Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Hitam di Atas Meja Marmer dan Pilihan Tanpa Jalan Keluar
Pagi itu, langkah Juwita menyusuri gerbang SMA Pelita Bangsa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Meskipun medali emasnya telah tergadai di sebuah toko gadai demi menyelamatkan nyawa ibunya, dada Juwita masih menyimpan sedikit kehangatan. Ia berpikir, setidaknya setelah apa yang ia buktikan di panggung nasional—meskipun sempat dijegal dan hampir hancur—pihak sekolah mau tidak mau harus mengakui keberadaannya. Mungkin, bisik-bisik kebencian akan sedikit mereda.
Namun, khayalan itu buyar seketika saat ia tiba di depan mading sekolah. Sekelompok siswa tampak bergerombol, menunjuk-nunjuk ke arah sebuah pengumuman resmi berlogo lambang sekolah yang baru saja ditempel. Begitu Juwita mendekat dan membaca baris demi baris tulisan di kertas itu, darah di tubuhnya mendadak seakan membeku.
SURAT KEPUTUSAN DEWAN DIREKSI SEKOLAH Perihal: Pencabutan Seluruh Beasiswa dan Status Siswa atas nama Juwita. Alasan: Yang bersangkutan terbukti melakukan tindakan indisipliner berat, mencoreng nama baik institusi, dan secara terbuka melawan serta mempermalukan pihak sekolah di ajang kompetisi tingkat nasional.
Sebelum Juwita sempat mencerna arti dari kata-kata itu, seorang staf tata usaha lewat di sampingnya dan menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal dengan dingin. "Kamu dipanggil Kepala Sekolah sekarang juga, Juwita."
Ruang kerja Pak Haris terasa mencekam seperti ruang interogasi. Kepala sekolah itu duduk bersidekap di balik meja mahalnya, sementara di sudut ruangan, Kevin Aditama berdiri dengan senyum menyeringai, memegang secangkir kopi hangat seolah ia adalah penguasa mutlak tempat itu.
"Duduk, Juwita," ucap Pak Haris tanpa basa-basi, suaranya kering dan penuh antipati.
Juwita tidak duduk. Ia tetap berdiri tegak, menggenggam amplop cokelat itu erat-erat hingga kertasnya kusut. "Apa maksud dari pengumuman di mading tadi, Pak? Kenapa beasiswa saya dicabut? Saya membawa pulang kehormatan bagi dunia sains, bukan mencoreng nama sekolah!"
"Kehormatan?!" Pak Haris memukul meja dengan keras, wajahnya memerah menahan amarah. "Kau mempermalukan keluarga besar Aditama di depan para juri nasional! Kau membuat donatur terbesar sekolah ini—keluarga Kevin—kehilangan muka! Dan sekarang kau masih punya keberanian untuk berdebat?!"
Kevin melangkah maju, meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu menatap Juwita dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Sekolah ini bukan tempat penampungan anak jalanan seperti lo, Juwita. Lo cuma numpang hidup di sini pakai belas kasihan beasiswa. Sekarang, setelah lo sok pahlawan dan bikin masalah, yayasan resmi mencabut seluruh fasilitas dan potongan biaya sekolah lo."
Pak Haris mendorong selembar dokumen lain ke hadapan Juwita. "Kami memberikan dua pilihan padamu, Juwita. Pilihan pertama: lunasi seluruh biaya administrasi dan uang gedung sekolah secara mandiri terhitung sejak semester pertama hingga lulus—totalnya mencapai tujuh puluh juta rupiah. Bayar tunai minggu ini."
Juwita terkesiap. Tujuh puluh juta rupiah? Bagi orang lain mungkin itu sekadar angka, tapi bagi Juwita, itu setara dengan harga nyawanya sendiri. Jangankan tujuh puluh juta, untuk makan sehari-hari dan biaya obat ibunya saja ia harus berdarah-darah.
"Jika kamu tidak mampu membayar secara mandiri," lanjut Pak Haris dengan senyum dingin penuh kepalsuan, "maka opsi kedua adalah menandatangani surat pengunduran diri ini sekarang juga. Keluar dari SMA Pelita Bangsa, dan cari sekolah lain yang setara dengan kelas sosialmu."
Suasana di dalam ruangan itu mendadak sunyi senyap. Udara terasa begitu tipis, seolah oksigen di ruangan itu sengaja disedot habis untuk mencekik leher Juwita. Dua pilihan yang diberikan bukanlah sebuah solusi; itu adalah sebuah eksekusi mati secara perlahan. Memilih bertahan berarti ia harus mencari uang dalam jumlah yang mustahil, sementara memilih pergi berarti menyerah pada takdir dan membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas penderitaannya.
Juwita menatap dokumen di atas meja itu lama sekali. Bayangan ibunya yang terbaring lemah di ranjang klinik, tangan wanita itu yang penuh luka karena mencuci karpet, dan pengorbanan medali emas yang baru saja ia gadaikan malam tadi... semuanya berkelebat di benaknya.
Jika ia menyerah sekarang dan keluar dari sekolah ini, maka seluruh penderitaan ibunya akan menjadi sia-sia. Pengorbanan medali emas itu akan menjadi tak bermakna. Keluarga Aditama akan menang mutlak, meremahkan mereka tanpa sisa.
Tiba-tiba, sudut bibir Juwita terangkat membentuk sebuah senyuman tipis—senyuman yang justru membuat Kevin bergidik ngeri karena memancarkan aura dingin yang tidak biasa.
Juwita mengambil pulpen di atas meja Pak Haris. Kevin tersenyum lebar, mengira gadis itu menyerah dan akan menandatangani surat pengunduran diri.
Namun, alih-alih mengisi lembar pengunduran diri, Juwita menyobek kertas dokumen itu menjadi dua bagian di hadapan mereka berdua, lalu melemparkan serpihannya ke lantai.
"A-apa yang kau lakukan?!" bentak Pak Haris berdiri terkejut.
Juwita menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Kepala Sekolah dan Kevin bergantian dengan sorot mata yang menyala tajam bak bara api yang tak bisa dipadamkan oleh badai apa pun.
"Saya tidak akan membayar sepeser pun uang tujuh puluh juta itu pada sekolah korup ini," ucap Juwita dengan suara tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya bergemah penuh otoritas. "Dan saya juga tidak akan pernah menandatangani surat pengunduran diri."
"Kau sudah gila, ya?!" seru Kevin geram. "Mau pakai uang dari mana buat sekolah di sini kalau bukan dari beasiswa?! Mau jadi pengemis di gerbang sekolah?!"
"Simpan kekhawatiranmu, Kevin," balas Juwita dingin, melangkah mundur perlahan menuju pintu keluar. "Aku akan tetap duduk di kelas itu. Aku akan menyelesaikan sekolah ini sampai hari kelulusan tiba di atas keringat dan usahaku sendiri. Jika kalian pikir kemiskinan dan kelicikan kalian bisa mendepakku, kalian salah besar."
Juwita memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Pak Haris yang terduduk lemas karena amarah dan Kevin yang mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
Keluar dari gedung utama, Juwita berdiri di bawah terik matahari pagi. Angin kencang menerpa seragam kusamnya. Tidak ada lagi tempat berlindung. Tidak ada lagi beasiswa yang menopangnya. Di pundak gadis SMA yang baru saja kehilangan medali kebanggaannya itu kini terpikul beban hidup yang mustahil.
Namun, alih-alih menangis, Juwita menarik napas dalam-dalam. Ia mengepalkan kedua tangannya di dalam saku roknya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah sumpah mati baru saja diikrarkan: Dunia boleh merampas segalanya dariku, tapi selama otak ini masih berpikir, aku akan membuat kalian semua berlutut.