dan menggigit tulang. Di dalam kamar mandi utama, Sesil berdiri mematung di depan cermin wastafel, menatap pantulan wajahnya sendiri.

Di rahang kirinya, tercetak jelas semburat warna biru keunguan—bekas cengkeraman tangan Alden semalam. Luka memar itu adalah bukti fisik pertama dari monster yang bersembunyi di balik setelan jas mahal dan senyuman menawan pria itu.

Sesil menyentuh memar itu perlahan. Rasa ngilu yang menjalar justru membuat senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya.

Ini adalah tanda kelemahannya, batin Sesil.

Dia kehilangan kendali karena ketakutan. Kebohongannya sudah berada di ujung tanduk.

Namun, saat ia melangkah keluar dari kamar dan menuruni tangga kayu jati melingkar menuju ruang makan, senyum dingin itu lenyap tak bersisa.

Ia kembali mengenakan topeng sempurnanya: Sesil yang rapuh, Sesil yang ketakutan, Sesil yang pikirannya tumpul akibat pengaruh Mandaroba Compound-9.

Alden sudah duduk di meja makan, meminum kopi hitamnya seraya membaca berita di tablet. Ketika melihat Sesil turun, pria itu segera meletakkan tabletnya. Raut wajahnya kembali memancarkan kehangatan dan rasa bersalah yang dipalsukan sedemikian rupa, seolah insiden mengerikan semalam tidak pernah terjadi.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Alden lembut.

Ia berdiri, menghampiri Sesil, dan menyentuh memar di rahang wanita itu dengan ujung ibu jarinya secara perlahan.

"Maafkan aku soal semalam. Aku... aku hanya terlalu takut kehilanganmu. Ingatan-ingatan palsu dari masa lalu itu hanya akan merusak proses penyembuhanmu. Kamu memaafkanku, kan?"

Sesil menundukkan pandangannya, membiarkan tubuhnya sedikit gemetar, berakting seolah ia sepenuhnya bergantung dan memaklumi tindak kekerasan tersebut.

"Aku yang salah, Alden. Aku tidak akan membahas mimpi-mimpi aneh itu lagi. Aku... aku memaafkanmu."

Alden tersenyum lebar, kepuasannya kembali utuh. Ia mengecup kening Sesil dan memeluknya protektif. "Aku harus pergi ke laboratorium di selatan hari ini. Ada inspeksi mendadak. Aku mungkin pulang sore. Beristirahatlah. Jika kamu butuh udara segar, berjalan-jalanlah di taman depan, tapi jangan keluar dari gerbang utama."

"Baik, Alden," bisik Sesil patuh.

Setengah jam kemudian, mobil SUV anti-peluru milik Alden melesat menembus kabut, meninggalkan rumah besar itu.

Keheningan kembali menguasai properti tersebut.

Ibu Marta sedang sibuk di ruang cuci pakaian yang berada di sayap paling belakang rumah. Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu Sesil.

Berbekal mantel wol tebal, Sesil melangkah keluar melalui pintu utama, menapaki jalan setapak berbatu kerikil yang membelah halaman rumput luas menuju arah gerbang utama.

Taman depan itu dikelilingi oleh tembok beton setinggi tiga meter dengan kawat berduri aliran listrik di bagian atasnya. Kamera pengawas (CCTV) bertengger di setiap sudut, lensa merahnya berkedip pelan, menyapu setiap pergerakan.

Sesil berjalan dengan langkah gontai, berpura-pura mengagumi bunga-bunga mawar putih yang bermekaran di tengah cuaca dingin—memastikan gesturnya terekam kamera sebagai aktivitas yang tidak mencurigakan.

Saat ia berjalan semakin dekat ke arah gerbang besi tempa raksasa yang menjulang tinggi, pandangan Sesil—yang kini setajam mata elang akibat otaknya yang bersih dari racun—menangkap sebuah kejanggalan.

Di bawah celah kecil antara gerbang besi dan aspal basah, tergeletak sebuah benda persegi panjang berwarna cokelat kusam.

Sebuah amplop.

Napas Sesil tertahan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Tempat ini berada di antah berantah, terisolasi dari peradaban.

Siapa yang bisa melewati sistem keamanan sensor perimeter di luar tembok dan menyelipkan sesuatu di bawah gerbang? Tukang pos tidak pernah datang ke mari; semua kebutuhan rumah tangga diantar oleh kurir khusus perusahaan Alden, dan mereka selalu masuk melalui pemeriksaan ketat.

Ini bukan dari kurir, naluri jurnalis Sesil menjerit, ini dari seseorang yang tahu aku ada di dalam.

Sesil melirik ke sudut kiri atas tembok. Kamera pengawas utama sedang berputar ke arah kanan.

Ia memiliki waktu tidak lebih dari enam detik sebelum lensa kamera itu kembali menyapu area gerbang.

Satu... Dua...

Sesil berpura-pura tersandung kerikil. Ia menjatuhkan diri ke tanah dengan gerakan natural, lututnya membentur aspal basah. Sambil bersimpuh, ia mengulurkan tangannya dengan kecepatan kilat, menyambar amplop cokelat kusam itu, dan menyelipkannya ke balik mantel wolnya tepat di atas perutnya.

Tiga... Empat... Lima...

Sesil perlahan berdiri, membersihkan lututnya dari kotoran dengan wajah datar, tepat saat lensa kamera pengawas kembali mengarah kepadanya. Ia berbalik, berjalan dengan tenang menjauhi gerbang menuju bangunan kaca berbentuk kubah di sisi barat rumah—rumah kaca tempat Alden menanam berbagai anggrek langka.

Rumah kaca adalah satu-satunya tempat yang paling aman. Kelembapan tinggi dan suhu yang diatur sedemikian rupa membuat kaca-kacanya selalu berembun, menciptakan tirai alami yang tidak bisa ditembus oleh kamera CCTV dari luar.

Selain itu, Alden tidak memasang kamera di bagian dalam karena uap air akan merusak komponen elektroniknya.

Begitu pintu rumah kaca tertutup rapat di belakangnya, Sesil bersandar pada meja tanam. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan liar. Aroma tanah basah dan pupuk memenuhi rongga hidungnya.

Dengan tangan gemetar, ia menarik amplop cokelat itu dari balik mantelnya.

Amplop itu polos. Tidak ada nama pengirim, tidak ada perangko, tidak ada alamat tujuan. Hanya kertas cokelat kusam yang sedikit lembap karena embun pagi. Permukaannya tertutup rapat oleh lem yang kuat.

Sesil merobek ujung amplop itu dengan tidak sabar. Tidak ada surat panjang atau pesan tertulis di dalamnya. Saat ia membalikkan amplop tersebut, selembar kertas foto jatuh ke atas telapak tangannya.

Mata Sesil membelalak lebar, menatap objek yang tercetak di atas kertas foto mengkilap itu. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Gelombang ingatan masa lalu mendadak menghantam otaknya dengan kekuatan yang nyaris membuatnya jatuh berlutut.

Itu adalah fotonya.

Sebuah foto candid masa lalu yang diambil dari jarak jauh, kemungkinan besar dari seberang jalan. Di dalam foto itu, Sesil yang berambut lebih pendek dan mengenakan kemeja kotak-kotak khas jurnalis lapangan, sedang duduk di dalam mobil Honda Civic miliknya yang kini telah menjadi bangkai di dasar jurang.

Jendelanya setengah terbuka.

Namun, bukan wajahnya yang membuat Sesil membeku. Perhatiannya tersedot sepenuhnya pada benda yang sedang dipegangnya erat-erat di dalam foto tersebut.

Sebuah jurnal bersampul kulit hitam. Jurnal tebal dengan tali pengikat merah yang terlihat sangat usang.

"Buku catatanku..." bisik Sesil, suaranya parau oleh emosi yang membuncah.

Ingatan malam kecelakaan itu meledak kembali di kepalanya seperti kembang api. Jurnal hitam itu bukanlah buku sembarangan.

Itu adalah nyawanya. Itu adalah hasil investigasinya selama delapan bulan penuh.

Di dalam lembaran-lembaran jurnal hitam itu, Sesil telah mencatat semua bukti kejahatan PT Mandaroba Medika.

Daftar pasien uji coba ilegal yang tewas, rumus formula sintetis Compound-9, hingga aliran dana gelap yang langsung mengarah pada tanda tangan Alden.

Malam itu, di tengah hujan deras, mobilnya ditabrak dengan sengaja. Di ambang kesadarannya yang meredup, Sesil mengingat siluet Alden berdiri di samping tubuhnya yang berlumuran darah. Ia mengingat perintah dingin pria itu kepada anak buahnya: "Ambil buku catatannya."

Sesil meremas tepi foto tersebut. Pikirannya berputar dengan kecepatan cahaya, merangkai teka-teki yang kini mulai memperlihatkan bentuk aslinya.

Seseorang telah mengirimkan foto ini padanya. Seseorang di luar sana—mungkin Rian, mungkin seorang pembocor rahasia (whistleblower) dari dalam laboratorium Alden, atau bahkan musuh bisnis Alden—mengetahui kebenaran ini.

Pengirim misterius ini sedang mencoba memberitahukan tiga hal krusial kepada Sesil.

Pertama: Aku tahu kamu masih hidup dan disekap di rumah ini.

Kedua: Aku tahu kamu bukan Sesil yang amnesia; ingatlah siapa dirimu.

Dan yang ketiga, yang paling penting: Jurnal hitam itu belum dihancurkan.

Jika Alden telah menghancurkan jurnal hitam itu, foto ini tidak akan dikirimkan sebagai sebuah petunjuk.

Alden, dengan sifat arogansinya yang luar biasa dan obsesinya terhadap kontrol, pasti menyimpan jurnal itu sebagai trofi kemenangannya, atau karena ada data di dalamnya yang masih belum berhasil ia dekripsi.

Jurnal itu ada di sini. Di suatu tempat di dalam rumah raksasa ini. Sangat mungkin tersembunyi di balik pintu baja ruang kerja rahasia Alden di ujung koridor lantai dua.

Sesil mengangkat wajahnya. Embun di kaca rumah itu memantulkan siluet wajahnya yang kini tidak lagi memancarkan keputusasaan. Kedua matanya menyala terang, memancarkan aura beringas seorang jurnalis investigasi yang telah menemukan kembali taringnya.

Ia tidak hanya akan melarikan diri dari tempat ini. Melarikan diri tanpa bukti hanya akan membuatnya diburu oleh jaringan kekuasaan Alden dan akhirnya benar-benar dibunuh.

Tidak.

Ia harus menemukan jurnal hitam itu. Ia harus mengambil kembali bukti-bukti itu, lalu menghancurkan kerajaan bisnis Alden dan menyeret sosiopat itu ke dalam jeruji besi terdalam.

Tiba-tiba, suara derik gagang pintu rumah kaca terdengar.

Sesil bergerak secepat kilat. Ia menyelipkan foto dan amplop itu ke dalam saku dalam mantelnya, lalu menyambar gunting dahan di atas meja, berpura-pura memotong daun kering dari tanaman anggrek.

"Nona Sesil?" Suara parau Ibu Marta terdengar dari ambang pintu. Wanita tua itu mengintip ke dalam. "Ah, Anda di sini rupanya. Saya sudah menyiapkan cokelat panas di ruang tengah. Angin di luar semakin kencang, sebaiknya Anda segera masuk, Nona."

Sesil menoleh. Topeng kepatuhannya kembali terpasang sempurna. Mata sayunya mengerjap pelan, bibirnya melengkung membentuk senyuman rapuh dan polos.

"Terima kasih, Ibu Marta," jawab Sesil dengan nada suara yang sengaja dilemahkan. "Aku akan segera masuk. Aku... aku hanya merasa sedikit pusing menatap kabut di luar."

"Tentu, Nona. Hati-hati langkah Anda." Ibu Marta mengangguk dan berbalik kembali menuju rumah utama.

Sesil meletakkan gunting dahan itu kembali ke atas meja. Sambil berjalan keluar dari rumah kaca, tangannya meraba saku dalam mantelnya, merasakan tekstur kertas foto tersebut. Jantungnya berdetak dengan ritme perang.

Sebuah surat tanpa pengirim telah membangunkannya dari mimpi buruk panjang.

Permainan telah berbalik.

Alden mungkin berpikir bahwa ia mengendalikan boneka yang telah dicuci otaknya, namun pria itu tidak menyadari bahwa ia baru saja membangunkan seekor harimau yang siap mengoyak lehernya dari dalam sangkar emasnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!