Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Flashback 2
Waktu telah berlalu cepat. Langit berganti menjadi gelap. adzan maghrib pun sudah selesai berkumandang. Galang yang masih terjaga dalam tidurnya.
Bibinya sedang bersiap-siap untuk shalat maghrib di masjid, ditangannya sudah memegang sajadah dan sudah memakai atas mukena serta bawahannya. ia melangkah menuju ke sofa untuk membangunkan Galang agar ikut dirinya shalat di masjid. Bibinya mengguncang-guncangkan tubuh Galang agar bangun. "Lang bangun ini udah maghrib, pamali maghrib-maghrib tidur," Galang yang merasa tubuhnya diguncang. ia membuka matanya perlahan dan mengucek-ngucek matanya. ia melihat bibinya sudah ada di depannya. "Eh bibi, aku tadi mimpi, memang ini sudah maghrib yah?" tanya Galang yang setengah sadar karena baru bangun dari tidurnya.
"Enggg...gak... sudah subuh," jawabnya sarkas dengan raut wajahnya yang innocent(sinis). Galang yang melihat bibinya seperti kesal, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu galang menyeringai. Ia langsung mengucapkan minta maaf. "Maaf yah bi, aku gak berniat bikin bibi kesal kok," ucap Galang memelas di depan bibinya.
"Hem.. yasudah sana kamu wudhu, shalat maghrib di masjid. kamu kan cowok, bukan banci," ucapnya sarkas lagi. Lalu bibinya Galang pun berjalan lebih dahulu, sedangkan galang masih duduk di sofa.
Setelah bibinya sudah pergi. Galang menggerutu. "Ihh malas sekali aku harus shalat, andai aku gak berkunjung ke rumah bibi aku gak akan mau shalat," Galang menghentakan kakinya. lalu ia bergegas melangkah ke kamar tamu untuk mengambil sajadah. setelah itu ia melangkah ke pintu luar untuk melaksanakan shalat maghrib di masjid.
...****************...
Felicya yang sudah berada di jalan ingin melaksanakan shalat di masjid sendirian. di sepanjang perjalanannya felicya mendekap sajadahnya dan palanya menunduk ke bawah. bersamaan dengan Galang yang sedang terburu-buru jalannya, takut ketinggalan shalat berjama'ah. Felicya dan Galang tidak sengaja bertabrakan.
"Bug.." Suara benturan pala felicya di pundak galang yang keras. Felicya memegang dahinya yang sakit karena terbentur tulang pundak Galang.
Galang pun menggertu. "Heh lu kalau jalan pake mata yeh neng, gak liat apa ada orang. untung gua belum wudhu. " Galang menatapnya sinis. Namun, ia tidak tahu bahwa wanita yang ia tabrak adalah felicya. Saat Felicya mengangkat palanya ingin menatapnya. mereka berdua terkejut. "Loh ternyata kamu," ujar Galang membulatkan matanya dan menunjuk felicya. Felicya pun menjawab. "Kamu lagi kamu lagi, kenapa ketemu sama kamu sih," gerutu Felicya lalu ia pun membuang muka dan membalikan badan meninggalkan galang yang masih menatapnya diam. Galang pun mengikutinya dari belakang. Felicya tahu galang berjalan di belakangnya. Namun, ia tidak ingin mencurigai Galang bahwa dirinya tidak mengikutinya karena mereka mempunyai satu tujuan sama yaitu shalat di masjid. Saat mereka sudah sampai di depan masjid Felicya berjalan menuju tempat air wudhu perempuan begitu pun dengan galang berjalan menuju tempat wudhu laki-laki.
setelah 3 menit mereka berwudhu, mereka menuju shaf shalatnya masing-masing, mereka masih ada kesempatan berjama'ah dengan imam yang sama.
Imamnya pun membaca surah alwaqiah dengan menghayati terdengar suaranya lirik dan isakan di mic nya. Felicya yang mendengar imamnya membaca surat dengan menghayati butiran air mata lolos dari pipinya. Felicya membayangkan dirinya akan terbayang api neraka, ia masih dalam isakan yang kecil tidak terdengar dengan di sampingnya. begitupula dengan jama'ah yang lainnya ikut terbawa sediu kecuali hanya Galang yang hatinya tidak merasa ada sentuhan. Galang yang tanpa sadar menoleh ke arah kanan dan kirinya, ia bingung melihat orang yang di sampingnya menangis, begitu dengan yang di ujung barisan pun ikut terbawa sedih. Galang mencoba merenungkan, namun tak ada satu pun dihatinya terasa sesak mendengar suara imamnya membaca surah tersebut. "Kenapa aku merasa biasa saja, aneh sekali mereka," gumamnya kedua tangannya masih bersedekap di dadanya. Galang yang tidak pernah diajarkan shalat oleh ke dua orang tuanya, saat ia pertama kali shalat di masjid dan melihat jama'ah berlinang air mata mendengar suara imamnya melantunkan surah alquran menurutnya aneh. berbeda dengan Felicya yang sudah terbiasa shalat dan mengaji dengan guru ngajinya yang tidak jauh dari rumah ibunya.
Setelah lima belas menit mereka shalat, jama'ah yang lain pun sudah ada yang pulang dan masih ada yang di dalam masjid ikut berdoa dengan imamnya tadi. Felicya pun masih berdiam di masjid dan ikut berdoa juga. Sedangkan Galang hanya ikut-ikutan saja berdoa walau dia tidak tahu arti yang di doakan imamnya, setidaknya dia berusaha menghargai imamnya. sepuluh menit mereka berdoa. imamnya pun pamit pulang terlebih dahulu. "Jang, ane pulang yah, Pak. " ucapnya sambil bersalaman pada para jama'ahnya. Galang membalas salamannya dan tersenyum. Ketika Galang hendak ingin keluar masjid, mohon Felicya juga keluar dari shaf perempuan. Mata galang tertuju ke arah Felicya yang sedang berjalan ke depan pintu. Lalu ia memanggilnya. "Felicya", Felicya ada yang memanggil namanya. Lalu ia menoleh ke belakang, saat ia menolat yang dia lihat adalah Galang. Felicya mengernyitkan dahinya, ia tidak tahu kenapa dirinya di panggil oleh Galang. Galang berjalan mendekatinya. "Felicya kita pulang bareng yuk. kebetulan rumahku gak jauh dari masjid," ajak Galang pada Felicya untuk pulang jalan bersamanya. Felicya menimbang-nimbangkan ajakan dari Galang. "Bagaimana kalau kamu berniat jahat denganku?" tanya Felicya menyelidik wajah Galang matanya menatap Galang tajam. Dia merasa di tatap tajam merasa dirinya curigai, Galang menjawabnya.
"Aku gak ada niat jahat padamu, karena kamu perempuan dan di perjalanan sepi, lebih baik kamu pulang jalan bersamaku, jadi kalau kamu ada apa-apa aku bisa menolong kamu," jawabnya tanpa ada niat jahat pada felicya.
"Oh okey deh, aku mau pulang jalan kaki sama kamu," Felicya menyetujui ajakan galang, ia merasa perkataan galang ada benarnya juga. Mereka pun pulang jalan bersama. di jalan Galang bertanya lagi. "Kamu asli orang sini Fel?" Galang penasaran dengan felicya apa dia penduduk asli sini atau sama sepertinya dirinya hanya sebagai pendatang tamu.
"Aku asli orang sini, dan kamu galang?" tanya Felicya yang sudah mulai tidak canggung ataupun curiga lagi padanya, ia merasa galang benar-benar orang baik. Galang menjawabnya. "Aku hanya bertamu saja di sini, aku sedang berkunjung kerumah tanteku fel," ucap Galang lalu ia menoleh ke arahnya dan tersenyum. Felicya sedikit penasaran dengan tantenya galang. lalu ia bertanya siapa tantenya galang. "Nama tantemu siapa galang?" felicya menoleh ke arah galang, tanyanya yang penasaran dan ingin tahu
"Tante aku namanya hana, kamu kenal dengan tanteku?" Galang mencoba bertanya pada Felicya apa wanita ini kenal dengan tantenya. Felicya yang mendengar nama "Hana" menurutnya tidak asing, lalu ia mengatakan. "Nama tantemu, gak asing di kupingku, rumah tantemu di RT. 02 n0. 23 bukan?" Felicya bertanya pada galang.
Galang yang merasa tebakannya benar felicya mengenali tantenya. Lalu ia antusias menjawabnya. "Benar itu nama tanteku Fel, kamu kok bisa kenal sama tanteku?" tanya galang yang penasaran. Felicya pun mencoba menjelaskan.
"Aku kenal, karena tantemu teman bundaku Lang, jadi tantemu sering main juga kerumahku," ucapnya. Galang yang baru tahu bahwa tantenya teman ibunya felicya, tercetak di bibirnya tersenyum. terbesit dihatinya ingin minta di kenalkan dengan Felicya melalui tantenya. Galang pun terkekeh kecil tanpa sadar "ehehe..."
Felicya yang melihat Galang terkekeh sendiri, felicya menoleh ke arah galang dengan wajah bingungnya. "Kamu gak kesambet kan?" tanya Felicya polos padanya. Galang yang ditanya seperti itu lalu ia menyangkal pertanyaan Felicya. "Enak saja aku gak kesambet Fel, aku hanya bingung ingin menjawab apa lagi," jawab Galang yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ia merasa malu ternyata kekehan dia terdengar jelas di telinga Felicya. Felicya menganggukan palanya lalu menjawab, "Aku pikir kamu kesambet, aku hampir takut tadi," ucapnya tanpa mengada-ngada, niatnya ia ingin lari jika benar galang kesambat. tanpa mereka sadari perbincangan mereka membuat mereka sudah sampai di dekat posyandu. Galang yang sadar ada di depan posyandu, lalu galang berpamitan pada felicya. "Fel aku duluan yah," ujar Galang lalu tersenyum padanya. Felicya menjawab.
"Iya hati-hati yah galang." Felicya pun melanjutkan jalannya lurus terus. Felicya yang sudah berada di depan pagar, lalu tangannya membuka slot pagar sedikit menjijit karena pagarnya tinggi. Felicya pun menutupnya kembali dan membuka pintu ruang tamu dan ia melangkah masuk ke dalam, mengucapkan salam pada ibu dan ayahnya yang sedang mengobrol di sofa. "Assalamu'alaikum ibun, ayah." salamnya dengan suara ceria seperti biasa, lalu ia menutup pintunya.
Ibu dan ayahnya pun menoleh kearah felicya, dan menjawab salamnya. "Wa'alaikumsallam neng, tumben shalat di masjidnya lama," tanya ibunya.
Felicya ditanya seperti itu, ia tidak ingin orang tuanya berpikir aneh padanya, lalu ia menjawab.
"Ibun aku tadi lama habis pulang sama ponakannya bibi hana, tadi aku sama dia ngobrol di jalan," ucap felicya tanpa ada sepatah kata bohong keluar dari mulutnya. lalu giliran ayahnya yang menjawab.
"Memang bi hana, punya ponakan yah, ayah baru tahu," ucap ayahnya. Lalu ibunya menyahut.
"Setahuku ada ayah, hana punya ponakan tapi tinggalnya sih dijakarta kata hana, hana pernah ceritain ke aku, malah niatnya dia mau jodohin putri kita sama ponakannya. soalnya yang dia kasih tahu ke aku sih, ponakannya itu piatu, jadi butuh istri. apalagi usianya sudah 31 tahun.
Felicya yang mendengarnya mau dijodohkan dengan galang, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia masih tidak menyangka, apa pendengarannya yang salah. Felicya mencoba bertanya. "Tadi ibun bilang apa ke ayah? aku mau dijodohkan dengan ponakan bi hana, ponakannya yang namanya Galang?" Ia mencoba menyelidiki ibunya apa mengucapkannya sedang bercanda atau serius.
"Ibun gak bohong eneng, kalau eneng mau dijodohkan sama ponakannya itu ibun sih gak apa-apa, toh kalian tadi pulang barengkan, dan ngobrol lama juga di jalan," ibunya berbicara tanpa pertimbangan sekalipun, bahkan ibunya setuju jika felicya dijodohkan dengan keponakan temannya yaitu Galang. Felicya pun tidak menolaknya. "Baiklah bun aku gak masalah dijodohkan dengan galang." menurutnya lebih baik mendapatkan suami berkenalan langsung daripada harus mencari di sosial media, apalagi pria itu masih ponakan teman ibunya. tapi tidak tahu apakah galang akan setuju atau tidak jika dijodohkan dengan felicya.
..💪💪