NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:52.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Sisi Ranjang yang Kosong

Raka memerhatikan kakaknya yang duduk di sofa sambil masih menggenggam ponsel. Pipinya tampak kemerahan, tetapi sudut bibirnya juga seperti menahan senyum.

“Kak, kenapa?” tanyanya.

Alisha tersentak kecil lalu buru-buru mematikan layar ponselnya. “Gak apa-apa.”

“Bohong.” Raka menyipitkan mata. “Lagi mikirin apa, hayo?”

“Kepo, deh.” Alisha menahan senyum, pura-pura sewot.

Raka terkekeh. “Kakak ditembak Kak Yudhis, ya?”

“Apaan sih?” Alisha langsung menoleh. “Mana ada.”

“Terus kenapa tersipu malu gitu?” cecar Raka.

Alisha terdiam sesaat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa sejak tadi pikirannya justru berputar pada Ares. Pada sikap pria itu pagi tadi, pesan yang baru saja dikirim, bahkan pada kemungkinan yang membuat pipinya kembali terasa panas.

“Aku cuma...” Alisha mengusap ujung ponselnya. “Dapat pesan yang agak aneh.”

“Dari siapa?” selidik Raka.

“Orang kantor," jawab Alisha ringan.

Raka menatapnya curiga, tetapi akhirnya tidak mengejar.

Alisha justru menarik napas lega. “Malam ini Kakak temenin kamu, ya.”

“Loh, bukannya Kakak harus nemenin pria itu?”

Alisha terdiam sebentar. “Katanya malam ini aku gak perlu dateng.”

“Kenapa?”

“Katanya dia mau sendiri.”

Raka mengangguk-angguk. “Berarti Kakak bisa istirahat.”

“Iya.” Namun entah kenapa, jawaban itu tidak membuat Alisha merasa lega.

Beberapa jam kemudian, Raka akhirnya tertidur.

Alisha mematikan lampu utama dan berbaring di sofa kecil di samping ranjang adiknya. Sofa itu cukup empuk. Jauh lebih nyaman daripada lantai yang biasa ditempatinya ketika menjaga Raka.

Ia menarik selimut hingga ke dada. Seharusnya ia bisa tidur dengan nyaman. Namun setelah beberapa menit, Alisha justru membuka mata.

Tangannya bergerak sedikit ke sisi tubuhnya yang kosong. Biasanya ada lengan yang merengkuhnya. Ada dada bidang tempat kepalanya bersandar.

Ada suara napas seseorang yang perlahan teratur di dekatnya. Detak jantung yang membuatnya enggan melepas alat bantu dengarnya meski saat tidur. Alisha menarik selimut lebih tinggi.

“Aneh.”

Ia membalikkan tubuh menghadap sandaran sofa. Sofa ini tidak dingin. Tidak membuat punggungnya sakit.

Tapi kenapa rasanya tetap ada yang kurang?

Alisha memejamkan mata. Mungkin karena ia sudah terbiasa. Atau mungkin karena tubuhnya ternyata lebih cepat mengingat kenyamanan sebuah pelukan daripada pikirannya sendiri.

Dan tanpa sadar, ia membayangkan suara Ares yang rendah saat menyuruhnya tidur.

Pipi Alisha kembali menghangat. Ia buru-buru menarik selimut menutupi sebagian wajahnya.

“Jangan mikirin dia.”

Namun semakin ia berusaha mengusir bayangan itu, semakin jelas rasa kosong di sisi tubuhnya terasa.

 

Di rumahnya, Ares juga belum tidur. Ia sudah beberapa kali mengubah posisi, tetapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit.

Biasanya setelah Alisha berada di sampingnya, tubuhnya lebih mudah rileks. Pelukan itu seperti memberi tanda bahwa hari sudah selesai.

Ares akhirnya memiringkan tubuh. Tangannya bergerak ke sisi ranjang yang kosong. Jarinya menyentuh seprai yang dingin.

Seharusnya di sana ada Alisha. Seharusnya ketika ia merentangkan tangan, perempuan itu akan berada dalam pelukannya seperti malam-malam sebelumnya.

Ares menarik tangannya kembali. Ia mengembuskan napas panjang.

“Bodoh.”

Tadi sore ia sendiri yang menyuruh Alisha tidak datang. Dan sekarang justru dirinya yang tidak bisa tidur.

Ares memejamkan mata, mencoba mengabaikan perasaan itu. Namun pikirannya malah kembali pada pagi tadi.

Pada Alisha yang masih terlelap dalam pelukannya. Pada gerakan kecil perempuan itu yang tanpa sadar membuat tubuhnya menegang.

Lalu ingatannya bergeser pada kejadian sebelumnya. Pintu kamar mandi yang terbuka. Rambut Alisha yang masih basah.

Handuk yang terlilit dari dada hingga paha ketika perempuan itu keluar tanpa menyadari dirinya terlihat dari layar.

Ares membuka mata. Napasnya berubah berat. Ia mengusap wajah dengan telapak tangan.

“Kenapa harus ingat itu sekarang?”

Ia bangkit dari posisi berbaring dan duduk di tepi ranjang. Hasrat yang tadi berhasil ia tekan kembali muncul hanya karena sebuah ingatan.

Ares menunduk, lalu mengusap tengkuknya. Inilah alasan ia menyuruh Alisha tidak datang malam ini. Bukan karena ia tidak ingin melihatnya.

Justru karena ia terlalu ingin.

Dan setiap kali Alisha berada dekat dengannya, semakin sulit bagi Ares untuk berpura-pura bahwa hubungan mereka hanya sebatas kontrak.

Ia kembali berbaring. Tangannya tanpa sadar meraih sisi ranjang yang kosong sekali lagi. Kali ini ia berhenti lebih lama. Ada rasa kehilangan yang aneh di dadanya. Padahal baru satu malam. Ares menatap tempat kosong itu.

“Besok,” gumamnya pelan.

Ia tidak tahu apakah yang ia nantikan adalah kedatangan Alisha atau sekadar pelukan yang selama beberapa hari terakhir sudah menjadi kebiasaannya.

Di rumah sakit, Alisha juga masih terjaga. Ia menarik selimut sampai ke dagu, sementara pikirannya terus kembali pada sisi ranjang yang biasanya ditempati Ares.

Malam itu mereka tidur di tempat yang berbeda. Namun keduanya sama-sama memikirkan ruang kosong yang biasanya diisi oleh satu sama lain.

Dan tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa yang mulai mereka rindukan bukan lagi sekadar kebiasaan.

Alisha akhirnya menyerah untuk memejamkan mata.

Ia bangkit dari sofa, memastikan Raka masih tertidur, lalu berjalan pelan keluar dari kamar.

Koridor rumah sakit masih diterangi lampu redup. Alisha berhenti di dekat jendela besar di ujung lorong. Ia menarik napas panjang, berharap udara malam bisa membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

Tangannya menyentuh alat bantu dengarnya. Suara mesin pendingin, langkah perawat yang sesekali melintas, hingga bunyi roda troli terdengar samar.

Alisha menatap ke luar jendela. Entah kenapa malam ini terasa panjang. Ia baru saja hendak kembali ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.

“Belum tidur?”

Alisha membeku. Suara itu terdengar begitu familiar. Ia perlahan menoleh. Namun sebelum sempat melihat siapa yang berdiri di belakangnya, pria itu sudah melangkah mendekat.

Alisha mengernyit. “Tuan...?”

Pria itu berhenti.

Dan untuk sesaat, Alisha hanya bisa menatap sosok di hadapannya.

 

...✨“Kebiasaan bisa dimulai tanpa perasaan, tetapi ketika kehadiran seseorang mulai dirindukan, mungkin hati sudah berjalan lebih jauh dari yang kita sadari.”...

...“Yang awalnya hanya kebiasaan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang takut kehilangan.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
anonim
Ares ingin menolong Alisha. Namun kondisi Ares sendiri semakin parah. Bahkan terhuyung. Rasa pusing dan sesak terus menekan dadanya. Kakinya berat untuk melangkah, perutnya bergejolak hebat.

Merasa dirinya nggak apa-apa, Ares menolak untuk duduk. Dia mencoba melangkah, tapi kepalanya berdenyut.

Ares terlalu memaksakan diri dengan kondisi yang parah begitu.

Akhirnya Reki yang akan menjemput Alisha.
anonim
Alisha yang berdiri tak jauh dari sana mendengar potongan pembicaraan tentang Ares yang alergi perempuan.

Alisha seperti tak tega melihat Ares dalam kondisi seperti itu. Ingin menghampiri Ares.

Naas bagi Alisha yang belum sempat melangkah, seorang pelayan yang mau jatuh menumpahkan minuman merah tepat ke bagian depan gaun Alisha.

Gaun Alisha yang basah melekat pada kulit, terlihat jelas garis tubuhnya. Alisha merasa malu dan tidak nyaman dilihat beberapa pria di dekatnya.

Dasar Arga playboy cap kadal buntung, itu idenya. Ia ingin melihat reaksi Ares ketika melihat Alisha menjadi pusat perhatian.
anonim
Ares perutnya mendadak bergejolak ketika bau parfum dari perempuan yang mendekati ingin berkenalan dengannya.

Ares mengalami siksaan di seluruh tubuhnya seperti yang sudah-sudah kalau mencium aroma parfum dari seorang perempuan.

Reki menyuruh perempuan itu untuk menjaga jarak. Dia jelaskan pada perempuan itu kenapa harus menjaga jarak.

Ares yang alergi perempuan jadi bahan bisik-bisik dari beberapa tamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!