Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi berikutnya, SMA Nusa Bangsa diselimuti suasana yang luar biasa meriah. Sinar matahari pagi yang hangat seolah ikut menyambut pahlawan baru mereka. Begitu Maya melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah, suasana koridor yang biasanya dingin dan penuh tatapan meremehkan seketika berubah total. Siswa-siswa yang berpapasan dengannya memberikan jalan, tersenyum lebar, dan tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan serta ucapan selamat.
"Selamat ya, Maya! Lu keren banget!"
"Wah, bangga banget punya temen seangkatan kayak lu, May!"
Maya menunduk malu, menyunggingkan senyum tulus yang amat tipis. Rasa haru membuncah di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa dihargai dan diakui bukan karena harta atau status sosial, melainkan karena buah dari kerja keras dan kejujurannya sendiri.
Pagi itu, atas instruksi Kepala Sekolah, seluruh siswa dari kelas sepuluh hingga dua belas dikumpulkan di dalam aula utama untuk menghadiri apel khusus pengoperan prestasi. Suasana aula bergemuruh riuh oleh perbincangan para siswa yang tak henti-hentinya memuji kecerdasan Maya.
Di atas panggung utama, Kepala Sekolah berdiri bersama jajaran guru pendamping. "Anak-anak sekalian, hari ini adalah hari yang sangat membanggakan bagi SMA Nusa Bangsa. Salah satu siswi terbaik kita telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi tertinggi!" suara Kepala Sekolah bergema mantap melalui pengeras suara. "Mari kita panggil ke atas panggung, peraih Juara Pertama Olimpiade Sains Tingkat Kota, Maya!"
Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai menggelegar dahsyat, memenuhi seluruh sudut aula. Maya melangkah naik ke atas panggung dengan dada terangkat namun tetap bersahaja. Di sana, Kepala Sekolah mengalungkan medali emas, menyerahkan piala kehormatan, serta memberikan piagam penghargaan beserta beasiswa pendidikan penuh dari sekolah.
Semua mata memandang bangga ke arah Maya. Para guru mengangguk puas, merasa perjuangan mereka mendidik siswi berprestasi itu tidak sia-sia. Di barisan belakang, suara bisik-bisik kagum tak henti-hentinya mengelu-elukan kepintaran Maya yang dianggap sangat jenius dalam menguraikan soal-soal analisis rumit.Namun, di barisan belakang , berdiri sosok Lexa dengan wajah yang memerah padam.
Mata Lexa menyalang tajam, menatap lurus ke arah Maya yang sedang disinari lampu panggung dan kilatan kamera. Di balik bajunya yang tidak lagi disetrika semewah biasanya akibat seluruh fasilitasnya dicabut dan tidak ada lagi pembantu yang melayaninya dada Lexa bergemuruh oleh api cemburu yang membakar hebat. Setiap kali tepuk tangan membahana untuk Maya, rasanya bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya.
"Harusnya gue yang berdiri di sana!" ,geram Lexa dalam hati, meremas jemarinya hingga kuku-kukunya memutih. "Harusnya nama gue yang dipanggil! Harusnya medali dan beasiswa itu milik gue! Cewek kotor itu udah merebut semuanya dari gue!"
Bayangan tentang piala kristal, pujian orang tuanya yang sirna, serta fasilitas mewahnya yang melayang makin menyiksa batin Lexa. Rasa dengki yang teramat dalam telah sepenuhnya membutakan akal sehatnya.
Waktu berlalu hingga bel istirahat pertama berdering nyaring. Suasana kantin dan koridor sekolah riuh oleh para siswa yang saling berkumpul. Namun, bagi Lexa, atmosfer sekolah hari ini terasa bagaikan neraka yang sangat menyiksa.
Saat Lexa melangkah menyusuri koridor bersama Hani, Aurel, dan Lana yang berjalan agak menjauh dengan canggung, bisik-bisik dan sindiran halus dari siswa-siswa lain mulai terdengar menusuk telinga. Momen memalukan saat Lexa kepedean berdiri duluan sebelum nama pemenang selesai dibacakan di siaran live kemarin ternyata telah menjadi bahan lelucon hangat di seluruh penjuru sekolah.
"Eh, liat tuh si Ratu Sekolah... Kemarin di live streaming udah kepedean banget berdiri duluan mau mengambil piala, eh ternyata yang dipanggil malah nama Maya!" cemooh seorang siswi di dekat mading sambil tertawa kecil bersama teman-temannya.
"Iya, asli malu-malu-in banget! Mana udah gaya banget berdiri mengibas rambut, tahu-tahu zonk!" timpal siswa lainnya tanpa rasa takut. "Ternyata gaya doang gede, otaknya mah tetep kalah jauh sama Maya si anak penjual sayur."
Mendengar sindiran-sindirian tajam yang terlontar terang-terangan di sepanjang koridor, rahang Lexa mengencang keras. Urat-urat di lehernya menegang, darahnya mendidih hingga ke puncak kepala. Kehormatan dan gengsi yang selama ini ia agung-agungkan di SMA Nusa Bangsa hancur melayang dalam sekejap, berubah menjadi bahan tertawaan satu sekolah.
"Lex... mending kita ke kelas aja yuk, nggak usah dengerin mereka," bisik Aurel takut-takut, melihat wajah Lexa yang sudah sangat menakutkan.
"Diem lu!" bentak Lexa dengan suara melengking, membuat Aurel seketika terbungkam kaku.
Amarah yang sudah tidak menentu dan dendam yang memuncak membuat Lexa kehilangan seluruh kendali dirinya. Ia memutar tubuhnya kasar, mencari sosok yang menurutnya menjadi biang kerok dari seluruh kehancuran hidupnya hari ini. Dan di ujung koridor dekat perpustakaan, ia melihat Maya baru saja keluar sambil memeluk piala dan piagam penghargaan nya.
Tanpa berpikir panjang, Lexa melangkah lebar dengan hentakan kaki yang menggelegar, menerobos kerumunan siswa.
"MAYA!" teriak Lexa histeris hingga seluruh koridor mendadak hening seketika.
Maya tersentak dan menghentikan langkahnya. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Lexa sudah berada di hadapannya. Dengan mata merah yang berkilat penuh kebencian, Lexa mendorong bahu Maya dengan sangat keras hingga tubuh kurus Maya terhuyung dan jatuh tersungkur ke lantai keramik!
*PRANG!*
Piala kristal di tangan Maya terlepas dan menghantam lantai, menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.
"Lu puas, hah?! Lu puas udah bikin hidup gue hancur?!" amuk Lexa histeris, berdiri di atas Maya yang sedang merintih kesakitan di lantai. Lexa menunjuk-nunjuk wajah Maya dengan jari yang bergetar hebat. "Gara-gara lu, gue dipermalukan! Gara-gara lu, mama sama papa gue benci sama gue dan tarik semua fasilitas gue! Lu itu cuma anak penjual sayur kotor yang nggak tahu diri! Lu nggak pantes dapet semua penghargaan ini!"
Siswa-siswa di sepanjang koridor terperanjat shock melihat aksi nekat dan brutal dari Lexa. Hani, Aurel, dan Lana hanya bisa berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, tak berani melerai ketua geng mereka yang sudah benar-benar dirasuki oleh amarah dan kegilaan murni.
Maya memegang sikunya yang memar akibat terbentur lantai. Ia menatap piala di dekatnya, lalu mendongak menatap Lexa. Namun kali ini, di balik kacamata tebalnya, tidak ada lagi sorot mata ketakutan atau kepasrahan seperti biasanya. Di hadapan amukan hinaan Lexa, Maya menatap sang ratu sekolah dengan tatapan tenang yang penuh ketegasan siap menghadapi apa pun konsekuensi dari kemenangan jujurnya.